
Pagi ini aku awali hari tanpa bang Marshal, dan aku makan roti panggang. Ah aku merindukan masakan bang Marshal, eh, padahal baru satu hari ya hihi. Setelah selesai sarapan aku segera memakai sepatuku dan mengambil tasku untuk kemudian keluar dari rumah. Hari ini Arga akan pergi agak siangan karena mama nya masuk rumah sakit jadi aku terpaksa harus berangkat sendirian.
"Indah!" Seseorang memanggil ku
Aku segera berbalik, cewek? Siapa? Apakah aku mengenalnya? Ah dia.... Risa, cewek berbulu mata lentik itu.
(Anggap aja pake baju seragam SMA)
"Ada apa?" Tanyaku
"Arga kemana?" Tanya nya
Aku hanya menggedikan bahuku acuh, lagipula ada apa dia menanyakan Arga, ternyata cowok se tengil Arga banyak penggemar nya.
"Rumah gue ada di jalan timun, agak jauh sih, tapi gue di suruh seseorang buat nemenin Lo" jelasnya
"Siapa?" Tanyaku
"Sisil" jawabnya
Sisil? Apakah aku pernah bertemu dengan Sisil itu? Ah depresi ku ini membuatku sulit untuk mengingat seseorang. Risa melihat ke arahku. Maskernya di tarik ke dagunya sehingga memperlihatkan wajahnya yang cantik.
"Kenapa?" Tanya Risa
"Gue gak kenal Sisil" jawabku
"Ah, gue lupa, harusnya gue gak ngomong nama dia, astaga!" Ceplos Risa "katanya Lo emang gak kenal dia, tapi dia kenal sama Lo"
Aku terdiam, kami sampai di halte, lalu kami menaiki angkot. Di angkot Risa banyak bicara, sampai kemudian angkot berhenti dan menaikan salah seorang siswi. Amel.
"Hai ya" sapanya
Aku tersenyum menanggapi. Amel duduk di depanku, dekat dengan pintu keluar. Aku pindah ke depan, membelakangi sopir angkot. Risa bergeser ke tempatku tadi dan Amel tetap pada tempatnya.
"Eh, Sekarang kita ada pelajaran olahraga kan? Kira-kira materinya apa ya? Atau langsung praktek?" Tanya Amel
"Eh Iyah kan IPS 1,2,3 di gabung katanya" timpal Risa
"Paling bola kecil" lirihku
"Apa?!?" Tanya kedua cewek di depanku ini
Aku menggeleng lalu membuka handphone ku, sederetan pertanyaan dari Arga dan Gilang juga bang Marshal, tapi tunggu ada pesan dari mama juga. Tumben sekali mama mengirim chat padaku.
💌Mama
Apa kabar dek?
Kapan pulang?
Mama ke Jakarta boleh?
Alamatnya dimana?
💌Bang Marshal
Dek, mama siang ini ke rumah, alamatnya udah Abang share ke mama, kalau gak nyaman sama mama, suruh Arga atau Gilang nemenin kamu, kalau mama kasar sama kamu Abang gak bisa bela, tapi kalau ada Arga sama Gilang mereka bisa jaga kamu.
💌Arga
Ntar siang gue ke rumah Lo
Oh iya, Lo udah sarapan?
Naik angkotnya ati-ati
Jangan ngobrol sama orang yang gak kenal
💌Gilang
__ADS_1
P
P
P
P
LG ap
Dmn
Sklh g?
Akhirnya aku memutuskan untuk menjawab satu persatu pertanyaan mereka.
💌.
Iyah mah, indah baik, Dateng aja->mama
💌.
Ok kata Arga dia siang k rmh->bang Marshal
💌.
Udh->Arga
Dan untuk Gilang, aku hanya membacanya saja. Mungkin kalian akan berfikir tidak adil. Namun bagiku dia sudah berbeda, dan dia bukan lagi Gilang yang aku kenal.
"Siapa?" Tanya Risa
"Paling juga Arga" timpal Amel
Aku hanya tersenyum, lalu Risa mendelik entah apa alasannya. Dia seperti nya tak menyukai jika aku dekat dengan Arga, atau dia tak menyukai karena dia menyukai Arga.
"Jangan terlalu Deket sama Arga, dia tuh gak sebaik yang kalian pikir" sinis Risa
"Arga baik kok, ganteng lagi" ucap Amel
Mereka berdebat, dan bisa di simpulkan bahwa Risa tak menyukai Arga. Kenapa?
"Kayaknya Lo gak suka sama Arga" ucapku
"Iyah, dia tuh-" ucapan Risa terpotong
"Mantan nya" timpal Amel
Aku manggut-manggut, lalu tersenyum pada Risa. Benarkah dia mantan Arga? Dia cantik, baik, supel, lalu kenapa mereka putus?
