
Sore ini indah sudah siap dengan pakaian santainya, baju selutut berwarna biru, lalu celana Levis panjang. Indah juga menguncir rambutnya, memperlihatkan leher jenjangnya
"Dek, dah rapi aja" kak ayu masuk ke dalam kamarnya
"Hehe, ini Kak aku di ajak main" ucap indah terkekeh
"Hah? Mine?" Tanya ayu
"Dih nyebelin" ucap indah lalu indah memakai sendal rumahnya dan kemudian turun ke bawah, indah hendak ke ruang keluarga hingga kemudian ia menemukan seseorang di ruang keluarga dan itu Marshal, why? Bukankah kakaknya itu lagi kerja? Kok bisa di rumah
"Bang gak kerja?" Sapa indah
"Kagak, Abang kan bos" ucapnya bangga indah hanya tersenyum
"Lu mau kemana?" Tanyanya
"Diajak main" ucap indah
"Sama mine?" Tanyanya lagi
"Gaklah, gua jomblo" ucap indah bangga
"Jomblo bangga, nilai dulu perbaiki" ucap Marshal meledek
"Emang nya Abang gak jomblo?" Tanya indah membalikan
Marshal tak berkutik pasalnya dia juga kini tengah jomblo, hanya saja jomblo yang di derita keluarga indah adalah jomblo pilihan. Dimana ayu, indah dan Marshal memang memilih jomblo daripada memiliki pasangan, kenapa? Karena jika mereka memiliki pasangan mereka akan repot, lalu akan di kekang, lalu akan mengganggu, dan yang pasti mereka bertiga orang yang tipenya susah move on, jadi, mereka mau memiliki seseorang yang juga ingin memiliki mereka dan mampu bertahan sampai sukses nanti.
Indah kemudian duduk di samping Marshal sampai kemudian bel rumah Indah berbunyi, Marshal pun membukakan pintu kemudian terdengar suara berbincang-bincang di pintu, indah pun kemudian berteriak memanggil sang Abang.
"Siapa bang?" Tanya indah
"Your mine" ucap Marshal mendekat
Indah segera mengernyit bingung, lalu indah pun melihat seseorang yang lebih pendek dari Marshal, hanya saja pendek sedikit, mungkin beda 5 cm dengan Marshal.
"Eh Lang, dah sampe?" Tanya indah
"Ada tamu bukannya di buatin minum, ini di suruh duduk aja nggak" ucap Marshal
"Ah gak usah bang, mau langsung pergi kok" ucap Gilang
"Udah Lo tunggu aja di sini dulu, gue mau ngambil tas dulu, sekalian ambilin minum buat Lo, mau minum apa? Es teh? Mocca latte, kopi, jus? Air putih aja ya" ucap indah
"Dih, kalau gitu ngapain Lo nawarin" ucap Marshal
"Hehe, kan basa basi, seriusan ini Lo mau apa?" Tanya indah
"Air putih anget aja" ucap Gilang
"Ok, tunggu" ucap indah
__ADS_1
Lalu indah pun pergi menuju dapur, mengambil minum untuk Gilang, ia kemudian memberikan air itu pada Gilang lalu bergegas pergi menuju kamarnya. Indah pun memakai tas selempang berwarna biru berbentuk kucing.
"Lang, yuk" ajak indah ketika sudah ada di bawah kemudian pergi meninggalkan Gilang dan Marshal
"Ati-ati, jagain adek Abang, jangan sampe lecet, lecet sedikit aja Lo yang Abang cari" ucap Marshal pada Gilang
"Siap bang" ucap Gilang lalu keluar menyusul indah
Gilang pun melihat indah yang sudah ada di mobilnya. Namun saat melihat Gilang, indah segera membuka pintu mobil lalu melihat Gilang
"Bentar gue lupa sesuatu" lalu indah pun masuk lagi ke dalam dan kembali dalam waktu sebentar saja
Indah segera masuk ke dalam mobil, Gilang menatap nya bingung.
