Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 43


__ADS_3

Setelah pertengkarannya dengan chris, orang selanjutnya yang akan hery temui adalah naro. hery tidak berekspetasi terlalu tinggi tentang bagaimana sikap naro nanti saat bertemu dengannya, mengingat pertemuan terakhir mereka yang memberi kesan kurang bagus.


hery memang tidak berekspetasi tinggi, namun mendapat pukulan di pipinya ketika mereka berdua berada di rooftop gedung perusahannya sendiri bukanlah sesuatu yang sekalipun akan hery bayangkan dalam hidupnya.


hery duduk di tanah sembari memegangi pipinya, bingung dengan apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Semuanya berjalan begitu cepat. naro baru saja datang dan langsung memukulnya begitu saja.


"Aku sudah lama ingin melakukannya." naro sekarang justru tersenyum dan mengulurkan tangannya pada hery. "Tapi saat itu aku tidak terlalu yakin. Namun setelah pertemuan kita kemarin, sekarang aku sudah tahu."


hery meraih tangan naro yang menariknya bangkit. Pukulan di pipinya memang hanya sekali, namun cukup untuk membuat hery tersungkur dengan wajah kebingungan dan meninggalkan nyeri di tulang pipinya.


naro mengeluarkan bungkus rokok dari kantung celananya. Mengambil satu batang dan menyalakannya dengan lighter kemudian melempar sisanya pada hery.


"Jangan beri tahu hita." Ujar naro dengan cengiran lebarnya dan mulai menghisap rokoknya yang menyala.


Semasa kuliah, naro maupun hery adalah perokok berat. Keduanya berhenti karena Hita yang meminta. Mengingat Hinata tidak tahan menghirup asap rokok yang menganggu pernapasannya, naro dan hery mati-matian berhenti menjadi perokok.


Keduanya terkadang masih melakukannya. Misal ketika naro dalam masalah, ia akan pusing dan membutuhkan pelepasan, maka akan ada hery di sampingnya yang ikut menemani naro dan melakukan yang sama. Mengobrol dari pagi sampai larut malam dengan berbatang-batang rokok yang mereka hisap.


Dan kini mereka kembali melakukannya.


hery ikut menyalakan rokok, menghisapnya, dan menghembuskan asapnya yang kemudian terbawa oleh angin. Keduanya berdiri berdampingan menghadap jalanan luas di bawah sana, dengan teralis besi yang menyangga tubuh mereka untuk tetap berada dalam jangkauan aman rooftop.


"Hei, Teme." naro mengetuk-ngetuk batang rokoknya, membuat abunya berjatuhan. "hita adalah wanita yang kuat."


Apa yang hery pikirkan benar-benar terjadi. naro meminta bertemu untuk membahas Hita, membahas masalahnya. hery menunduk diam sembari mendengarkan naro. Sesekali ia memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di bawah sana dengan satu batang rokok menyala yang bertengger di bibirnya.


"Aku harap begitu."


"Hey, memang begitu keadaannya." Dengan iseng naro menyenggol lengan hery, "Hita sudah tumbuh menjadi wanita kuat yang bahkan akan memiliki 2 orang anak."


Kata-kata naro dengan mudah membuat hery membeku, seakan ia baru saja mendapatkan kesadarannya.


"Dia kesepian." hery kembali memberikan alibinya.


"Dia tidak kesepian. Istriku memiliki aku sebagai suami yang selalu berusaha menjaganya. Lalu kami memiliki Boto, dan bahkan akan segera lahir anak kedua. Jangan lupakan kedua orang tuaku yang begitu menyayanginya. hita begitu dicintai."

__ADS_1


naro kini memalingkan wajah, menatap hery yang untuk pertama kalinya tidak membiarkan sekalipun kedua tatapan mereka bertemu. naro mengerti, hery kini sedang merenungi pilihannya. Ada banyak hal yang sedang sahabatnya itu pikirkan.


Entah mengapa, mengetahui hery yang mungkin sampai saat ini masih menyimpan rasa pada hita sama sekali tidak membuatnya marah. Ia mungkin memang terkejut, namun sebenarnya ia sudah merasakannya sejak dulu.


naro mungkin akan menghajar hery habis-habisan jika mereka masih seorang bocah nakal di bangku kuliah. Namun mengingat usia mereka yang yang sekarang, satu tinjuan 'ringan' saja sudah cukup bagi naro.


Ia merasa tidak perlu mengeluarkan energi hanya untuk bertengkar dengan hery. Karena ia percaya dengan hita maupun hery sekalipun.


hita adalah istrinya, wanita itu sudah menjadi miliknya. Keduanya saling mencintai, hidup bahagia dengan Boto dan akan bertambah calon keluarga baru.