"Kenapa putus?" Tanyaku
"Karena katanya sih Arga itu-" Amel di bekap oleh Risa
"Dia suka Deket sama cewek"
"Kenapa nggak?" Tanyaku simpel "lagian Deket kan gak berarti ada rasa, mungkin aja nganggap sebagai sodara sendiri"
Amel ternganga begitupun Risa. Namun Risa dan Amel segera mengontrol wajahnya. Anehkah ucapan ku ini? Apa yang salah
"Lo ngomong panjang? Lebih dari 10 kata loh, ah enggak lebih dari 5 kata" ucap Amel
Aku mengernyitkan dahi ku tak paham, apa maksudnya. Risa menyentuh dahiku. Lalu dia menggeleng.
"Tapi bener juga sih kata ia, Lo nya aja yang pikiran nya kolot" Amel menyindir sedangkan Risa mendelik kesal
"Kalian akrab?" Tanyaku lagi
"Kita? Akrab?" Ucap keduanya bedengan lalu mereka menyilangkan tangannya.
"Gak, baru juga kemarin kita kenal"
Aku hanya manggut-manggut lalu angkot pun berhenti, aku dan keduanya segera pergi ke luar dari angkot. Wait, aku melihat Gilang dengan seorang cewek lagi. Bukan, bukan cewek yang waktu itu aku lihat. Kini berbeda. Ah, kenapa harus hal ini yang aku lihat? Aku berusaha untuk tetap biasa dan tak melihatnya
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Risa
"Gak papa" jawabku
"Lo tau gak?-" ucapan Risa terhenti karena Amel yang menarik ku untuk menjauh dan ke kelas
Ku dengar Risa yang memaki Amel, sedang kan Amel hanya memeletkan lidahnya. Kami duduk di tempat masing-masing.
"Lo tau gak? Di kelas ini tuh ada kang telat"
Aku hanya menggedikkan bahu ku acuh, Amel menujuk seorang laki-laki dan menyebutkan namanya, namun aku tak terlalu memperhatikan jadi aku tak ingat siapapun.
Tak lama guru pun datang, dan kami memulai pelajaran. Amel sesekali bernyanyi lirih namun aku dapat mendengarnya. Lagu love is gone. Yah itu salah satu lagu favorit ku.
Don't go tonight
Stay here one more time
Remind me what's its like
And let fall in love one more time
I need you now by my side
***
Jam istirahat
Aku tak mau keluar dari kelas, rasanya berat sekali. Lagipun aku malas kalau harus keluar dari kantin. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di leher belakang ku. Aku melihat ke belakang.
Arga! Dia benar-benar membuatku takut, dan dia membawakan ku minuman dingin. Boba? Di sini ada Boba? Kok aku baru tahu
"Thanks, buat gue kan?" Tanyaku
"Iyah, gue beli di luar sekolah, biar spesial" ucap Arga
Arga tersenyum padaku, lalu aku menyeruput Boba itu. Arga juga tengah memakan color dari pelastiknya.
"Ga, Lo mah gue kan juga suka cilok" rengekku
"Nih gue bagi" arga memberikan plastik cilok itu padaku
"Gak mau, masa semulut" kesalku
"Mau gak? Kalau gak mau ya udah" Arga menarik kembali
Aku menarik plastik itu lalu memakan cilok yang berukuran besar satu, aku mengembalikan cilok itu ke Arga. Arga tersenyum padaku. Arga memakan kembali ciloknya
"Mau dong" ucap Arga menarik Boba ku
Aku memberikannya. Arga menyeruput Boba itu. Tiba-tiba Amel datang dan menghampiri kita berdua. Dan wait, ada Risa di luar pintu. Kayaknya Risa gak mau masuk karena ada Arga.
"Cie...." Ledek Amel, lalu Amel menarik bobaku dan menyeruput nya.
"Ris-" panggilku
Risa mendekat dan menatap sinis pada Arga, Arga tersenyum pada Risa. Apakah Arga masih ada perasaan pada Risa, lalu kenapa mereka harus putus? Masa sih Arga melepas Risa gitu aja.
"Cie...." Ledek Amel
"Ndah, kenapa gak ke kantin, padahal-" belum selesai Risa melanjutkan ucapannya Arga tiba-tiba berdiri dan menatap Risa tajam, Arga membawa Risa dengan sedikit kasar. Baru saja tadi Arga tersenyum pada Risa, sekarang sudah kasar lagi. Dasar jantan!
"Kenapa mereka?" Tanyaku
"Ah itu, tadi di kantin-" belum di lanjutkan ucapan Amel Arga sudah berteriak memanggil namanya
"AMEL!" Amel segera bergegas ke sana.
Terlihat Arga yang tengah berbincang dengan mereka, Risa terlihat tak suka pada Arga, bahkan sangat jelas, sedangkan Amel hanya manggut-manggut saja.
"Ada apa sih?" Akhirnya karena penasaran aku mendekat ke arah mereka
"Kenapa?" Tanyaku
__ADS_1
"Gak papa" jawab Arga "kalau gitu gue sama Risa pergi dulu ya, udah mau bel, abisin Boba nya" Arga berkedip pada Amel seperti meng kode sesuatu
Aku hanya menggedikkan bahu acuh lalu aku masuk ke dalam, menghabiskan bobaku. Tapi ngomong-ngomong apa yah yang di ucapkan Arga tadi. Ah masa bodo lah