Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 10


__ADS_3

chris pov


"Aku ingin seorang bayi, bukan seorang pria yang dengan senang hati menunggangiku." Sekali lagi aku menekankan, tapi ana masih saja mengolokku.


"Aku bersumpah, kau pasti akan sangat menyukainya. chris-ku yang sialan beruntung." si gila ana megungkapkan pendapatnya. Selain vero, aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam otaknya hingga berkata bahwa aku begitu beruntung.


ana meminum sodanya dan kembali berkata, "Kau dan aku ditakdirkan bersama, aku bisa membayangkan betapa seksinya ia saat berkata seperti itu."


"Omong kosong," Aku melempar potato chips tepat ke wajahnya.


Aku berbaring di atas karpet berbuluku, sedangkan ana memilih duduk santai di atas sofa putihku. Kedua kakinya terlipat dan ia terlihat seksi dengan celana pendeknya itu. Kukira vero akan selalu berdiri jika melihat ana seperti ini.


"Kau sebelumnya menyebut herry seorang playboy, dia tak cukup baik untukku."


"Dia memang tak cukup baik untukmu dalam hal berkomitmen, chris-ku," sial, sepertinya aku salah bicara. Kali ini ana berpikir bahwa aku membutuhkan herry untuk pendamping hidup dibanding pendonor. chris bodoh!


"Lupakan saja."


ana justru memperlihatkan senyum menyebalkannya.


"Kau tak punya alasan untuk menolaknya, chris." Kali ana memilih berselonjor kaki di sampingku, "kau akan memiliki anak yang sempurna, cerdas dan tangguh seperti seorang wijaya." Lagi-lagi ana menggambarkan wijaya seakan mereka adalah perkumpulan para dewa.


"Dia pria licik," dan aku sedikit tak menyukainya.


"Tapi kupikir kalian memang ditakdirkan bersama."


Aku menghela nafas, "Setelah dua kali membuatnya kesal?" Pertama, saat aku menyiramnya di parkiran dan yang kedua saat aku menolaknya di pesta malam itu.


"Kau hanya punya dua pilihan, sayang," ana memulai pembicaraan yang serius dengan wajah konyolnya, "menjadi chris si lucky bastard atau menjadi chris si pitty girl."


"Orang gila mana yang akan memilih pilihan kedua!?"


"Bingo!" ana menjentikan jarinya, "Itu tandanya kau menerima tuan herry menjadi pendonormu."

__ADS_1


Dasar sialan.


"Lebih baik kau saja yang dihamili."


"Jika vero mengijinkan." ana mengedipkan sebelah matanya. Oh, Tuhan, sembuhkanlah sahabat gilaku ini.


"Kau tahu, aku sudah lama tak melakukannya," terakhir kali bersama si brengsek hiko. "meskipun dia atasan kita, tapi aku tak ingin terlihat rendah di hadapannya."


"Bagaimanapun posisimu memang akan lebih rendah darinya, chris." Ucapan kotor ana mengingatkanku pada herry wijaya yang begitu terhormat itu. ana tertawa puas saat mengatakannya.


"Aku tidak siap." ujarku sedikit malu.


"Kalau begitu bermimpi saja untuk memiliki seorang bayi." ana mengatakannya seolah melakukan **** semudah memesan delivery food.


"Aku tahu," Dan aku menghela nafas. "pagi ini herry mengirim pesan, ia menunggu jawabanku dan memintaku segera menemuinya di kantor jika memang aku setuju."


Hari ini hari minggu dan aku tak tahu apa yang dilakukan bos ku itu di kantor. Dia memang gila.


"Apa dia tak bisa memintamu ke hotel saja?" ana secara gamblang mengungkapkan isi pikirannya, yang sebenarnya isi pikiranku juga. Terima kasih, ana, aku tertular pikiran bodohmu.


"Kalau begitu, aku bisa membayangkan jika kalian akan membuat bayi di dalam mobil."


ana membuatku tawaku meledak.


"Tidak, terima kasih."


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


Sebenarnya ini adalah tujuan herry berada di kantornya, lebih tepatnya berada di sekitar kantornya. Ia yang hari ini berpakaian semi formal tampak duduk tenang di kursinya. Ia sendirian di salah satu kedai kopi yang bersebelahan dengan kantornya. Tentu saja sendiri, ia tak pernah mau repot repot mengajak wanita untuk pergi ke tempat ramai seperti ini, mungkin pengecualian untuk ibunya.


"herry!"


hery menoleh ke belakang, dan seorang pria berambut kuning datang menghampiri dengan cengiran lebar di wajahnya. Ia tak seperti herry, ia datang bersama seorang wanita berambut kebiruan di sampingnya, dan wanita itu menggendong seorang anak kecil.


Mereka adalah Uzumai Naru dan Uzumai Hita, kedua sahabatnya saat dulu masih di bangku kuliah. Ia tak pernah mengira jika pada akhirnya mereka akan menikah dan bahkan memiliki seorang anak. Bocah laki-laki bernama Uzumai Boto, supercopy dari Uzumai Naru.


"Menunggu lama?" Naru berbasa-basi.


"Hanya 20 menit," hampir setengah jam, naru.


"Lama tak berjumpa, herry. " Hita menyapa dengan senyum manis di wajahnya. Hita masih tetap cantik seperti terakhir kali herry temui, kira-kira saat musim panas tahun lalu.


"her, pesankan aku dan Hita minuman!" Naru kembali memperlihatkan cengiran lebarnya.


"Pesan sendiri, naru sialan." herry meminum kopinya yang sedikit mendingin.


"Biar aku saja, Naru." Hita yang memang tipikal istri yang baik memanggil pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya bersama Naru. Sedangkan herry dan Naru mulai larut dalam obrolan kecil yang sedikit tak penting.


Hari menjelang siang, udara di kota xxx masih terasa sejuk. herry dan Naru beserta Hita bertemu di waktu dan cuaca yang tepat. Mereka berencana untuk mengobrol santai disini. Saling melepas rindu, namun herry dan Naru enggan mengakui.


"Kami memutuskan untuk menetap disini, agar lebih dekat dengan ayah dan ibu." Naru memulai topik yang lebih bermutu.


Naru dan Hita baru saja pindah ke Kota xxx , setelah sekitar dua tahun tinggal di xxx sejak pernikahan mereka dikarenakan Naru yang memang bekerja di kota tersebut.


"Kupikir ada alasan lain."


Naru menggeser minuman yang baru saja diantar pelayan untuk lebih mendekat pada Hita. Ia tersenyum lebar, "Sebenarnya memang ada alasan lain." Naru tersenyum penuh arti pada Hita.


Hita yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menunduk menyembunyikan rona merahnya. Ia memilih untuk memperhatikan B yang duduk di pangkuannya dan disibukan dengan sendok bekas kopi herry.


"Kami memutuskan untuk memberi Boto seorang adik." Naru menyeringai, begitu pula dengan herry yang mengerti maksudnya.

__ADS_1


Mengingat Boto yang bahkan baru menginjak usia satu tahun, Naru berpikir Hita pasti akan dibuat repot mengurus anak mereka dengan kondisi perut yang membesar. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk mengajak Hita pindah ke xxx. Disini ada ayah dan ibunya yang akan dengan senang hati membantu Hita dan menjaga Boto.


"Oh, dasar brengsek." herry mendenguskan tawanya.


__ADS_2