
Hari ini adalah pertama kalinya chris pulang lebih larut dari biasanya. Ini semua karena hery, pria itu memaksanya untuk pulang bersama dan bahkan dengan sesuka hati mengurungnya di dalam ruangannya. Memaksa chris untuk duduk manis di sofa sedangkan hery terus mendiamkannya karena sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Pria itu bahkan mungkin tak tahu jika chris selama dua jam nyaris mati kebosanan dan akhirnya sempat tertidur.
chris sempat memaki hery yang membangunkannnya, dan ia sedikit malu saat menyadari bahwa ia tak sedang tidur di dalam kamarnya sendiri. Namun rasa malunya hanya beberapa saat hingga ia merasa jengkel saat sadar bahwa hery berhasil menahannya di dalam kantor hingga pukul 9 malam.
Sekali lagi hery memaksa chris, kali ini pria itu membuatnya harus meninggalkan mobilnya di kantor dan mereka pulang dengan menggunakan mobil hery.
chris merasa ini lebih melelahkan dibanding saat ia harus lembur karena pekerjaannya yang menumpuk. Malam ini heru berhasil menguras tenaga dan emosinya dalam bersamaan.
"Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya," ujar chris terdengar sedikit kesal.
hery menahan tangan chris saat wanita itu akan melepas belt. "Ini tidak gratis. Aku meminta imbalan."
Kedua alis mata chris terangkat. Ia mendengus dan tangannya sudah siap untuk meninju wajah hery saat ini juga.
"Kau yang memaksaku untuk pulang bersama, dan sekarang kau justru meminta imbalan? Apa ucapan terima kasih tidak cukup untuk membalas perbuatan muliamu ini, tuan?"
hery menyandarkan punggungnya. Kedua matanya menatap lurus ke depan, mengabaikan chris yang kini menatapnya dengan sinis.
"Besok, temani aku menghadiri sebuah acara," hery berbicara dengan nada yang terdengar santai. Berbanding terbalik dengan reaksi chris yang kini kedua matanya membulat.
"Maaf, hery, tapi yang kudengar kau adalah seorang playboy kelas kakap dan membawa seorang wanita ke sebuah acara adalah salah satu strategi untuk memikatnya. Dan kau harus tahu aku bukan salah satu dari wanita itu."
hery mendengus geli mendengar ucapan chris. Wanita itu terdengar tak main-main dan berbicara dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Aku hanya tak pernah pergi sendiri ke sebuah acara sebelumnya."
"Oh, tentu saja, sekali lagi aku minta maaf karena aku tahu kau seorang playboy."
Dan hery menahan tawanya.
"Kau tahu, chris, ini semua karenamu juga. Saat ini aku tak bisa dekat dengan wanita lain."
hery sedikit mencondongkan tubuhnya, membuat chris dengan refleks memundurkan wajahnya hingga punggungnya menempel rapat dengan pintu mobil di sampingnya.
__ADS_1
"Omong kosong," ujar chris dengan mata yang menatap waspada.
hery menyeringai tipis. "Bagaimana bisa aku dekat dengan wanita lain saat aku dengan senang hati menunggu menstruasi sialanmu itu selesai?"
chris merasa wajahnya tiba-tiba memanas. Ia segera mendorong bahu hery agar menjauh. Berdekatan telalu lama dengan hery wijaya sama sekali bukan hal yang bagus. Ia melirik hery dan berkata, "Aku bahkan tak mendapat keuntungan apapun jika aku menemanimu."
hery kembali menyandarkan punggungnya, kali ini ia menatap chris.
"Hamil dalam percobaan kedua. Aku berani menjamin."
"Wow, aku tak sabar untuk menantikannya." chris terdengar sedikit mengejek.
hery hanya melempar tatapan jengahnya, kemudian berkata, "Aku tak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Besok, jam tujuh malam, aku pastikan kau sudah berada di dalam mobilku, chris. Duduk manis seperti sekarang."
