
chris POV
"Aku tahu siapa yang seharusnya membawa laporan tentang gedung baru itu, aku tahu dengan sangat jelas."
Saat ini wanita berkacamata dengan rambut merahnya yang tergurai panjang berada di hadapanku. Tentu saja si gila Karin, siapa lagi?
"Tania sedang sibuk dengan tugas lain, lagi pula laporan ini aku yang mengerjakan." oke, aku sedikit berbohong. Sedikit, karena aku tak berbohong soal Tania yang sedang sibuk dengan tugas lain.
Aku tahu Karin kini menatapku curiga.
"Kau bisa memberikannya padaku, biar aku yang memberikannya pada Presdir."
Aku tersenyum sebisaku, "Karin, aku tahu pekerjaanmu banyak, jadi bisakah aku membantumu untuk sedikit menguranginya?"
Masa bodoh, aku berjalan melewati Karin dan menghampiri ruangan yang berada di samping meja kerjanya. Ruangan herry wijaya yang terhormat— dan permarah, aku menambahkannya di belakang.
Bagus, sekarang aku berhasil masuk ke dalam ruangannya tanpa izin.
"Selamat siang, bos!"
herry sedang sibuk dengan dunianya. Kedua mata yang menatap berkas dan tangan yang bekerja aktif menandatangani tumpukan kertas-kertas tersebut.
Wow, dia bahkan mengacuhkan sapaanku. Tentu saja.
"Bos, ini laporan yang kau minta." Aku memperlihatkan map di tanganku, berharap herry menegakan pandangannya ke arahku, atau setidaknya pada hasil pekerjaan Tania. Dan sialnya dia tak melakukan satupun dari dua kemungkinan yang aku sebutkan tadi.
"Pegawai sepertimu seharusnya tak perlu susah payah datang ke ruanganku."
__ADS_1
Pria sialan ini, aku tahu aku hanya pegawai biasa yang jarang bertemu bos besar sepertimu. Aku juga berpikir ia baru saja berbicara dengan angin, atau mungkin kertas di atas mejanya atau juga ballpoint ditangannya. Ia berbicara tanpa menatapku sedikitpun! sialan!
"Berhenti bersikap menjengkelkan!" herry sedikit terkejut saat aku membanting map di atas mejanya. Dan aku suka ekspresi terkejutnya itu, dia masih sialan tampan.
Kali ini herry memberikan perhatiannya padaku. Ia menyandarkan punggungnya, bertingkah seperti big boss seperti biasanya. Bossy wijaya.
"Dengar, sikapmu membuat felix satu langkah lebih dekat denganku. Aku akan segera membuat bayi dengan felix!" kukira ini adalah gertakan yang bagus untuk herry. Aku tahu seberapa besar dia menginginkanku di atas ranjangnya. Sebenarnya terlalu memalukan untuk dibanggakan namun itu memang benar.
"chris," bagus, akhirnya dia menyebut namaku, "keluar dari ruanganku."
Sialan, herry benar-benar sialan.
"Baik," aku tersenyum, senyum yang membuat wajahku terlihat jelek. Aku tahu itu.
Aku kesal, walau sebenarnya aku tak perlu merasa kesal. Bukankah herry yang menginginkanku? Dan aku tak membutuhkannya atau bahkan menginginkannya, aku berada di atas herry karena saat ini aku memiliki felix.
"chris, "
Oh, ini seperti adegan dalam drama kacangan yang sering ana tonton. Ketika pemeran wanita berjalan memunggungi prianya, dan tak lama suara bodoh si pria itu terdengar memanggil nama si wanita.
Benar sekali, pria bodoh itu ada di dalam kehidupan nyata, terlahir dengan nama hery wijaya.
"Aku bisa saja membuatmu memilihku karena kita sudah melakukan perjanjian. Bahkan aku bisa memecatmu atau menuntutmu, tapi itu sama sekali bukan caraku untuk memulai permainan kita."
Ini tentang perjanjian dan nasib pekerjaanku. Sialan, aku belum siap menjadi pengangguran dan mendekam di penjara karena melanggar kontrak kami.
"Aku sedikit tersinggung saat kau harus berpikir hanya untuk memilih antara aku atau felix," herry kembali berbicara, "kau tahu, selain penolakan, aku juga tak suka dikalahkan. Aku hanya menunggu sampai kau memilihku tanpa harus dengan iming-iming kontrak."
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang dan herry sudah berada tepat di belakangku.
"Jika felix bisa membuatmu memilihnya dengan suka rela, kenapa aku tidak?"
Dan saat itu juga felix meraih bibirku dan menciumnya. Dada bidangnya menghimpitku dan salah satu tangannya mencengkram bahuku sedikit keras.
"Sial, aku bahkan tak tahan untuk mengacuhkanmu, chris. " herry menggeram, ia ******* dan mendorong lidahnya ke dalam mulutku. Tangan herry meluncur turun dari bahu dan menangkap pinggangku. Sedangkan tanganku sendiri terasa kaku hanya untuk meremas rambutnya.
herry kali ini menyelipkan lidahnya dan membuatku merasa hangat. Nafasnya memburu dan ciumannya semakin liar. herry membuatku mengerang saat ciumannya turun menggapai rahang, lalu turun ke leher dan menghisapnya keras.
"Seharusnya aku sudah melakukan ini kemarin," katanya terengah-engah.
"Kupikir kau akan memperkosaku," aku mendorong tubuhnya menjauh. herry memberiku kesempatan untuk bernafas. Aku tahu wajahku memerah padam, herry selalu berhasil membuatku seperti ini tiap kali ia menciumku. Oke, ucapanku terdengar seakan herry sudah menciumku berulang kali.
Kedua mataku memperhatikan herry, ia tak berbicara apapun selain balas menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka. Nafasnya terdengar tak teratur dan itu membuatnya terlihat sialan menggoda.
herry mengambil sesuatu dibalik jas hitamnya dan memasukannya ke dalam kantong blazerku.
"Kuharap itu bisa menjadi pertimbanganmu,"
Aku merogoh kantong blazerku.
Oh, kunci hotel?
"Aku menunggu jawabanmu."
bersambung
__ADS_1