Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter19


__ADS_3

"felix?" ana cukup terkejut melihat felix yang berada di hadapannya saat pintu lift terbuka. "Satu jam yang lalu aku bertemu kelvin di sini, dan sekarang aku bertemu mantan kekasihnya di tempat yang sama."


felix tersenyum mendengarnya. "Lama tak berjumpa, ana. Aku ingin bertemu chris." felix masuk ke dalam lift namun ana menarik tangannya dan membawanya keluar.


"chris masih ada keperluan, lebih baik ikuti aku terlebih dahulu. Ada yang perlu kubicarakan denganmu, Bung."


ana mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada chris untuk segera menemuinya di lobby bawah, atau mungkin lebih tepatnya menemui felix.


felix menurut, berjalan di belakang ana yang mengajaknya untuk duduk di salah satu sofa panjang— tempat para tamu untuk menunggu. Sebelumnya ana juga duduk disini, hanya saja kali ini bersama felix, bukan kelvin.


"Ada apa?" tanya felix, ia duduk di samping ana.


ana menyimpan berkas yang akan ia berikan ke bagian informasi di atas meja. Ia tak harus terburu-buru untuk memberikan berkas itu, jadi ia bisa mengobrol sebentar disini bersama felix.


"kelvin menemuiku, dan kami membicarakan beberapa hal."


"Lalu?" felix mulai tertarik.


"Kupikir ia sedikit tersinggung saat aku menyuruhnya untuk kembali menjadi normal dibanding harus membantunya untuk mendapatkanmu lagi. Aku tak menyangka ada yang bisa tergila-gila dengan pria sinting sepertimu kak felix." felix tertawa mendengar ucapan asal ana, kemudian berkata,


"Kalau begitu buat dia menjadi normal, kalian mirip dan mungkin saja memang ditakdirkan sebagai pasangan."


"Dasar sinting!" ana mencibir dan bersiap memukul felix dengan vas bunga di atas meja. Hari ini ana nyaris melempar vas bunga sebanyak dua kali. "vero akan membunuhmu jika ia mendengarnya!"


"Ia tidak akan bisa membunuhku, karena kelvin akan lebih dulu membunuhnya," gurau felix.


"Dasar pasangan gila!" ana memukul lengan felix dengan keras. "Oke, maksudku mantan pasangan gila." koreksinya cepat.


ana memeriksa ponselnya dan ternyata chris sama sekali tak membalas pesannya.


"Kurasa nyonya chris sedang sibuk sampai mengacuhkan kita, Bung." ana memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.


"Ah, begitu," gumam felix pelan.


"Aku ada keperluan sebentar, chris pasti akan segera menghubungimu." ana mengambil berkasnya dan bangkit.


felix mengadah, ia menarik tangan ana. "Sebentar, ada sesuatu yang ingin kutanyakan." felix menarik ana untuk kembali duduk di sampingnya. Kali ini felix menegakkan tubuhnya dan menatap ana serius.

__ADS_1


"Apa?"


"Ada hubungan apa antara chris dengan hery? Aku tahu dia adalah pria yang menjabat sebagai atasan kalian, dia juga salah satu temanku."


Mulut ana tiba-tiba membulat. "hery wijaya? Oh, aku lupa kau sedang terlibat persaingan sengit dengan Presdir wijaya itu!"


"Persaingan sengit?"


"Tentu saja, bodoh, bukankah kalian berdua sedang memperebutkan posisi si pria pendonor ******?" tanya ana frontal, tanpa ada rasa khawatir akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Posisi pria pendonor sperma— persetan, apa maksudmu?"


ana mendengus saat felix kembali bertanya. "Astaga, sejak kapan kau jadi sebodoh ini?"


"Aku hanya berpikir bahwa hery saat ini berniat untuk menjadikan chris menjadi salah satu wanita ranjangnya. Maka dari itu aku datang kemari untuk bertemu chris, tapi kau justru berkata bahwa aku sedang terlibat persaingan sengit dengan hery!" felix terlihat frustrasi.


ana tertawa tidak begitu antusias. "Bisa kutebak bahwa kau sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Biar kujelaskan, saat ini hery dengan senang hati menawarkan diri untuk menggantikan posisimu sebagai pendonor ******, mereka bahkan sudah melakukan kontrak."


