
Aku tak seharusnya menghubungi felix,"
chris mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan jari-jari rampingnya. Ia merasa begitu bodoh karena berniat menghubungi felix. Rupanya chris berencana untuk mendiamkan felix selama satu minggu. Itu adalah balasan karena felix yang begitu mudah menuruti permintaan kelvin ketimbang dirinya yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
chris tahu ia egois, terlebih ia sudah berkata pada felix bahwa ia baik-baik saja setelah pembatalan pendonoran sperma itu. Namun nyatanya tidak, chris masih kesal.
Biar saja ia egois, chris masa bodoh. Sebenarnya ia tak masalah jika felix sendiri yang membatalkan rencana mereka. Namun ini berbeda cerita, rencana mereka batal karena kelvin. felix jelas-jelas bersedia menjadi ayah anaknya namun kelvin menghalanginya.si sialan kelvin itu.. chris menggeram tanpa sadar.
Jika chris mendiamkan felik, pria itu pasti akan kalang kabut sendiri. Ia tahu felix paling tidak suka permusuhan, terakhir kali mereka bermusuhan saat mereka masih di bangku sekolah. Mereka bermusuhan karena felix lebih memilih untuk berkencan dengan kekasihnya (saat itu felix masih normal dan chris ingin tertawa mengingat itu) dibanding pulang bersamanya.
Bagi felix, selain sahabatnya, chris adalah adik perempuan yang harus ia jaga.
chris menyeringai membayangkan kelvin akan semakin kesal karena melihat felix yang kalang kabut memikirkannya.
Biar saja ia disebut egois, sekali lagi chris tidak peduli.
chris menekan beberapa digit nomor yang sudah di hafalnya, jadi ia tak perlu susah susah untuk membuka menu kontak di ponselnya. Kali ini panggilannya beralih pada ana.
__ADS_1
Seharusnya ia memang menghubungi ana, mengingat wanita pirang itu bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Namun karena ia sedang ingin mencari ketenangan selain kebenaran tentang kabar pergantian bosnya bulan ini, maka dari itu awalnya ia ingin menghubungi felix.
Dan niat itu ia urungkan mengingat kekesalannya kemarin.
"Angkatlah,na!" chris sedikit kesal dan menggigit bantal yang memang berada di dekapannya. chris bergerak gelisah di atas ranjangnya. Menunggu panggilannya yang tak juga mendapat respon dari ana.
"Apa ana sedang bersama vero?" chris bertanya-tanya.
chris jadi kesal sendiri memikirkan kedua sahabatnya yang kini sedang bermesraan dengan masing-masing pasangan tak normal mereka. kelvin si pirang yang cerewet dan vero si pucat dengan senyum palsunya itu.
"ana!" chris berteriak girang saat panggilannya tersambung. Itu adalah panggilannya yang kesembilan.
"ana—"
"c-chris, tolong jangan menghubungiku dulu,"
Sontak chris dibuat bingung mendengar ucapan Ino. "Hah?" Sial, tiba-tiba ia mendengar seseorang diseberang sana mendesah dan—
__ADS_1
"Oh, tuhan! Lebih cepat, sayang!"
—suara ranjang yang berdecit.
Sialan! ana mengangkat teleponnya dan membiarkan chris mendengar desahan gilanya!
"Ah, sial, ana! Aku hampir keluar— ohh!"
Dan yang barusan itu pasti adalah suara vero. chris tahu itu. Si pucat itu sedang menunggangi sahabat pirangnya. sialan!
"Akan kubunuh kau, ana!" chris berteriak dan segera memutus sambungan. Ia menaruh ponselnya dengan keras di atas meja nakas.
Setelah apa yang ia barusan dengar, sekarang chris tahu bahwa perkataan ana mengenai keseriusannya dengan vero bukanlah main-main.
chris termenung sendirian. Ia melipat kedua kakinya dan menaruh dagunya di atas lututnya. Ia melamun, memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Ia merasa kesepian, entah siapa yang akan chris ajak berbicara. Saat ini kedua sahabatnya sedang dimabuk asmara.
"Jadi, aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Dan pada akhirnya chris mengajak bantal dan gulingnya berbicara.
bersambung