
Pagi ini aku pergi tanpa Arga, Arga sudah pergi sejak pukul setengah enam tadi, karena Arga ada rapat mengenai anggota OSIS. Dia akan menyalonkan dirinya menjadi ketos atau ketua OSIS. Dan aku? Aku cukup diam, tak mau menjadi ketua dalam hal apapun, lagipula aku belum mengikuti kegiatan sekolah, mungkin aku akan kembali memilih ekskul silat atau ntahlah, aku benar-benar tak tertarik.
Ku lihat seseorang berada di tengah jalan, mungkin ingin mengakhiri hidupnya, ah tidak itu tidak boleh. Aku segera berlari dan menghampiri anak kecil itu. Ku tarik dia ke pinggir, dan pemandangan pertama dari wajahnya adalah, dia menangis.
"Kenapa kakak selamatin aku?" Tanyanya
Aku menunduk, lalu mengusap kepalanya pelan. Berusaha menenangkan dia, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, seorang anak kecil yang mungkin baru mengenal ABC atau 123 sudah tahu bunuh diri, korban berita kah? Kenapa?
"Aku capek kak, seharusnya kakak biarin aku mati, biar nyak sama babeh gak repot lagi" ucapnya
"Hey, udah berhenti nangisnya, nama kamu siapa?" Tanyaku
"Eza" ucapnya masih sesenggukan
"Kenapa kamu mau bunuh diri? Seharusnya kamu kan belajar di rumah" ucapku tersenyum padanya
"Nya sama babeh gak bayarin uang ujian Eza kak, mereka lebih mentingin wisata Mpok Lela, Eza bakalan di ejek karena gak punya uang buat bayar ujian"
Aku terdiam, kenapa? Kenapa anak sekecil ini harus memikirkan hal seperti ini? Kenapa orang tuanya tak lebih mementingkan ujian anak kecilnya. Sekarang aku sadar, bahwa kaya tapi broken home itu lebih baik daripada miskin tapi broken home.
Ku keluarkan dompetku, ku ambil uangku dari bang Marshal, senilai 300 ribu, uang jajanku selama satu Minggu ini.
"Nih, Eza bayarin ke sekolah ya, jangan di pake yang lain, kalau Eza butuh apa-apa lagi, sore nanti Dateng ke rumah di sana ya, nama kakak indah, kakak pergi dulu ya" aku mengusap kepalanya lembut lalu pergi meninggalkan dia.
Eza mengucapkan terimakasih padaku, ah tidak seharusnya dia berterima kasih kepada Tuhan
***
Gilang POV
Gue baru aja selesai nambal ban di tambal ban yang dekat dengan halte. Tapi wait, gue liat seseorang, itu indah, dia lari nyamperin seorang anak kecil laki-laki. Indah narik tuh bocah ke samping, tepatnya ke halte. Kek ibu burung yang bawa anaknya. Haha
Anak itu nangis, indah ngusap kepalanya. Kenapa? Kenapa tuh bocah nangis. Tapi tunggu, indah senyum, senyumnya begitu tulus, dan senyumnya benar-benar indah. Lalau indah ngasih anak itu uang, ah indah itu, dengan mudahnya dia percaya sama orang baru.
"Makasih kak indah"
Indah tersenyum ke gue, ah tidak dia tersenyum pada anak kecil itu. Andai aja gue yang jadi anak kecil itu. Pasti gue bakalan bahagia banget. Indah gue baik banget, tapi wait, jam udah nunjukin jam 7 lebih. Indah telat, gue sih izin karena Sisil mau check up, ya walaupun gue gak tau siapa bapaknya, tapi dia tetep aja calon keponakan gue.
Ets, ngomong-ngomong Arga kemana ya? Kok indah bisa sendirian? Akhirnya setelah gue selesai nambal ban, gue langsung pergi ke sekolah. Indah gue, gue takut dia kenapa-napa di jalan.
Dan, saat gue sampai di sana, gue liat cewek lagi nongkrong di kafe depan sekolah. Dan itu indah, kenapa dia gak ke sekolah. Akhirnya gue chat indah
๐ Gilang
Lg ap?
Lg dmn?
Dan gue tunggu balasan, tapi gue liat indah cuman baca doang kemudian dia baca buku lagi. Ah hari ini pasti pelajaran itu. Indah lagi baca LKS itu. Dia tetep belajar. Tapi dia gak mau di hukum, atau males buang-buang waktu? Ah dia itu emang cewek aneh.
๐Gilang
P
P
__ADS_1
P
Indah
Lg dmn
Ngapain?
Sekolah g?
