
chris memegang dadanya. Ia dapat merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Astaga, ada apa denganku?!" chris justru bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia tidak mau mengakui bahwa dirinya kini merasa takut.
"Berhenti," chris dengan bodohnya menunjuk dadanya sendiri, tepat dimana jantungnya berada. "Tidak, jika berhenti aku akan mati." chris baru menyadari kebodohannya, "Maksudku berhenti berdetak lebih cepat, jantung sialan!" namun chris kembali mengulangi kebodohannya.
Pagi ini chris datang ke kantor sedikit terlambat. Ini yang pertama kali, chris berani bersumpah.
Ia duduk tenang, lebih tepatnya sedang mencoba untuk duduk dengan tenang. Tapi ia merasa tidak berhasil. chris justru duduk di kursinya dengan gelisah, bahkan ia baru saja memarahi detak jantungnya.
chris yang terlihat bodoh di pagi hari.
chris tidak pernah seperti ini. Semua ini karena insiden kemarin, penyiraman air yang dilakukannya pada pria brengsek yang sialan tampan dan seksi itu. Ingatkan chris untuk mencoret kalimat terakhir mengenai penggambaran pria itu.
"chris, semuanya baik-baik saja."
chris menghirup nafas dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. Ia melihat ke sekeliling dan ia merasa semuanya tampak sama, tak ada yang berbeda.
"Aku sudah tahu bahwa si gila Karin itu membohongiku."
chris mengetuk-ngetuk meja dengan balpoin di tangannya. Ia sedang memikirkan ucapan Karin kemarin. chris berpikir, jika memang benar bosnya akan diganti, pasti pagi ini ruangannya bekerja sudah dipenuhi oleh obrolan heboh rekan-rekannya.
Meskipun chris dan Karin adalam teman semasa di bangku sekolah, namun rasanya chris terlalu gengsi untuk bertanya langsung pada perempuan bermarga Uzumai itu. Terlebih kemarin ia sudah menghancurkan harinya yang mungkin seharusnya berjalan indah.
Namun bisa saja ucapan Karin kemarin ada benarnya, mengingat Karin adalah sekretaris bosnya saat ini. Karin pasti lebih mengetahui banyak informasi, berbeda dengannya yang hanya pegawai biasa dan kesempatan langsung untuk bertemu dengan wijaya Presdir sangatlah kecil.
Dan pikirannya tersebut sukses membuat chris kembali gelisah. chris ingin membunuh Karin.
"Halo, cantik." chris menoleh dan pagi ini ia sudah mendapati wanita yang sama gilanya dengan Karin, bedanya wanita itu adalah wanita yang paling dicintainya. Oh, ia terdengar begitu gay seperti felix.
"Aku membencimu, hari ini kita tidak saling mengenal."
ana mati-matian menahan tawanya. chris begitu menggemaskan dengan sikap kekanakannya.
__ADS_1
"Oh ayolah," ana dengan sesuka hati duduk di atas meja chris. Gadis pirang itu melipat kedua tangannya di dada. "Kau seperti perawan tua saja. Ups, memangnya kau perawan?"
Kali ini target korban pembunuhan chris beralih ke ana.
"Aku akan memotong alat kelamin kekasihmu dan membuatmu mati karena tersiksa, ana."
ana meringis mendengar ucapan chris. "chris benar-benar mengerikan." chris bergidik ngeri mendengar ana yang menyebut namanya begitu manis. "Sudahlah, jangan marah seperti itu. Nanti siang vero mengundangmu untuk makan bersama, anggap saja itu sebagai permintaan maaf kami."
chris yakin bahwa ana sudah menemukan lelaki yang pas untuknya, yaitu lelaki yang sama gilanya dengan ana. Ia bisa membayangkan vero masih dapat tersenyum setelah membuatnya harus mendengarkan suara-suara yang membuatnya ingin memuntahkan isi sarapannya pagi ini.
"Dasar sinting."
"Aku juga mencintaimu, chris sayang." ana tersenyum geli, senang melihat wajah masam chris.