"Astaga, sebentar lagi aku akan gila." felix merasa ucapan ana seakan batu besar yang menghantam kepalanya.


"Tidak, kau memang sudah gila, felix. hery tidak berniat menjadikan chris salah satu wanita ranjangnya, si bos sialan tampan itu hanya mencoba membantu chris untuk mewujudkan impiannya." ana menarik nafas panjang.


"Oh, brengsek."


"Justru kau yang brengsek, sialan! Kau membuat chris bingung, ia harus memilih antara kau si pria yang awalnya menjadi kandidat utama atau hery si bos sialan tampan yang mungkin akan memecat chris jika ia membatalkan kontrak mereka!"


Tanpa sadar felix mengacak-acak rambutnya. "Ya, kau benar. Aku memang brengsek, ana."


"Jadi ..."


"Malam ini, chris."


"Oh ya, malam ini," gumam chris, merasa seperti seorang idiot.


hery menghampiri kursinya sedangkan chris masih duduk di atas mejanya.


"Kau ingin aku menciummu lagi, chris?" goda hery.

__ADS_1


chris menoleh ke belakang dan ia baru sadar bahwa herry sudah duduk di kursi kebesarannya. Saat ini chris sedang duduk di atas meja bos nya, membelakanginya, dan mungkin hanya ia yang bisa melakukan ini.


"Sialan, kau yang membuatku duduk disini."


chris turun dari meja dan merapikan pakaiannya. Bos brengseknya itu berhasil membuat pakaiannya berantakan hanya dengan sebuah ciuman.


hery melihat jam tangannya. "Sudah waktu istirahat, mau makan siang bersamaku?"


"Kau memiliki banyak pekerjaan, hery."


"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."


chris mendengus, ia lupa bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang bos. wijaya memang terlahir dengan takdirnya sebagai bos yang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Sialan beruntung.


hery lebih dulu berjalan keluar dari ruangannya. chris merapikan pakaiannya dan langkah kakinya dengan cepat menyusul hery dengan berjalan mengekorinya. Hal tersebut membuat hery menghentikan langkahnya, pria itu menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanya chris bingung.


"Aku bukan pengawalmu, chris. Kau harus berjalan di sampingku," ujar hery penuh penekanan.


chris tersenyum kecil. "Baiklah, tuan wijaya." kali ini ia menyamakan langkahnya di samping hery.


Ini adalah pertama kalinya mereka dapat berjalan berdampingan tanpa ada perdebatan kecil terjadi. Mungkin karena hery tak berada di ruangannya dan tatapan para pegawainya selalu tertuju padanya setiap kali mereka menyisiri kantor. Terutama para pegawai wanitanya. hery harus menjaga wibawanya, tentu saja.


"Astaga, aku lapar sekali," ungkap chris saat mereka berada di lift. chris mengusap perutnya seperti wanita hamil.


hery mendenguskan tawanya. "Kau tahu, chris, kebanyakan wanita selalu berusaha menjaga image anggun ketika berada di hadapanku. Tapi kau justru sebaliknya, kau memberiku image menyeramkan dan bahkan kau menyiramku saat pertama kali bertemu."


chris melipat kedua tangannya di dada. "Oh, astaga, bisakah kau tak mengungkitnya lagi? Aku benar-benar terdengar seperti monster."


Melihat reaksi chris membuat hery diam-diam tersenyum geli. Ia ikut melipat tangannya di dada dan dengan jahil mendekatkan wajahnya ke arah chris. hery menatap chris dengan sinis, ia menyeringai.


"Tapi bukankah itu benar ... chris?"


Mata chris membelalak, terkejut karena hery yang tiba-tiba membuatnya merasa terjepit. Mereka berada di dalam lift dan bos brengseknya ini bertingkah seolah ingin menelanjanginya dengan tatapan tajamnya itu.


chris berdiri dengan canggung sejenak, balas menatap hery. "Ya, brengsek, kau puas?"

__ADS_1


hery menyeringai ke arah chris dan kembali menegakkan tubuhnya, bersamaan dengan bunyi lift yang terdengar dan pintu terbuka. hery kembali menjaga sikapnya saat ia menjadi perhatian utama para pegawainya, dan rasanya chris tak tahan untuk menggoda hery agar pria itu berkata kotor di depan bawahannya sendiri. Sepertinya akan menyenangkan.


bersambung


__ADS_2