
Beberapa hari berlalu begitu cepat, hari ini adalah jadwalku untuk membuat brosur. Aku segera mengedit dengan Aldi, awan, dan Arga di samping ku.
"Ada cetakan gak?" Tanya Arga lalu pindah ke sofa sebelah yang lebih panjang, dan Aldi pindah ke sampingku
"Ada sih, tapi gak bisa pakenya" ucapku
"Gue bisa, mana coba?" Tanya awan
Aku menunjuk sebuah mesin, awan melihatnya lalu berdecak. Kami lalu duduk kembali. Brosur sudah siap namun tinggal di cetak.
"Gak ada tintanya, kalau mau beli dulu bakalan lama, lagipun brosur nya kan banyak" ucap awan
Aldi hanya diam, sedaritadi dia yang selalu diam. Aku melirik Arga yang berbaring di sofa sebelah dengan buku menutupi wajahnya.
"Ya udah ayo" tiba-tiba Aldi menarik tanganku berdiri
Aku kaget, namun genggaman tangan nya begitu erat sehingga aku sulit melepaskan. Awan meng kode pada Aldi, aku tak tahu maksud kode mereka apa. Tapi aku seketika jadi takut.
"Tenang gue gak akan macem-macem" ucap Aldi
Aku melepas tanganku ketika sudah di luar. Tiba-tiba awan datang dan melemparkan USB padaku. Aku segera menangkapnya dengan sigap. Walaupun pada akhirnya tak tertangkap dan malah di tangkap Aldi. Aku terkekeh, bukan pada Aldi. Namun pada awan. Karena aku tak terlalu akrab dengan Aldi, jika dengan awan lumayanlah.
Aku dan Aldi menaiki motor. Aku menyimpan tanganku di pundaknya. Aldi menepisnya
"Gue bukan kang ojek"
Aku diam menanggapi nya. Aldi lalu menarik tanganku dan menyimpannya di pinggangnya, aku memegang bajunya saja. Sampai kemudian ada segerombolan orang dengan motor-motor mereka menghadang motor Aldi. Aldi mengerem mendadak membuatku mentok padanya.
Aldi menghentikan motornya. Aku tak mau turun, biarkan ini menjadi urusan Aldi. Tapi kemudian ku mendengar nada ancaman dari mereka
"Ni cowok yang nabrak Bastian kan?" Tanya seseorang itu
"Iya, dia belum war sama kita, kalau Lo mau sini war sama kita, baru kita maafin" ucap yang lainnya
Aku menutup kepalaku dengan kupluk jaketku. Ah, menyebalkan. Aku belum makan loh ini, masa mau di ajak war. Aku sangat kesal
Aldi turun, aku juga ikut turun, namun aku terdiam. Sampai kemudian Aldi melihat ke arahku.
"Lo diem di belakang!" Titah Aldi, aku mengacuhkan ucapannya.
"Gue udah minta maaf sama korban, dan korban udah maafin, lagipun keluarga nya gak mempermasalahkan" ucap Aldi
"Tapi Lo belum minta maaf sama kita" ucap seseorang dari mereka
"Kalau gue gak mau gimana?" Tantang Aldi
Wah cari mati nih anak, tiban minta maaf aja kagak mau. Heran deh, kenapa sih ada cowok yang kayak dia. Tinggal minta maaf doang apa susahnya.
"Serang!" Ucap mereka lalu mulai menyerang Aldi
Aku melihat pertengkaran itu. Karena aku anak baik, jadi aku memilih untuk menyingkirkan motor Aldi ke pinggir. Tapi kemudian dugh! Seseorang memukulku. Kesal! Tentu saja
Aku mengepalkan tanganku kencang, lalu sebelum laki-laki itu memukulku lagi, aku sudah menahan tangannya. Aku membuka kuplukku. Dan laki-laki di depanku ini memelototkan matanya seolah tak percaya. Ah aku ingat, mereka sekelompok orang di gedung waktu itu.
"Berhenti sekarang!" Bentakku
Mereka berhenti dan menatapku. Aku melihat satu orang! Revan! Aku menatapnya tajam, lalu aku mendorong tangan laki-laki di depanku dengan kencang dan membuatnya terjatuh.
"In-indah!" Ucap mereka
Aku terdiam, Aldi juga terdiam. Aku mendekati mereka. Revan terlihat meneguk ludah. Kenapa? Kenapa mereka melihatku seolah ketakutan? Padahal aku dan mereka mungkin lebih tua mereka.
