
Hari itu datang, pesta yang diadakan wijaya Group kini berada di depan matanya.
"chris" ana menghela nafas.
Ia sekarang sudah tahu apa yang dialami chris. Soal insiden di parkiran itu, chris sudah menceritakan semuanya dan sahabat merah jambunya itu menangis karena membayangkan dirinya akan dipecat. chris bisa begitu melankolis jika berhubungan dengan pekerjaannya. Meskipun hanya seorang pegawai biasa, namun chris begitu menyukai pekerjaannya di kantor.
"Aku akan meminta maaf padanya," Ujar chris sedikit ragu, ia tak yakin bisa melakukannya. Meskipun ini semata untuk mempertahankan pekerjaannya, namun rasanya ia tak sudi meminta maaf.
"Dengan tulus, ingat?"
chris yang kali ini menghela nafas, "Baiklah, secara tulus." chris tersenyum miring, senyum yang begitu dipaksakan. "bahkan aku akan mengemis jika itu bisa membuatnya memaafkanku." Sejujurnya chris hanya bergurau.
chris datang bersama ana. Malam ini ia terlihat cantik dengan gaun hitam yang membungkus tubuh rampingnya. Sebuah gaun dengan bagian belakangnya yang terbuka, mengekspos bahu dan punggungnya, juga bagian depan yang sedikit terbuka. Rambutnya yang ia sanggul sederhana memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Malam ini milik chris. Ia terlihat begitu sempurna.
ana menggenggam tangan chris, ia tahu bahwa chris sedang gugup. Namun wanita itu masih mampu untuk berjalan anggun dan kehadiran mereka berdua sukses menarik perhatian beberapa pasang mata yang menatapnya kagum.
"Apa kau masih mengingatnya?" Tanya ana, membahas calon atasan mereka.
Sejujurnya chris masih mengingat bagaimana rupa pria itu. Rambut pria itu adalah bagian yang paling chris hafal, selain kedua mata kelamnya yang begitu menusuk pandangannya. Pria itu memiliki mata yang tajam. Warna mata yang segelap malam.
"Itu.." chria menggantungkan ucapannya.
ana mengikuti arah pandang chris dan— bingo! Ia mendapati seorang pria bertubuh tinggi dengan porsi sempurna seorang pria untuk disebut seksi. ana bahkan sudah membayangkan sekeras apa pria itu di ranjang. Beruntungnya chris bukan cenayang yang dapat membaca pikiran kotornya.
"Aku lebih memilih untuk ******* bibirnya dan membuka lebar kedua kakiku di hadapannya dibanding menyiramnya dengan air, chris." ana memandang lapar ke arah pria yang chris masih ingat bernama herry tersebut.
Ya, herry wijaya, calon bosnya— atau mungkin setelah menjadi bosnya ia akan berpredikat sebagai mantan pegawainya karena sudah terlanjur dipecat. Pria kaya memiliki kekuasaan dan bisa bebas melakukan apapun, terlebih pada chris yang hanya seorang pegawai biasa. Baru kali ini chris mengasihani nasibnya.
"Dia pria brengsek," chris berbisik.
"Pria brengsek yang tampan dan seksi. Aku bisa mati karena terlalu bergairah jika menjadi sekretarisnya."
"Aku berharap Karin pun akan begitu." chris mendengus.
__ADS_1
ana sedikit mendorong tubuh chris untuk berjalan lebih ke depan, ana mengekorinya. chris menoleh ke belakang dan mengisyaratkan bahwa ia tak yakin akan mendapat maaf dari tuan wijaya yang terhormat itu.
chris tak tahu sejak kapan ia menjadi pengecut.
ana berhenti di tempatnya dan mengepalkan tangannya seraya berkata 'mati aku!' dengan suara yang pelan.
chris tersenyum kikuk, ana menganggap semuanya akan berjalan mudah sedangkan chris menganggap ini akan segera menjadi akhir dari hidupnya.
chris dapat melihat herry yang sedang berbincang dengan dua orang pria, mungkin rekan kerjanya. Mereka terlihat bukan orang-orang sembarangan. Tentu saja, mereka wijaya.
Sejenak chris berpikir untuk menyerah saja. Ia ingin berkata pada ana untuk tak meminta maaf pada herry karena pria itu sedang sibuk dengan beberapa koleganya. Jika ia akan dipecat mungkin memang harus seperti itu jalannya. Tapi ia berharap jika herry bukanlah orang pendendam dan tak akan mengingat dirinya. Ia sendiri pun akan pura-pura tak mengingat kejadian itu. Ia sedikit bersyukur mengingat kesempatannya untuk bertemu gaku wijaya sangatlah sedikit, ada kemungkinan jika herry yang memimpin nanti pun akan seperti itu.
Ia akan jarang bertemu herry dan ia bersumpah bahwa ia benar-benar bersyukur.
