
Setelah selesai mengantar chris pulang, hery baru sempat mengecek handphone dan mendapati puluhan panggilan tidak terjawab dari ayah, ibu, maupun herno secara bergantian. Ia baru mengetahui kabar mengenai Hana dan langsung pergi menuju rumah sakit setelah dua jam berlalu sejak terakhir kali keluarganya mencoba untuk menghubungi.
hery sampai di rumah sakit setelah setengah jam berlalu. hery dengan satu tangannya yang menenteng jas menghampiri resepsionis dan bertanya dimana letak ruangan khusus ibu dan anak, yang ternyata hanya beberapa langkah ke depan.
hery mendapati kedua orang tuanya dan herno sedang sesekali berbincang sembari memperhatikan sesuatu di dalam ruangan dengan kaca yang membentang, ruangan berisi deretan bayi-bayi yang baru terlahir ke dunia dan kini sedang tertidur lelap. Ketiganya belum menyadari kehadiran hery.
herno adalah orang yang pertama kali menyadari kehadiran herry dan ia langsung membuang nafas lega. hery sudah dimarahi oleh gaku di sambungan telepon karena baru memberi kabar dan ayahnya mungkin akan marah besar jika hery tidak segera pergi menyusul ke rumah sakit.
herno yang memperhatikan hery di hadapannya sedikit memiringkan kepala menyadari keadaan adiknya. Wajah yang lusuh, kemeja putih dengan bagian tangannya yang terlipat kusut, ditambah jas hitam yang terjinjing asal— bagi herno, adiknya terlihat berantakan seperti bocah berandal yang baru saja berkelahi.
"herry!"
mika menghampiri dan langsung memberinya pelukan hangat, senang akhirnya hery datang. Ia sempat khawatir jika suaminya akan semakin marah dan akhirnya mengamuk karena herry tidak kunjung datang, namun sekarang ia sama leganya seperti herno.
hery menerima sambutan ibunya dengan balas memeluk. herry mendapati nyonya besar di rumahnya itu sedang tersenyum lebar, sepertinya hery wijaya sedang merasa menjadi wanita paling bahagia karena cucu pertamanya telah lahir. mika memeluk hery erat dan membagi rasa bahagia yang seakan meledak-ledak.
"Lihat, Lihat! Itu, yang di sana—"
__ADS_1
herno hanya menggelengkan kepala dan mengulum senyum ketika mika terlihat antusias dan menunjuk-nunjuk kaca di depannya, memberi tahu di mana letak bayi herno dan Hana berada. Kedua mata mika terlihat berbinar cerah memandang gemas cucu pertamanya yang diketahui berjenis kelamin laki-laki.
"Aku akan kembali ke kamar, menemani Hana."
herno menepuk pundak herry dan memilih pergi menemui istrinya yang sedang tertidur karena memang membutuhkan istirahat pasca melahirkan.
hery mengangguk singkat sebagai respon dan ia kembali memperhatikan ke depan, pandangannya menjelajah dan memperhatikan satu-persatu bayi di dalam ruangan.
mika merangkul lengan kanan hery, menyandarkan kepalanya di sana dan ia baru sadar jika ternyata putra bungsunya itu sudah sejak lama tumbuh menjadi pria dewasa karena memiliki tinggi tubuh yang menjulang. Sama seperti gaku maupun herno.
hery merasakan tepukan pelan di lengannya secara berulang sebelum ia mendengar Mika membuka obrolan ringan. "herry sekarang sudah punya keponakan, ya?" Begitu katanya, masih dengan senyuman lebar hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit. Senyuman yang selalu terlihat cantik seperti biasanya.
Itu suara ayahnya, berdiri di sisi kiri herry dengan kedua tangannya yang menyilang di dada seperti biasa dengan senyuman yang tercetak di bibirnya. herry sejak awal tidak memiliki keberanian untuk menyapa ayahnya, namun melihat senyuman lebar yang bahkan sepertinya tidak pernah ia lihat dalam hidupnya itu membuat hery sedikit lega. Ayahnya sudah tidak marah.
Mungkin hery yang terlalu acuh dan tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, namun ia baru tahu dengan kehadiran anggota baru di keluarganya mampu membuat gaku wijaya dan Mika wijaya terlihat seperti pasangan baru yang berbahagia.
"Selamat, ya. Sekarang herry sudah menjadi paman, lho!"
__ADS_1
Ucapan mika seketika membuat hery tersentak tanpa alasan. Ibunya baru saja memberi selamat karena ia baru saja memiliki keponakan dan menjadi seorang paman, namun herry jusru menangkapnya dengan kesan yang berbeda di sana.
Ia merasa seperti ada sesuatu yang lain.
Ketika herry berdiri di depan ruangan yang memperlihatkan bayi-bayi yang tertidur lelap di masing-masing ranjang kecilnya, dengan kedua orang tuanya di tiap sisinya, ditambah ucapan selamat yang baru saja ia dapatkan ... rasanya justru seperti ia baru saja menjadi seorang ayah, bukan seorang paman.
Seketika ia teringat akan chris.
"Ya ... seorang paman." hery bergumam kecil dan sesuatu yang terasa hangat seakan mengalir menggelitik di dalam dadanya, membuatnya tanpa sadar diam-diam ikut mengulum senyum.
Jadi ... seperti ini rasanya?
*
*
*
__ADS_1
bersambung