"Jangan pernah buat keributan di jalan, kalau kalian mau permintaan kalian di kabulin sama gue, syaratnya satu, jangan pernah nyakitin seseorang yang gak ada ganggu kalian" ucapku
Revan dan yang lainnya melihat kepadaku, Revan lalu mendekatiku. Dia berlutut di depanku. Dan mengatupkan tangannya.
"Maaf kita gak tau kalau itu Lo" ucap mereka
Aku membantunya berdiri, lalu menepuk pundaknya.
"Lain kali jangan gitu lagi, yuk di" aku menarik tangan Aldi, aku menoleh sekilas ke belakang "jangan pernah ganggu temen-temen gue, termasuk dia" ucapku
Lalu Aldi menaiki motornya, di ikuti dengan aku di belakangnya. Revan dan yang lainnya melambaikan tangan padaku.
"Mereka siapa?" Tanya Aldi
"Gak tau, gue aja baru kenal" ucapku
"Gak mungkin, kalau baru kenal pasti mereka gak akan langsung nurut sama Lo" ucapnya lagi
"Seminggu yang lalu gue war sama mereka, mereka kalah" ucapku
"Permintaan itu apa maksudnya?" Tanya Aldi
"Perlu ya gue jawab? Emang Lo siapa gue?" Tanyaku kesal
Aldi terdiam, salahkah ucapanku? Ah terserahlah, mau dia menurunkan aku di jalan pun aku tak akan peduli. Motor Aldi berhenti di sebuah rumah. Aldi turun, dan aku mengikutinya.
"Cetak brosur yang ada di file OSIS, sekarang! GC!" Titah Aldi pada seseorang dengan melempar USB itu dengan tepat.
Aku cukup kagum pada keahlian melempar dan menangkapnya itu. Aldi lalu membawaku masuk. Aku agak sedikit ragu untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"Masuk, gue gak ada niat jahat" ucapnya
Aku akhirnya mau masuk ke dalam, Aldi menyuruhku duduk di sebuah sofa di ruang tamu. Aku melepas jaketku dan menyimpannya di tangan kananku.
"Ma ada temen Aldi nih!" Teriak Aldi
Aku terperanjat kaget, ternyata ini rumahnya. Tak terlalu besar namun nyaman, dan bernuansa Eropa pula. Seperti nya ini rumah Belanda pada zaman dulu.
"Siapa sayang?" Tanya mamanya Aldi
"Indah" ucap Aldi lalu berlari ke atas, menaiki setiap undakan tangga.
Kini terlihatlah mama Aldi dengan nampan di tangannya, jus jambu itu terlihat segar. Aku segera berdiri menyambut mamanya Aldi
"Eh, perempuan ternyata" ucap mama Aldi ramah "ayo duduk" ucap mama Aldi mempersilahkan
Aku kembali duduk. Mama Aldi memberikan minuman itu kepadaku. Aku hanya tersenyum melihatnya.
"Nama kamu siapa? Tumben-tumbenan loh Ali ngajak temen cewek nya ke sini" ucap mama Aldi
"Indah Tante" ah rasanya canggung, aku tak bisa mengatakan apapun jika berhadapan dengan orang yang lebih tua, aku hanya bisa tersenyum.
"Kamu sesekolah sama Ali yah? Kamu cewek pertama loh yang diajak Ali ke sini" ucap mamanya
"Iyah Tante, memang sebelumnya Aldi gak pernah bawa temen Tante?" Tanyaku
"Paling Arga, awan, Asep, sama Gilang" ucap mama Aldi "oh Iyah nama saya Melly, panggil mama aja ya" ucap mama nya Aldi
"Iyah tan- eh mama" ucapku
Ah, seandainya saja mama ku seperti mama nya Aldi. Begitu hangat dan lembut. Tak lama Aldi kemudian turun dan mendekati kedua kaum hawa itu.
"Lagi pada ngapain?" Tanya Aldi
"Ini Al, temen kamu malu-malu ya" ucap mama Melly pada Aldi
"Dah biasa mah, nanti juga kalau udah akrab gak gitu" ucapnya
Aku melotot padanya. Kesal rasanya. Seseorang menghampiri kita dengan membawa plastik yang sudah di rapihkan yang di dalamnya ada banyak brosur.
"Ini tuan" ucap mereka
Aldi terdiam lalu membawanya dan memberikannya padaku. Sebelum berdiri aku meminum dulu jus jambu itu, sedikit, sekedar untuk menghargai.