"Baiklah, kita saling mengenal lagi." Itulah cara chris memaafkan ana. Membuat wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak di bangku sekolah itu tertawa senang.
Setelah mengatakan bahwa ia mencintai chris dan mencium pipinya, ana turun dari atas meja kerja chris.
"Ada apa?" setelah perbincangan sebelumnya, chris memutuskan untuk membuka beberapa berkas yang sudah disiapkannya kemarin. Hasil pekerjaannya yang pagi ini akan diserahkan kepada atasannya.
"wijaya presdir akan membuat pesta dan ia mengundang seluruh pegawai kantornya!"
Seorang wijaya mengadakan pesta? Ia sudah bisa membayangkan seberapa mewah pesta tersebut. Bahkan mereka para wijaya itu dengan repot-repot mau mengundangnya yang hanya pegawai biasa.
Sebuah pesta yang menyenangkan sudah menunggu kedatangannya. Oh, chris begitu mencintai pesta. Ia cinta keramaian dan segala hiruk pikuk di dalamnya. Ia mencintai segala yang berhubungan dengan pesta, seperti dentuman musik dan bau alkohol—
"Tunggu,"
Tiba-tiba chris tersadar sesuatu.
"Kenapa?" satu alis ana terangkat, ia tak mengerti dengan respon yang diberikan chris. Seharusnya chris senang, sekiranya begitulah yang dibayangkan ana.
"Kenapa wijaya Presdir mengundang seluruh pegawai kantornya? Kau tahu kan beliau bukanlah orang sembarangan, mana mungkin ia mengundang pegawai biasa seperti kita?"
__ADS_1
Dan chris dapat menebak pesta yang dimaksud ana pasti jauh dari kata tarian yang menggila dengan diiringi musik yang keras, ataupun minuman dan asap rokok yang akan mengelilingi mereka.
"Hm, mungkin lebih terpatnya perayaan?"
chrks tak mengerti kenapa ana begitu bodoh karena justru bertanya balik padanya yang tak tahu apa-apa.
"Dari yang kudengar, gaku wijaya, Presdir kita yang terhormat itu mengundang kita semua untuk datang ke pestanya, mungkin lebih tepatnya acara pelepasan. Jangan pernah membayangkan acara itu akan dirayakan seperti acara mingguan kita, chris."
chris terkekeh mendengar ucapan ana yang dapat dengan mudah menebak apa yang sebelumnya ia pikirkan.
Ia dan ana adalah pecinta pesta. Mereka selalu menghabiskan sabtu malam mereka dengan mengadakan pesta kecil bersama teman-teman kantor, ataupun pergi ke club yang berbeda setiap minggunya.
"Jadi?"
"Pesta itu sebenarnya bukan sepenuhnya pesta untuk bersenang-senang, lebih tepatnya itu diperuntunkan untuk perpisahan wijaya Presdir yang akan segera pensiun dari jabatannya."
Sontak ucapan ana membuat kedua mata chris melebar. Sialan, jantungnya kembali berdetak cepat setiap mendengar satu persatu perkataan ana!
"Di pesta itu juga ia akan mengenalkan putra bungsunya, ia akan menjadi bos baru kita."
Dan ucapan ana kali ini sukses membuat rahang chris seakan jatuh menyentuh meja. Mulutnya terbuka lebar dan mata membulat. Ia benar-benar terlihat terkejut. Reaksi terkejut yang sedikit dramatis tentunya.
"Aku bisa membayangkan jika putranya itu berwajah tampan," chris mulai mengkhayal, "atau dia seksi? Pasti ia memiliki kharisma yang kuat, ia pasti begitu menawan!"
ana terlalu sibuk dengan khayalannya tentang si bungsu wijaya hingga—
Dugh!
—ia tak sadar bahwa chris baru saja membenturkan kepalanya ke meja.
Ngomong-ngomong yang tadi itu suara benturannya yang ketiga kali.
bersambung..
__ADS_1