Dan akhirnya indah jawab, dia lagi ngetik sesuatu. Ok akan gue tunggu. Mungkin panjang.
๐.
Dpn sekolah
Belajar
Jgn ganggu
Akhirnya, setelah lama, indah jawab juga pesan gue. Gue mau chat dia lagi, tapi kayaknya indah lagi fokus banget sama pelajaran nya.
Gue cuman bisa menjaga indah dari jauh, belum saatnya gue nyamperin dia, gue tahu kalau gue pergi ke sana, indah bakalan pergi. Sampai kemudian ada yang nelpon gue. Ah pasti itu Sisil
***
Aku belajar di sebuah kafe, tadi Gilang menanyakan keberadaan ku, apakah dia ada juga di kafe ini, namun aku tak mau membuang waktuku hanya untuk mencarinya. Lagipula aku membencinya, kenapa masih harus mencarinya.
๐Arga
Dmn?
๐.
Kafe
Telat jadi males masuk
๐Arga
Astaga
Knp bisa telat?
๐.
Cmn kendala dikit
๐Arga
Tapi Lo GPP kn?
๐.
Gpp
__ADS_1
Kemudian Arga berhenti chat aku, aku kembali membaca LKS itu, walaupun malas namun aku juga tak ada kerjaan lain selain ini. Karena bosan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Ku bayar dulu pesanan ku itu. Lalu aku pergi keluar kafe. Menaiki angkot dan pergi kembali ke rumah. Aku ingin belajar sepeda motor. Ah iya, kemarin aku belajar sepeda dengan Arga. Walaupun banyaknya kesulitan tapi untungnya aku cepat belajar nya.
"Boleh kenalan?" Seseorang menyapaku
Aku melirik padanya, siapa dia? Cowok berambut cokelat hitam, siapa dia? Apakah dia teman sesekolahku
"Gue Ingga, se sekolah sama Lo, bahkan kita satu kelas"
"Ia" jawabku
"Apa?" Tanyanya
"Nama gue ia" tegasku
"Oke, ternyata kata Arga bener ya, Lo itu cewek dingin, haha, tapi menarik" ucapnya lagi
Errgh aku benar-benar risih dengan nya, andai saja aku bisa mendorong dia keluar. Namun sayangnya aku tak bisa.
"Lo pasti bingung kenapa gue gak sekolah? Gue tuh telat terus keliling kota Jakarta deh biar gak bosen" ucapnya
"Oh" jawabku singkat
"Lo kok gak sekolah?" Tanyanya
"Telat" jawabku
Dan kemudian dia kembali berceloteh, membuatku kesal, mana angkot itu nge tem dulu lagi. Setelah cukup lama akhirnya angkot kembali melaju. Ingga masih saja mengganggu ku. Inikah Gilang ke dua? Atau kak Devan ke dua? Menyebalkan.
Akhirnya aku sampai di depan komplek rumah ku, aku segera turun dan meninggalkan Ingga. Aku kemudian berjalan pergi ke rumah ku.
Baru saja aku mendekati arena belajar motor, menuju seseorang yang ternyata cowok tadi, ah siapa namanya, Ingga. Cowok itu bernama Ingga. Sekelebat bayangan menghampiri ku. Laki-laki di hadapan ku ini mengingatkan ku pada Fadhel, dengan cara berpakaian nya.
Yah, Fadhel, dia masih bertahta di hatiku. Fadhel, cowok itu. Benar-benar seperti hantu, yang bisa hilang kapanpun dan hadir juga kapanpun. Fadhel, anehnya sekuat apapun aku berusaha untuk lupa padanya, dia justru semakin teringat jelas di pikiranku.
"Gimana?" Tanyanya
"Eh, Iyah belajar motor" ucapku kaget dan refleks
"Lo kenapa sih?"
"Gak papa, eh Iyah ayo mulai" akhirnya kami memulai belajar motor.
***
4 jam berlalu, lama pula aku belajar motor hehe, Ingga memberiku minum namun aku hanya meliriknya saja.
"Kenapa?" Tanyanya
"Gak papa, gue bawa" ucapku
Ingga menarik minumku lalu meneguknya sampai tak bersisa. Karena aku haus akhirnya aku menerima minuman itu dengan terpaksa. Ingga terlihat menang.
"Oh Iyah, kata Arga Lo jago skateboard, bisa ajarin gue gak?" Tanyanya
__ADS_1
Aku hanya melirik padanya singkat "oke, tapi ajarin gue motor tinggi, gue mau belajar motor tinggi"
"Ok" akhirnya kami pulang, Ingga mengantarku pulang dengan motornya, terlihat di depan rumah ku sudah ada Arga yang menunggu.