
"eh udah sore loh ini, kita balik yuk di" ajak awan mematikan permainan mereka dan merapikan nya kembali.
"Oke"
Kemudian mereka pun pergi dan Arga juga pulang, sedangkan indah, dia diam di rumah seorang diri. Melupakan tujuan nya tadi yang hendak ke gedung tua menemui Revan dan geng nya.
***
Pagi ini indah bangun sangat pagi. Dia sudah siap untuk membagikan brosur kampanye Arga. Indah sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ah, pagi ini Arga juga akan menjemputnya. Walaupun dia sudah bisa motor namun ia tak akan lupa pada Arga sang tukang ojek dadakan wkwk.
"Udah siap belum princess?" Tanya Arga pada Indah
"Udah, eh bentar pake aksesoris wajib dulu" indah memakai kalung dengan bintang di tengah lingkaran, gelang tali berwarna merah, dan cincin polos berwarna hitam, tak lupa jam tangan favorit nya.
"Udah?" Tanya Arga
"Udah" jawab indah
"Ngomong-ngomong bekel dari bang Marshal dah abis?" Tanya indah
"Masih ada, sama duit buat motor" ucap Arga
"Beneran? Abang gantiin duit motor gue?" Tanya indah senang
"Iyalah, dia kan Abang Lo" ucap Arga
Indah senang sekali, apalagi saat Arga mengatakan kalau uangnya akan di transfer langsung ke rekening milik indah, melalui Arga tentunya. Bagaimana kabar bang Marshal? Dia sedang membangun sebuah restoran lagi di Aceh. Dan sepengetahuan indah, bang Marshal tengah dekat dengan seorang cewek Sholihah, bernama Fatimah. Temen SD Abang Marshal namun Fatimah kerja di Medan.
"Ga, menurut Lo kalau gue masih berharap sama masalalu apakah salah?" Tanya indah
"Gak salah sih, tapi gue pikir itu bukan ide yang baru" ucap Arga lalu motor pun masuk parkiran sekolah.
Indah turun namun karena tak hati-hati indah hampir saja terjatuh. Aldi menopang tubuh indah. Mata Aldi menatap wajah indah, sedang kan indah justru lebih fokus pada kalung yang ada di leher Aldi. Kalung dengan cincin sebagai liontin dan juga benda tajam yang indah pula tak tahu apa itu.
"Maaf" indah langsung berdiri.
Dan tanpa sadar kalung yang ia sembunyikan dibalik rompi sekolah keluar dan memperlihatkan kalungnya. Aldi terdiam, dia tahu apa kalung itu. Ternyata itulah sebabnya anak-anak geng motor saat itu takut pada indah, apakah semua anak geng motor akan tunduk pada indah jika indah memperlihatkan kalung itu? Hanya Aldi dan author yang tahu 🤣
***
Indah POV
Aku pulang menaiki angkot, karena Arga ada urusan mendadak. Sepanjang perjalanan pulang aku sudah merasa sedikit was-was.
Sampai kemudian aku sampai di depan rumah dan masuk. Aku melepaskan sepatu dan mengganti dengan sandal rumah. Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Ku.
"Baru pulang dek?"
Aku berbalik, melihat bang Marshal yang berpenampilan acak-acakan seperti baru bangun dari tidurnya. Aku segera menghampiri abangku itu. Kangen
"Abang udah nitipin surat izin ke Gilang buat besok, besok kita pulang" ucap bang Marshal membuatku kaget lalu melepas pelukan ku
"Maksud Abang?" Tanyaku
"Mama besok tunangan, jadi kita harus pulang"
Deg! Bagaikan di sambar petir, kaget! Aku kaget! Kenapa? Apa mama udah lupain papa? Padahal belum lebih dari 5 tahun papa pergi. Aku terdiam tak bisa apa-apa.
"Abang tahu ini berat buat lu, tapi cobalah menerima" aku terdiam mendengar itu
Kali ini semuanya sudah hancur. Kini mama benar-benar egois. Mama selalu egois. Dan aku sangat tidak menyukai segala hal keegoisan mama. Sedari dulu aku selalu mengalah pada apa yang mama putuskan, namun kali ini aku benar-benar marah.
Aku pergi keluar dengan pakaian kasualku. Aku ingin pergi untuk menenangkan fikiran. Tentunya dengan motor ku. Walaupun belum ada SIM. Namun aku tak peduli.
Sampai kemudian aku berhenti di sebuah jalan kosong. Aku melepaskan helmetku. Ingin berteriak tapi takut ada yang mendengar. Alhasil aku turun dan mengunci motorku. Aku duduk di trotoar.
"Queen" awalnya aku tak ngeh kalau seseorang tengah berbicara "Queen" lagi! Kini aku mulai memalingkan wajah ke sekeliling, mencari orang lain, namun hanya ada aku saja dengan laki-laki di belakang ku "Queen lu lagi apa di sini?" Laki-laki itu duduk di samping ku, dia membuka maskernya. Revan!