"kenapa? Apa yang ketinggalan?" Tanya Gilang
"Bekel dari Abang lah, nih" ucap indah menunjukkan uang berwarna merah.
"Elah, kan gue yang ngajak jalan, ya gue yang traktir lah" ucap Gilang jengah
"Lo pikir gue mau traktirin Lo apa? Gak lah, gue mau beli kado, sahabat gue bentar lagi ulang tahun" ucap indah sinis
"Siapa sahabat Lo? Aldi Aldi itu?" Tanya Gilang curiga, ia tak suka pada Aldi karena ia tau Aldi memiliki perasaan untuk indah. Indah mengangguk membenarkan "Gak! Gak boleh, Lo simpan duit Lo, gue gak izinin Lo beli sesuatu buat cowok itu"
"Stop deh lang, Lo mau gue marah lagi? Lagian Lo gak ada hak buat larang gue, udahlah lagian Aldi tuh sahabat gue, gak mungkin lebih" ucap indah
"Ndah, gak ada cerita nya, cewek sama cowok sahabatan" ucap Gilang cemburu
"Yaudahlah" ucap indah ia kini tengah mengotak Atik ponselnya
"Asyik bener" ucap Gilang
"Ini ada temen gue yang koar di grup" ucap indah
"Oh"
***
Indah dan Gilang kini tengah berada di sebuah pasar malam, namun kosong, karena ini masih dalam masa pandemi. Walaupun nanti mereka akan di vaksin. Indah tengah memakan sebuah es krim sedangkan Gilang sedang melamun sambil menatap mobil yang berlalu lalang
"Ndah, kalau gue pindah gimana menurut Lo?" Tanya Gilang
"Pindah apaan? Rumah?" Tanya indah
"Ya, gitulah" ucap Gilang "Kayaknya gue bakalan pindah rumah ke Jakarta, otomatis pindah sekolah juga" ucap Gilang membuat indah tersedak es krim nya sendiri
Gilang mengusap punggung indah agar sedikit lebih baik, indah melihat ke arah Gilang lalu melihat lagi ke es krim nya, berusaha terlihat cuek, walaupun pada nyatanya indah tengah menutupi kesedihannya.
"Gak gimana-gimana, kalau mau pindah ya pindah aja" ucap indah masih berusaha terlihat cuek
Gilang sebenarnya tak kaget, ia tahu bahwa indah pasti akan menjawab seperti itu, saat ini indah sudah bukanlah indah yang dulu, indah yang selalu cengeng. Sekarang indah yang di sampingnya adalah indah yang cuek dan juga menutup diri.
__ADS_1
"Lo gak sedih?" Tanya Gilang memastikan
Indah terdiam, lalu indah melihat ke arah Gilang, matanya sendu, ia sedih namun berusaha tetap menutupi nya, indah lalu membuang muka ketika Gilang melihat ke arahnya meminta jawaban
"Gue gak ada hak buat sedih dan larang Lo, kalau itu yang terbaik buat Lo kenapa gue harus ngelarang" ucap indah masih memalingkan wajahnya
Indah lalu berdiri, hendak membuang wadah es krimnya. Gilang hanya terdiam, menatap punggung indah yang menjauh.
"Gue juga gak mau dah, tapi, gue harus ikut" ucap Gilang lirih
Indah kembali ke dekat Gilang, indah berusaha terlihat baik-baik saja. Dan hasilnya Gilang memang tak tahu keadaan indah yang sebenarnya. Beberapa tahun tak bersamanya membuat indah tumbuh dan berubah tanpa sepengetahuan Gilang.