Saat ini dibanding marah, naro justru merasa khawatir dengan hery jika terus menerus larut pada perasaannya. Karena itu ia meminta bertemu, ia ingin semua ini dibicarakan baik-baik.


"Aku tahu, kau memang lebih dulu mengenal Hita. Tumbuh besar bersamanya, selalu ada menjaganya. Tapi, hery, kini hita sudah menjadi tanggung jawabku."


naro tahu, hery masih berada di bayang-bayang masa lalu. Dari apa yang ia dengar dari hita, hery begitu peduli padanya.


Keduanya tumbuh di lingkungan yang sama. hery yang selalu merasa iri dengan herno yang selalu dibanggakan kedua orang tuanya.


Sedangkan hita yang merasa terbuang karena ayahnya yang lebih membanggakan kakak lelakinya. Bahkan ketika adiknya lahir lahir, Hita merasa ayahnya semakin tidak menganggapnya karena ia tidak lebih pintar dengan Habi.


Bagi hery, Hita adalah wanita yang lemah dan tidak memiliki teman. Maka dari itu hery menempatkan dirinya sebagai pelindung utama bagi Hita.


Mereka tumbuh bersama hingga akhirnya keduanya masuk di universitas yang sama dan bertemu naro. hery yang pertama mengenal naro, kemudian memperkenalkannya pada Hita. Siapa yang menyangka, Hita dan naro jatuh cinta pada pandagan pertama.


Hingga akhirnya ke jenjang pernikahan dan sempat berpisah karena menetap di xxx selama 2 tahun, Hita tidak pernah tahu bahwa ia menjadi pusat dan cinta pertama hery selama bertahun-tahun.


"Aku tidak akan marah karena mungkin hingga saat ini kau menyimpan rasa pada istriku. Karena aku tahu, hita hanya mencintaiku. Cinta setengah mati, kau tahu?"


hery yang mendengar hal tersebut justru mendenguskan tawanya. Mungkin terdengar aneh, namun entah mengapa dengan Naro yang mengetahui bahwa selama ini ia menyimpan rasa dan begitu peduli pada Hita justru membuat hery merasa lega.


"Aku minta maaf karena sudah menjadi pria yang lebih menarik perhatian Hita."


Kali ini hery benar-benar tertawa, tawa karena tidak tahan mendengar ucapan nero yang begitu menggelikan, yang sebenarnya memang benar adanya.


"Naro brengsek."

__ADS_1


naro ikut tertawa, senang akhirnya suasana di antara mereka tidak lagi terasa mencekik dan perlahan mencair seperti biasanya.


"Hey, her." naro menginjak puntung rokoknya, kemudian mengambil bungkus rokoknya dari tangan hery dan mulai menyalakan batang rokok keduanya. "Aku berharap kau tidak lagi terpaku pada masa lalumu, berganti menemukan wanita yang akan menjadi masa depanmu."


hery tidak menimpali dengan kata-kata yang berarti selain gumaman random dari mulutya.


"Pengacara memang banyak bicara, eh?" hery menunjukan seringai khasnya.


"Aku serius, sialan."


Mungkin ia bisa mengesampingkan perasaannya pada Hita yang sebenarnya ia sendiri bingung. Entah ia masih mencintainya seperti dulu atau hanya karena hery terbiasa peduli pada hita.


Namun mengenai mencari wanita untuk menjadi masa depan, hery tidak bisa menjanjikan apapun.


"Aku bahkan hari ini bertengkar dengannya dan kami sudah selesai. Bagaimana bisa menjadi dia wanita masa depanku, sialan?" hery membuang puntung rokoknya asal kemudian melirik naro. "Jasamu membuatkan kontrak untuk kami akan kukenang dengan penuh hormat, naro."


"hery," nero menatap hery penuh arti. Wajahnya terlihat begitu terkejut. hery merasa risih ketika naro langsung membuang rokoknya dan berganti memegang pundaknya, membuat keduanya bertatap muka.


"Apa-apaan kau?!"


"hery! Dengarkan aku!" naro masih dengan wajah seriusnya mencoba membuat hery diam kemudian berkata; "Aku bahkan tidak menyebut siapa yang akan menjadi wanita masa depanmu."


Sontak perkataan naro langsung membuat wajah hery memanas. Ia merasa malu setengah mati. Sial, sial, sial. hery mengutuk puluhan kali dalam hati. Inilah akibatnya ketika ia berbicara tanpa berpikir lebih dahulu, hanya karena terbawa suasana.


"Kita sudahi. Aku harus kembali ke ruanganku, kau bisa kembali ke kantormu."


hery menepuk bahu naro kemudian berjalan cepat keluar dari rooftop. Sedangkan naro di belakangnya mati-matian menahan tawa.


*


*


*


bersambung

__ADS_1


__ADS_2