
ana datang bergabung bersama felix dan chria satu jam kemudian. Ia tak sendiri, ia datang bersama vero. ana berkata bahwa hari ini adalah hari jadinya bersama vero yang ke enam bulan, dan chris berkata ana terlalu berlebihan dengan merayakanannya.
"Mari bersulang juga untuk hilangnya keperawanan-selama-dua-tahunnya chris!" ana mengangkat kaleng sodanya tinggi, diikuti vero dan felix yang tertawa karena ucapannya tadi. chris mendengus namun mengikuti hal yang sama.
"vero, kau mungkin harus menghamili ana, kupikir akan menyenangkan memiliki dua keponakan dalam waktu bersamaan."
Kedua mata ana membulat mendengar ucapan felix. "Lebih baik kau saja yang menghamili wanita, sialan!"
vero tersenyum lebar seperti biasa, "Akan kupikirkan, Bung."
"ana termasuk wanita tipe menikah,Jika kau menghamilinya terlebih dahulu, akan kupastikan ana menikah denganku. sialan!" ucap chris seraya melempar kulit kacang ke arah vero.
ana tertawa seraya merangkul leher chris. "Nikahi aku, Jidat!"
"Tidak, chris akan menikah denganku," timpal felix cepat kemudian meneguk minumannya.
chris menatap jengkel ke arah felix. "sialan, lamaranmu akan kutolak, aku akan menikah dengan kelvin saja!" dan ucapannya mengundang tawa keras ana.
"Kupikir tak ada salahnya menikahi dua orang pria sekaligus," ujar vero yang seketika membuat mata ana berbinar.
"Kalau begitu aku akan menikahimu dan chris, anggap saja chris adalah seorang pria!"
"Lalu bagaimana denganku?" tanya felix dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Mungkin lebih tepatnya wajah sedih yang justru terlihat menggemaskan. Ya, pria itu bahkan terlihat seperti bocah laki-laki berumur belasan tahun.
"Berhenti bicara omong kosong. Dasar gila," ujar chris seraya tertawa geli.
*
*
*
chris begitu mencintai Senin, sama seperti ia mencintai diskon besar-besaran di toko pakaian. Ia akan begitu bersemangat datang ke kantor setelah melalui hari minggunya yang begitu membosankan. Tapi untuk minggu kemarin mungkin pengecualian.
__ADS_1
"Halo, mantan teman sekelas semasa sekolah!"
chris baru saja keluar dari mobilnya dan orang yang pertama ia lihat pagi ini adalah Karin. Wanita berambut panjang itu terlihat mendelik ke arahnya, Karin tak menyukai panggilannya dan hal tersebut semakin membuat chris gencar untuk menggodanya.
"Masih terlalu pagi untuk beradu mulut denganmu." ucap Karin dengan wajah acuhnya.
Ucapan Karin tadi justru bermakna lain di pikiran chris, dan itu membuatnya berpikir mungkin otaknya sudah gila. Entah sejak kapan pikirannya seperti seorang wanita nakal seperti ini.
"Mulutmu tak cukup baik untuk mulutku."
Wow.
"Sialan, aku cukup baik dalam berciuman," balas Karin.
chris dengan cepat menyamakan langkahnya di samping Karin. "Ya, tapi tak cukup baik untuk membuat Presdir wijaya tak menendangmu keluar dari mobilnya," ujar chris, teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat Karin keluar tanpa hormat dari dalam mobil hery.
"Masa bodoh, setidaknya hery tak mengganti posisi sekretarisnya."
Melihat satu alis mata chris terangkat, Karin menghentikan langkahnya. Saat ini mereka berada di dalam lorong basement dan hanya ada mereka berdua disana.
Mulut chris membulat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Karin. Sejujurnya chris sedikit tertarik dengan hubungan antara hery dan Karin, bertanya-tanya apakah mereka masih sering berciuman di dalam kantor atau bahkan melakukan **** di dalam ruangan bos brengseknya itu. Dan fakta Karin sudah bertunangan ... itu cukup mengejutkannya.