"Ya udah tante, eh mama, indah pulang dulu ya" ucapku menyalim tangan mama Aldi
Mama Aldi tersenyum ramah. Aldi lalu terdiam. Dan kemudian dia membisikkan sesuatu pada mamanya yang langsung membuat mamanya tersenyum. Ah terserahlah. Setelah itu mama Aldi terlihat mengangguk pada Aldi, lalu Aldi menarikku untuk keluar.
"Makasih" ucapku
***
Author POV
Baru saja indah dan Aldi turun dari motor, Arga sudah menatap keduanya dengan tajam. Arga kemudian menghampiri indah. Dan menariknya masuk.
"Darimana aja?" Tanyanya
"Foto kopian" ucap Aldi menjawab pertanyaan itu.
Arga melihat ke arah indah, Arga seolah meminta penjelasan yang jujur dari indah. Dan Arga selalu percaya kalau indah tak mungkin berbohong.
"Dari rumah Aldi" ucap indah
Arga melihat ke arah Aldi, lalu berbalik kepada indah. Arga terlihat tak suka. Awan lalu menyela dan menyuruh mereka duduk.
Kemudian setelah membicarakan pembagian brosur akhir nya kerkom (kerja kelompok) itu selesai. Arga melihat ke arah indah. Pagi tadi indah berlatih beladiri seorang diri. Dan Arga tahu itu. Indah ilmu beladiri nya bahkan sudah melebihi dirinya. Di tambah lagi, dulu saat di asrama indah pernah berlatih tinju dengan Fadhel.
"Gimana kalau kita main game dulu?" Tanya awan
"Ayo aja" ucap Aldi
Arga pun menyetujui nya, namun karena Arga melihat indah yang menguap akhirnya Arga menyuruh indah tidur di sampingnya. Namun indah tak mau.
"Gak mau lah, gimana kalau kalian macem-macem" bisik indah kesal
"Boys kayaknya besokan aja deh mainnya" ucap Arga
"Kenapa?" Tanya awan
Aldi yang sedari tadi memperhatikan indah yang terus menguap paham kalau indah butuh istirahat. Akhirnya Aldi mengkode pada awan dan diangguki awan.
"Indah butuh istirahat, kalian pulang aja, gue mau nemenin indah dulu" ucap Arga
"Wah parah lu bro, cewek sama cowok berduaan-" awan menyatukan dua tangannya seperti sedang berciuman.
"Jangan ngadi-ngadi! Gue cuman di suruh jagain indah sama abangnya" Arga menimpuk awan dengan bantalan sofa
Aldi terdiam, Aldi kini tengah memperhatikan indah yang mulai terlelap dengan bersandar ke sofa. Indah benar-benar terlihat lelah. Arga dan awan yang tak mendengar suara indah dan Aldi akhirnya melihat ke tempat indah. Indah sudah tertidur. Karena posisinya tak enak di lihat akhirnya Arga mengangkat indah dan memindahkan nya ke sofa. Untung nya indah tak pernah memakai rok.
"Dah tidur si cantik" bisik awan
__ADS_1
Arga tersenyum, Aldi hanya memperhatikan. Arga kemudian memberi bantal sofa ke kepala indah.
"Gue mau beresin rumah ini, kalian mau bantuin atau gak?" Tanya Arga
"Boleh" jawab Aldi yang di jawab dengusan kesal dari awan
"Ya udah, gue beresin dapur, kalian beresin ini, sapu terus pel" titah Arga "jangan sampe bangunin princess" ucap Arga lalu Arga berdiri dan mengambil selimut dari kamar indah. Selimut bermotif tengkorak.
"Lo kalah bro" bisik awan ke Aldi
"Pertandingan belum di mulai" ucap Aldi
Lalu mereka mulai membersihkan rumah itu. Hanya saja kamar indah, kamar bang Marshal, dan ruang kerja bang Marshal tak di bersihkan. Karena kamar indah itu sarang yang bakalan buat indah ngamuk kepada siapapun yang masuk ke dalamnya kecuali orang tertentu. Kamar bang Marshal dan ruang kerja bang Marshal dikunci karena tak mungkin jika harus di buka. Nanti ada maling gimana?
Setiap indah melenguh merasa terganggu, awan dan Aldi terkadang diam. Dan mungkin jika Arga melihatnya dia akan menahan tawa karena tingkah mereka yang konyol. Walaupun Aldi agak pendiam.
***
Siang sudah berlalu, menjelang sore indah terbangun namun matanya masih terpejam. Gerah, tanpa sadar indah mengipas-ngipaskan tangannya ke mukanya. Indah berkeringat.
