
chris POV
Jam makan siang sudah berakhir dan aku sudah siap untuk kembali bergumul dengan setumpuk pekerjaan yang begitu membosankan di kantor.
"chris!"
Sahabat sintingku yang lainnya menyambut kedatanganku. Ya, kupikir seseorang yang tak sinting tak akan layak menjadi sahabatku.
Kami berdua bertemu di pintu utama kantor kemudian berjalan menuju lift yang akan mengantar kami ke lantai 3, tempat kerja kami.
"Jadi, bagaimana makan siang pertamamu bersama si pucat itu, ana?" aku menoleh padanya, aku bisa melihat ana tersipu mendengar pertanyaanku.
Gadis gila ini benar-benar sedang jatuh cinta rupanya.
"vero orang yang sangat menyenangkan! Kupikir kami akan menjalani hubungan yang serius."
"ana sudah benar-benar gila! Hubungan yang serius?"
"ana, bahkan kalian baru bertemu tiga hari yang lalu."chris bertanya bertubi tubi
Ini mendelik padaku, "chris, kami sudah menjalin hubungan selama dua bulan."
"Dua bulan melalui social media, ingat?"
Ya, ana dan kekasihnya yang bernama vero itu— yang entah berasal darimana (aku tak tahu) pertama kali berkenalan melalui akun jejaring sosial. Oh, benar-benar manis, dua orang yang menjalin hubungan tanpa pernah bertemu sekalipun selama dua bulan kemudian baru pertama kali bertemu tiga hari yang lalu dan kini sudah menganggap hubungan itu serius?
Sebagai seorang sahabat, tentu saja aku tak setuju dengan keputusan ana untuk berkencan dengan seseorang di akun jejaring sosial. Aku pun melupakan fakta bahwa ana adalah orang yang keras, ia sama sekali tak mendengarkan ucapanku dan lebih memilih terus menjalani hubungan gilanya itu.
__ADS_1
Astaga, aku memang memiliki sahabat yang gila. felix dengan kekasih gay-nya dan ana dengan kekasih tak berwujudnya— oke, mungkin ana bisa dikatakan lebih baik karena ia sudah bertemu dengan kekasihnya itu.
"ana, kau gila."
Ujarku seraya duduk di kursi kerjaku, menyalakan komputer dan membuka beberapa file yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Kedua mataku terfokus pada layar namun pendengaranku melayani setiap ocehan nyonya Yamana ana yang sedang jatuh cinta ini.
"chria, kau hanya sirik! Aku bersumpah kau akan merasa menjadi wanita paling beruntung jika berada di posisiku sekarang!" Dan aku berani bersumpah ana memancing tatapan rekan kerja kami yang lain karena baru saja menggebrak meja kerjaku. Sialan si pirang ini.
ana masih setia menyandarkan tubuh rampingnya di samping meja kerjaku, kemudian ia kembali berbicara; "Aku akan meminta vero untuk mengenalkan beberapa teman prianya padamu, kita bukan lagi gadis remaja dan kau harus siap untuk berkomint—"
"Stop it, Yamana!"
Aku melirik ana dan kulihat ia memutar kedua bola matanya.
"chris" kini suara ana terdengar pelan, "Lupakan soal hiko—"
Aku memijat pangkal hidungku, pusing mendengar ocehan ana yang kini menatapku khawatir. Dan, ya, aku benci tatapan itu.
"Oke, kau mungkin hanya perlu waktu— tapi ini sudah tahun kedua sejak kau memutuskan untuk sendiri setelah putus dengan tunanganmu yang bajingan itu. Oh, ayolah, apa kau ingin menjadi perawan tua? Tak ingin berkeluarga?"
"Aku akan membentuk keluarga kecilku dengan caraku sendiri."
"Jangan bilang kau—"
"Ya, rencanaku untuk memiliki seorang anak tanpa berkomitmen masih ada di pikiranku." Ujarku santai.
ana menarik satu kursi kosong yang berada tak jauh dari kami, dan aku mulai berpikir apa ia tak memiliki pekerjaan lain selain menceramahiku untuk berkomitmen?
__ADS_1
"Jadi kau dan felix akan benar-benar melakukannya?" Tanya ana dengan jari-jari rampingnya yang mengutip di udara saat menyebut kata melakukannya.
Sebagai sahabat, ana jelas tahu rencana gilaku ini. Aku masih mengingat bagaimana reaksi ana saat aku mengatakannya, ia menyemprotkan teh hijau yang baru saja masuk ke dalam mulutnya tepat di depan wajahku, dan tepat di depan umum tentunya karena kami saat itu berada di kedai teh. Memalukan.
Kali ini aku menghela nafas berat, "kelvin tahu, dan kekasih gay-nya itu mengancam akan bunuh diri jika tahu felix akan menyumbangkan spermanya untukku."
ana nyaris terbahak jika aku tak segera membekap mulutnya.
"Oh, astaga,"ana masih menahan tawanya, "apa ia begitu haus sprma hingga tak menginjinkan milik kekasihnya barang setetes pun?" ana benar-benar gadis dengan mulut yang frontal.
"Kalau begitu aku akan mencari pria yang akan mend---rkan sp---manya untukmu!"
"felix pun berkata begitu." Aku meraih botol mineral yang berada di mejaku, kemudian meminumnya cepat.
Tiba-tiba ana tersenyum kecil, kedua tangannya berada di pundakku. Ia menatapku dalam. "Kau benar-benar trauma untuk berkomitmen, ya?"
Trauma? Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi pada diriku ini. Sejak dua tahun yang lalu, sejak kejadian brengsek itu, aku tak pernah dan seakan tak ingin lagi merasakan romansa cinta yang manis. Mendengar kata cinta saja sudah membuatku mual.
Aku hanya merasa bahwa aku selalu gagal dalam berkomitmen. Aku merasa payah, seperti seorang pecundang yang tak ingin mencobanya lagi setelah gagal.
Masalahnya, aku sudah gagal berulang kali.
Aku berpikir, bukankah tujuan menjalin hubungan atau berkomitmen itu untuk membentuk sebuah keluarga? Terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka yang manis. Semudah itu kan?
Karena itu, aku miliki niat untuk memiliki seorang anak tanpa harus berkomitmen. Bukankah aku masih bisa melakukan tujuan dari berkomitmen tanpa melakukan komitmen itu sendiri? Aku juga bisa membentuk keluarga kecilku sendiri. Terdiri dari aku sebagai ibu dan anak-anakku.
Oh, manis sekali membayangkan memiliki anak laki-laki yang menggemaskan ataupun gadis-gadis mungil berada di sekitarku dengan rambut mereka yang berwarna pink.
__ADS_1