Bos Brengsek

Bos Brengsek
chapter 4


__ADS_3

"Oh, herry," herry datang saat herno baru saja menambah dua sendok gula ke dalam kopinya. Ia melihat adik laki-lakinya itu berjalan menaiki anak tangga, "tumben kau mampir ke rumah, sudah selesai bertemu ayah?"


herno berjalan meninggalkan dapur dan berdiri di dasar tangga, kepalanya mengadah melihat herry yang terus berjalan.


Sudah tiga tahun terakhir herry memutuskan hidup sendiri, sedangkan herno baru memutuskan tinggal terpisah dari ayah dan ibunya saat menikah. Hanya saja, saat ini istrinya dalam keadaan hamil. Kandungannya sudah menginjak 8 bulan. Ibunya menyarankan untuk sementara tinggal bersama di rumah ini. Ibunya ingin mengontrol langsung perkembangan kehamilan istri tercintanya, wijaya Hana.


Sedangkan herry jarang sekali pulang ke rumah ini. herry lebih memilih tinggal sendirian di apartementnya.


herno tahu alasan utama herry tinggal sendiri bukan karena ingin mandiri. Adiknya itu ingin menghindari omelan ibunya setiap kali membawa wanita yang berbeda ke dalam rumah.


"herry," tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, herno masuk ke dalam kamar herry.


hery menoleh pada herno, "Jarak dari kantor ayah ke apartementku bisa menghabiskan waktu lama, jadi aku mampir kesini untuk berganti pakaian saja." herrg yang bertelanjang dada membuka lemari pakaiannya dan mengambil satu kemeja putih yang masih tersisa.

__ADS_1


Kedua alis herno terangkat saat melihat kemeja dan jas yang sebelumnya dipakai herrg tergeletak di ranjang dalam keadaan basah.


"Kau kehujanan?" Tanya herno, perlahan ia meminum kopi yang memang masih berada di tangannya itu.


herry mendengus, kedua tangannya masih mengaitkan satu persatu kancing kemejanya.


"Tidak," herry menyeringai, "aku baru saja diserang oleh monster berwarna pink. "


Dan tiba-tiba herno menyembur keluar kopi yang baru saja diminumnya.


Sepertinya hery lupa bahwa ia sudah megolok chris karena memiliki dada yang tak seberapa besar. herno hanya menggeleng mendengar ucapan hery, ia sudah terbiasa dengan mulut kotor adiknya tersebut.


"hm, mungkin saja." Ujar herno seadanya.

__ADS_1


herno berjalan ke dapur dan menaruh cangkir kopinya yang sudah kosong di atas meja. Setelahnya ia menyusul herry dan kembali mengekorinya. Persis seperti seorang anak yang tak ingin kehilangan jejak ibunya.


"Kau tak ingin menunggu ibu dan Hana pulang?" herno melirik jam tangannya, hampir menjelang malam dan mungkin ibu beserta Istrinya akan segera pulang. Mereka sedang berbelanja kebutuhan calon anaknya nanti.


herno sendiri awalnya ingin ikut menemani, maka dari itu ia memilih untuk pulang lebih awal. Namun wijaya Miku yang terlalu bersemangat itu menyuruh herno menunggu saja di rumah.


'Ini urusan perempuan, kali ini biar ibu saja yang menemani Hana.', begitu kata ibunya.


Andai gaku hari ini tak memiliki janji dengan hery di kantor, ia pun akan sama semangatnya dengan Miku untuk menemani Hana berbelanja kebutuhan calon anaknya— calon cucu pertama untuk gaku wijaya dan Miku wijaya. calon penerus wijaya selanjutnya.


Inilah salah satu alasan gaku memilih pensiun dari dunia kerjanya. Ia ingin menghabiskan masa tuanya dengan menimang cucu bersama sang istri. Membiarkan kedua anak lelakinya yang sudah dewasa itu meneruskan kepemimpinannya, hanya saja berbeda kantor. herno memimpin anak perusahaannya, sedangkan hery dipilih menggantikannya.


Awalnya herno yang akan mengganti gaku memimpin perusahaan utama, wijaya Group. Namun karena herno sudah terlanjur memimpin anak perusahaan keluarganya, jadilah hery yang menggantikan gaku. Lagipula, hery dirasa sudah cukup mampu memimpin perusahaan utama keluarga wijaya. Latar belakang pendidikan wijaya memang tak akan pernah meragukan. Selain itu, pengalamannya membantu herno mengurus anak perusahaan sudah cukup membuat gaku mempercayainya.

__ADS_1


"Titip salam saja untuk mereka," ujar hery seraya berjalan menuju halaman, tempat mobilnya terparkir


bersambung


__ADS_2