Arga, Aldi dan awan tersenyum melihatnya, mereka telah selesai bersih-bersih rumah. Indah berdiri lalu melemparkan selimutnya ke samping dan berjalan ke kamar. Pintu kamar di tutup malas. Kini ketiganya sudah tertawa ngakak.
"Dia kalau tidur lucu ya" ucap awan
Aldi masih tertawa, sungguh lucu pemandangan itu buatnya. Ia benar-benar puas melihat indah yang seperti itu. Arga, Aldi dan awan kini tengah bermain game milik indah. Mereka bermain residen evil di PS3 indah.
"Ati-ati itu ada zombie" ucap Arga
"Eh Iyah, hajar di" ucap awan
"Kalem, ngawahin dulu"
Indah keluar dengan rambut yang basah. Indah memakai celana pendek, tank top putih dan jaket kuning abu dengan tulisan "j" besar di sebelah kanan. Indah juga menggerai rambut nya yang masih basah. Ia melihat selimutnya ada di bawah, seketika langsung malu.
"Misi" indah mengambil selimut itu dan membawanya ke kamar.
Di luar ke 3 cowok itu tertawa lagi. Sampai kemudian indah benar-benar keluar kamar. Arga dan Aldi serta awan melihat indah dengan mulut menganga.
"Kenapa pake baju itu?" Tanya Aldi tak suka
"Itu-itu ah.... Mati" yah game mereka kalah
"Emang kenapa?" Tanya indah heran
"Ganti" titah Arga dan Aldi bersamaan membuat awan terkikik
Terpaksa indah mengganti pakaian nya, padahal tadinya indah mau pergi ke gedung tua itu. Karena janjinya yang akan menerima menjadi leader mereka asalkan mereka tak mengganggu orang lain.
Indah memakai baju hitam tengkorak dengan celana Levis panjang dan juga jaket tengkorak nya. Ia keluar namun jaketnya tak ia pakai dulu. Ia menggantungnya di tangan kanannya.
"Kalian main apa?" Tanya indah
"Lo gak keringin rambut Lo?" Tanya Arga
"Males ah, nanti juga kering sendiri" ucap indah enteng
"Gak bisa" cegah Arga "gue tinggal sebentar, kalian lanjut aja dulu" ucap Arga kepada Aldi dan awan
"Mana hairdryer nya?" Tanya Arga
Terpaksa indah masuk lagi ke kamarnya. Indah mengambil hairdryer berwarna hitam itu. Ia keluar.
"Sini" indah menurut dan duduk di bawah Arga, karena Arga duduk di atas sofa.
Mulailah Arga mengeringkan rambut indah. Aldi juga tak lupa mencatok rambut indah agar lurus terus. Indah menikmati layanan Aldi itu sambil menonton YouTube, channel Nadia omara, misteri gedung-gedung di Indonesia.
"Ga, gue kangen rumah" ucap indah tiba-tiba
"Kan nanti kalau liburan bisa pulang ndah" ucap Arga
"Gue kangen Wawa, gue kangen Aldi, kak Devan, Fadhel, Astrid" ucap indah yang tanpa sadar mengalihkan perhatian Aldi, walaupun matanya bermain game, namun telinganya justru mendengarkan indah "gue pengen pulang" ucap indah lagi
"Nanti kalau Abang Lo udah pulang, gue anterin Lo ke sana" ucap Arga
"Eh Iyah ngomong-ngomong gue mau belajar tinju sama Muang Thai, kira-kira gimana menurut Lo?" Tanya indah
"Di fokus dong" tegur awan namun tak di hiraukan oleh Aldi
"Menurut gue sih mending gak usah, Lo kan udah ikutan silat sama karate" ucap Arga
"Iya juga ya, ya udah deh, ntaran aja biar sekalian sama taekwondo" ucap indah membuat Arga menepuk kepalanya dengan catokan.
"Aduh" ucap Arga
Indah langsung melihat ke belakang, dia langsung berdiri dan melihat luka Arga. Bergaris, dan hanya sedikit. Indah bergegas mengambil kompresan dan salep.
"Lo apa-apaan sih Lang, kebiasaan deh gak ati-ati" ucap indah tanpa sadar salah menyebut nama
__ADS_1
Arga tak mau berdebat, namun Aldi dan awan tahu kalau indah dan Gilang pernah dekat, dan Arga melarang mereka kembali dekat.
Setelah selesai mengompres dan memberi salep indah pun kembali duduk.