
chris pulang saat hari menjelang malam dengan wajah lesu dan tubuh yang lelah. Ia masuk berjalan lunglai ke dalam apartemen. Ketika ia memasuki area dapur, ada felix di sana. Pria itu masih di dalam apartemennya.
"Apa lebih baik kita tinggal berdua saja?"
chris menaruh high heelsnya di atas rak sepatu, menggantinya dengan sandal rumah dan menghampiri felix yang sedang sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam.
Ia memang tidak terlalu pintar memasak, namun felix bukanah pria tidak tahu diri yang menginap di rumah temannya tanpa membalas budi.
"Ide bagus. Kalau begitu, besok kita menikah."
chris hanya tertawa kecil kemudian memeluk felix dari belakang, menyandarkan tubuh lelahnya di punggung lebar felix yang terasa begitu nyaman baginya.
"Aku merindukanmu."
"Kau seharusnya mengatakan itu kemarin dan memberiku pelukan." Ujar felix sembari memindahkan masakannya ke dalam piring. Ia menyiapkan omurice sebagai makan malam sederhana untuk mereka berdua.
"Kenapa tidak di xxx saja? Membuka usaha disini, jadi kau tidak perlu tinggal di sana dan meninggalkanku."
"chris, kau pikir membuka usaha semudah menghabiskan uang?"
chris menggembungkan kedua pipinya, sebal mendengar jawaban felix meskipun memang benar adanya. chris tahu, felix harus jauh-jauh kembali lagi ke xxx karena di sana ia memiliki kerabat yang berbaik hati mau membantunya untuk memulai dari awal, membagi ilmu, sebelum nanti felix mencobanya sendiri di xxx.
"Jangan lupa untuk pulang. Jangan hanya sebulan sekali." Ujar chris, ia ikut membantu felix menata makan malam di atas meja.
"Akan kuusahakan. Lagipula, aku tidak akan membiarkan kalian berulah tanpaku."
Yang dimaksud adalah chris dan ana. felix sudah seperti kakak yang memiliki dua adik perempuan yang nakal dan sering membuat kekacauan.
Tanpa terasa waktu sudah berganti malam. ana bergabung bersama mereka beberapa jam kemudian, ia tentu saja datang dengan vero kesayangannya. Mendengar felix pulang lebih awal meskipun hanya untuk satu hari tentu saja membuat ana dengan senang hati bergabung.
Mereka menghabiskan makan malam dengan selingan obrolan ringan dan beberapa gurauan yang berhasil membuat keduanya tertawa terbahak-bahak. Ditutup dengan games kartu yang disertai taruhan konyol dan gelak tawa karena felix yang kalah berturut-turut.
Semuanya terasa menyenangkan jika bersama teman. Atmosfir yang ramai itu membuat hati chris terasa tenang dan lega. Seolah melupakan apa yang baru saja terjadi kemarin, apa yang chris lalui di kantor, dan alasan felix yang memilih untuk menunggu chris pulang untuk mendapatkan penjelasan lebih jauh mengenai perasaannya pada hery .
Setelahnya, vero membawa ana pulang lebih awal karena sudah setengah mabuk dan felix harus kembali ke xxx malam ini karena besok ia harus kembali bekerja.
"Aku akan kembali merindukanmu, felix." Ujar chris dengan pelukan hangat dan usapan ringan yang ia berikan pada punggung felix.
felix tersenyum mendengarnya, "aku akan lebih sering pulang lebih awal. Jaga dirimu. Aku akan menghubungimu." Kemudian ia memberikan kecupan ringan di pipi chris sambil balas memeluknya erat.
__ADS_1
Kecupan ringan di pipi adalah hal yang biasa bagi felix maupun chria, bahkan felix juga masih memberi kecupan pada ana jika ia tidak memiliki vero. Bagi mereka itu adalah hal yang biasa. Mungkin jika orang lain yang melihat akan menimbulkan persepsi yang lain.
Begitu juga dengan hery wijaya yang baru saja datang dan langkahnya terhenti ketika melihat chris dan felix berpelukan di depan pintu apartemen, ditambah dengan kecupan ringan yang
felix berikan di pipi chris.
Setelah felix pergi, chris masuk dan berniat membersihkan kekacauan di apastemennya. chris baru saja memegang satu piring ketika seseorang menekan bel pintu. Awalnya chris mengira felix, mungkin pria itu tertinggal sesuatu.
Namun ketika ia membuka pintu dan mendapati hery ada di hadapannya, sekujur tubuhnya terasa menegang dan jantungnya mulai berdebar cepat.
