Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 14


__ADS_3

chris berlari menuju parking area di kawasan apartemennya. Sesampainya disana, ia mendapati sebuah mobil sport berwarna merah yang begitu dihafalnya.


"Dasar Bodoh!"


chris berdecak pelan dan melangkah cepat menghampiri felix yang berada di dalam mobilnya. Ia tak mengira bahwa felix masih berada di sekitar apartemennya.


chris ingat, felix selalu menunggunya disini jika mereka ingin pergi bersama ataupun pria itu yang dengan senang hati menjemput chris dan menemaninya kemanapun ia mau. Selama apapun, felix akan menunggu chris, dan pria itu kembali melakukannya.


felix sedang menyandarkan punggungnya pada jok mobil dengan kedua mata yang tertutup. Raut wajahnya terlihat tenang, namun hal tersebut membuat chris menghela nafas.


chris mengetuk kaca pintu mobil felix sebanyak dua kali, felix membuka mata dan menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.


"chris?" felix menegakan punggungnya, kaca mobilnya perlahan turun. "Kupikir kau tak akan datang. Ternyata insting persahabatanmu masih kuat, ya?" felix tersenyum, ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya.


Wajah chris mengeras,"Dasar bodoh! sialan lu!" saat itu juga chris ia mendorong bahu felix.


felix dengan sigap menangkap dua kepalan tangan chris, ia justru terkekeh, "Rupanya kau sudah mau bertemu dan berbicara denganku lagi, ya?"


chris mencoba menenangkan dirinya, kedua matanya terlihat memerah, "Aku kemari mendatangimu bukan karena rencana kita tentang membuat bayi, bodoh!" chris menarik kedua tangannya dari genggaman felix, "Aku mengkhawatirkan keadaanmu, aku tahu kau sangat mencintai kelvin tapi kau justru ..." chris bahkan rasanya tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.


felix tersenyum kecil, "Demi persahabatan kita." sebelah tangannya mengacak rambut chris.


"Kau terdengar begitu sialan gay! Begitu lembut dan membuatku nyaris mati karena meleleh!" felix tertawa saat chris meninju pelan bahunya dengan wajah yang memerah menahan tangis. Ia segera mendekapnya dan mengusap punggung chris.


"Jadi ...bagaimana?"

__ADS_1


"Kau tahu, aku belum siap mati. kelvin akan datang menemuiku, entah dengan sebuah pistol ataupun pisau di tangannya, atau mungkin ia akan menguburku hidup-hidup."


felix kembali tertawa, "Atau mungkin dia akan menghamilimu untuk menggantikanku."


"Sialan kau!"


felix membiarkan chris tetap memeluknya. Ia benar-benar merindukan gadis merah jambu ini. chris selalu memiliki cara untuk membuatnya gila. felix benci permusuhan, dan chris tahu hal itu dengan jelas. Namun felix tak tahu bahwa ia sudah memulai permusuhan baru dengan kelvin.


Untuk saat ini, rasanya felix mampu mengesampingkan kelvin. Yang terpenting untuk saat ini adalah chris.


"Oh, herry?"


chris menoleh ke belakang saat mendengar ucapan felix.


chris yang terlalu mengkhawatirkan felix bahkan meninggalkan hery begitu saja di apartemennya. Ia bersumpah, herry pasti semakin kesal. Lihat, bahkan wajah pria itu mengeras. Huh, menyeramkan.


"Mengunjungi wanita yang mana lagi?" felix bertanya dengan santai.


felix cukup dekat dengan herry, mengingat pria itu adalah adik herno. Ia tentu tahu tentang perilaku wijaya bungsu yang satu itu. felix bahkan pernah mengajak herry ke night club yang dikelolanya bersama kelvin hanya untuk mencarikan wanita, yang bodohnya tempatitu sebenarnya dikhususkan untuk para gay sepertinya.


"Kau sendiri, sudah belajar mengunjungi wanita?" tanya felix, kedua matanya tak lepas dari chris. Wanita itu telihat canggung dan tersenyum kaku ke arahnya.


felix mendengus, "Maksudmu chris?" sebelah tangannya berada di bahu chris, ia merangkul dan menepuk-nepuk lengannya. "Kau bercanda? Tentu saja dia wanitaku!"


Tepat sasaran, ucapan felix membuat rahang hery menegang.

__ADS_1


chris POV


herry marah.


Sekali lagi, herry wijaya itu benar-benar marah.


Si bos brengsek itu bahkan dengan sialannya mengacuhkanku saat kami tak sengaja berada di dalam satu lift lagi tadi pagi. Hal terakhir yang herry katakan padaku adalah saat ia bertanya siapa yang akan aku pilih, antara dirinya atau felix. Saat itu aku tak menjawabnya, dan hal tersebut menjadi awal kemurkaan herry.


Namun aku berpikir kemarahan herry sepertinya akan menguntungkanku. Mungkin saja ia akan memutuskan kontrak kami, kan? Dengan begitu aku akan menjalankan rencana awalku bersama felix, tanpa ada campur tangan herry sedikitpun.


"Atau mungkin aku akan mendapat seorang bayi dari felix dan satu lembar surat pemecatan dari herry." aku terlihat sinting berbicara dengan cermin toilet di hadapanku.


Aku mencuci tanganku dan menarik satu lembar tisu dengan cepat. Aku harus segera menemui herry, kurasa kami perlu bicara. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab, kami sudah melakukan perjanjian di atas kertas putih yang bisa membawaku ke pengadilan jika melanggar isinya.


Bagus, aku akan dibawa ke pengadilan dengan kasus pembatalan pendonoran ****** hery wijaya.


Aku menyisiri kantor dengan otak yang berpikir keras. Aku mencari tahu alasan apa yang akan kugunakan untuk bertemu herry karena aku tak punya satupun pekerjaan yang akan membuka akses langsung untuk bertemu bos besar itu. Aku tak mungkin dapat dengan mudah bertemu dengan orang yang segala jadwalnya telah diatur seperti herry.


"Hey, chris!" seorang teman di kantor ini menyapaku saat kami bertemu di dekat ruang presentasi. Ia membawa banyak berkas, mungkin hari ini adalah hari sibuknya.


"Oh, Hai!" Aku tersenyum ke arah tania.


Tunggu, aku tak pernah tersenyum selebar ini hanya karena bertemu dengan teman kantor.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2