Bridesmaids Jadi Bride

Bridesmaids Jadi Bride
menolongnya


__ADS_3

Semenjak kejadian di panti asuhan baik Rayya maupun Zayyan tak pernah bertemu lagi,Rayya juga enggan keluar dan menghubungi Bram,ia mengurung dirinya di kamar, terkadang jika asisten disana sudah pergi ia mencoba sesuatu di dapur untuk mengusir kebosanannya,ia membuat dessert lalu menikmati di balkon ketika senja


Rayya sangat menyukai suasana balkon yg tenang, karena penthouse Zayyan berada di lantai paling atas maka dari itu balkonnya memiliki view kota sangat indah, seakan Rayya bisa melihat seluruh kota dari sana.


Rayya baru beranjak dari balkon ketika hampir mendekati pukul 8 malam, karena saat itulah sang empunya pulang dan Rayya semakin enggan untuk bertemu dengannya,ia segera masuk kamar dan mengunci pintunya lalu menyalakan gawai dan memasang earphone untuk meredakan suara Zayyan maupun Bram


"Zayyan seperti nya sudah lama istrimu tidak pergi keluar,apa kau tidak pernah menanyakan kabarnya, mungkin sesuatu terjadi padanya?"tanya Bram ketika mereka selesai menyusun jadwal esok


"tanyakan saja sendiri, sepertinya kau sangat memperhatikannya"ucap Zayyan sinis


"bukan begitu Zayyan, ayolah pernikahan mu sudah menginjak bulan ke 3, apa kau masih belum mau mengenal nya?"


"kau urus saja masalah pekerjaan, jangan ikut campur dalam pernikahan ku,atau pekerjaan kita kurang banyak?!"


Dasar gila, pekerjaan ini sudah terlalu banyak bahkan overload Zayyan,ucap Bram dalam hati


"baiklah aku pulang, beristirahat lah dengan benar, besok kita ada rapat penting dan ku harap kau tidak mengacaukan nya"


Bram pamit pulang,ia sudah lelah menghadapi Zayyan yg semakin egois


*******


Seperti malam malam sebelumnya Zayyan sulit sekali untuk terlelap, padahal ia sudah pergi ke psikolog untuk mengobati insomnia yg dialaminya, bahkan ia sudah diberi obat untuk bisa mengistirahatkan tubuhnya, namun semua belum ada dampaknya, tiba-tiba Zayyan merasakan nyeri di perutnya, mungkin akibat selalu terlambat makan karena pekerjaannya yg semakin bertambah, semakin lama nyeri itu semakin bertambah naik merambat ke ulu hatinya, mual dan pusing juga datang bersamaan


Zayyan segera membuka laci nakas disamping tempat tidurnya,ia meletakkan ponsel nya disana dan sialnya ponsel itu dalam keadaan non aktif, Zayyan memang sengaja jika ingin beristirahat ia akan menonaktifkan ponsel nya, tangan nya semakin gemetar keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya, ponsel nya terjatuh sebelum sempat ia nyalakan


Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan nyeri perut sehebat ini, karena pola hidup Zayyan yg sehat,ia begitu menjaga kesehatan nya,maka dari itu ia tak punya obat obat atau pereda nyeri sakit perutnya


Sementara di lain kamar Rayya yg masih asik mendengarkan musik di ponselnya, tiba-tiba hening, setelah ia periksa ternyata ponsel nya sudah kehabisan baterai, Rayya segera melepas earphone dan beranjak untuk mengambil minum, Rayya selalu membawa Tumbler nya sendiri ke dalam kamar agar ketika ia merasa haus tak perlu ke luar kamar


Rayya segera meminumnya hingga habis dan masih menyisakan rasa haus di tenggorokannya,Rayya melirik jam sudah mendekati pukul 11 malam mungkin tidak apa kalau dia keluar,sang empunya pasti sudah di kamarnya.


Rayya membuka pintu kamarnya pelan,ia menyembulkan kepalanya memastikan keadaan aman, persis seperti maling yg mengendap-endap ia memelankan langkahnya hingga terdengar suara


Brugh...


Seperti ada sesuatu yg terjatuh dari kamar sebelah nya,juga terdengar suara rintihan yg memilukan dari sana, rayya segera ingin membuka pintu kamar itu khawatir terjadi sesuatu pada si tuan rumah, namun terbesit keraguan bagaimana jika Zayyan mengatakannya lancang lalu membentak seenaknya tempramen pria itu kan sangat buruk, lagipula pasti ia sudah menghubungi Bram atau asisten yg lain para dayang nya juga sangat banyak... pikir Rayya dalam hati


Rayya berlalu tak menghiraukan rintihan itu,ia berharap Bram segera datang, setelah selesai mengisi Tumbler nya, suara rintihan itu semakin terdengar jelas,

__ADS_1


Lupakan akal sehat mu rayya,kau harus pastikan keadaannya baik-baik saja"..


Rayya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Zayyan, alangkah terkejutnya Rayya,ia melihat Zayyan sudah terkapar di lantai bagai ikan yang baru saja dipancing, Zayyan juga terus memegangi perutnya dan mengeluarkan rintihan


Rayya segera memegangi tubuh Zayyan, tubuh pria itu sudah banjir keringat dingin badannya juga sudah gemetar, ponselnya tergeletak di samping Zayyan.


