
Kini Zayyan dan Bram sudah berada di kantor mereka dan beberapa petinggi perusahaan sedang mempersiapkan rapat penting yang akan segera berlangsung
Sang ayah Harun Mangunwijaya juga berada disana, karena sebelumnya ia mendapat laporan dari Bram bahwa putranya Zayyan mengacaukan rapat beberapa waktu lalu,maka dari itu ia tak ingin Zayyan berulah lagi, namun yang sekarang ia lihat Zayyan bersikap profesional berwibawa seperti biasanya, putranya memimpin rapat dengan sangat baik, gagasan-gagasan yang dibuatnya ia terangkan dengan lantang membuat terkesima investor yang sedang serius mendengarkannya, bahkan mereka langsung membuat kesepakatan kerjasama dengan perusahaan Zayyan,para investor begitu yakin dengan kemampuan Zayyan yang memukau di bidangnya, rapat sukses berjalan dengan lancar,sang ayah memandang putranya dengan bangga, hilang sudah rasa khawatir yang tdi sempat hinggap di hati nya, Zayyan tetap menjadi dirinya sendiri,tak seperti keluhan dari beberapa rekan bisnisnya yang mengatakan Zayyan memiliki temperamen buruk belakangan ini,sang ayah paham dengan kondisi Zayyan yg berubah karena kejadian naas dihari pernikahan nya,ia sudah berusaha berulang kali menasehati Zayyan namun jawaban putranya tetap sama yaitu ia hanya butuh waktu untuk menenangkan hatinya
"Zayyan bisa ayah bicara denganmu?" tanya sang ayah setelah rapat usai
"tentu,apa hal yang ingin ayah bicarakan denganku?"
"Kita bicarakan di ruangan ayah" ajak sang ayah sambil melangkah ke ruang Presdir
Zayyan mengikuti langkah ayahnya, mereka masuk bersamaan ke ruangan eksklusif itu,
Harun duduk di bangku kebesarannya,ia mempersilahkan putranya duduk di hadapannya
"bagaimana kabarmu nak?"tanya Harun tersirat rindu pada putranya
"seperti yang ayah lihat,aku baik"jawab Zayyan yakin
"kapan kau membawa istrimu ke rumah nak?ibu mu menanyakannya setiap hari" jelas Harun
"Ku rasa Rayya masih butuh waktu ayah,tapi nanti aku coba bicarakan padanya,gadis itu....."Zayyan menghela nafasnya sebentar"memberiku jarak"
"Dia yg memberi jarak,atau kau sendiri yg memberinya jarak?"selidiknya
Zayyan terdiam, memang sedari awal dialah yg membuat jarak antara mereka, bahkan ketika gadis itu menawarkan ingin membuat makanan untuknya dengan tegas Zayyan menolak dan mengingatkannya untuk tidak bersikap sebagai istri sungguhan, Zayyan teringat kejadian itu
Sang ayah memperhatikan sikap putranya yang sedang diliputi rasa bersalah,ia yakin hubungan rumah tangga putranya tidak berjalan baik
"nak, mulai lah dari dirimu,berdamai lah, maafkan semuanya, lupakan masa lalu dan raihlah masa depan yang ada di hadapanmu,ayah tau kondisi mu terluka,maka obati luka itu, jangan membuat luka baru, pahami posisi gadis yg sekarang menjadi istrimu,ia bertanggung jawab atas kesalahan yg tidak ia lakukan, perbaiki lah hubungan kalian dengan berteman, jangan menekannya,buat gadis itu nyaman,maka nanti ia akan menjadi obat untuk lukamu"Harun menasehati putranya, dan semoga Zayyan mau mendengarkannya
"Terima kasih ayah"Zayyan bangkit dari duduknya ia memeluk ayahnya"sampaikan pada ibu aku akan membawa istriku menemui kalian secepatnya"
Harun membalas pelukan anaknya"Kami tunggu nak"ia menepuk pundak Zayyan
__ADS_1
******
Zayyan melewati harinya dengan ringan, nasihat sang ayah masih terus terngiang di telinganya,ya Zayyan harus berdamai dengan dirinya,ia tak perlu terus menerus menyalahkan dirinya atas kepergian kekasihnya,ia harus fokus terhadap masa depan yang sudah ia lakukan, dari pada terus memikirkan masa lalunya
Ketika petang Zayyan sudah sampai di penthouse nya, ia segera mencari keberadaan Rayya namun tak ditemukannya, Zayyan mengetuk pintu kamar Rayya tak ada jawaban dari sana, dengan hati-hati Zayyan membuka pintunya,ia masuk ke dalam kamar gadis itu nihil tidak ada penghuninya, Zayyan juga memeriksa kamar mandi ia juga tak menemukan apapun, Zayyan mulai panik,apa gadis itu kabur karena sikapnya semalam?, seingatnya gadis itu tak meminta izin untuk pergi hari ini, Zayyan mulai memanggil nama Rayya dengan lantang,jika memang benar gadis itu kabur ia akan memberinya pelajaran melebihi semalam, begitu pikirnya
Bi Sari yang mendengar suara tuannya segera menghampiri Zayyan,ia terkejut Zayyan sudah kembali lebih awal
"tuan Zayyan sudah pulang,maaf makan malamnya belum.." ucapannya terpotong
"Dimana ISTRIKU?!!" tanya Zayyan marah
"Nona...Rayya.. sedang berada di..balkon Tuan"jawab Bi Sari terbata-bata
"balkon??" Zayyan bertanya balik
Bi Sari hanya mengangguk tanpa berani mengangkat kepalanya
Zayyan berlari ke arah balkon, pikirannya kacau,apa gadis itu nekat ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun dari balkon??, entahlah pikiran Zayyan sudah kacau,ia menggeser pintu, seketika rasa cemasnya hilang setelah melihat gadis yang dicarinya sedang duduk bersandar di kursi santai, rambut hitam nya yang terurai melambai tertiup angin, jari lentiknya memegang sebuah buku, rona wajah yang kemerahan menambah keindahan senja, Zayyan terpukau seketika, perlahan ia mendekat ke arah Rayya, Zayyan ikut duduk di kursi yg sama,namun sepertinya gadis itu belum menyadari kehadirannya, Zayyan melihat didepannya ada sebuah meja kecil diatasnya terdapat minuman seperti coklat juga makanan pelengkapnya seperti kudapan juga dari coklat, Zayyan menoleh ke arah Rayya ternyata ditelinga gadis itu terpasang headset ,pantas saja gadis itu belum menyadari kehadirannya kini telinga dan mata nya fokus pada apa yang dinikmatinya, Zayyan merapikan anak rambut ke telinga Rayya, seketika gadis itu terperanjat bangun dari duduknya, Rayya memastikan pakaian nya tertutup, Zayyan yang melihat hal itu tersenyum ia baru sadar Rayya memakai Hoodie yg sangat menutupi tubuhnya, mungkin karena kejadian semalam Rayya jadi merasa terancam pada dirinya.
