
hery tidak pernah sepanik ini, masih dengan langkah lebarnya yang menyusuri lorong rumah sakit dan bahkan pada akhirnya setengah berlari.
"Uzumai Hita—" hery dengan napasnya yang tersengal-sengal mencoba bertanya pada resepsionis, "di ruangan mana ia dirawat?"
"hery?"
Sebelum ia mendapat jawaban, seseorang memanggil namanya di belakang. Suara lembut yang begitu ia kenal. Suara dari wanita yang malam ini mendadak membuatnya kacau balau.
hery menoleh dan wanita yang selama bertahun-tahun menjadi pusatnya ada di sana. Uzumai Hita yang dicarinya kini berada di hadapannya.
"Oh, demi Tuhan ..." hery refleks memijat keningnya kasar dan membuang napas berat.
hery bukanlah pria religius. Bahkan mungkin separuh umurnya ia habiskan hanya untuk memaki dan bermain-main dengan dunia.
Namun hanya dengan mendapati kehadiran Hita di hadapannya, ia sanggup mengucap kata Tuhan yang entah kapan terakhir kali ia sebut.
hery diam-diam memperhatikan Hita dari atas kepala hingga ujung kaki. Mendapati Hita duduk di kursi roda membuatnya ragu jika wanita itu dalam keadaan baik. Tatapannya berhenti di satu titik ketika melihat perban yang membalut pergelangan kaki Hita.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?"
Hita tersenyum mendengar pertanyaan hery. Pria itu jelas terdengar begitu khawatir. Naro dibelakangnya membantu mendorong kursi roda dan memperpendek jarak di antara mereka dengan hery.
"Keadaanku baik, hery. Begitupun dengan kandunganku." Hita menunduk dan mengusap perutnya pelan, masih dengan senyuman di bibirnya. "Aku kurang hati-hati. Aku terpeleset saat meginjak anak tangga terakhir dan hanya terkilir ringan."
Awalnya, hery menghubungi Naro lebih dulu untuk membicarakan masalah hiko. Ia hanya berjaga-jaga jika ada kemungkinan hiko akan menuntutnya karena merusak acara pernikahannya. Jika itu terjadi, ia akan menyewa Naro sebagai pengacaranya kembali.
Sekali lagi, hery tidak akan menggunakan pengacara yang memiliki hubungan dengan wijaya Group. Masalahnya dengan hiko adalah urusan pribadi. Selain itu, ia tidak ingin kena omelan keluarganya karena membuat kekacauan di hari bahagia orang lain.
Namun mendapati Hita ternyata dalam keadaan baik-baik saja membuat hery saat ini bisa bersyukur berulang kali dalam hati.
"Hei," Naro yang sempat terlupakan akhirnya menyapa
hery, terdengar lebih tenang dari biasanya. "Kami akan pulang."
hery hanya mengangguk mengiyakan. Sebelumnya ia menawarkan diri untuk membantu, namun Naro langsung menolak dan menyuruh hery untuk pulang saja.
__ADS_1
"Besok, di waktu makan siang, kita harus bertemu. Ada yang perlu dibicarakan, mengenai masalahmu."
Setelahnya Naro berlalu begitu saja tanpa mengucapkan kata apapun lagi. Bagi hery, ada sesuatu yang berbeda dari Naro. Seperti bukan si bodoh dobe yang sudah menjadi sahabatnya selama sekian tahun.
hery masih diam memandangi punggung Naro yang semakin menjauh bersama Hita. Naro bahkan tidak sedikitpun menoleh ke belakang meskipun pria itu tahu hery masih ada di belakangnya.
Sikap dan perkataan terakhir yang naro ucapkan membuat hery menyadari satu hal. Permasalahan yang mereka akan bahas besok mungkin telah berubah.
Karena bukan lagi hery, melainkan naro yang meminta bertemu.
*
*
*
bersambung
__ADS_1