"Zayyan ada apa dengan mu, katakanlah sesuatu" ucap Rayya khawatir


"hubungi Bram"pinta Zayyan dengan suara tertatih,ia menunjuk ponselnya


Rayya mengambil ponsel yg tergeletak itu,dan berusaha mencari tombol untuk mengaktifkan nya


"ponselmu mati,mari aku bantu ke tempat tidur mu"


Rayya berusaha sekuat tenaga memapah tubuh Zayyan yg tergeletak itu, tubuhnya begitu berat untuk Rayya


"haiiiisshh..kau makan beton ya tubuhmu berat sekali'" gumam rayya namun masih terdengar oleh Zayyan


Tubuh mereka menempel, aroma Zayyan yg begitu kuat masuk dalam penciumannya, hembusan nafas Zayyan yg menempel pada tubuhnya membuat Rayya merinding, akhirnya tubuh berat itu berhasil ia papah menuju tempat tidurnya, rayya teringat akan Tumbler yg ia isi dengan air hangat dengan cepat rayya mengambilnya dan meletakkan di perut Zayyan, Rayya duduk di tepian kasur Zayyan ia mengompres perut Zayyan dengan Tumbler nya, seakan sedang menggiling adonan menggunakan rolling pin,tak ada penolakan dari Zayyan seperti nya pria ini benar kesakitan


"apa sebelumnya kau punya maag,sepertinya asam lambung mu naik"ucap Rayya matanya tetap fokus mengompres


Ya sepertinya cara itu berhasil membuat perutnya sedikit nyaman, namun nyeri itu masih ada hanya mereda sedikit saja, sebenarnya dari tadi Zayyan enggan rayya menolongnya, namun rasa sakit yg begitu ia rasakan membuat egonya sedikit menghilang


Rayya mengambil ponsel yg masih tergeletak di lantai "ponsel mu mati"tunjuk rayya dengan tangan kiri nya, karena tangan kanannya masih tetap mengompres


"nyalakan saja, ponsel nya tidak mati"


Rayya mencoba untuk mengaktifkan nya, ternyata benar ponselnya menyala mungkin Zayyan sengaja menonaktifkannya.


Terlihat pin sandi yg harus dimasukkan, Rayya menyerahkan ponsel itu ke Zayyan


"tanggal pernikahan kita"ucap Zayyan sepertinya tenaganya masih belum kembali walau hanya untuk memegang ponsel


Deg...


Apa katanya tadi tanggal pernikahan kita,apa maksudnya?..oh tidak ini bukan saat nya untuk baper Rayya...


Rayya terdiam

__ADS_1


gawaaaat aku tidak mengingat tanggal nya..ucap Rayya frustasi


Zayyan melotot ke arah nya,jika bukan karena rasa sakit Zayyan akan menendang gadis itu dari sisinya,tapi gadis itu terlihat lucu dan menggemaskan dengan ekspresi seperti itu


Zayyan meraih hp itu dan segera melakukan panggilan lalu ia meletakkan ponsel nya asal


"aku lapar, perut ku perih" ucap Zayyan tiba-tiba


Rayya mengehentikan aktivitas nya ia segera beranjak dari tempat tidur Zayyan


"akan ku siapkan"


Setelah Rayya keluar, Zayyan memegang perutnya, hangat...ia tersenyum menatap Tumbler yg tdi digunakan Rayya


Terima kasih....


Rayya mencari makanan di dapur, sepertinya bi sari sudah merapikan makanan,Bi Sari adalah asisten yg di tugaskan Zayyan di penthouse ini,ia hanya bertugas dari pukul 6 sampai 6 malam untuk menyiapkan sarapan dan makan malam Zayyan Namun sayang Zayyan hanya memakan sarapannya tidak dengan makan malam karena ia pulang sudah lewat waktunya.maka dari itu daripada terus membuang makanan akhirnya bi Sari hanya membuat 1 porsi makan siang dan makan malam hanya untuk Rayya.


Namun Rayya ingat tdi sore ia membuat dessert banana oatmeal cake dan ia rasa makanan itu tidak masalah jika dikonsumsi oleh penderita asam lambung seperti Zayyan


Rayya menghangatkannya sebentar di microwave, kemudian ia segera mengantarkannya ke kamar Zayyan


Zayyan memicingkan matanya menatap makanan yg dibawa Rayya, terlihat lezat dan menggiurkan, Zayyan memang tidak ingin memakan nasi sekarang perutnya rasanya mual membayangkan nasi dan lauk pauk di hidangkan,tak lupa Rayya juga menyiapkan air jahe hangat untuk meredakan nyeri perut nya.


Seperti anak kecil yang dikabulkan setelah merengek minta ice cream, Zayyan memakan nya dengan lahap bahkan ia sampai tersedak,ya memang terakhir kali ia makan saat siang,itu pun hanya sedikit karena ia harus memeriksa laporan dan menandatangani beberapa dokumen yg sudah menumpuk di mejanya


"uhuk..uhuk..."


Secara impulsif Rayya menepuk tengkuk Zayyan pelan dan mengusapnya.


"pelan-pelan saja.. nanti perut mu sakit lagi loh'"


Pandangan mereka bertemu, wajah mereka begitu dekat bahkan mereka bisa merasakan nafas yg berhembus satu sama lain


Pintu kamar Zayyan terbuka, Zayyan dan Rayya sama-sama menoleh, dengan tiba-tiba Rayya berdiri dan tak sengaja kepala nya membentur kening Zayyan


"dasar tua bangka makan saja masih seperti anak kecil belepotan" ucap Rayya sambil berlalu meninggalkan Zayyan yg diam kebingungan


Yg sebenarnya terjadi adalah ia sedang menetralisir detak jantung nya yg tiba-tiba berdetak begitu kencang,dan akhirnya ia malah memalukan dirinya sendiri

__ADS_1


Rayya sepertinya kau berkhianat pada diri mu sendiri mengatakan tak akan jatuh dalam pesonanya


__ADS_2