Rayya segera melangkahkan kakinya meninggalkan balkon, namun tangannya ditahan oleh Zayyan
"Rayya.. tunggu.."Zayyan mengangkat wajahnya ke arah Rayya
"Bisakah kita bicara sebentar,aku janji tidak akan menyinggungmu"Zayyan memohon
Rayya melihat kesungguhan dalam ucapan Zayyan,ia pun duduk kembali dan melepas earphone di telinganya
"Maaf...maafkan aku atas sikap ku yg selama ini selalu tak baik kepadamu, maukah kita memulainya dari awal,mari kita berteman,sudahi permusuhan ini yang akan semakin membuat diri kita rusak,aku tau semua ini berat untuk mu,maka dari itu hadapilah semua ini bersamaku"Zayyan terdiam sebentar sambil memandang keindahan langit senja"jadi, mau kah kau menjadi temanku"Zayyan menoleh ke arah Rayya menatap matanya dalam, gadis yg ditatapnya itu masih terdiam ia seperti sedang mencerna kata-kata Zayyan
"Baiklah,mari kita berteman"jawab Rayya sambil tersenyum hangat
Zayyan membalas senyum itu sama hangat nya, mereka berdua sama-sama terdiam sambil menatap langit senja, hanya hembusan angin yang terdengar sedangkan dua insan itu masih fokus pada pikiran masing-masing,Rayya dalam pikirannya terus bertanya entah malaikat mana yang membujuknya sehingga Zayyan bersikap seperti ini, sedangkan Zayyan yg merasa senang bahwa Rayya mau menerima pertemanannya, biarlah waktu yang akan menjalankan bagaimana hubungan mereka nanti,ia juga masih dibayangi oleh masa lalunya namun untuk kedepannya Rayya lah yg akan menjadi fokus nya.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat menyukai coklat"Kini Zayyan mengarah apa yang ada di meja
"ah iya aku membuat coklat panas dan dessert coklat,kau mau mencoba nya?,biar aku ambilkan"tawar Rayya antusias
"Tidak perlu, aku akan mencoba yg ini"
"Tapi yg ini sudah ku makan"
Zayyan mengambil dessert yg sudah tinggal sedikit itu dengan sendok yg terdapat disana ia memakan nya sampai habis, setelah itu Zayyan juga meminum coklat panas di cangkir yang sama tanpa canggung
"ini sangat enak"ucap Zayyan setelah menenggak habis minuman itu
Rayya melihat nya dengan canggung, yang benar saja Zayyan meminum di cangkir yang sama dengan bekas bibirnya,Rayya menepis perasaan canggung itu,ia baru saja berdamai dengan Zayyan, setelah ia menetralisir detak jantungnya yang berdebar fokusnya kini terlihat pada sisa coklat di sudut bibir Zayyan
'"mm... Zayyan itu..."ucapnya ragu sambil menunjuk sudut bibirnya sendiri
"ada apa?!"tanya tak paham
Rayya menunjuk bagian sudut bibirnya sekali lagi tanpa mengucapkan kata, Zayyan memandangnya dengan tatapan penuh tanya,apa Rayya ingin diberi ciuman?
Dengan Ragu Zayyan mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Rayya, awalnya Zayyan ingin mendaratkan ciuman itu di bibir Rayya namun ia tidak yakin
"ZAYYAN kenapa mencium ku lagi hah?!"tanya Rayya mulai emosi
"bukannya tdi kau memintanya?"Zayyan bertanya balik tanpa merasa bersalah
"Apa??!!tadi aku ingin memberi tau mu ada sisa coklat di wajahmu,kenapa malah menciumku????!!!
Setelah mendengar penjelasan Rayya, Zayyan tertawa"hahaha...maaf aku kira tadi kau minta dicium..."ucap Zayyan masih tertawa
"hilangkan pikiran aneh mu itu Zayyan, sudahlah aku masuk dlu"Rayya pergi meninggalkan Zayyan yg masih tertawa
Zayyan puas menertawakan sikap Rayya yg tdi menggerutu, menurutnya itu sangat lucu,ia tertawa lepas, seakan beban nya juga terlepas bersama tawa itu, salah paham yang indah, begitu lah menurut Zayyan, pandangan Zayyan kini beralih pada sebuah buku yg tadi dibaca oleh Rayya,ia mengambil buku itu dan tertulis sebuah judul
__ADS_1
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"