"Dan kau berselingkuh dengan bosmu sendiri," ucapnya tajam.
"Kau harus tahu, beberapa orang sepertiku memiliki cara tersendiri untuk mempertahankan posisinya. Dan saat itu kau nyaris menghancurkan karirku, kurang lebih kupikir begitu," jelas Karin seraya menaikan bingkai kacamatanya. Ia jadi teringat chris yang saat itu tiba-tiba datang mengganggunya. Ia kemudian kembali berkata, "setidaknya aku tak berakhir di atas ranjang bersamanya, karena aku masih memikirkan tunanganku."
Keduanya kembali berjalan, dan untuk pertama kalinya mereka bisa berjalan berdampingan seperti ini ke dalam kantor.
"Wow, kau sedikit membuatku kagum. Kau berusaha keras." chris menyeringai.
Karin memutar matanya. "Dasar bodoh." tapi diam-diam ia mengulum senyumnya.
Saat keduanya sudah berada di lobby dan berdiri di hadapan lift, seseorang dari arah belakang ikut bergabung dengan mereka. Orang itu adalah hery.
__ADS_1
Datang ke kantor lebih awal memiliki kemungkin besar untuk bertemu dengan hery, dan itu adalah keuntungan tersendiri bagi para pegawai wanita yang kebanyakan memang mengaguminya— yang sayangnya chris bukan termasuk ke dalam kumpulan wanita tersebut.
"Selamat pagi, Presdir," ucap chris dengan sopan. Saat ini ia sedang bersama Karin, tentu saja ia harus menjaga sikapnya.
hery seperti biasa tak begitu tertarik untuk membalas sapaan setiap pegawainya. Ia hanya menoleh sebentar dan mengangguk samar. Dan chris tahu bahwa pria itu pun sedang menjaga wibawanya.
Entah apa yang akan mereka lakukan jika saat ini tak ada Karin dan hanya berdua di dalam lift.
"Semoga hari kalian menyenangkan, selamat bekerja keras!" chris mengepalkan satu tangannya kemudian membungkuk ke arah hery maupun Karin saat lift menunjukan lantai tiga, lantai dimana ruangannya bekerja.
hery sekali lagi menghiraukan chris, tetapi satu tangannya terulur dan menekan tombol hingga pintu kembali tertutup dan lift pun naik ke lantai selanjutnya. Baik chris dan Karin sama-sama menatap bingung ke arah hery.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, chris. Ikut aku ke ruangan."
chris hanya mengangguk mengiyakan. Dan melihat bagaimana sopannya hery berbicara dengannya, sejujurnya sedikit membuat chris ingin tertawa. Sikap pria itu benar-benar berbeda.
chris berjalan di belakang chris dan Karin yang berdampingan saat mereka sudah berada di lantai yang menuju ruangan pria tersebut. Tak butuh waktu lama sampai Karin berada di mejanya sedangkan chris ikut masuk ke dalam ruangan bersama hery.
Saat berada di dalam, hery segera menghampiri mejanya dan menekan tombol dial di teleponnya.
"Aku butuh waktu sekitar setengah jam, mundurkan jadwal pertemuanku dan aku menolak untuk bertemu dengan siapapun," ujar hery kemudian berjalan mendekati chris yang berdiri bagai patung di depan pintu yang tertutup.
"herry?"
chris sedikit tak mengerti saat heru berkata seperti itu pada Karin melalui teleponnya. Namun saat hery berdiri di hadapannya, menghimpitnya ke belakang dan mengunci pintunya
"Sial, aku tak bisa menahannya, chris. Aku merindukanmu."
sekarang ia tahu kenapa hery meminta setengah jam dari jadwalnya dikosongkan.
*
*
__ADS_1
*
bersambung