
"Katakan padaku, chris. Siapa yang menyakitimu?"
"Eh?"
chris tersenyum canggung mendengar pertanyaan ana. Ia berdeham kecil, memilih diam dan kembali menyalin puluhan lembar berkas di mesin fotocopy pagi ini.
"Matamu sembap. Terlihat jelas, bodoh."
chris awalnya mengira mungkin felix mengadu pada ana. Namun mengingat felix adalah tipe manusia setia kawan, sekalipun felix pun berteman dekat dengan ana, pria itu tidak akan asal menceritakan sesuatu tanpa izin darinya.
Jangankan untuk menceritakan, untuk bertanyapun felix tidak akan melakukannya jika chris tidak terlihat dalam mood yang bagus.
Bicara soal felix, sebenarnya saat ini chris merasa bersalah. Semalam ia terlalu terbawa perasaan hingga membuatnya mengacuhkan felix datang jauh dari xxx hanya untuk bertemu dengannya.
Sebelum berangkat kerja, chris hanya menyiapkan sarapan untuk felix, diam-diam menutupi tubuh felix yang tertidur di sofa dengan selimut, kemudian pergi bekerja tanpa membangunkannya. Mungkin nanti ketika pulang kerja ia akan kembali berbicara dengan felix.
Namun pagi ini, ia tertangkap basah oleh Nyonya ana. chris lupa bahwa ia tidak hanya memiliki satu sahabat yang over-protective, tapi masih ada satu sahabat gilanya yang lebih peka dan banyak bicara.
"Semalam aku menonton drama percintaan. Kau tahu, sangat menjijikan hingga membuatku menangis darah."
chris memperlihatkan cengiran yang terlihat jelas dipaksakan, sedangkan ana memicingkan kedua matanya menatap curiga. Tentu saja, mereka berdua sudah bertahun-tahun berteman. Berbohong adalah satu hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan di antara keduanya.
ana memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia melirik chris, ia mendapati gadis merah muda itu sedang meremas berkas di tangannya.
ana dibuat panik karena waktu mereka tidak banyak tapi chris justru yang entah sadar atau tidak kini meremas berkas penting yang akan mereka salin.
Namun ketika ia melihat ke depan, ada hery yang berjalan dari balik kaca besar di ruangan mereka dengan gaya bossy-nya di seberang sana, sekarang ana mengerti apa yang membuat chris seperti itu.
"Kepala team sudah menunggu kita di ruangannya dan ia akan marah jika berkasnya rusak, chris." ana berbicara dengan suara tenangnya.
"Oh, sialan. Aku melamun, ana."
chris yang baru mendapatkan kesadarannya langsung merapikan berkas yang baru saja diremasnya dan meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan.
"Kau tidak melamun," ana yang sudah selesai dengan pekerjaannya mulai merapikan berkas-berkas dalam satu bundle. "Kau hanya terlalu terfokus padanya."
chris yang tertangkap basah tidak memiliki alasan lagi untuk menyanggah. Ia ikut merapikan tugasnya dan berpura-pura tidak ada yang terjadi.
"Begini saja. Tugas ini, biar aku yang berikan pada kepala team." ana mengambil semua salinan berkas yang mereka kerjakan. "Sekarang, kau lebih baik temui dia. Bicarakan apa yang perlu kalian selesaikan. Good luck." ana menepuk bahu chris sebelum pergi menyelesaikan pekerjaannya.
chris ragu apa ia memang harus melakukannya atau tidak. Ia masih memikirkan harga dirinya jika lebih dulu menemui hery, mengingat apa yang sudah pria itu lakukan padanya.
__ADS_1
Namun memperhatikan hery dari balik jendela ruangannya, memandangi dari jauh hery yang kini sedang berbicara dengan rekan kantor lainnya, sepertinya terasa lebih menyedihkan bagi chris.
Maka dari itu, ketika hery selesai dengan urusannya dan pergi yang kemungkinan besar kembali ke dalam ruangannya, chris memutuskan untuk pergi menemuinya.
Hingga sampailah ia di depan ruangan hery dan kembali berhadapan dengan Karin, love-hate abadi chris.
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu kembali menerobos masuk ke dalam ruangan Presdir, chris." Ujar Karin saat menyadari chris yang terus memperhatikannya seperti mencari celah untuk masuk tanpa izin darinya.
Karin hanya meliriknya sesaat, kemudian kedua mata di balik kacamata tebalnya kembali terfokus pada layar komputer di hadapannya. Sesekali ia menerima panggilan telepon dan memeriksa berkas-berkas di mejanya. Maha sibuk sekretaris pribadi hery.
chris mendengus sebal. "Sekalipun aku berkata jika aku mencintaimu?"
