
Pulang sekolah ini aku akan mampir dulu ke sebuah kedai makan dengan Arga, karena aku memang tidak bisa masak, Arga juga tak terlalu bisa masak jadi kami akan ke kedai makan.
"Ia, Arga itu sempurna ya" puji Amel pada Arga yang tengah mengobrol dengan teman-temannya di parkiran
'lebih sempurna Gilang dibanding dia, kalian aja yang gak tau' ingin sekali ku ucapkan hal itu namun aku hanya menanggapi dengan senyum
"Lo beruntung tau, gue denger-denger sih Arga tuh paling gak bisa kalau serius sama cewek, tapi gue liat-liat kayaknya dia serius sama Lo" ucap Amel lagi
"Kita cuman temen" ucapku tegas
Amel terkekeh entah karena apa, aku mengingat satu hal, Fadhel, aku merindukan dia. Fadhel Akbar, apakah aku bisa kembali bertemu dengannya? Apakah kenangan manis itu masih ada? Apakah Fadhel serius dengan ucapannya tadi?
Ah, aku merindukan Fadhel. "Imut" panggilan itu terngiang-ngiang di telingaku. Saat aku dan dia saling lempar penghapus, saat saling ledek, saat tertawa bareng, dan saat pandangan kita bertemu, ah entahlah, aku bisa mengucapkan bahwa aku sudah move on darinya, namun sesaat saat dia datang, maka rasa di hatiku kembali hadir bahkan menjadi lebih besar. Bisakah aku move on?
"Ia" aku kaget karena Amel yang tiba-tiba memanggil ku "Lo kenapa?" Tanya Amel
"Gak papa"
Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati kita berdua, dia tersenyum, walaupun memakai masker namun terlihat jelas jika dia tengah tersenyum.
"Hai, gue Risa" cewek itu mengulurkan tangannya
Aku menjawab ulurannya lalu mengucapkan namaku. Seperti nya dia cantik, terlihat dari bulu matanya yang lentik. Dia juga mengikat rambutnya kuncir kuda dan bando merah yang bertengger indah di kepalanya.
"Gue anak kelas XI IPS 3, salam kenal"
Aku tersenyum lalu mengangguk, setelahnya Amel pamit, sedangkan Risa masih setia di samping ku. Menghadapi wanita lebih sulit dari menghadapi laki-laki.
"Tau gak?" Tanya Risa
"Ada seseorang yang suka sama Lo" aku terdiam
Ingin sekali ku tanya siapa, namun aku berusaha kembali cuek. Sampai tiba-tiba tin-tin, ada yang menjemput risa. Akhirnya Risa pamit. Aku berjalan menuju Arga.
"Ga" panggilku
"Eh, ntar lanjut ya, mau nganterin princess dulu" ucap Arga pada teman-teman nya
"Good luck ya ga" ucap mereka dan Arga balas dengan acungan jempol
Aku menatap jengah mereka, tak henti-hentinya menjodohkan aku dengan Arga, aku hanya mencintai Fadhel. Dan satu-satunya orang yang ku sukai saat ini hanya Fadhel.
"Ayo cantik" Arga mempersilahkan aku memakai helem
Aku segera memakai helmet, lalu aku melihat motornya, motor Arga tinggi, malas sekali kalau harus menaiki motor di boncengan ini. Jika saja aku yang menyetir aku mau-mau saja, namun aku belum bisa.
"Ayo naik" ucap Arga
Aku tersenyum sekilas lalu naik ke motor itu, ah rasanya sangat tak asing, kak Devan. Kak Devan yang selalu mengajakku dengan motor ini. Dejavu lagi.
"Kemana kita?" Tanya Arga
"Ke kedai dulu, gue laper kan kata Lo di WhatsApp kita mau ke sana" ucap ku merengek
"Kapan?" Tanya Arga lalu menghentikan motornya
Arga membuka pesan WhatsApp nya, lalu melihat cht dengan ku. Dia mengernyit heran, aku terdiam melihat dirinya.