Terkadang chris merasa hidupnya selucu itu. hery selalu menghilang ketika ia mengharapkan pria itu datang, dan sebaliknya akan muncul ketika hery wijaya sudah berada di peringkat paling atas orang yang ingin ia hindari.
hery menahan pintu dengan tangannya ketika chris langsung kembali berniat untuk menutupnya. hery menariknya hingga pintu kembali terbuka dan keduanya saling bertatapan.
"Jadi ini alasanmu?"
"Apa maksudmu?"
Perlahan hery melangkahkan kakinya masuk, membuat chris beringsut mundur karena pria itu yang terus mencoba mempersempit jarak di antara keduanya.
"Membatalkan kontrak. Kau kembali pada felix?" hery menatapnya tajam, kedua tatapannya tak sedikitpun lepas dari chris.
"Ya, aku kembali padanya."
"Kau tidak membutuhkannya."
"Aku membutuhkannya! Aku lebih membutuhkan felix!" Intonasi chris kini sedikit meninggi.
Saat di kantor, chris mendengar dengan jelas bahwa hery berkata bahwa ia sudah tidak lagi peduli dengan kesepakatan mereka. Ia mencoba memberi peringatan pada hery bahwa sekali ia keluar dari ruangannya, maka semua selesai, dan hery sama sekali tidak menghentikannya.
Namun kini pria itu kembali datang dan berkata hal-hal yang tidak masuk akal. chris mulai berpikir mungkin hery datang menemuinya hanya untuk mengajaknya kembali bertengkar, belum puas dengan apa yang terjadi pagi tadi.
"Wanita gila."
"Ya, aku memang gila."
"Aku mulai tidak menyukaimu."
chris langsung balas menatap hery tajam. Tidak percaya dengan apa yang baru saja pria itu katakan. Ia tahu bahwa hery sering kehilangan kendali emosi dan berkata asal, namun ucapannya barusan adalah kalimat terkejam yang pernah hery ucapkan padanya.
__ADS_1
"Apa kalian akan tidur bersama? Kau memberikan tubuhmu juga padanya?"
hery menarik tangan chris, membuat tubuh keduanya semakin mendekat. chris tidak pernah berhadapan dengan chris yang seperti ini, tatapan yang menyala dan kata-katanya yang menusuk hati.
chris yang ikut terbawa emosi langsung meraih apapun yang berada di sampingnya, di atas meja makan, dan langsung melemparnya pada hery. Membuat pria itu mengaduh ketika satu gelas plastik menghantam kepalanya.
"Pria brengsek!" chris mulai berteriak, memberi pukulan tanpa kendali pada tubuh hery dengan kepalan tangannya berulang kali.
hery yang sudah merasa tidak bisa lagi mengendalikan chris maupun dirinya sendiri yang mungkin akan meledak memilih untuk beranjak pergi, berniat meninggalkan chria sebelum benda lain kembali mendarat mengenai belakang kepalanya.
Kali ini chris melemparnya dengan kotak salad sayur yang ikut mengotori rambut hingga punggung hery.
"Kau adalah pria paling brengsek!"
hery yang masih tersulut emosi kembali berjalan menghampiri chris yang masih melempar berbagai benda padanya dan semakin membuat kekacauan.
"Hentikan, chris!"
hery meraih kedua pergelangan tangan chris yang terus memberontak dengan mencengkramnya sekuat tenaga. Mencoba menghentikan aksi gila chris yang mengamuk dan berteriak seperti hilang akal sehat.
"Lepaskan aku, hery brengsek! Lepaskan!"
hery yang sedikit kewalahan akhirnya mendorong chris dengan keras, membuat punggungnya menghantam dinding di belakangnya dengan kedua tangan yang masih di dalam genggaman chris.
chris yang pada akhirnya pergerakannya terkunci menatap marah dengan napas beratnya yang tak teratur. Keadaannya kacau dengan rambut yang berantakan dan kedua mata yang memerah karena mencoba menahan emosinya yang meledak-ledak.
hery maupun chris diam saling menatap dengan napas berat yang saling beriringan. Hingga akhirnya hery memilih untuk memagut bibir chris, membuatnya bungkam dan membawanya dalam ciuman panas yang diselimuti emosi.
Keduanya larut dalam ciuman yang terasa liar dan tanpa kendali. chris berada di dalam kukungan hery yang mendominasinya dengan lingkaran tangan di pinggang, merabanya naik hingga ke pungung dan menjalar menekan leher belakangnya hingga chris melenguh keras.
chris yang tanpa perlawanan meremas rambut hery ketika pria itu mulai mencumbunya dalam di leher, membawanya dalam kenikmatan yang begitu ia dambakan dan dirindukannya.
Semuanya terjadi begitu saja hingga pada akhirnya di atas ranjang saling merengkuh tubuh polos tanpa helaian kain dan menggeliat dalam gairah yang membuncah.
*
*
*
__ADS_1
bersambung