*
*
*
"Selamat pagi!"
herno masih setida duduk di kursi hery, menggerakkan kursinya ke kanan dan kiri seperti apa yang sering dilakukan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun.
"Aku tak tahu kau sudah beralih profesi menjadi seorang pengganggu adiknya sendiri di pagi hari."
herno tertawa dan membiarkan hery mengambil alih tempat yang memang seharusnya menjadi miliknya. Kali ini herno berpindah ke sebuah kursi yang terdapat di hadapan meja herry.
"Itu pekerjaan sampinganku," ujar herno seraya menekan tombol dial di telepon yang berada di atas meja hery.
"Suruh seseorang membawakan dua gelas kopi ke ruanganmu."
hery berdecak pelan, sebelum akhirnya ia melakukan apa yang herno suruh. Ingat, ia adalah seorang adik yang baik.
__ADS_1
"Ada tujuan apa?" hery menaruh gagang teleponnya di tempat semula.
hery bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Ia juga tahu jika herno bukanlah orang yang akan dengan senang hati membuang waktu berharganya untuk sesuatu yang tak penting. Lagipula herno bukan seorang pengangguran dan ia tahu kakak lekakinya itu memiliki segudang urusan di kantornya.
"Bertemu calon adik iparku." Dan herno adalah seorang pria yang akan menjawab sebuah pertanyaan tanpa berbelit-belit. Ia menyeringai lebar, dan sontak saat itu juga hery menatapnya tajam.
"Dia bukan seorang wanita yang sedang aku kencani, atau bahkan akan aku nikahi. chris hanya seorang wanita yang membutuhkanku untuk dihamili," jelas hery, dan ia tahu herno tak akan semudah itu mengiyakan ucapannya. Mereka pernah membicarakan ini sebelumnya.
"Oh, ya, aku lupa namanya chris. Terima kasih sudah mengingatkan. Nama calon adik iparku sangat bagus, mungkin ia akan akrab dengan Hana yang memiliki arti bunga. Apa kita wijaya bersaudara yang menyukai tanaman indah?"
Dan hery baru saja merutuki dirinya sendiri. Ketika herno mengetahui seseorang hanya dari nama, maka itu bukanlah hal yang sulit untuk menemukan orang tersebut.
"kakak." dan saat ini hery mati-matian menahan emosinya. Ia tak mungkin mengusir herno begitu saja dari ruangannya. "Sudah kukatakan, setelah aku menghamilinya maka semua akan selesai."
"Kau bahkan bukan seorang remaja. Sudah saatnya untuk berkomitmen, hery." kali ini herno terdengar serius. herno akan selalu menjadi orang nomor satu yang mendukung heru untuk segera berumah tangga.
hery terlihat acuh. Ia sudah terbiasa dan menganggap ucapan herno yang terus menyuruhnya menikah adalah sebuah lagu lama dan sudah terlalu sering diputar. "Aku tak berniat untuk menikah." hery membuka map kerjanya dan mulai terfokus pada lembaran di dalamnya.
"Masih mengharapkannya? Sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa menikahinya."
Dan saat itu juga hery menghentikan gerakan tangannya. herno yang menyadari perubahan sikap hery pun berdeham pelan. Ia tahu bahwa mengungkit masalah pribadi hery adalah hal yang salah dan sedikit menyinggung adiknya tersebut.
herno sedikit tertolong saat seorang pegawai masuk dan membawakan dua cangkir kopi pesanannya, menaruhnya di atas meja.
hery menutup mapnya dan memasukannya kembali ke dalam laci mejanya. "Aku mengizinkanmu meminum kopinya terlebih dahulu sebelum kembali bekerja."
"Sialan, apa ini termasuk pengusiran?" tanya herno pura-pura tersinggung sebelum ia meminum kopinya.
*
*
*
__ADS_1
bersambung