
"Semua pria memang brengsek!" umpat chris seraya berjalan menuju tempat mobilnya terparkir, "kecuali ayahku dan felix tentunya."
chris masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sekali bantingan. Ia membenamkan wajahnya pada lipatan tangannya yang bersandar pada kemudi mobil. Ia harus berpikir jernih, marah-marah pun tak ada gunanya. Tak akan bisa membuat hiko mendapat karma seperti diselingkuhi oleh calon istrinya itu atau pernikahannya batal karena terjadi penembakan masal para tamu yang dilakukan oleh chris sendiri, mungkin?
Oke, pikirannya mulai menggila.
Lebih baik ia pulang. Apartemennya lebih membutuhkannya sekarang, terutama ranjangnya yang seakan terdengar memanggil-manggil di telinganya untuk segera ditiduri.
chris menghidupkan mesin mobilnya dan melaju. Baru beberapa jarak meninggalkan tempat parkirnya tadi, chris membuang nafas kasar saat melihat sebuah mobil yang menghalangi jalan keluar.
"Siapa si bodoh yang parkir dengan sesuka hati seperti ini?!" chris memukul kemudinya. Tentu saja ia kesal, mobil berwarna hitam itu jelas-jelas memblock jalan keluar.
"Apa dia pikir jalanan ini miliknya sendiri?!"
chris menekan klaksonnya beberapa kali, ia tahu bahwa pengemudi mobil itu berada di dalam karena mesin mobilnya yang menyala. Namun pengemudi mobil itu sama sekali tak menggubrisnya.
Tiba-tiba chris dibuat mengernyit ngeri, "Oh, sepertinya aku akan muntah."
chris mendecih melihat apa yang dilakukan pengemudi itu. Terlihat dari balik kaca depan mobilnya, pengemudi itu sedang bercumbu dengan seorang wanita yang begitu dikenalnya. Wanita itu adalah teman kantornya.
Dengan menahan kesal, chris keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil di hadapannya itu dengan langkah menghentak. Ia mengetuk kaca mobil si pemarkir mobil sembarangan itu dengan keras. Butuh usaha hingga ketukan yang lebih cocok disebut gedoran itu mendapat perhatian.
Kaca pintu mobil perlahan turun, menampilkan seorang pria dengan wajahnya yang terlihat tak kalah kesal dari chris. Ia baru saja mempreteli dua kancing teratas kemeja wanita yang duduk di sampingnya dan ketukan di kaca mobil yang terus berulang itu benar-benar mengganggunya.
"Sialan, apa maumu?!"
Kedua mata chris melebar mendengar ucapan pemuda tersebut. seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Inner chris berteriak.
__ADS_1
"Karin!" dibanding menjawab pertanyaan pemuda tersebut, chris justru menunjuk wanita berambut merah di dalam mobil tersebut.
"Ada apa, chris?!" Karin membalas ucapan chris dengan tak kalah berteriak.
"Katakan pada teman kencanmu untuk tak menghalangi jalanku. Aku sedang dalam mood yang buruk dan tingkah laku kalian berdua semakin memperburuk suasana hatiku!" chris menghentak high heels yang digunakannya ke aspal, "kau juga akan kulaporkan pada bos karena melakukan tindakan menjijikan seperti tadi di area kantor!"
chris adalah salah satu pegawai kantor yang teladan, semua rekan dan atasannya pun mengakui hal tersebut. Ia begitu disiplin dan mematuhi segala peraturan di kantornya ini. Maka dari itu, ketika ia melihat hal yang tak pantas di lakukan di area tempatnya bekerja, ia merasa risih dan akan turun langsung untuk menegurnya.
"—dan kau, jika kau tak bisa memarkir mobilmu dengan baik, lebih baik kau pergi dengan menunggangi seekor kuda saja!" kali ini chris menatap tajam pria di hadapannya tersebut.
"Hei! Sialan kau, chris! Beraninya kau bicara seperti itu pada herry!" Karin nyaris menarik blazer yang digunakan Sakura dari kaca pintu mobil di samping pemuda itu jika Sakura tak segera menghindar.
"Diam, Karin," Pria bernama herry itu menjauhkan tubuh Karin yang menghimpitnya karena ingin menarik chris. "dan kau, pinky—" herry menghentikan ucapannya. Ia menatap lekat chris, dari atas hingga ujung kakinya.
Merasa diperhatikan seperti itu, chris dibuat canggung sekaligus risih. "Apa yang kau lihat, brengsek?!"
herry bersandar pada jok mobilnya, ia melipat kedua tangannya di dada dan masih memperhatikan chris.
"—dan dibanding menunggangi kuda, sepertinya aku lebih tertarik untuk menunggangimu." Ujar herry santai, masih dengan seringainya yang terkesan menggoda.
Sontak wajah chris memerah padam mendengar ucapan herry. "K-kau—" nafasnya tercekat, dengan segera chris merogoh isi tas pundaknya dan mengeluarkan sebotol air mineral. Tanpa pikir panjang, saat itu juga chris menyiram herry dengan air mineral tersebut. Tepat di wajahnya.
"chris!" Karin berteriak histeris melihat herry yang baru saja disiram air oleh chris.
herry sendiri tentu saja terkejut. Namun ia masih bisa menahan emosinya untuk tak mengamuk pada si pink itu.
chris tertawa sinis, merasa puas melihat wajah herry yang terlihat kesal. Ia berpikir bahwa herry pantas mendapat balasan atas ucapannya yang kurang ajar tadi. Namun chris tiba-tiba merasa terhina saat herry tanpa berbicara apapun segera menutup kaca pintu mobilnya.
__ADS_1
"h-hei!" chris menggedor kaca pintu mobil herry, "Hei,brengsek!"
Dan chris kembali dikejutkan saat melihat Karin yang baru saja di dorong keluar oleh herry. chris menatap ngeri nasib rekan kerjanya yang diperlakukan secara tak hormat itu. Seakan Karin bisa dibuang begitu saja ketika sudah tak lagi dibutuhkan.
"herry!" kali ini Karin yang menggedor kaca pintu mobil, "kita bahkan baru memulainya, hery!"
Seolah tuli mendadak, herry sama sekali tak menghiraukan teriakan Karin maupun chris sebelumnya. Pria itu segera memutar arah dan melaju menuju jalan keluar parkiran. Meninggalkan chris yang membisu di tempat dan Karin yang terus saja berteriak.
Merasa semuanya sudah selesai, chris memilih untuk berjalan menghampiri mobilnya.
"Ini semua salahmu, chris! Kau akan menyesal!"
Langkah chris terhenti, ia menoleh ke belakang.
"Menyesal katamu?" chris tersenyum sinis.
"Ya! Apa kau tak tahu siapa herry?!"
chris kembali tertawa, tawa yang terdengar mengejek. "Tentu saja aku tahu. Dia adalah orang yang baru saja membuangmu,kan?"
Wajah Karin memerah terbakar emosi. Ia membanting tas pundaknya ke arah chris.
"Dia adalah calon bos baru kita, sialan!"
Kedua mata chris melebar mendengarnya.
"Apa?!"
__ADS_1
bersambung.....