"Gue baik-baik aja, kalau seandainya Lo harus pindah Lo kan masih bisa main ke sini sebulan sekali, atau mungkin satu semester sekali, Lo juga bisa video call gue kan? Jadi gue fine fine aja" ucap indah berusaha menenangkan
"Tau gak? Dulu gue suka banget liat Lo diam-diam" ucap Gilang membuat indah menatap kepadanya
"Gue selalu ngeliat Lo yang pergi ke sekolah sama dua orang dan gue tahu salah satunya adalah Aldi. Gue pengen banget deketin Lo, tapi gue takut Lo nge jauh" ucap Gilang mengenang "Dulu Lo cengeng banget, tapi semakin lama Lo jadi seseorang yang pendiem, gue gak selalu ngawasin Lo, makannya gue gak tahu hal apa yang terjadi sama Lo" ucap Gilang
"Waktu MOS kita ketemu, beda kelompok sih, tapi gue selalu ngawasin Lo, gue belum bisa nyimpulin kalau itu Lo, tapi hati gue berkata kalau itu beneran Lo" ucap Gilang "Tapi, Lo yang gue liat udah berbeda, Lo bukan lagi indah yang cengeng dan ceria, Lo udah bermetamorfosis menjadi seseorang yang lebih kuat, Lo jadi seorang cewek yang dingin, cuek, datar, tapi sisi manja Lo masih bisa gue liat" ucap Gilang lagi
"Gue gak manja Gilang" ucap indah tak terima
"Gue seneng banget liat Lo, walaupun gue tahu Lo gak kenal gue, makannya waktu pemilihan km, gue nyalonin diri jadi km, karena gue pengen gue bisa Deket sama Lo" ucap Gilang
"Banyak hal yang Lo gak tau dari gue lang, terlalu banyak malah" ucap indah
Gilang melihat ke arah indah, gadis cuek yang dia sayangi, gadis yang mampu ngebuat dia gak oleng ke cewek lain. Gadis yang juga mampu ngebuat dia semakin dewasa dan mengenal kata berjuang. Gadis yang selama ini mampu juga memporak-porandakan hatinya.
"Gue mau pindah sama Lo ndah, gue mau kita nikah" ucap Gilang
Indah yang mendengar hal itu langsung kaget, ia menatap Gilang tajam, seolah-olah kata-kata nikah adalah hal sederhana. Indah tak suka jika sudah ada yang membahas pernikahan.
"Gue janji gak akan nyentuh Lo ndah, tapi gue gak mau jauh lagi dari Lo, cukup 9 tahun ini kita pisah, gue gak mau lagi jauh dari lo" ucap Gilang
"Lang, pernikahan adalah sebuah hal yang sakral, itu hal yang serius, gue gak mau main-main sama hal itu. Lagipula gue gak mau nikah sama seseorang manapun saat ini, karena mimpi gue masih jauh, perjalanan gue masih jauh" ucap indah
"Ndah"
"Lang gue harap Lo ngerti, bahkan berpikir buat pacaran aja gue gak ada, apalagi buat nikah, gue gak mau lang, gue terlalu takut" ucap indah menolak
"Hehe, gue tau ndah, jawaban Lo pasti itu, gue akan pergi jauh ndah, setelah lebaran nanti, gue bakalan pergi, boleh gue meluk Lo? Sebentar aja ndah"
Indah langsung memeluk Gilang, dia juga tak siap untuk jauh dari Gilang, ntah karena hanya sebuah rasa nyaman, atau mungkin rasa yang lain.
"Gue bakalan kangen banget sama Lo ndah" ucap Gilang memeluk indah erat
'Gue juga bakalan kangen banget sama Lo Lang, gue harap Lo gak akan lama di sana' batin indah menangis
"Ya udah sekarang kita langsung pulang aja gimana?" Tanya Gilang
"Ayo! Gue juga capek, besok kan mulai ujian" ucap indah
__ADS_1
"Yok"
Dan Gilang pun akhirnya mengajak indah untuk pulang, selama perjalanan indah dan Gilang saling diam tak ada yang berbicara diantara keduanya