"Aku tidak tertarik dengan wanita gila, chris."
"Bagaimana dengan mencintaimu sepenuh hatiku?"
"chris, aku sibuk." Kali ini Karin berdecak kesal, mulai terganggu dengan gurauan bodoh chris.
"Aku harus bertemu dengan si brengsek ini."
"chris!" Karin langsung menutup mulutnya ketika tanpa sadar sedikit berteriak. Ia kemudian dengan sedikit berbisik kembali melanjutkan, "jaga ucapanmu, bagaimana bisa kau menyebut Presdir wijaya sebagai si brengsek—"
"Aku memang brengsek. Biarkan dia masuk."
"Aku ingin kita selesai."
chris bahkan masih berdiri di depan pintu dan hery belum sempat kembali duduk di kursinya. hery tidak merespon apapun, hanya saja chris tahu bahwa pria itu terkejut dari balik punggungnya.
"Aku tidak membutuhkanmu."
"Kau membutuhkanku." Kali ini hery merespon cepat, menekan intonasi di setiap pengucapannya. Memberi tanda bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya pada chris.
"Aku ingin kita selesai."
chris kembali mengulangi ucapannya. Wajahnya terlihat dingin dan tanpa ekspresi, yang sebenanya mati-matian chris pertahankan di hadapan hery. Ia ingin pria itu tahu bahwa tidak ada lagi chris yang baik hati saat ini.
"Kita memiliki kontrak."
"Aku tidak peduli. Penjarakan aku jika kau mau." chris mengangkat kedua bahunya bersikap acuh. "Sekarang kau bebas kembali ke kehidupanmu. Tidur dengan banyak wanita, oh— atau satu wanita?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
hery dengan rautnya yang bertanya-tanya, tidak mengerti dengan inti permasalahan yang kini mereka hadapi. Tentang Chris yang tiba-tiba ingin membatalkan rencana mereka membuat bayi dan juga tentang satu wanita yang ia maksud.
" Hita. Apa kau juga meniduri istri sahabatmu? Apa kau tidak berpikir itu terlalu gila—"
Brak!
Saat itu juga hery memotong ucapan chris dengan tinjuannya yang melayang di atas meja kerjanya. Tinjuan keras hingga menyebabkan luka di kepalan jarinya dan menimbulkan sedikit retakan di kaca meja kerjanya.
"Tarik ucapanmu, chris."
hery di balik meja kerjanya berusaha menahan emosi. Rahangnya mengeras dengan kerutan di dahinya yang terlihat jelas, pria itu susah payah menahan diri untuk tidak berteriak marah.
"Jadi, kau meniduri Hita?"
"chris!"
Tubuh chris tersentak ketika hery akhirnya berteriak marah. Ia tidak mengira akan membuat hery semarah ini. Untuk pertama kali hery membentaknya.
Karena chris awalnya berpikir, jika memang hery tidak melakukannya, maka pria itu akan dengan mudah mengatakan tidak. chris mengenal hery yang tidak pernah membesar-besarkan masalah.
Namun ternyata ia salah. Reaksi hery kembali membuatnya sadar jika wanita bernama hita adalah seseorang yang sangat penting di kehidupan pria itu.
chris dengan kedua matanya yang membulat memilih mundur ketika hery keluar dari meja kerjanya, berjalan menghampirinya dengan kedua mata hitam kelamnya yang menatap tajam.
hery berhenti ketika jarak mereka tersisa sekitar dua langkah. Satu tangannya menutupi kedua matanya yang terpejam, mencoba meredakan emosinya yang begitu mudah terpancing.
"Keluar dari ruanganku."
hery mulai terdengar tenang, namun ucapannya tadi membuat chris tersenyum kecut. Setelah kemarin pergi begitu saja, hery kini bahkan mengusirnya.
"Jika aku keluar, maka kita benar-benar selesai."
"Aku tidak peduli." Kali ini hery menyerah. Baginya, hari ini chris sudah bersikap keterlaluan.
hery terbiasa dengan ucapan chris yang terkadang melampaui batas, karena ia pun sering memaki. Namun untuk yang satu ini, melibatkan nama Hita di antara mereka adalah satu dari banyak hal yang tidak bisa hery toleransi.
chris akhirnya keluar dari ruangan hery, dan hubungan keduanya pun benar-benar berakhir.
*
*
__ADS_1
*
bersambung