
Hampir setengah jam sejak hery memutuskan untuk menghentikan laju mobilnya, memilih bahu kiri jalan yang lenggang sebagai tempat perhentian, dengan satu tiang lampu yang menjulang tinggi di depan menjadi satu-satunya penerangan yang ada di sana.
Waktu baru menunjukan pukul 8 malam namun hari itu sudah terasa begitu sunyi bagi hery maupun chris. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing yang melayang jauh.
hery menunduk dengan satu tangan yang meremas kemudi, wajahnya terlihat lusuh dengan kedua mata yang terpejam erat. Memikirkan kejadian di pesta pernikahan hiko tadi membuatnya pusing mendadak.
Sedangkan keadaan di sampingnya justru ternyata lebih kacau, chris dengan punggung lelahnya yang menyandar masih menatap kosong ke depan seperti menit-menit sebelumnya.
"Sudah?" itu suara hery, menoleh ke arah chris dengan raut wajahnya yang serius.
chris di sampingnya meringis kecil, tahu jika hery sedari tadi diam karena memberinya waktu untuk menangis. Memberinya sedikit ruang kosong untuk meringankan beban di hatinya. hery bukan pria yang pandai memberi kata-kata motivasi, yang bisa ia lakukan hanya diam dan memberi chris waktu agar mencari ketenangannya sendiri.
chris sudah berjanji untuk tidak lagi menangis karena hiko namun malam ini ia kembali melakukannya, dan chris merasa gagal. Perasaan itu kembali datang, rasa sakit karena patah hati dan dikhianati. Sesuatu di dalam sana bergemuruh dan chris ingin secepatnya pulang agar dapat menangis semalaman seperti wanita gila.
chris mengambil sapu tangan yang hery berikan untuknya, mengusap kedua pipinya yang basah. Saat ia menyadari berapa banyak air mata di wajahnya dan sudah berapa lama ia menangis, chris mulai khawatir jika ia akan berubah menjadi wanita buruk rupa karena make up yang menempel di wajahnya mulai luntur.
"Sialan, hery." chris memasukan sapu tangan herry ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan; "Aku ingin mati."
Mendengar perkataan chris tadi membuat hery tidak lagi berbicara apapun selain langsung menyalakan mesin mobilnya. Ketika hery menginjak gas dan membawanya dalam kecepatan tinggi, chris merasa jantungnya langsung melompat keluar atau bahkan berhenti berdetak.
__ADS_1
Diam-diam chris mulai berdoa dalam hati, jika hery memang berniat mengabulkan keinginannya untuk mati maka ia berharap semoga Tuhan mengampuni segala dosanya dan mengizinkannya untuk masuk surga.
Tubuh chris terdorong ke depan dan hampir menabrak dashboard jika tidak terlindungi seat belt saat hery menginjak rem secara mendadak. hery masih tidak membuka suara dan inner dalam diri chris mulai riuh mengira-ngira perkataan yang mungkin salah ia ucapkan hingga membuat hery wijaya terlihat marah, bahkan sangat marah.
"Kau lihat ini, chris?"
hery mengayunkan lengan dan memperlihatkan kepalan tangan kanannya. chris memperhatikan dengan mata meneliti, melihat memar dan goresan kecil di sana membuatnya berpikir sepertinya hery tidak sengaja ikut memukul meja ketika ia menghajar hiko habis-habisan tadi.
"Astaga— hery, kau terluka—"
"Tidak, bukan itu, chris. Maksudku, aku sudah memukulnya, aku melakukannya untukmu." hery masih dengan rahangnya yang mengeras menahan emosi kini beralih menatap chris, "dan kau justru ingin mati? Baik, lupakan soal membuat bayi. Malam ini kita mati bersama."
"hery, tidak, maksudku— hery wijaya!"
chris memekik keras saat hery kembali memegang kuat kemudi dan bersiap menginjak gas di kakinya. chris meraih satu tangan hery dan menahannya dengan tubuh yang bergetar karena takut. Ia mati-matian menahan tangisnya, wajahnya kembali memerah dan ia menggigit bibirnya kuat di ujung sana.
"Tidak ... aku— aku tidak ingin mati ..." pada akhirnya chris kembali terisak dan terdengar parau, tangisnya pecah. "Aku ... aku hanya merasa putus asa, herry. Tolong mengerti."
herry tidak mengerti namun melihat keadaan chris yang kacau membuat sesuatu di dalam dirinya terasa ditekan kuat dan menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sulit diartikan. chris yang terlihat lemah seperti ini membuat kedua tatapan hery meredup.
__ADS_1
hery dapat melihatnya di sana, kedua mata chris yang menyiratkan sakit hati yang luar biasa.
hery tahu, chris sangat terluka.
"chris,"
Intonasi hery kini terdengar lebih rendah bahkan nyaris berbisik. Satu tangannya terulur lembut, dengan jemari yang mengusap pipi chris perlahan dan menghapus jejak basah di sana. chris diam dan untuk beberapa saat ia merasa seperti terhipnotis, tatapan dalam hery seakan menghisapnya.
Kedua mata chris balik menatap hery, hanya beberapa saat sampai ia memejamkan mata dan pandangannya menggelap dengan tubuh yang seakan dibawa melayang ketika hery menciumnya.
Sebuah ciuman yang hati-hati dan penuh perasaan di bibirnya.
*
*
*
bersambung
__ADS_1