Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 2


__ADS_3

Dan sialnya, semua tak semudah yang aku pikiirkan. Awalnya felix setuju untuk menjadi ayah dari anakku— maksudku hanya secara biologis, setelah melahirkan nanti aku tak ingin felix ikut campur dalam mengurus anakku. Kami akan melakukan bayi tabung, karena aku sama sekali tak pernah berpikir untuk bisa melakukannya secara alami bersama felix, yaitu melalui sex.


Oh, tolong, bahkan sahabatku yang berumur dua tahun lebih tua di atasku itu adalah seorang gay.


Semua rencana yang hampir saja terlaksana hancur begitu saja saat felix berkata bahwa kelvin tidak mengizinkan kami. Aku tahu seberapa felix mencintai kelvin dan akan melakukan apapun yang diucapkan pria pirang itu. sial!


Aku tak tahu harus bagaimana, karena aku tak ingin menjadikan sembarang pria untuk menjadi ayah dari anakku kelak. Aku hanya ingin menghindari resiko atau calon anakku. Lagipula felix cukup tampan, dan mungkin perpaduan warna coklat dan pirang akan begitu lucu untuk rambut anakku nanti.


Sialnya semua itu hanya khayalan. Akan kubunuh kelvin!


.


.


.


.


normal pov


"—bahkan aku akan lompat dari jendela gedung kantor herno jika kau tetap menuruti keinginan gila si pink itu, felix!"


"kel, sudah kukatan bahwa aku sudah menolak untuk menjadi ayah dari anaknya!"


felix mengusap wajahnya kasar, ia dibuat pusing oleh sikap kelvin yang kekanakan.


Saat ini keduanya berada di dalam kantor herno, teman dekat kelvin semasa kuliah dulu. Mereka sering datang kemari, sekedar untuk mengobrol atau membuat herno pusing jika kelvin sudah mengomel. Seperti saat ini, ia terus mengomel layaknya para gadis yang kehabisan diskon di mall!

__ADS_1


kelvin melipat kedua tangannya di dada, ia masih setia berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan jalanan besar di bawah sana. Raut wajahnya masih terlihat sebal.


"Sudahlah, kelvin," herno yang sejak tadi mendengarkan percakapan keduanya mencoba menenangkan. Memang seperti inilah tugasnya, herno selalu menjadi penengah di antara felix dan kelvin.


"Aku hanya tak habis pikir, herno. "


herno tersenyum kecil, "felix lebih menuruti keinginanmu dibandingkan permintaan sahabatnya itu."


kelvin melirik felix yang duduk di sofa panjang, pria itu mengangguk pelan seraya menatapnya.


"Baiklah," tatapan kelvin melembut, "aku hanya tak ingin kehilangan felix. "


herno berpikir mungkin akan mengencani sahabatnya sejak dulu jika kelvin adalah seorang wanita. Segala perilakunya begitu manis. Lihat saja, kini kelvin berjalan menghampiri felix dan segera memeluknya erat. Astaga, tingkah lakunya itu sukses membuat herno geleng-geleng kepala.


herno sendiri tak keberatan dengan hubungan kelvin dan felix. Meskipun awalnya sangat terkejut, namun sebagai sahabat ia mendukung apapun pilihan kelvin. Tapi jangan pernah berpikir jika herno juga seorang gay, ia bahkan sudah memiliki istri!


"Dia gadis berisik yang siap kapan saja melempar pukulan dahsyatnya! Dia seperti monster, hanya saja berwarna pink."


felix tertawa mendengar ucapan kelvin tentang chris. Kekasihnya itu memang tak bisa akur dengan sahabatnya itu. Jika bertemu, mereka selalu saja beradu mulut atau bahkan chris bisa melayangkan beberapa tinjuannya.


"Bagaimana bisa ada seorang wanita yang menginginkan seorang anak tanpa berkomitmen? Sedangkan diluar sana banyak sekali wanita yang menyesal memiliki anak tanpa adanya ikatan pernikahan."


Punggung herno menyandar pada kursi kebesarannya. Matanya menerawang, membayangkan seperti apa sosok monster berwarna pink yang diceritakan itu.


"Dia hanya takut untuk kembali berkomitmen, dia memiliki pemikiran yang rumit." Ujar felix


"Kenapa kau tidak membantu mencarikan pria yang mau menjadi ayah untuk anaknya nanti?"

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan itu dan ia siap untuk melayangkan tinjunya untukku."


Untuk kesekian kalinya, chris menatap lekat benda yang berada di tangannya tersebut. Kedua alisnya menyatu dan matanya memerah. Ia bisa merasa bahwa kedua tangannya selalu bergetar saat memegang benda tersebut.


Benda yang merupakan undangan pernikahan mantan tunangannya, hiko.


"sial!"


Setelah meremas undangan berlapis warna perak itu, ia melemparnya ke aspal. Terlihat di parkiran kantornya yang sepi ini chris menginjak-injak undangan tersebut dengan menggebu. Amarahnya memuncak setiap kali melihat ukiran nama hiko disana.


Marah, tentu saja ia marah!


Setelah bertunangan selama empat tahun dan hampir dinikahi, kemudian tertangkap basah sedang berselingkuh, dan pada akhirnya mereka berpisah yang mirisnya justru hiko lah yang memutuskan hubungan mereka, ternyata laki-laki itu masih tak punya malu untuk mengundangnya datang ke acara pernikahannya dengan selingkuhannya itu!


Inilah yang membuat ide gila chris untuk menjadi orang tua tunggal tanpa melalui ikatan pernikahan semakin menggebu. Ia ingin membuktikan pada hiko bahwa ia masih bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Ia berpikir, satu-satunya harapan kebahagiannya berasal dari seorang anak yang terlahir dari rahimnya sendiri.


Dengan begitu, ia akan sibuk menata kebahagiannya bersama kirano kecilnya selain pekerjaan kantornya dibanding memikirkan hiko yang sebentar lagi menjadi suami dari wanita lain.


Bahkan chris merasa gemas sendiri membayangkan gadis mungil atau anak laki-laki yang lucu berada di sekelilingnya dan memanggilnya dengan sebutan mama.


oh, chris akan begitu mencintai hidupnya!


Di usianya yang bukan lagi tergolong remaja, banyak teman-temannya yang sudah menikah atau sedang menjalani hubungan percintaan yang serius. Dibanding itu, chris lebih memilih melewati tahap pecintaan dan lebih memilih langsung menemui tahap kebahagian tanpa ada resiko kegagalan.


Ingat, memang ada yang namanya mantan kekasih ataupun mantan suami, namun tak akan ada mantan anak dan mantan ibu!


Meskipun ia berpikir jika hiko akan menertawakannya karena memiliki anak tanpa seorang pendamping, chris sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


Ia juga tak peduli apa pendapat orang lain nanti. Setidaknya, ia masih memiliki orang-orang yang mendukung keputusannya. Mereka adalah kedua orang tuanya, ana, dan juga felix. Betapa chris mencintai mereka!


__ADS_2