
chris membuka kelopak matanya yang terasa berat. Pandangannya menyipit kala sinar matahari langsung menyambutnya. chria bergumam pelan saat angin dingin di pagi hari masuk melalui jendela besarnya yang terbuka lebar. Membuat pundaknya yang terbuka menggigil dan—
Tunggu, chris baru menyadari sesuatu.
Ia masih dalam balutan gaun pestanya.
"Lihat, siapa yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya."
matanya menyelisik, mendapati ana dengan sebelah bahunya yang bersandar di ambang pintu kamar. ana terlihat segar di pagi hari, sedangkan chrris merasa dirinya seperti tidak mandi selama satu minggu.
"Coffee, double shot, less sugar." ana tersenyum simpul dan satu paper cup coffee berpindah tempat ke tangan chris.
chris mulai menyesapnya perlahan, menghirup aromanya dan merasakan sensasi hangat yang mulai menjalar dan sedikit menghangatkan tubuhnya. chris sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan ana kepadanya secara suka rela.
"ana, bagaimana bisa?"
chris menantikan penjelasan dari ana yang mungkin tahu tentang bagaimana ia bisa tertidur memakai gaun pesta, tentang bagaimana ia bisa tertidur masih dengan riasan wajah, dan tentang bagaimana ia bisa tiba-tiba ada di dalam apartementnya setelah semalam—
"herry—"
"Ya, benar, boss kita yang melakukannya." Satu jentikan di tangan ana memotong cepat pembicaraan. "Dibanding membangunkanmu, ia lebih memilih untuk membawamu dalam gendongannya seperti pengantinnya, chris. Ternyata wanitaku diperlakukan dengan baik."
ana bercerita dengan antusias sedangkan chris justru terlihat frustrasi dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
chris membayangkan betapa repotnya herry karena ia yang pada akhirnya tertidur setelah menangis selama setengah jam di dalam mobilnya dan hampir membuat pria itu menghancurkan mobilnya sendiri karena chris membuatnya emosi.
"ana, dia tidak menghubungiku." chris meringis ketika mengecek handphone-nya dan tidak ada satupun pesan singkat maupun panggilan telepon dari herry. chris mulai khawatir jika ia membuat herry muak sehingga pria itu tidak mau menghubunginya.
"Hubungi dia."
"Apa aku harus melakukannya? Menghubunginya lebih dulu?"
ana menggelengkan kepala dengan raut wajah yang terlihat dramatis. "Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi seorang pecundang. Lakukan, chris."
chris mengangguk cepat seperti seoarang murid yang patuh pada guru besarnya dan langsung menghubungi herry saat itu juga. Hari ini adalah hari libur, jadi chris berpikir bahwa sepertinya herry akan lebih mudah dihubungi karena ia memiliki waktu luang.
hery jarang mengangkat panggilan telepon chris, karena biasanya herry lah yang lebih dulu mmenghubungi chris dan pria itu akan terus menghubunginya berulang kali jika chris tidak segera mengangkatnya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk sebaliknya.
__ADS_1
Tanpa sadar chris menggigit kuku jarinya, resah menunggu herry yang tak kunjung mengangkat panggilan panggilannya. chris menyerah setelah percobaan kedua untuk menghubungi herry namun tidak kunjung mendapat jawaban.
"Kemarin aku datang ke apartementmu. Aku berencana untuk menginap dan menghabiskan malam gila denganmu, seperti biasa." ana mulai bercerita, duduk di hhadapan chris dengan satu kotak make up yang kini ikut berada di atas kasur.
"Sial, kita melewatkannya." chris benar-benar kecewa dengan ujung bibir yang menekuk sedih. Bercerita mengenai pria panas sambil menghabiskan beberapa cemilan dan minuman soda memiliki makna malam gila bagi chris maupun ana.
ana menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan cerita, satu tangannya mengusap wajah chris dengan make up remover. chris menikmatinya, memejamkan mata dan membiarkan wajahnya berada di bawah kuasa ana.
"Tidak masalah jika pada akhirnya yang kutemui justru hery wijaya yang menggendongmu di dadanya dan diam berdiri di depan pintu. herry tidak banyak bicara namun aku tahu, Ia sedang bingung karena tidak tahu password pintu apartementmu."
Tanpa sadar chris mengulum senyum, nyaris tertawa geli membayangkan bagaimana wajah hery yang mungkin saja terlihat bodoh karena tidak tahu bagaimana caranya masuk ke dalam.
Sekalipun terlihat bodoh, ttapi chris yakin jika pria itu tetap terlihat tampan.
Dan chris langsung merutuki dirinya, menyadari ia yang baru saja memuji herry, pria menyebalkan nomor dua yang ada di dalam hidupnya.