Meski enggan mengakuinya, namun malam ini herry terlihat berkali-kali lebih tampan dibanding pertama kali ia bertemu dengannya. Meskipun wajahnya terlihat serius dan hanya beberapa kali senyuman tipis terlihat, herry masih bisa terlihat tampan. Justru wajah seriusnya itu yang membuatnya semakin tampan.
Sialan, chris tak pernah bermimpi akan bekerja untuk bos yang setampan dan sebrengsek herry.
chris akhirnya benar-benar menyerah. Ia memilih untuk membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah sebelumnya. ana melihat itu dan ia melambaikan tangannya memberi isyarat agar chris tak mendekat. Ia tak setuju jika chris sudah menyerah bahkan sebelum ia mencoba untuk meminta maaf kepada herry.
"Pinky."
Dan kini chris tahu apa yang membuat ana terkejut.
Seseorang menarik tangannya, lalu menggenggamnya. Tangan besar yang membungkus tangannya ini milik herry.
chris menoleh, kini di hadapannya berdiri pria yang paling tak diinginkan kehadirannya.
"Oh, kau?" haruskah chris menyebutnya tuan wijaya? Presdir wijaya?
chris mati-matian menahan rasa gugupnya. Ia harus tenang atau herry akan meremehkannya karena chris mungkin akan terlihat seperti seekor tikus kecil karena ketakutan dan herry adalah seekor kucing jantan yang siap menerkamnya kapan saja.
"Ya," chris sedikit tekejut saat herry melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya, menariknya untuk lebih mendekat dan pria itu berbisik; "ini aku, si brengsek yang sudah kau siram dengan air itu."
chris menelan ludahnya kasar dan tertawa gugup. "Oh, ya.. kau," chris membenci dirinya sekarang!
__ADS_1
chris sedikit mendorong tubuh herry untuk menjauh dibanding harus mencakar wajahnya karena terlalu berdekatan. Malam ini chris bersikap lebih sopan pada herry.
"Aku tak tahu bahwa monster bisa berubah menjadi seorang putri kerajaan."
herry menatap chris, ia menyeringai. chris sedikit bergidik melihat tatapan yang diberikan herry. Pria itu terlihat lapar, dan mungkin ia akan menjadi makanannya saat ini juga jika acara ini bukanlah acara yang penting dan dihadiri orang-orang yang penting juga.
Sejujurnya herry tak berpikir akan bertemu dengan chris disini, dari sekian banyak para tamu yang datang ia dapat dengan mudah bertemu dengan chris. Wanita dengan helaian pinknya ini tampil begitu menggoda. Perpaduan warna hitam gaunnya dengan wambutnya yang mencolok justru memberikan kesan seksi bagi herry.
chris diam-diam menarik nafas, "tuan herry" chris ingin sekali menggigit lidahnya karena memanggil pria di hadapannya ini dengan begitu terhormat. "aku minta maaf. " Akhirnya tiga kata terlarang itu meluncur keluar. Sial.
"Kau menikmati acaranya?"
chris ingin sekali menendang pantat hery. Pria Ini mengabaikan permintaan maafnya.
"tuan hery," chris masih bersabar.
"Besok malam, di kamar nomor 251. Bagaimana?"
chris tak harus pintar untuk mengerti maksud herry Dibanding berkata 'Ya, aku memaafkanmu.', pria ini lebih suka menyampaikannya dengan cara 'Berbaring di bawahku maka aku akan memaafkanmu'. Sekali lagi chris harus bersabar untuk tak menendang chris, kali ini sasaran tendangannya berpindah ke bagian terpenting pria itu.
hery jelas-jelas memperlihatkan bahwa ia tertarik pada chris. Sejak awal herry selalu memperhatikan chris, memperhatikan bagaimana gerak-gerik wanita di sampingnya tersebut. Menatapnya lapar, seakan bersiap untuk membuka lebar kedua kakinya. herry bahkan diam-diam mengumpat karena chris membuatnya menginginkannya di sela-sela acara penting seperti ini.
"Akan kutelpon taksi jika kau mau." Sekali lagi herry memberi penawaran. Ia sedang merayu chris.
chris sendiri hanya diam, karena mati-matian ia menahan dirinya sendiri untuk tak menyiram herry untuk kedua kalinya.
"Baiklah," akhirnya chris berbicara, "aku pun akan meneleponmu jika aku berminat."
chris menepuk bahu hery, ia tersenyum. Senyum yang dibuat begitu manis, namun herry menatapnya dengan pandangan tak suka. chris tak ambil pusing, ia memilih berjalan meninggalkan herry.
herry menatap punggung chris dengan tangan yang memegang gelas wine. Cengkraman tangannya menguat menyadari bahwa ia baru saja ditolak.
herry selalu mendapatkan apa yang ia mau dan ia tak pernah sekalipun menerima penolakan. Namun kali ini ia ditolak oleh wanita yang awalnya menyampaikan permintaan maaf padanya.
"Seharusnya aku menyuruhnya untuk bersujud di hadapanku saja." herry mendengus.
__ADS_1
bersambung