
...~Datangnya Anak Pak Roy~...
Setelah mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menjamin keberhasilan operasi, Firo pamit pulang karena besok pagi sekali ia harus menangani pasien. Aku menutup pintu restauran, masuk ke rumah kemudian mandi.
Badan yang sudah lengket, terasa benar-benar nyaman saat di bak mandi. Saat sedang berendam terpikirkan kata-kata Firo yang mengatakan Kak Andri mengejar pengemis, untuk apa Kak Andri mengejar-ngejar pengemis, apa ada sangkut pautnya dengan Ayah?
Semakin memikirkannya, aku semakin penasaran. menyudahi mandi dan segera menggunakan pakaian. Masuk ke dalam kamar, membuka ponsel. "Apakah ada kabar tentang ayah?" chatku untuk kak Dini.
Kak Dini langsung membalas, "Belum ada, Hani. Bersabar ya... kamu fokus saja mengurus restauran biar urusan ayahmu serahkan saja dengan kak Andri."
"Iya, Kak," balasku.
Malam ini terasa sangat sepi, aku memikirkan ayah, sekarang sedang dimana, kabarnya bagaimana, aku sangat rindu dengannya. Sudah sekian lama aku tak bertemu, aku hanya berharap ayah baik-baik saja.
Air mataku mulai menetes saat membayangkan wajah ayah, terbayang senyum dan tawanya. Meski dulu aku jarang bertemu karena kesibukan ayah, tapi ayah selalu ada di setiap aku membutuhkannya.
Keesokan harinya, aku sudah bangun pagi sekali. Hal pertama yang aku lakukan adalah menyiapkan sarapan untuk Nenek, kemudian beres-beres rumah. Setelah semuanya beres, aku berjalan keluar rumah untuk menghirup udara yang sangat sejuk. Menghirup dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
Saat aku lakukan berulang-ulang hatiku terasa sangat tenang, hari ini aku siap untuk bekerja. "Tumben jam segini sudah bangun?" ucap Nenek dari depan pintu.
Aku tersenyum dan menjawab dengan bahasa isyarat, "Aku sangat bersemangat hari ini, Nek."
"Maaf Nenek tidak bisa membantu banyak di restauran," ucap Nenek.
"Enggak papa, Nek. Nenek cukup istirahat saja, bagiku kesehatan Nenek jauh lebih penting dari apapun," jawabku dengan bahasa isyarat.
__ADS_1
Sambil menunggu aku dan Nenek berbaring di depan Tv, ikut menonton acara kesukaan dari Nenek. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7.00. Aku bergegas masuk ke dalam restauran, menunggu para karyawan datang.
Satu persatu karyawan berdatangan, para koki datang lebih awal karena harus menyiapkan semua keperluan dapur. Saat semuanya sudah datang, aku memberikan sedikit arahan dengan tulisan di selembar kertas. Kepala koki membacakan arahan ku.
Semua sudah siap, mereka pergi ke posisinya masing-masing. Aku mulai membuka restauran. Berdiri di depan pintu masuk dan siap menyambut pelanggan pertama hari ini. Pengunjung mulai berdatangan, rata-rata mereka adalah wisatawan.
Menyambut dengan baik, ramah dengan senyuman, aku mempersilahkan para pengunjung masuk. Banyak dari mereka yang menganggap aku adalah pelayan restauran, "Pelayannya cantik sekali," ucap salah satu pengunjung.
Aku hanya tersenyum, kali ini aku benar-benar bahagia, bukan karena pujian cantik dari para pengunjung, tapi karena banyak pengunjung yang datang ke restauran. Banyak pula yang memuji rasa masakan yang enak dari para koki.
Memang tak salah-salah Kak Andri mengirimkan karyawan di restauran ini, semua seperti sudah sangat terlatih dan profesional. Aku hanya berkata sepatah dua kata mereka sudah cepat paham. Pelayan terlihat kewalahan karena banyak sekali pengunjung. Aku membantu mengantarkan makanan.
