Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 20


__ADS_3

chris POV


Namaku chris trawira, hal yang kusukai adalah makanan dengan rendah lemak dan hal yang kubenci adalah herry wijaya— sebelumnya kelvin, tapi kali ini posisinya tergeser oleh hery dalam waktu kurang dari dua minggu.


hery wijaya berada di hadapanku, kami makan di cafetaria yang terdapat di dalam kantor dan herry berkata ini pertama kalinya ia makan disini. Pantas, ia membuatku menjadi pusat perhatian dalam sekejab. Ia membuat makan siangku seperti konperensi pers, banyak mata yang tertuju pada kami.


"Seharusnya aku memintamu untuk makan siang di luar. Aku seperti sedang duduk di hadapan seorang idol star. Para pegawai wanita menatapmu lapar."


"chris," ujar hery seraya menaruh sumpitnya di atas wadah makan siangnya, "aku sudah berkata sebelumnya, aku bisa menyewa sebuah restoran hanya untuk makan siang tapi kau menolak dan memintaku untuk makan disini."


hery kembali mengungkitnya lagi. Ia selalu berbicara dengan aksen sombongnya yang khas. hery wijaya adalah pria sombong.


"Aku sedang berhemat, bagaimanapun aku harus menabung untuk biaya persalinanku nanti. Lagipula aku tak berminat dengan tawaran sombongmu."


hery dengan jelas menahan tawanya. Ya, tertawa saja jika kau bisa, wijaya.


"Astaga, kau bahkan belum kuhamili, chris."


Lihat, bahkan si berandal gila yang sialnya atasanku ini justru memperlihatkan seringainya.


"Seorang wanita selalu memiliki persiapan dalam hidupnya." aku terdengar seperti motivator dengan kata-kata bijaknya, yang sebenarnya tergolong omong kosong.


"Termasuk persiapan untuk hamil tanpa komitmen? Kau beruntung bertemu denganku, aku bahkan lebih dari siap untuk menghamilimu."


Suaranya terdengar kecil saat berkata seperti itu. hery, aku berjanji akan memasukan sumpit ke dalam mulutmu jika ada kesempatan.


hery nyatanya mampu membuatku lupa dengan tatapan beberapa pegawai di sekitar kami, termasuk soal felix. Beberapa omong kosongnya— selain dirty talk yang sesekali terdengar di sela makan siang kami cukup menghiburku, dan mungkin aku juga cukup beruntung bisa mengenal sisi lain seorang hery wijaya. Pria ini terlihat dingin di luar, namun nyatanya ia orang yang sedikit menyenangkan. ' Sedikit', aku tak akan merubahnya dengan kata 'sangat' karena ia masih masuk ke dalam daftar hal-hal yang aku benci.


"Ada apa?" tanyaku melihat hery yang hanya menatap makan siangnya tanpa minat. "Tidak sesuai dengan selera bos sepertimu? Setidaknya hargai orang-orang yang makan di sekitarmu."


hery hanya diam, kemudian mendengus seperti biasa. Ia kembali mengambil sumpitnya dan memakan nasi dalam porsi kecil.


"Aku penasaran tentang hubunganmu dengan felix." hery tiba-tiba berkata disela usahanya untuk makan makanan yang setara dengan pegawai biasa sepertiku. Menjengkelkan.


"felix?" aku bertanya setelah menyelesaikan suapan terakhir dari sumpitku. Aku dapat dengan cepat menyelesaikan makan siangku, tidak seperti hery yang makan layaknya para putri kerajaan.


hery mengangguk sedikit acuh. "Ya, aku cukup yakin bahwa ia adalah seorang gay tapi dia menyebutmu wanitanya. Bahkan kau tak langsung memilihku yang jelas-jelas lebih berpotensi untuk menghamilimu."


Kedua mataku menatap jengah hery, pria itu terus saja berkata soal menghamili seakan ia bisa menghamiliku hanya dalam satu jam setelah kami melakukannya nanti. Ugh.


Sejujurnya aku sedikit malas untuk membahas felix. Si bodoh itu mengkhianatiku lagi. Ini tentu saja bukan pengkhianatan sepasang kekasih— aku bahkan sudah pernah merasakannya dan aku lagi-lagi dikhianati. Rasanya sama-sama menyakitkan. Terlebih felix melakukannya dua kali, tapi aku tak berkata bahwa hiko lebih baik darinya. felix-ku jelas-jelas lebih baik dari ******** itu.


"Dia sahabatku." Aku masih mengakui felix sebagai sahabatku. Kuharap felix yang sedang bercumbu dengan si gila kelvin dapat mendengar ucapanku ini.


"Kupikir kalian akan menjadi sepasang kekasih jika felix bukan seorang gay."


Aku tak tahu tapi kupikir hery cukup mengenal felix, terlebih kelvin. hery tak seperti orang kebanyakan yang merasa jijik dengan pasangan gay, jadi mungkin saja ketiga pria itu memang sudah saling mengenal sejak lama.


"Kau tahu, aku dan felix bahkan lebih dari sepasang kekasih." satu alis hery terangkat dan aku menahan tawa melihat reaksinya.


"felix adalah orang yang mencuri ciuman pertamaku saat aku berusia enam tahun, kami pernah mandi bersama saat aku berusia sepuluh tahun, ia juga selalu memelukku jika kami tidur bersama di siang hari."


