
Hanya Rayya yg tengah merasa asing dengan pembicaraan mereka, sungguh mengenai hal membuat sketsa atau pun menggambar sebuah bangunan bukanlah keahliannya,jadi Rayya lebih banyak diam dengan pembicaraan ini,ia cukup menjadi pendengar saja, gadis itu masih terus memperhatikan interaksi Zayyan yg masih memuji karya Devla
Ada perasaan kesal tak terima melihat interaksi mereka berdua, namun memang walau ia berstatus sebagai istri sepertinya ia merasa tak layak untuk menegur mereka
"Bagaimana kalau Devla diikut sertakan dalam desain proyek dengan Mister Albert?"
Usul sang ayah tiba-tiba
"kita kan sudah mempunyai arsitek yang handal dalam mendesain lagipula aku sudah menjanjikan mereka sesuatu tentu mereka berharap besar pada proyek ini"Jawab Zayyan
"Memang kakak sedang ada proyek apa? Boleh aku ikut membuat sketsa atas proyek kakak?" pinta Devla
"Tak perlu"
"Berikan kesempatan padanya nak,kita sudah melihat hasil karyanya, ini hanya untuk mengasah kemampuannya saja,jika memang terpilih itu adalah keberuntungannya" timpal sang ayah lagi
"Baiklah,Bram kau yang mengawasi Devla". akhirnya Zayyan setuju
Bram dengan senang hati menerima perintah Zayyan karena ini berhubungan dengan Devla,ia bangga dengan kemampuan yang dimiliki gadis itu walau ia mengerti tujuan Devla sebenarnya yang tak lain adalah untuk membuat Zayyan tertarik padanya
__ADS_1
Zayyan memperhatikan Rayya yang nampak diam saja, mungkin wanita itu tak nyaman dengan perbincangan mereka, akhirnya Zayyan memutuskan untuk pamit dan kembali ke kamarnya dengan Rayya
"kakak baru juga turun kenapa harus naik lagi? Masih ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan ke kakak tentang desain proyek,aku kan belum diberi tau harus membuat desain apa?" Devla menahan langkah Zayyan
"Bram yang akan memberitahu mu" jawab Zayyan sambil melangkahkan kakinya menuju tangga diikuti dengan Rayya yg berjalan disampingnya
*********
"Maaf jika perbincangan tadi membuatmu tak nyaman" ucap Zayyan sambil menutup pintu kamar
Kini Rayya sedang duduk di tepi kasur, sedang kan Zayyan masih berdiri membelakangi pintu
"Kau cemburu?!"Zayyan bertanya balik dan menaruh kepalanya nyaman di paha Rayya matanya menatap gadis itu dalam
"tidak...aku tidak cemburu, hanya ingin tau saja" jawabnya kikuk karena tiba-tiba saja Zayyan tidur di pangkuannya
"jangan hiraukan dia!! cuma kamu Rayya yg aku inginkan" ungkap Zayyan tanpa beban
Deg..deg..deg
__ADS_1
Seketika jantung Rayya berdegup kencang karena ucapan Zayyan, entah ia harus mempercayainya dan membuat perasaannya semakin dalam atau mengganggap ungkapan itu hanya khayalan belaka
"Rayya...apa ada desain rumah yang menjadi impianmu? Aku bisa mewujudkannya untuk tempat tinggal kita nanti bersama anak-anak kita" ucap pria itu sambil menoleh kan kepalanya ke arah perut Rayya dan mengelusnya
Rayya terdiam lebih tepatnya ia serasa membeku Zayyan membicarakan tentang anak dengannya
"ya tuhaaann...apa lagi inii??" batinnya
Zayyan mendongakkan kepalanya ia menunggu jawaban Rayya
"Entahlah, yang terpenting bersama siapa kita hidup di dalamnya, rumah itu akan menjadi indah sendiri jika penghuninya saling mencintai,percuma rumah sebagus apapun jika penghuninya tak bahagia akan terasa menyiksa"
Jawaban Rayya sangat menohok bagi Zayyan,apa selama ini gadis itu tersiksa hidup dengannya?, Zayyan memang belum siap untuk menjelaskan perasaannya saat ini, ia masih belum memastikan apa dirinya sudah jatuh cinta pada istrinya, tapi yang jelas Kini Zayyan sudah mulai tertarik dan nyaman dengan Rayya
"Apa kau bahagia hidup bersamaku?"
"kamu adalah pria yang baik Zayyan,aku senang bisa mengenalmu" jawabnya tersenyum
perkataan Rayya terdengar seperti pujian bukan jawaban dari pertanyaannya
__ADS_1
"Rayya aku ingin hubungan kita layaknya suami istri pada umumnya saling mencintai memiliki beberapa anak dan menua bersama ,bukan hanya sekedar teman" pinta Zayyan"kurasa..aku mulai menyukaimu" ungkap Zayyan sungguh-sungguh ia mulai bangkit dari tidurnya dan mengecup bibir Rayya