Saat sedang sibuk-sibuknya, ada pelanggan masuk lagi. "Selamat pagi," Pengunjung itu seperti tidak malu masuk dengan berkata dan suaranya keras.
Dia adalah anak dari pak Roy. Meski aku membenci dirinya dan ayahnya. dia tetap adalah pengunjung restauran ini, aku harus melayaninya dengan baik. Pria itu duduk dan berkata, "Loh kamu kan wanita bisu yang waktu itu!" suaranya sangat keras, pengunjung lain menengok ke arah kami.
Aku mencoba melayaninya dengan baik, tapi di hina di depan umum seperti ini. Jika tidak ada pengunjung lain sudah ku usir pria ini. Aku masih membalas kata-katanya dengan senyuman. Pria itu berkata lagi, "Cantik sekali, buatkan aku makanan paling enak disini."
Aku berikan menu yang tersedia, tapi pria itu malah berkata kasar, "Selain bisu apakah kamu tuli, aku bilang bawakan aku makanan paling enak. Aku tidak perlu daftar menu itu!"
Pengunjung lain menatap sinis pria tersebut, aku pergi menuju kepala koki. "Sombong sekali pria itu," ucap Kepala Koki.
Aku menulis, "Sudah buatkan saja makanan yang menurutmu paling istimewa di daftar menu."
Kepala koki tidak menyuruh bawahannya, tapi dia langsung yang memasak. Sebenarnya aku juga sangat kesal tapi mau bagaimana lagi. Terdengar suara pengunjung lain yang mengatakan, "Sombong sekali pria itu, mulutnya seperti hewan."
__ADS_1
Makanan sudah siap, aku segera mengantarkan ke mejanya. Saat sedang menghidangkan makanan, pria itu berkata lagi, "Kamu sini saja, sampai aku selesai makan!"
Menghirup nafas yang dalam, aku menahan emosi. Sesuap pria itu makan tiba-tiba piring dibuang ke lantai, "Makanan apa ini, sangat tidak enak!" teriak Pria tersebut ke wajahku.
Kepala koki keluar menghampiri kami, "Saya yang memasak. Sungguh sikap Anda sudah sangat keterlaluan, silahkan pergi jika anda tidak menyukai makanan di restauran ini!" bentak Kepala Koki.
"Hebat ya koki ini, panggilkan pemilik restauran!" ucap Pria itu.
"Wanita yang Anda hina, dan ada di depan Anda adalah pemilik restauran ini!" jawab Kepala Koki.
Aku berjalan ke arah pintu keluar, memberikan isyarat menyuruhnya pergi dari restauran ini. Semua pengunjung berteriak saling bersaut-sautan mengatakan, "Pergi saja kau, sombong amat jadi orang!"
Pria itu berjalan ke arahku, berhenti di pas di depan wajahku kemudian berkata dengan wajah yang sangat marah, "Lihat saja nanti, beraninya kalian mempermalukan aku di depan orang banyak!"
Aku memberikan isyarat lagi memintanya keluar, sambil memberikan senyuman yang menghina. Kepala Koki mengatakan kepada para pengunjung, "Maaf atas ketidaknyamanan ini."
"Tidak papa, pria bengis itu saja yang bertingkah," jawab salah satu pengunjung.
Aku menulis di kertas, "Tolong gantikan saya sebentar." Kertas ku berikan kepada Kepala Koki.
"Baik, Bu."
Aku keluar, pergi ke depan pantai, air mata menetes deras. Aku sudah sering dihina, tapi hinaan kali ini kenapa membuatku benar-benar sakit hati. Rasa sakit ini mungkin karena dia adalah anak dari orang yang mencoba mencelakakan ayah, dan merampas semuanya.
Masih berdiri di pantai, aku terus menangis aku sangat ingin berteriak, seandainya ayah ada disini orang seperti dia pasti tidak akan bisa tertawa lagi, setelah memperlakukan aku seperti ini. Selalu terlintas wajah bengis dari anak pak Roy di kepalaku, lihat saja.
__ADS_1