
Masih dengan herry yang berbicara di telponnya, chris menunduk dan menatap perut datarnya. Hanya tinggal menunggu waktu dan seorang bayi keturunan wijaya akan berada di sana. Ia akan mengandung seorang bayi.
Ia berjanji akan menjadi seorang ibu yang baik dan berhenti mengumpat di hadapan anaknya kelak. Janji seorang wanita yang baru saja dibuahi!
"chris," Suara herry terdengar, membuatnya tersadar dari lamunan seasaatnya. "sampai bertemu hari senin."
chris mengangguk seperti seorang idiot, merasa seperti ada herry yang sedang berbicara di hadapannya.
"Ya, sampai bertemu hari senin."
Kemudian baik herry maupun chris memutus sambungan telpon mereka.
herry POV
"herry, kita lanjutkan pembicaraan tadi."
Aku menoleh saat mendengar suara herno— dan sial, dia berhasil membuatku terkejut karena berdiri tepat di belakangku. Sejak kapan? Apa dia memdengar pembicaraanku dengan chris?
"Kau mengintipku?"
"Belum sempat." dia menyeringai. Terlihat bodoh. Sialan bodoh dengan tatapannya yang berada di antara selangkanganku.
Aku menaikkan resleting celanaku dan berjalan di belakangnya. Aku baru saja buang air kecil, setelah sebelumnya kak herno membuatku menahannya selama beberapa menit karena ia terus saja berbicara panjang lebar pagi ini. Dan kesempatan itu aku gunakan untuk menghubungi chris, dan kuharap ia tak tahu bahwa aku baru saja menelponnya dengan keadaan celana yang kancing dan resletingnya terbuka.
kak herno menyuruhku duduk di sofa dan bertingkah seperti seorang bos besar. Sialan, ini adalah kelebihan seorang kakak, bisa menjadi seorang penyuruh dan buruknya ibu selalu memintaku menuruti apapun perintahnya. hery wijaya harus menjadi seorang adik yang baik, katanya.
__ADS_1
"Apa kau berniat membunuh ayah dan ibu?"
Ini yang sejak pagi kak herno bicarakan; sebuah percobaan pembunuhan yang akan aku lakukan pada ayah dan ibu. Ia menelponku di pagi buta, membuatku terpaksa meninggalkan chris yang masih terlelap di atas ranjang bersamaku, dan menahan untuk buang air kecil selama beberapa menit hanya untuk mendengarkan pembicaraan tak berguna seperti ini.
"Seharusnya kau tak perlu tahu soal ini."
Punggungku menyandar pada sofa di belakangku. Saat ini aku berada di dalam apartemenku, kak herno secara khusus memintaku bertemu disini. Ia beralasan tak ingin pembicaraan ini akan terdengar oleh ayah dan ibu.
"Jadi kau berencana untuk menyembunyikan hal ini dariku? Dari ayah dan ibu?" kak herno berjalan mondar-mandir di hadapanku.
Dan untuk jawaban pertanyaannya tadi; sesungguhnya iya. Aku tak pernah berniat melibatkan keluargaku dalam urusanku bersama chris. Persetan, ini hanya tentang membuat bayi bukan ajang pendekatan dengan seorang wanita melalui seks— keluargaku tak pelu tahu tentang hal ini.
Dan kelvin berhasil membocorkannya pada kak herno, yang mungkin hanya menunggu beberapa jam lagi hingga ayah dan ibuku tahu. Sialan.
"Oh, dasar berandal gila." kak herno dengan sialannya mengumpat di hadapanku. "Kau pikir apa yang akan kulakukan jika bertemu keponakanku nanti? Pura-pura tak mengenalinya?"
"Lakukanlah." aku menguap, kemudian berbaring di atas sofa.
"Mungkin ibu akan lebih memilih melahirkan seekor anak kucing jika tahu apa yang kau lakukan saat ini, herr." aku melihat kak herno berjalan gusar ke arah dapur. Mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin dan meminumnya dengan cepat.
"Berhenti banyak bicara." ujarku malas. Ya, aku malas meladeni ucapannya.
kak herno kembali menghampiriku. "Aku pernah mendengar soal wanita itu sebelumnya, dan aku tak menyangka jika pada akhirnya pria yang menjadi pendonor ****** itu adalah adikku sendiri."
"Aku dan chris memiliki beberapa peraturan yang terdapat di dalam kontrak kami, termasuk soal hak asuh."kak herno justru tertawa, mungkin baginya terdengar lucu karena aku harus melakukan sebuah kontrak hanya untuk membuat bayi.
__ADS_1
"Aku tak keberatan jika anak itu akan berada di bawah tanggung jawab chris sepenuhnya, karena itu memang tujuan utamanya."
"herry." kak herno menarik kerah kemejaku, memintaku untuk bangkit namun caranya seperti berniat untuk mencekik leherku atau melempar tubuhku ke dinding dengan keras. "Dengarkan aku, ini akan menjadi percakapan antara calon ayah dan seorang pria yang juga akan segera menjadi calon ayah sepertimu."
Brengsek, ucapannya justru membuatku ingin tertawa keras.
Aku duduk sesuai keinginannya. "Ya, aku akan mendengarkannya."
"Kau harus tahu, bagaimana rasanya saat mendengar wanitamu berteriak 'Aku hamil!' dan memelukmu dengan erat. Ini bahkan lebih gila dibanding saat klub sepak bola favorit kita menjadi juara dunia!"
"Bagus, kupikir memang tak ada bedanya antara sensasi saat seorang pemain bola menjebol gawang lawannya dengan sensasi seorang pria yang menjebol gawang wanitanya."
Dan saat itu juga kak herno memukul kepalaku dengan bantal sofa. Cukup keras hingga membuatku menahan diri untuk tak memakinya. Inilah yang membuatku saat aku berusia tujuh tahun meminta pada ibu untuk melahirkanku terlebih dahulu dibanding kak herno, agar aku bisa melakukan hal yang sama padanya.
Sebenarnya ia adalah seorang kakak yang baik, aku ini adalah adik kesayangannya dan aku cukup bangga. Hanya saja ia selalu seperti ini jika terlalu berlebihan ikut campur soal masalahku. Pagi ini ia berubah menjadi kakak yang temperamental.
"herry," kak herno berkata dengan nafas beratnya. "aku bersumpah kau akan menginginkan bayi itu. Bagaimana pun ikatan antara ayah dan anak tak kalah hebat dari ikatan ibu dan anak. Kau akan menyayangi bayi itu bahkan saat masih berada di dalam kandungan ibunya."
kak herno berbicara dengan wajah seriusnya, kedua matanya menatap tajam. Ini persis seperti saat ia mengajariku belajar matematika ketika masih di sekolah dasar, wajahnya luar biasa serius.
Aku mendengus, kemudian berkata, "Kau bahkan belum menjadi seorang ayah. Kau tak perlu mengajariku banyak hal tentang bayi atau bahkan seorang ibu. Aku bersumpah ini hanya tentang membantu seorang wanita untuk hamil, dan aku akan lepas tangan setelahnya."
Ya, aku berjanji.
Janji seorang pria yang mendonorkan spermanya, bukan pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1