Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 18


__ADS_3

kelvin membuka kedua matanya saat felix menjauhkan wajahnya, melepas ciuman singkat mereka.


"Mungkin terdengar brengsek, tapi kita benar-benar putus, kel." ujar felix pelan, terdengar nyaris berbisik.


kelvin tersenyum miris, "Semudah itu?"


"Aku baru saja membiarkan chris pergi dan lebih memilih disini bersamamu," felix menyandarkan punggungnya pada jok mobilnya, mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Ia tahu bahwa chris melihat mereka berdua disaat ia menuruti permintaan kelvin untuk menciumnya.


"Jadi kau melepaskanku hanya demi si pinky sialan itu?" tanya kelvin, suaranya terdengar serak. "Kau memang brengsek, kukira kau benar-benar mencintaiku."


kelvin membuka pintu mobil dan felix menahan satu tangannya.


"Maaf, kel,"


kelvin tertawa sinis, "Aku tak butuh ucapan maafmu, brengsek."


Kali ini felix membiarkan kelvin keluar dari mobilnya, meninggalkannya pergi. felix sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannya. Ia selalu memilih kelvin karena ia memang mencintai pria itu, bahkan ia rela dimusuhi chris hanya demi pria itu.


Namun beberapa hari setelah chris menyatakan permusuhan dengannya, ditambah dengan hery yang tiba-tiba datang dan memilki niat untuk meniduri chris— ia merasa bahwa ia akan lebih brengsek dengan membiarkan sahabatnya begitu saja. Membiarkan chris dipermainkan oleh hery.


Ia tahu bahwa chris tak sepenuhnya seorang wanita yang kuat seperti apa yang orang lihat dari luar. Wanita itu pernah gagal dalam berkomitmen dengan pria, dan nyaris frustrasi hingga memutuskan jalan hidupnya untuk memiliki seorang anak tanpa suami.


felix merasa bahwa chris membutuhkannya, chris lebih membutuhkannya dibanding kelvin.


Lagi pula, ia ingin membuat kelvin jera dengan sikap kekanakannya. Ia mencintai pria itu namun ia tak bisa untuk terus melayani sikapnya yang terkadang semaunya sendiri.


felix ingin kelvin merubah sikap buruknya, meskipun kemungkinan buruknya ia justru semakin membuat kelvin semakin menggila.


*


*


*

__ADS_1


hery duduk di hadapan para jajaran direksinya, dan Karin yang berstatus sebagai sekretarisnya sedang mempresentasikan data beberapa saham dan laporan penting lainnya mengenai wijaya Group.


"—Woolim memutuskan untuk bekerja sama dengan wijaya Group, ini merupakan sebuah kabar yang menggembirakan. Kita patut berbangga."


Suara Karin terdengar begitu jelas di dalam ruangan rapat, namun entah mengapa hery seakan tak terlalu menangkap inti pertemuan kali ini. hery seperti larut dalam lamunannya, sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua kakinya bahkan terlihat tak tenang, beberapa kali mengetuk-ngetuk lantai seperti seseorang yang sedang menunggu.


Ya, hery wijaya saat ini memang sedang menunggu. Ia menunggu keputusan chris, dan hal itu membuatnya menggila.


Ia memang sudah memberikan kunci kamar hotel pada chris, ia ingin bergerak cepat dan tak mau kalah dari felix. Namun belum tentu chris akan langsung memilihnya, bisa saja chris membuang kunci tersebut dan memilih felix.


"Ini semua berkat Presdir wijaya, kerja kerasnya menghasilkan sebuah kesepakatan kerja yang menguntungkan bagi kita. Ini adalah sebuah prestasi awal yang mampu diraih Presdir wijaya dalam waktu yang singkat!"


Dan semua orang yang berada di ruangan itu bertepuk tangan untuk hery, berbangga dengan hasil kerjanya sebagai seorang pemimpin baru. hery sendiri menyadari bahwa orang-orang penting di ruangan ini sedang bertepuk tangan untuknya, maka ia pun ikut bertepuk tangan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Terlihat tak terlalu mempedulikan sekitarnya.


Karin memperhatikan hery dari tempatnya berdiri. hery sedikit berbeda— seharusnya, pria itu akan menampilkan senyum angkuhnya untuk sebuah kesuksesan besar yang baru saja diraihnya. Setidaknya seperti itulah tipikal seorang wijaya.


Orang-orang masih bertepuk tangan dan larut dalam kegembiraan saat ponsel hery yang berada di atas meja bergetar.


hery masih mempertahankan wajah datarnya saat meraih ponselnya, dan seketika raut wajahnya berubah saat tahu bahwa sebuah pesan singkat diterimanya, dan itu berasal dari chris.


Aku memilihmu, her.


Ya, chris memilihmu, hery.


chris memilihmu, hery wijaya.


"Yeah!" dan hery baru saja berteriak hanya karena sebuah pesan singkat dari chris. Ia tak menyadari tatapan terkejut dari para pegawainya di dalam ruangan rapat. Kali ini hery memperlihatkan wajah angkuhnya, tersenyum bangga dan ia bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Ia bahkan bangkit dari kursi kebesarannya.


Karin yang juga terkejut akhirnya ikut bertepuk tangan, ia tertawa untuk mencairkan suasana walaupun terdengar kaku. Namun hal tersebut berhasil membuat orang-orang yang menghadiri rapat tersebut tak merasakan hal yang aneh, mereka kembali ikut bertepuk tangan.


"Selamat, Presdir herry!"


"Selamat atas keberhasilanmu, Presdir herry!"

__ADS_1


Senyum angkuh hery terlihat semakin jelas, entah mengapa semua ucapan selamat dari para pegawainya justru terdengar lain di telinganya, terdengar seperti; "Selamat bersenang-senang, Presdir hery!"


*


*


*


herry masuk ke dalam ruangannya dan terkejut mendapati chris berada di dalam.


"Sejak kapan?" hery menutup pintunya.


Kali ini chris tak berbicara apapun, ia berjalan dengan cepat menghampiri hery dan meraih tengkuknya. chri— dengan sedikit berjinjit mencium hery dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.


herry yang sedikit terkejut segera mengimbangi chris dengan memeluk pinggang rampingnya, membalas ciuman chris yang lebih cocok dibilang tak terkendali dibanding ahli. Wanita itu menciumnya seakan ingin memakannya hidup-hidup. hery tak peduli dengan perubahan chris yang begitu cepat, yang ia tahu ia menginginkan chris. Ia menginginkan chris sekarang juga.


hery masih dengan memeluk pinggangnya membawa chris ke meja kerjanya, mengangkat pinggul chris dan membiarkan wanita itu duduk di atas meja kerjanya. herry memberi chris beberapa kecupan ringan di bibirnya sebelum ia **********, memasukan lidahnya saat chris membuka mulutnya. Kedua tangan chris pindah meremas jas hitam herry, menahan tubuh pria itu agar tak menidurinya di atas meja.


"Sialan, chris," hery melepas bibirnya saat chris mendorongnya karena kehabisan nafas. Ia memegang sisi meja untung menopang tubuhnya, chris masih berada di hadapannya dan duduk di atas mejanya. "apa yang terjadi denganmu?"


chris mengatur nafasnya, "Aku akan menunggumu,"


"Hn?" herry menaruh satu tangannya di pipi chris dan mengusapnya pelan.


"Maksudku membuat bayi."


hery menyeringai, "Tentu saja, chris," herry menyelipkan satu helaian rambut di belakang telinga chris, "aku akan datang dengan cepat untukmu."


*


*


*

__ADS_1


bersambung


__ADS_2