"Kenapa?" Tanyaku
"Gue gak ngetik ini kok"
"Ya udah tapi kita ke kedai dulu, cari kedai makan yang Deket ya" pintaku
"Ya, oke, Lo kalau di sekolah mendadak bisu ya, di jalan juga, tapi kok di rumah atau sama orang Deket Lo bisa cerewet?" Tanyanya
"Gak tahu, gue emang gini kok" ucapku
Arga tersenyum, motor terhenti di sebuah taman yang di rimbuni oleh pepohonan. Ah ini bukan taman tapi hutan. Aku segera turun, Arga juga turun. Arga berlarian ke depan meninggalkan ku dengan motor nya. Aku hanya menunggu. Sampai kemudian Arga kembali dengan dua bungkusan.
"Ayo" Arga membawa ku ke dalam hutan itu. Aku melihat sekeliling. Terdengar gemericik air. Dan benar saja, Arga membawaku ke dekat sebuah sungai. Di pinggir sungai itu ada kursi dan meja. Namun terbuat dari kayu
Arga dan aku makan di sini, Arga sesekali memperlihatkan sesuatu padaku. Seperti burung-burung yang bertengger indah di atas ranting. Arga benar-benar membuatku relax.
"Oh Iyah gue boleh nanya satu hal sama Lo?" Tanya Arga
"Apa?" Tanya ku
"Lo punya perasaan apa sama Gilang?" Tanya Arga
Aku terdiam, bisakah? Apakah aku bisa menceritakan nya? Oh astaga bagaimana ini? Hatiku bimbang. Gilang, dia laki-laki yang baik, itu dulu. Gilang yang sekarang jauh dari kata itu. Haha.... Entahlah bagaimana, apa yang harus aku ucapkan?
"Gue sama Gilang, cuman temen, dan dulu gue anggap dia kek Lo, hanya sebatas Abang" ucapku lepas akhirnya aku bisa menjawabnya
__ADS_1
"Lo gak punya perasaan apapun sama dia?"
"Gak, gue suka sama seseorang, dia yang buat gue gak bisa nerima cowok lain, namanya Fadhel" ucapku
"Oh, terus?" Tanya Arga
"Ya udah, gue Deket sama Gilang layaknya ade kakak, kalau Fadhel, dia cuman cinta dalam diam gue" jawabku
"Kok?"
"Karena Fadhel dah punya cewek"
"Jadi?"
"Ya gitu" jawabku simpel
Setelah selesai Arga membawa ku pulang. Arga sesekali menceritakan seseorang yang katanya anggota genknya yang bernama Gilang juga, Gilang temannya Arga suka merokok, dan apakah itu Gilang teman ku? Ah ada dua kemungkinan antara iya dan tidak
Gilang POV
Gue sengaja nyadap wa nya Arga, dan gue minta indah ke kedai. Tapi yang datang bukan indah, melainkan Arga. Gue gak tau harus gimana lagi. Indah seolah semakin menjauh, gue juga sempet denger kalau indah benci sama gue, apa yang gue lakuin? Kenapa indah menjauh? Bahkan saat gue chat pun, dia gak bales malah pergi sama Arga. Kenapa?
💌Gilang
Indah
Lg ap
Gue masih nunggu balasan dari indah, kenapa? Tadi, gue liat Arga beli dua bungkus nasi plus ayam sama thai tea di sebelah kedai. Gue yakin itu buat indah. Dulu gue yang selalu jagain indah, gue yang selalu ada buat indah, tapi sekarang, kenapa indah menjauh, bahkan saat di sekolah gue panggil pun indah gak boleh sama sekali. Kenapa?
Karena gabut, akhirnya gue mutusin buat nungguin balesan indah walaupun agak mustahil, gue ngambil gitar, dulu indah sama gue suka nyanyi bareng pake gitar juga, sekarang gue sendiri lagi.
