Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 36


__ADS_3

"herry, bangun."


Butuh beberapa kali tepukan di bahu hingga akhirnya herno berhasil membangunkan herry. hery terlihat lusuh, semalam pria itu memilih untuk tidur di kursi panjang yang terletak di koridor rumah sakit dibanding pulang ke apartementnya.


Ia terlalu malas dan lelah jika harus kembali menyetir dan menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Terima kasih, kak." hery masih dengan matanya yang menyipit menahan kantuk ketika herno memberinya satu botol air mineral. Meminumnya hingga menyisakan setengah botol.


"Sudah kukatakan, kau seharusnya tidur di dalam bersamaku. Di atas sofa yang empuk dibanding di kursi kayu seperti ini, bodoh." herno mulai mengomel saat melijat hery melakukan peregangan tangan, mengira pria itu mungkin kesakitan.


"Kau pikir tubuhku masih setinggi anak sekolah dasar?" hery mencopot satu kaitan kancing teratas kemejanya. Ia merasa kusut dan benar-benar membutuhkan kamar mandi untuk membersihkan diri.


herno tertawa pelan, sadar jika hery mungkin terlalu malu untuk tidur dengannya seperti yang dulu biasa mereka lakukan ketika masih duduk di bangku sekolah. Ia ingat, hery yang dulu seperti tidak bisa jauh dengan herno. Seperti anak itik yang selalu membuntuti induknya.


"Benar, sekarang kau sudah dewasa." herno mengusap rambut hery perlahan, tersenyum saat melihat wajah masam hery karena menolak diperlakukan seperti anak kecil dan langsung menepis tangannya. "Kau bahkan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang ayah juga, eh?"


Raut wajah hery berubah kesal, dalam hati ia merutuki kelvin dan mungkin akan dengan senang hati membantu chris jika wanita itu berniat untuk membunuhnya.


hery menunduk dengan kedua tangan yang meremas rambutnya, sesekali mengacaknya asal sebagai pelampiasan kegusarannya. Jika herno sudah tahu, maka hanya dalam hitungan jam sampai kedua orang tuanya pun ikut mengetahuinya.


"Ikut aku, herno."


hery mendongkak ketika herno sudah berada di hadapannya, berdiri menjulang dan menatapnya datar. Tanpa sadar hery menelan ludah, herno kini terlihat menyeramkan.


Dalam hati hery memohon, semoga kedua orang tuanya diberi umur panjang jika herno berniat membawanya bertemu, seperti apa yang saat ini ia pikirkan. Ia hanya berharap kedua orang tuanya tidak mendadak terkena serangan jantung.


Kakinya terasa berat melangkah namun hery memilih untuk menjadi adik yang baik, menuruti permintaan herno. Karena ia tahu, sekalipun ia harus bersujud dan menangis meminta agar herno tidak membocorkan rencananya dengan chris untuk membuat bayi, kakaknya itu akan tetap melakukannya.


herno selalu merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar, dan fakta tersebut terkadang membuat hery kesal setengah mati.


herno lebih dahulu masuk ke dalam ruangan tempat Hana dirawat, hery di belakangnya membututi dengan hati yang pasrah. Setidaknya ia sudah menyiapkan mental dan beberapa sanggahan jika pada akhirnya harus kembali mendapat omelan dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya, maha penguasa tuan gaku yang begitu hery takuti.

__ADS_1


hery mungkin bisa berulah di luar sana, namun selain herno, gaku adalah kelemahannya.


"Selamat pagi, hery."


hery sedikit kebingungan saat mendapati hanya Hana yang berada di dalam kamar. Hana tidak sendirian, ia bersama bayi yang menjadi jagoan pertamanya, berada dalam gendongannya dan tertidur lelap.


"Selamat pagi, kak Hana." hery masih bertanya-tanya namun ia memilih untuk bersikap sesantai mungkin. "Bagaimana keadaanmu?"


"Sudah lebih baik, hery."Hana tersenyum sembari mengusap pelan wajah bayinya dengan ibu jari yang menekuk.


hery hanya mengangguk pelan dan memilih untuk duduk di sofa. Ia memperhatikan Hana dan herno dan tidak mengerti apa yang membuat keduanya seakan tersenyum sepanjang hari hanya karena seorang bayi yang sedang tertidur pulas di dalam rengkuhan ibunya.


Apa istimewanya?


"Kemari, hery."


hery tidak banyak bertanya dan mematuhi apa yang herno katakan, berjalan menghampiri dan ikut berdiri di samping ranjang Hana. Ia melirik bayi herno dan Hana, keponakan pertamanya.


"Kau boleh menggendongnya, hery."


hery cukup terkejut ketika Hana mendekatkan diri, memudahkan hery untuk mengambil alih bayinya dan membawanya dalam gendonganya.


"Tidak, kak. Aku tidak bisa melakukannya."


"Kau bisa melakukannya, hery." herno tersenyum dan mencoba untuk meyakinkan hery.


Ketika tangan kaku adiknya terulur, ia ikut membantunya. Membawa putranya agar dapat dengan nyaman berada di dalam gendongan pamannya.


Ternyata tidak memerlukan waktu lama hingga hery berhasil melakukanya, menggendong bayi untuk pertama kalinya. Jika boleh jujur, hery sebenarnya cukup takut. Ia khawatir jika mungkin melakukan kesalahan dan berakibat buruk bagi keponakannya tersebut.


"Bagaimana rasanya, hery?"

__ADS_1


herno menepuk pelan bahu hery, memperhatikan hery yang sedari tadi menatap lekat wajah bayinya. Tatapan mata yang begitu dalam dan menyimpan banyak arti.


"Nyaman."


Entah kata apa yang harus hery pilih namun ia berakhir dengan sesuatu yang memang benar-benar ia rasakan. Perasaan nyaman itu kembali ia rasakan, seperti saat pertama kali ia melihat jagoan wijaya ini saat masih berada di dalam ruangan bayi.


"Kau tahu, hery? Aku hampir membocorkannya pada ayah dan ibu." herno berucap pelan, berharap Hana tidak mengetahui apa arti sesungguhnya dari pembicaraannya dengan hery saat ini.


"Aku bahkan tidak terkejut." hery menimpali seadanya.


"Namun setelah putraku lahir, aku seperti tersadar sesuatu. Aku tidak seharusnya ikut campur dengan urusanmu. Kau sudah dewasa, aku tahu kau tidak sebodoh yang sering kukatakan."


hery mendengus geli, teringat beberapa kali herno yang menyebutnya bodoh jika pria itu sedang memarahinya hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.


"Aku mungkin tidak sepintar dirimu tapi aku tidak bodoh. Kau tahu itu."


"Benar. Karena itu, aku berjanji untuk tidak ikut campur."


herno mengulum senyum ketika hery langsung menoleh dengan raut terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Tapi setidaknya, hery, kuharap kau tahu bagaimana caranya menggendong bayi, meskipun mungkin chris tidak membutuhkanmu."


Dan hery sekarang tahu, alasan mengapa herno yang memaksanya untuk menggendong keponakannya ini. Bukan hanya untuk berkenalan, tapi herno mencoba membantu hery untuk memberi tahu bagaimana tahap awal menjadi seorang ayah yang baik.


Jika nanti bayinya lahir, setidaknya herno berharap bayi itu pernah merasakan gendongan ayahnya, hery.


*


*


*

__ADS_1


bersambung


__ADS_2