"Sejak kapan nama gue di ganti?" Tanyaku tak suka
__ADS_1
"Karena lu udah jadi leader dari Genk itu, nama panggilan lu sekarang Queen, biar musuh gak bisa lacak lu, eh Iyah menurut lu nama apa yang cocok buat Genk kita" tanyanya
"Disini terlalu umum, kayak gak ada tempat lain aja" ucapku lalu berdiri
Revan mengikuti ku, ternyata dia juga membawa motor. Kami pergi, mumpung emosiku sudah lumayan reda.
Aku dan Revan kini sudah berada di tempat Revan bekerja, tepatnya tempat milik Revan. Bersama yang lainnya. Aku agak khawatir sebenarnya. Takut di perkaos (maaf di olengin dikit kata-katanya) oleh mereka. Tapi semoga saja tidak.
"Jadi gimana queen?" Tanya Revan
"Gue gak tahu, gue gak pernah ikut beginian" ucapku
Tiba-tiba Revan melihat kalungku, dia melotot. Tiba-tiba Revan bergetar dengan sangat hebat. Kenapa? Ada apa dengan kalungku? Apakah menakutkan? Ini hanya sebuah kalung yang di berikan oleh guru silatku saat itu. Mengapa mereka begitu ketakutan.
"Bos? Kalung itu?" Tanya seseorang, aku lupa namanya.
"Diem!" Bentak Revan
"Maafkan kami queen, tidak seharusnya anda melihat hal seperti ini" tiba-tiba saja Revan dan yang lainnya menunduk
Aku semakin bingung, ada apa ini? Kenapa? Apa yang membuat mereka seperti ini? Astaga! Apa aku melakukan kesalahan.
"Mari queen, ikut kami, tapi sebelumnya pakai masker dulu agar tidak ada yang mengenali identitas queen sendiri" ucap Revan
Aku berdiri, mengikuti Revan. Kemana? Apakah mereka menawanku? Aku sedikit waspada.
***
Kami sampai di sampai di depan sebuah mansion mewah tapi gelap. Tiba-tiba gerbang terbuka. Banyak orang di depannya, berbaris bagai pasukan. Mobil masuk ke area mansion itu, apakah aku benar-benar di culik? 😠Oh tuhan bagaimana ini? Ngomong-ngomong motorku di simpan di cafe milik Revan dan ini memakai mobil milik Genk.
Kami turun, aku bagai kan ratu yang di kawal banyak orang. Mereka menunduk. Tiba-tiba ada yang mendekati kami. Dia memakai masker dan kacamata hitam. Siapa dia?
"Selamat datang, ada hal apa kalian ke sini?" Tanya orang itu
Dih, sok misterius sekali orang di depanku ini. Aku melihat Revan yang gemetaran. Aku lalu menyela.
"Lo bikin anak buah gue takut, berhenti sok misterius. Kita ke sini buat liat-liat aja" ucapku
Atau mungkin Rolland sang raja setan yang ada di komik "memilih gadis cantik sebagai istri?" Astaga! Itu tak mungkin. Dia menatapku tajam dan kubalas dengan tatapan menantang. Ah dia siapa sebenarnya, sampai kemudian matanya beralih ke dadaku. Dia melotot, aku melihat ke arah dadaku. Apa yang dia lihat. Aku melotot dan refleks menamparnya
"Mesum!" Aku langsung berlari ke belakang Revan mencari perlindungan
Orang-orang di sekitar sudah menodongkan pistol ke arah kami, orang di depan Revan itu kini mengisyaratkan sesuatu dengan tangan yang di angkat. Padahal kami yang di todong, kok dia yang angkat tangan? Aneh!
Tiba-tiba semua pistol di turunkan, dia langsung menunduk seolah memberi hormat. Aku masih di belakang Revan, takut, tentu saja.
"Kenapa?" Tanyaku pada Revan
"Mohon maaf tuan Kevin, queen masih kecil mohon di maklumi" ucap Revan membuatku langsung menendang nya hingga tersungkur ke bawah "tapi tenaganya melebihi saya" ringis Revan
"Mari nona ikut saya" kini orang itu yang memintaku mengikutinya
"Van, temenin, gue gak mau barengan sama cowok mesum itu"
Revan melirik pada orang yang bernama Kevin itu lalu si cowok mesum itu mengangguk. Akhirnya aku mengikuti dia ke atas. Sampai di sebuah lorong aku tak menyadari kalau Revan sudah tak ada di sini.
Aku dan Kevin masuk ke sebuah ruangan, aku melihat ke belakang. Cuman cowok ini doang kan? Ya udahlah cuman seorang ini doang, pasti bisa ku lawan.
"King! Nona muda sudah datang" aku baru sadar kalau di sini ada orang lain, dia membelakangi ku. Memakai jaket berlogo lingkaran dan bintang di tengahnya.