Love is gone
Don't go tonight
Stay here one more time
Remind me what it's like, oh
And let's fall in love one more time
I need you now by my side
I'm begging please, just stick around
I'm sorry, don't leave me, I want you here with me
I know that your love is gone
I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone
I'm sorry, don't leave me, I want you here with me
I know that your love is gone
I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone
Don't tell me that your love is gone
That your love is gone
That your love is gone
I know this isn't easy (easy)
That your love is gone
Translate
Jangan pergi malam ini
__ADS_1
Tetap di sini sekali lagi
Ingatkan Aku seperti apa, oh
Dan mari kita jatuh cinta sekali lagi
Aku membutuhkanmu sekarang di sisiku
Itu membuat Aku menangis ketika Anda menolak Aku
Aku mohon tolong, tunggu saja
Maaf, jangan tinggalkan aku, aku ingin kamu di sini bersamaku
Aku tahu bahwa cintamu hilang
Aku tidak bisa bernapas, Aku sangat lemah, Aku tahu ini tidak mudah
Jangan katakan padaku bahwa cintamu hilang
Bahwa cintamu hilang
Maaf, jangan tinggalkan aku, aku ingin kamu di sini bersamaku
Aku tahu bahwa cintamu hilang
Aku tidak bisa bernapas, Aku sangat lemah, Aku tahu ini tidak mudah
Jangan katakan padaku bahwa cintamu hilang
Bahwa cintamu hilang
Jangan katakan padaku bahwa cintamu hilang
Bahwa cintamu hilang
Jangan katakan padaku bahwa cintamu hilang
Bahwa cintamu hilang
Bahwa cintamu hilang
Aku tahu ini tidak mudah (mudah)
Bahwa cintamu hilang
Andai indah dengerin lagu ini, gue pengen banget nanya hal itu sama indah. Kenapa? Kenapa indah menjauh? Kenapa? Gue kira indah ke Jakarta buat nyusul gue, ternyata gue salah. Tadi juga gue liat indah sana Arga pulang bareng, kenapa bukan gue yang berada di posisi Arga? Kenapa? Tanpa sadar akhirnya gue netesun air mata. Sakit rasanya liat indah akrab sama yang lain.
"Kenapa ndah" frustasi gue
Seseorang tiba-tiba buka pintu kamar gue, gue cepet-cepet nyeka air mata gue sendiri. Itu mama, mama liat gue dengan tatapan sendu. Kenapa mama liat gue kek gitu?
"Ada apa ma?"
"Kamu gak papa?" Tanya mama
Gue diem, apakah ini firasat seorang ibu? Tajam amat, kalau gue jujur tanggapan mama gimana ya?
"Gak papa" akhirnya hanya dua kata itu yang keluar
"Jangan bohong Lang, firasat seorang ibu itu tajam, bahkan anaknya nangis aja, mamanya bakalan tahu" ucap mama
Gue diem, sebenarnya gue juga butuh sandaran, tapi apakah Mama tepat? Apakah gak akan salah kalau gue cerita. Tiba-tiba mama meluk gue, ibu memang malaikat yang turun ke bumi.
Gue netesin air mata gue, yah gue gak bisa nahan tangis. Mama emang hebat, bisa buat gue lemah di depannya.
"Kenapa Hem? Masalah indah? Kenapa lagi Hem? Cerita sama mamah"
"Gilang udah gagal ma, indah ngejauh lagi dari Gilang" gue sesegukan
"Pasti ada alasannya, indah anak yang baik, gak mungkin dia ngelakuin sesuatu tanpa alasan, kamu introspeksi diri kamu, apa yang ngebuat indah ngejauh?" Ucap mama membuat gue terdiam
"Anak mama emang paling lemah kalau nyangkut tentang indah, udah hapus air matanya, bentar lagi 18 tahun masa masih nangis aja" ya, mama doang yang paling ngerti gue. Mama nyeka air mata gue.
"Sekarang kamu ingat-ingat apa yang kamu lakuin?" Tanya mama
"Gilang-" gue mengingat semuanya, gak ada yang salah sama gue, gue gak berubah, gue juga gak ngapa-ngapain, terus karena apa
"Ya udah kamu pikirkan dulu, mama mau ke dapur lagi" akhirnya mama bangkit dan pergi
Apa yang gue lakuin?
Gilang POV end
__ADS_1