
Hari berganti hari, hubungan Zayyan dan Rayya semakin akrab, mereka sering menghabiskan waktu bersama meski hanya di dalam rumah, setelah selesai sarapan maupun makan malam, mereka menyempatkan untuk berbagi cerita, walau Zayyan yang banyak bertanya tentang kehidupan Rayya, namun setelah pertanyaan Zayyan mengalir lah cerita yang panjang dari bibir Rayya,akhirnya Zayyan lah yg tak banyak bicara dan setia mendengarkan celotehan Rayya
Tidak ada sentuhan sentuhan intim Zayyan seperti sebelumnya, karena Zayyan ingin membuat Rayya nyaman dengan kehadirannya, walau beberapa kali Zayyan ingin merasakan lagi bibir gadis di depannya yang terus bercerita tentang banyak hal,ia tetap harus menahan keinginannya
Kini mereka sedang duduk di balkon menikmati keindahan senja, semenjak mereka dekat, Zayyan pulang lebih awal sebelum matahari terbenam karena ingin segera bertemu Rayya, gadis itu sekarang juga sudah terbiasa dengan kehadiran Zayyan,selain memasak untuknya, Rayya juga membuat camilan untuk mereka nikmati di kala senja
"Bagaimana kau bisa mengenal Eliza?"
Tanya Zayyan tiba-tiba, sambil memasukkan anak rambut Rayya yg tertiup angin ke telinganya
Rayya agak canggung dengan pertanyaan itu,apa jika ia menjawab nya tidak akan membuat rasa sakit Zayyan kembali karena mengingatnya?!
"jangan khawatir,aku hanya penasaran"
Zayyan sepertinya mengetahui ekspresi wajah Rayya yang terlihat bingung
__ADS_1
"di rumah sakit". Rayya menghela nafasnya sebentar
Zayyan mengerutkan alisnya
"malam itu saat ibuku dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal bersama adikku yang masih didalam perut ibu,aku benar-benar merasa sendirian, saat itu ayah sedang dinas ke luar kota, tiba-tiba seorang wanita yang sangat cantik menghampiriku dan mencoba untuk menenangkanku,aku sampai berfikir kalau itu adalah bidadari yang akan menjemput arwah ibuku menuju surga, ternyata itu adalah Eliza sahabat baikku"
Tak Terasa air matanya menetes, teringat akan masa kelam saat ibunya merenggang nyawa didepan matanya tanpa ada seseorang yang menemaninya
Dengan lembut Zayyan menghapus air mata yang mengalir di pipi Rayya,lalu ia membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya, tangis Rayya bertambah pilu, Zayyan membiarkan gadis itu menangis di dadanya, sesekali ia mengusap rambut Rayya, Zayyan juga mencium pucuk kepalanya
"kau tidak sendiri sekarang,ada aku disini bersamamu" ucap Zayyan sungguh-sungguh
Rayya menarik diri dari pelukan hangat Zayyan
"matahari sudah tenggelam,mari kita ke dalam"ajak Zayyan sambil melangkahkan kakinya diikuti oleh Rayya di sebelahnya
__ADS_1
"kita akan makan diluar malam ini,jadi kau tak perlu memasak"
Zayyan mengajak Rayya makan malam di luar, karena ia melihat kondisi Rayya yg masih terbawa perasaan sedihnya
"bersiaplah!,aku akan menunggumu di sini"
ucapnya sambil tersenyum
Rayya segera masuk ke kamarnya untuk bersiap, perasaannya masih sedih saat ini terbayang kejadian mengerikan yang menimpanya, sebenarnya saat ini ia hanya ingin menenangkan diri dikamar, menangis sepuasnya lalu tertidur dengan sendirinya, begitulah selama ini ia memenangkan diri ketika mengingat kejadian itu
Rayya tak pernah menampakkan kesedihannya pada orang lain kecuali Eliza, sahabatnya itu sangat mengenal dirinya luar dalam
Kini gadis itu sudah berganti pakaian dengan dress motif bunga kecil berwarna peach,ia memakai concealer untuk menutupi matanya yang sedikit membengkak karena tangisan tadi,tak lupa ia juga mengoleskan lip cream dibibirnya yang agak memucat,riasan sederhana namun terlihat sempurna di wajah manisnya
Zayyan menghubungi pihak restoran yg ingin dikunjunginya,ia memboking tempat itu hanya untuk dirinya dan Rayya,ia juga meminta untuk tempat itu didekorasi sedemikian rupa agar terlihat semakin indah, Zayyan berharap semua itu akan menghilangkan kesedihan Rayya
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Zayyan menatap Rayya dalam,ia tak suka leher gadisnya sangat terekspose dengan pakaian itu, ditambah Gadis itu menguncir rambut nya tinggi namun,ia tidak mau membuat perasaan Rayya bertambah buruk, jadi kali ini ia membiarkannya