
chris di pagi hari masih sama seperti pagi hari sebelumnya. chris bangun pagi dan berangkat ke kantor dengan tampilan yang rapih dan tepat waktu seperti biasa. Sebelum ada vero, ana akan dengan senang hati menjemputnya dan mereka berangkat ke kantor bersama, jadi ia tak perlu repot menyetir mobil seperti sekarang. Namun kini keadaannya berbeda, vero selalu menjemput ana untuk berangkat bersama meskipun berbeda kantor. Bagi chris tak masalah, chris juga pernah jatuh cinta, jadi ia memakluminya.
Pernah jatuh cinta, terdengar seperti chris si pinky berusia 70 tahun.
Beberapa pegawai lainnya menyapa atau sekedar memberi senyuman saat bertemu dengannya di lobby. chris masuk sendirian ke dalam lift, ia menekan tombol dan pintu lift perlahan tertutup, hampir tertutup hingga satu tangan menghalanginya.
"Kemarin aku menunggumu seharian di kantor. Menunggu jawabanmu."
Itu suara herry wijaya.
chris melirik herry yang kini berdiri di sampingnya. "Aku butuh waktu." Katanya.
"Aku tak suka menunggu."
"Sayangnya aku sangat suka sekali membuat orang menunggu." chris mengadah, ia tersenyum. Terlihat sombong di mata herry.
Bunyi lift terdengar, pintu terbuka dan mereka berada di lantai 3 tempat para pegawai bekerja.
"Semoga harimu menyenangkan,tuan herry, Selamat bekerja!" ujar chris sebelum melangkah keluar lift. Bagaimanapun ia harus ingat bahwa herry adalah atasannya, ia harus bersikap sopan meskipun pria itu bersikap kurang ajar.
"chris," herry menahan tangan chris sebelum wanita tersebut meninggalkan lift. "segera temui aku di kantor jika kau mendapat jawaban atas tawaranku." Dan setelah ucapan terakhirnya, herry membiarkan chris keluar lift hingga pintu pun tertutup secara perlahan.
chris masih berdiri di depan lift yang kini menunjukan lantai 6. chris tersenyum geli, ia menggeleng mengingat ucapan herry tadi. Pria itu benar-benar serius.
"Dasar bos gila."
chris POV
"Awalnya aku berpikir akan menggandengmu untuk datang ke pestanya dan berkata, halo namaku chris trawira, mantan tunanganmu selama empat tahun. Kini aku menjadi seorang lesbian karena aku alergi dengan lelaki, terutama lelaki brengsek sepertimu."
anna tertawa mendengar omong kosong yang keluar dari mulutku. "Lalu aku akan menciummu tepat di depan hiko." ana memperlihatkan senyumnya nakalnya.
"Kupikir itu ide yang bagus." Aku meminum teh hijauku dengan perlahan, ngomong-ngomong aku sedang dalam masa diet.
Kami berada di kedai teh, mengisi waktu makan siang kami. Tempatnya tak berada jauh dari kantor, jadi kami tak perlu khawatir akan terlambat kembali ke kantor karena terlalu asyik mengobrol disini.
__ADS_1
"Tapi kupikir akan lebih menyenangkan jika kau datang ke pestanya dengan dua tangan yang bekerja aktif." ana menopang dagunya di meja.
Kedua mataku menyipit, "Maksudmu?"
"Tangan kanan bekerja untuk menampar hiko. Ingat, tamparan yang keras!" huh, ucapan ana langsung membuat tanganku gatal. "dan tangan kiri bekerja untuk menggandeng herry wijaya, membawanya tepat ke hadapan hiko. Aku bahkan membayangkan kau datang ke pernikahannya dengan perut membucit."
Kali ini mulutku membulat, "Oh, membawa herry wijaya adalah ide yang gila, ana sayang."
"Bahkan jika kau tak bisa datang ke pernikahannya dengan menggandeng herry wijaya, kau masih bisa bertemu dengannya dalam keadaan perut membuncit di lain waktu. Aku bersumpah, dia akan menyesal meninggalkanmu karena melihat trawira chris yang sialan seksi saat sedang hamil."
Setiap yang diucapkan ana selalu membuatku merasa menjadi wanita paling super. Super cantik, super seksi, ataupun super beruntung.
