
Hari ini herno sudah kembali bekerja. Ia datang lebih pagi dari biasanya, dengan tujuan ingin mengerjakan beberapa tugasnya yang tertunda selama meliburkan diri karena menjaga Hana dan putranya.
Beberapa pegawai bertemu sapa menyambut kehadirannya di lobi utama, memberi ucapan selamat untuk kelahiran cucu pertama di keluarga wijaya. herno tersenyum ramah dan membungkukkan badan sebagai rasa syukur dan ucapan terima kasih.
Pintu lift terbuka dan mengantarkannya pada lantai 10. Langkah ringannya membawa herno tiba di depan ruangan dengan siulan kecil, membuka pintu dan—
"Astaga!"
Jantungnya nyaris melompat keluar ketika mendapati seseorang tidur di atas sofa. Perlahan herno melangkahkan kakinya masuk dan mendekat, hingga ia menyadari bahwa orang itu adalah hery.
herno awalnya berpikir hari pertamanya di kantor akan langsung disambut oleh tumpukan berkas. Ternyata salah, hery yang bertingkah semaunya kini menyambut kedatangan herno dengan riang gembira. Sepertinya hery sudah menjadikan ruangan herno sebagai hotel pribadinya.
"Kau sudah gila?" herno menaruh tas kerjanya di atas meja. "Apa kau seorang gelandangan? Tidak memiliki rumah? Tidak memiliki pekerjaan?"
herno menghampiri hery yang masih tidur membelakanginya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. herno meraih bantal sofa dan menggunakannya untuk memukuli hery hingga akhirnya bangun dan mengaduh kesal.
hery duduk di sofa sembari mengacak rambut. hery yakin bahwa adik satu-satunya itu bahkan belum sempat mandi ketika datang ke kantornya. Membuat herno malu dan duduk di kursinya dengan menghela nafas berat.
__ADS_1
herno menekan tombol dial di teleponnya, meminta dua cangkir kopi untuk di bawa ke dalam ruangan. Tidak membutuhkan waktu lama hingga seorang pegawai mengantarkannya. hery yang meraih kopi dan menyesapnya lebih dahulu.
Sekretarisnya tidak memberitahu bahwa ia akan kehadiran seorang tamu yang bahkan tidur dengan sesuka hati di ruangannya. Hal tersebut sebenarnya tidak membuat herno heran, namun ia hanya sedikit terkejut dengan kehadiran hery yang tiba-tiba.
"Ayah akan membunuhmu jika tahu kau terlalu sering bermain-main seperti ini, hery." Kali ini herno yang meraih cangkir kopinya, menyesapnya pelan dan kembali duduk di kursi kuasanya.
hery menguap lebar, satu cangkir kopi tidak membuatnya kehilangan rasa kantuk. "Aku tahu." Ujar hery sembari menyandarkan punggungnya setelah menaruh cangkir kopi di atas meja.
"Lihat dirimu. Kau seperti berandal gila yang baru saja pulang dari klub malam dan menghabiskan banyak uang untuk berjudi." herno menggelengkan kepalanya prihatin dilengkapi decakan pelan dari ujung bibirnya. "Atau bahkan, jangan-jangan kau menjadi seorang pengedar narkoba?!"
"Jangan bicara yang tidak berguna,kak." hery mulai protes ketika herno terus menceramahinya dengan ucapannya yang dibuat-buat. Jika berhubungan dengan hery, herno memang sedikit bawel.
"chris."
Ucapan hery langsung membuat herno berhenti bicara karena menyemburkan kopinya keluar. herno sontak memukul-mukul dadanya karena tersedak.
"Kau tidak perlu berkata terlalu jujur, berengsek!"
__ADS_1
"Aku hanya menjawab karena kupikir kau memang ingin tahu." hery mengangkat bahunya acuh kemudian meraih kotak tisu dan melemparkannya pada herno.
herno menangkap kotak tisu dengan sigap dan meraih beberapa lembar. "Berandal gila." Desis herno sembari mengelap cipratan kopi di atas mejanya dengan tisu. "Langsung saja ke intinya!"
herno tahu hery tidak mungkin tiba-tiba datang ke kantornya sepagi ini tanpa alasan. Pria itu bukan pengangguran, hery bahkan seorang presdir yang memimpin perusahaan utama wijaya Group dibanding dirinya yang menjadi CEO di anak perusahaan. Jabatan yang lebih tinggi tentu saja membuat hery lebih sibuk dari herno.
Jika sudah datang sepagi ini, herno tahu ada sesuatu yang tidak beres menyangkut adiknya. Ia mulai memikirkan beberapa kemungkinan. Misalnya mengenai saham, investasi yang hery lakukan, pembukaan anak perusahaan yang baru, atau bahkan hutang—
"chris."
"Hah?"
"Aku ingin berkonsultasi mengenai hubunganku dan chris."
*
*
__ADS_1
*
bersambung