Cowok itu berbalik ke belakang, dan tetew.... Ganteng banget parah! Dia mah lebih cocok jadi pacar ku daripada orang lain. Dia kemudian mendekat dan tersenyum padaku.
"Hai princess, masih inget gue? Abang Lo, bang Darren" aku terdiam Abang ku? Siapa? Aku tak mengingatnya.
"Papa terlalu lama nyembunyiin Lo dari gue dan mama" ucapnya lalu memelukku
Aku terdiam, papa? Apa maksudnya? Kenapa sama papa? Aku tak membalas pelukannya. Darren mengajakku untuk duduk. Aku tetap harus waspada. Bagaimana kalau ada jebakan di bawah sofa.
"Jadi..."
__ADS_1
***
Flashback
Siang itu keluarga gratama tengah bahagia karena kelahiran anak bungsu mereka. Yah anak mereka kini ada tiga, Darren, Cessie dan Angie. Yah Angie anak bungsu mereka. Namun Cessie kini tiada di tengah kebahagian mereka, dari sejak Cassie umur 1 tahun, Cassie di culik oleh seseorang.
"Mama, Angie gak akan pergi kayak Cassie kan?" Tanya Darren sang anak pertama
"Mama berharap Angie akan selalu di sini" ucap sang mama yang bernama Fani
Darren sangat senang karena Angie begitu lucu, pipinya begitu gemoy. Dia gemar mencubit pipi sang adik, namun anehnya sang adik tak rewel, tak seperti Cassie dulu.
***
Setahun berlalu
Ardi dan Fani bertengkar karena Ardi yang ketahuan selingkuh dengan delis, Darren yang ada di luar kamar hanya bisa mendengarkan sambil menangis dengan menggendong Angie yang masih anteng tertidur.
Ardi keluar dengan koper di tangannya. Fani mengejar Ardi, saat Ardi melihat Darren dia tersenyum. Dia menyayangi putrinya. Baru saja Ardi akan mengambil Darren namun hanya Angie yang di dapat Ardi. Darren keburu menghampiri sang mama yang menangis.
"Pa, itu anakku pa, itu anakku kembalikan anakku padaku" Ardi tak mendengar tangisan Fani, dia menarik kopernya lalu pergi meninggalkan Darren dan Fani dengan membawa Angie yang kemudian berganti nama menjadi indah ayu lestari.
"Ma, adik Darren mau di kemanain?" Tanya Darren kecil dengan tangisnya
Flashback end
***
Aku terdiam mendengarnya, benarkah? Tiba-tiba telpon masuk ke telepon ku, dari bang Marshal. Aku mengangkatnya. Membuat bang Darren yang ada di sampingku ini bertanya-tanya.
"Iya bang?" Tanya ku
'dek pulang dek, kakak kecelakaan' nafas bang Marshal terdengar memburu
Aku terdiam, shok? Tentu saja. Kak ayu. Aku segera berdiri dan hendak pergi, namun Kevin menghalangi jalanku.
"Jangan halangi gue" kini aku menangis
"Kamu kenapa? Ada apa? Cerita sama Abang?" Tanya Darren
"Bang, kak ayu kecelakaan, gue harus pulang, gue mohon jangan halangi gue, gue mau ke londong sekarang" tangisku
"Ayu?" Darren terdiam
Lalu dia mengangkat ku, dia membawaku ke bawah, walaupun sebelumnya dia memakai topeng dan memaksaku memakai topeng. Revan masih di bawah, ku lihat Revan berkilat seperti marah.
Aku dimasukkan ke dalam mobil, dan mobil melaju. Melaju ke rumahku. Ternyata dia tahu rumah bang Marshal. Bang Marshal terlihat begitu khawatir, aku melihat ke arah ku yang baru keluar dari sebuah mobil. Aku melepas topengku. Dan memeluk bang Marshal.
"Abang udah pesen tiket ke London, kita pergi malam ini, kamu siap-siap dulu" bang Marshal menitahku
"Gak usah malem, kita pergi sekarang" ucap bang Darren
Aku segera bersiap, bang Marshal dan bang Darren terlihat berbincang. Koper bang Marshal sudah siap, tinggal koperku. Aku segera menyiapkan barang-barang ku.
"Ayo!" Ucap bang Marshal dan bang Darren.
Kami pergi, menuju bandara. Aku tak peduli dengan perbincangan mereka. Yang kini aku pedulikan adalah kak ayu.
***
Author POV
"Mohon maaf, saya tidak tahu kalau sebenarnya indah adalah Angie, karena papa bawa ayu saat ayu sudah berusia satu tahun dan juga indah yang berusia satu tahun" ucap bang Marshal
"Tak apa, dan terimakasih karena kau sudah menjaga kedua adikku, saat ini yang terpenting nyawa Cassie yang terselamatkan" ucap bang Darren
Kami akhirnya sampai di bandara, dan segera menuju landasan, masuk ke dalam sebuah pesawat yang berukuran sedang.
Semoga kakak baik-baik saja...
__ADS_1
***
Jangan lupa jejak!!!