"Bukankah tujuanmu memiliki bayi adalah untuk menunjukan bahwa chris masih bisa memiliki kebahagiaannya sendiri tanpa harus berkomitmen? Tunjukan kebahagiaanmu pada orang yang sudah menyakitimu, chris."
Mendengar kata-kata ana membuatku ingin meminta vero untuk tak segera menikahinya, dengan begitu aku akan terus memilikinya semauku.
ana, aku mencintamu dengan segala perhatian dan kata-kata gilamu.
.......
.......
"Hubungan kita akan saling menguntungkan,chris."
chris kini berada di hadapannya.
"Kuharap begitu."
herry diam-diam tersenyum, ia tahu bahwa chris pada akhirnya akan menyerah juga. Cepat atau lambat chris akan menyetujui usulannya untuk menjadi ayah dari anaknya. Menyetujui herry wijaya untuk menjadi pendonornya.
"Aku akan memberikan kebahagiaan yang kau impikan."herry sudah tahu apa alasan utama chris menginginkan kehadiran seorang bayi.
Pada akhirnya, chris memang setuju untuk bekerja sama dengan chris, Yamana ana berperan penting dalam hal tersebut.
Sebelumnya chris tak menyangka akan serumit ini. Saat felix berjanji akan menjadi ayah untuk anaknya, ia membayangkan felix hanya harus memberinya beberapa tetes ****** dan jadilan seorang bayi untuknya. Dan berurusan dengan wijaya memang sedikit rumit, herry bahkan dengan senang hati membawa pengacara untuk mengurus kontrak mereka.
__ADS_1
"Aku tak berpikir bahwa kau menyewaku untuk melakukan kontrak bodoh ini, her." Itu jelas suara Naru. Ia kembali menemui herry, hanya saja kali ini di lain tempat. Mereka bertemu di ruangan herry, bersama chris tentunya.
Sebenarnya ini adalah alasan utama herry untuk bertemu Naru kemarin. Ia ingin menyewa Naru yang berprofesi sebagai pengacara tersebut. Kiprahnya sebagai pengacara handal sudah sangat terkenal di kota b, bahkan di kota h sekalipun.
herry sudah menceritakan semuanya pada Naru maupun Hita saat mereka di kedai kopi. Keluarganya memang memiliki pengacara khusus, namun ia lebih mempercayai Naru untuk mengurus semuanya. Ia tak ingin keluarganya terlibat dalam urusannya yang satu ini.
Karena sesungguhnya, mendonorkan ****** hanyalah untuk kesenangannya tersendiri.
"chris ?" Naru mengulurkan tangannya, "Aku Uzumai Naru, pengacara sekaligus sahabat si bodoh herry ini."
herry hanya menatap jengah perkenalan tak penting yang dilakukan Naru.
"Ah, ya," chris tersenyum kikuk, "chris trawira." Ia menjabat tangan Naru sebagai tanda perkenalan dan kerja sama.
"Baiklah, aku akan membacakan beberapa syarat yang terdapat di dalam pernjanjian konyol kalian." Naru mengambil beberapa berkas yang sudah dipersiapkannya.
herry duduk tenang di sofanya, di sampingnya terdapat chris yang juga duduk dalam diam. Naru duduk di hadapan keduanya dan mulai membacakan isi kontrak secara perlahan.
"Syarat pertama, proses dilakukan secara alami. herry wijaya dan chris trawira boleh melakukannya berulang kali jika percobaan pertama tidak berhasil— ini syarat yang diajukan herry wijaya."
chris mendengus, "Kesenanganmu akan segera datang. Aku setuju."
"Aku dengan senang hati akan menunggu." herry menimpali.
"Syarat yang kedua, ketika anak itu lahir, tak ada campur tangan herry wijaya dalam mengurus kehidupannya— ini syarat yang diajukan chris. "
"Setuju." Jawab herry cepat.
chris melirik herry sekilas. Benar-benar bukan tipikal seorang pria yang ingin bertanggung jawab.
"Syarat yang ketiga, hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan chris trawira— ini syarat yang diajukan chris trawira, yang juga menjadi syarat terakhir di kontrak kalian."
"Baiklah, setuju." Ujar herry tanpa pertimbangan sedikitpun. chria tentu saja senang karena herry memang tak sedikitpun tertarik untuk memikirkan hasil kerja sama mereka nanti. Kebahagiaannya sebentar lagi memang akan datang, setidaknya begitu yang ia pikirkan.
bersambung
__ADS_1