Ingat, nomor satu masih dipegang oleh kelvin.
"Lalu kau yang membuka pintunya?"
"Tentu saja. Sebagai ucapan terima kasih, kami menghabiskan malam bersama. Pada akhirnya aku justru menghabiskan malam gila bersama hery wijaya." ana mengedipkan sebelah matanya menggoda kemudian tertawa keras saat chris memukulnya dengan bantal.
chris bergidik ngeri mendengar perkataan ana. Ia baru menyadari satu hal, sepertinya sahabatnya itu sudah berubah menjadi budak cinta yang gila.
"Aku memutuskan untuk kembali ke rumah, meninggalkanmu dengan herry. Karena kupikir kalian berdua tidak ingin diganggu."
ana selesai dengan tugasnya, turun dari kasur dan menaruh kembali kotak make up milik Chris di atas meja rias.
Chris sesaat terdiam, memandangi gaun pestanya yang kusut dan bertanya-tanya bagaimana ia yang terus tertidur bahkan ketika herry masih bersamanya. Rupanya menangis karena hiko mampu menguras energinya hingga tertidur pulas.
Bicara mengenai hiko, ana belum mengetahui apa yang terjadi padanya kemarin malam. chris sadar jika sebenarnya banyak yang ingin ana tanyakan, namun wanita itu lebih memilih mmenunggu chris membuka lebih dulu apa yang sekiranya memang ingin ia beri tahu.
"ana," chris menghentikan langkah ana yang sudah berada di ambang pintu kamar.
ana menoleh dengan raut wajah yang penasaran karena beberapa saat chris seakan menggantungkan ucapannya. "Katakan." Pintanya dengan raut wajah yang menanti.
"Kemarin ... aku bertemu dengan hiko, di pesta pernikahannya."
__ADS_1
"Oh— Astaga ... Sialan, chris."
ana kembali mmenghampiri chris dan langsung memeluknya erat, seakan tak akan pernah melepaskannya lagi. Mengusap punggungnya pelan dan memberi tepukan-tepukan ringan disana, seolah berkata semua akan baik-baik saja.
chris terkekeh pelan ketika ana meraih tangannya, menggengamnya disana. "Hentikan, ana. Kau memperlakukanku seperti wanita yang hampir menemui ajalnya."
"Dan kenyataannya memang begitu, chris. Katakan, setidaknya katakan padaku bahwa kau sudah menampar wajahnya, tamparan yang sangat keras." ana berganti mencengkram kedua bahu chris dan memberikan tatapan membara.
"Aku tidak melakukannya, tapi herry memukul wajah hiko hingga membuat kekacauan di sana."
ana langsung menutup mulutnya yang menganga. "Astaga, ini gila. Pria wijaya memang gila, ternyata rumor itu benar adanya." ana masih dengan rasa terkejutnya yang berhasil membuatnya setengah kehilangan nyawa.
"Ya, dia memang gila. Karena itu, sepertinya aku tidak bisa kabur begitu saja setelah menghancurkan pesta pernikahan orang lain," chris menghela napas sesaat. "Sekalipun ia adalah mantan tunanganku yang brengsek. ana, kupikir aku harus bertemu dengan hiko."
"Tidak, chris. Tidak." ana menatapnya tajam kemudian kembali berkata, "tidak jika tanpaku."
chris menyeringai kecil saat ana bangkit dari kasur, lari terburu-buru membawa handuk dan melemparkannya pada chris, memintanya untuk segera mandi dan bergegas. ana berkata bahwa chris masih harus bertempur.
"Kau tahu, ana? Jika hery adalah satu-satunya pria gila di dalam hidupku, maka kau adalah versi wanitanya. Satu-satunya wanita gila yang paling kucintai."
"Terima kasih chris, tapi aku sudah tahu itu bahkan sejak kita berdua masih berbentuk embrio. Karena itu kita harus segera menikah, chris."
chrus tertawa keras mendapat lamaran kesekian kalinya dari ana, dan mungkin ia akan mempertimbangkan untuk menjadi kekasih ssimpanan ana saja seumur hidupnya.
chris masuk ke dalam kamar mandi sedangkan ana mulai sibuk membongkar lemari pakaian chris,
memilih outfit terbaik yang hari ini harus chris pakai. ana bahkan sudah berencana akan membawa chris pergi ke salon terbaik di kota ini, chris harus mempersiapkan segalanya.
Karena ana tahu, pria yang akan kembali chris hadapi bukanlah pria biasa.
chris harus kembali menghadapi hiko, cinta pertamanya. Pria pertama yang menjadi kekasihnya, dan juga satu-satunya yang paling menghancurkan hatinya.
*
*
*
__ADS_1
bersambung