Mulut hery membulat mendengar ceritaku, "Oh, manis sekali."

__ADS_1


"Tapi akhir-akhir ini felix membuatku ingin membunuhnya. felix mengkhianatiku."


"Kau bahkan bukan kekasihnya." celetuk hery, terdengar sedikit menyebalkan memang.


"Kau harus tahu, terkadang pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang sahabat terasa lebih menyakitkan."


Aku melihat hery tiba-tiba berubah menjadi pria yang penurut, ia tak berkomentar lagi dan lebih memilih menyudahi makan siangnya.


"chris, kurasa kau baru menjalani separuh hidupmu. Kau masih harus belajar banyak tentang persahabatan." baru kali ini hery berbicara selayaknya posisinya sebagai atasan.


"Kau mau kemana?" tanyaku saat melihat hery yang bangkit dari duduknya dan berjalan begitu saja.


hery menoleh dengan raut tak suka. "Kembali ke ruanganku."


"Setidaknya bereskan dulu bekas makan siangmu. Aku tahu kau seorang bos, tapi jangan berharap ada orang yang dengan senang hati membawa bekas makan siangmu." aku berdiri dan membawa tempat makan siangku, memberi isyarat pada hery untuk melakukan hal yang sama.


hery berdecak pelan kemudian ia ikut melakukan apa yang aku suruh.


"Ternyata memberi perintah pada atasan itu menyenangkan." aku menyeringai pada hery yang berdiri di sampingku.


"Sialan," gumam hery.


*


*


*


Normal POV


hery membuat banyak pekerjaannya terlantar namun hery adalah atasannya, hal tersebut membuat chris menggerutu di sepanjang jalan.


"Duduk di sofa, chris."


hery berbicara dengan nada bossy seperti biasa.


"Ada apa memanggilku?"


Dan sebelum hery menjawab pertanyaan chris, pintu ruangannya terbuka. Seorang pria berada di ambang pintu ruangannya, itu felix.


"kakak." hery baru saja memanggil felix dengan sebutan manis dan terdengar antusias, chris bahkan melihat hery tersenyum. Pria itu benar-benar tersenyum!


felix tak berbicara apapun, ia masuk ke dalam dan duduk di sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut.


"Duduk, chris." hery kembali mengulang ucapannya.


chris duduk di samping felix, dan ia dengan kekanakkannya sedikit membuat jarak antara dirinya dengan felix. heru ikut bergabung dengan duduk di sofa single yang berada di hadapan felix dan chris.


"Ada yang ingin aku bicarakan." felix membuka suara.


"Tapi maaf, aku masih banyak pekerjaan," sela chris.


felix menahan tangan chris saat wanita itu bangkit dari duduknya. Ia meminta chris untuk kembali duduk dengan isyarat matanya.

__ADS_1


"Bos mu ada disini." hery ikut berbicara.


chris merasa kesal dengan dua pria yang entah sejak kapan bersekongkol. Ia menghela nafas dan dengan terpaksa kembali duduk. hery melirik felix, sebelumnya ia tak pernah merasa secanggung ini saat berada di dekat felix.


"Ayo kita selesaikan ini."


Entah mengapa namun perkataan felix terdengar lucu di telinga chris.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu. Selesaikan masalahmu dengan kelvin."


Kali ini felix yang menghela nafas. "chris, aku minta maaf."


chris diam, ia bahkan memalingkan wajah menolak untuk menatap felix. hery sendiri sedari tadi hanya diam memperhatikan, ia menyadari situasi canggung di antara keduanya.


"Sebenarnya ada apa?" hery masih bisa bersikap tenang.


"Aku dan chris akan membuat bayi."


Dan ternyata ketenangan hery hanya bertahan dalam beberapa detik.


"Maksudmu aku dan chris?" hery menatap sinis.


felix tersenyum tipis. "Aku— felix, akan membuat bayi dengan chris."


Kedua mata hery memicing. "chris sudah memilihku."


"Kalian berdua, berandal brengsek yang menginginkan tubuhku," gumam chris dengan jari-jari tangannya yang saling meremas. Wajahnya memerah menahan marah.


"chris, aku tak pernah memiliki niat sedikitpun untuk mendapatkan tubuhmmu."


"Tentu saja, kau tak akan pernah bisa melakukannya." hery melipat kedua tangannya di dada dan menyeringai ke arah felix.


felix mencoba menghiraukan ucapan hery. Ia sama sekali tak tersinggung, karena ia sudah cukup lama mengenal hery, ia sudah terbiasa dengan ucapan pedas hery.


"chris, kau adalah adik perempuan yang tak akan aku biarkan dimanfaatkan oleh nafsu seorang pria."


"Persetan." hery tersinggung.


"felix, kembalilah pada kelvin." chris mencoba mengatur dirinya sendiri, ia benci ketika kedua matanya terasa panas dan mungkin terlihat menyedihkan di depan felix ataupun hery.


felix menunduk, menatap sebelah tangannya yang digenggam oleh kedua tangan chris.


"chris ..."


"Aku sudah memilih hery."


Dan chris tahu bahwa ucapannya membuat dua reaksi yang berbeda secara bersamaan. felix dengan wajah penuh kekecewaannya, sedangkan hery. dengan senyum angkuhnya yang penuh kemenangan.


*


*


*

__ADS_1


bersambung


__ADS_2