
Hari ini aku bangun pagi sekali, baru jam 4 subuh namun aku tak bisa memejamkan mataku lagi, hari ini aku akan melaksanakan ujian, ujian kenaikan kelas, dan satu bulan lagi aku akan naik ke kelas 2 SMA bertepatan dengan perginya Gilang.
Tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari bawah seperti keributan, perlahan tapi pasti aku membuka pintu dan kemudian keluar dari kamarku dan melihat dari atas tangga. Ada nenekku dan juga mama ku. Rupanya mamaku sudah pulang lalu nenekku kapan datangnya?
"Apa sih ma? Delis baru pulang! Delis capek" ucap mamaku
"Iya kamu tuh kalau keluar tuh harusnya inget waktu, ini keluyuran terus jam segini baru pulang, gimana kalau indah liat dan ngikutin apa yang kamu lakuin"
"Delis itu kerja, bukan keluyuran, Delis nyari uang buat keluarga bukan buat main-main"
"Kamu nginep terus di rumah orang lain-..."
Sudah cukup, aku tak mau mendengar lagi keributan ini, setiap kali nenekku datang pasti mereka bertengkar, aku capek mendengarnya, lalu tiba-tiba aku mendengar suara lagi, dan itu suara kak ayu.
"Mama!" Ucap kak Ayu
Aku tak tahu harus bagaimana lagi, mama ku lagi-lagi di tampar oleh nenekku, sakit! Namun aku tak bisa melakukan apapun, jika aku menghampiri mereka yang ada mereka akan memarahiku
"Ini masih pagi, dan di pagi ini pula aku mendapat kejutan lagi, papa seandainya papa masih hidup" aku menangis mendengar semua keributan ini
Kini suara gaduh semakin gaduh dengan hadirnya kak ayu, kak ayu kini ikut berdebat dengan nenek dan mama ku. Lagi! Beginilah, aku memang hidup serba berkecukupan namun aku tak mendapatkan keluarga di dalam rumah ini, keluargaku jarang sekali berkumpul, aku memang dimanja dalam segi materi, namun aku tak bisa mendapatkan kehangatan sebuah keluarga. Aku selalu iri ketika teman-teman ku berbicara mengenai makanan Mama mereka, mengenai indahnya bercanda dengan kakaknya, aku memang sering bercanda namun hanya dengan kak Marshal, itupun bercanda hanya sekejap, sedangkan dengan kak ayu, kalau tak bertengkar paling hanya saling menyapa atau menyuruhku melakukan sesuatu. Aku juga ingin mendengar tawa dari sebuah keluarga.
Aku kembali masuk ke dalam kamarku, ku kunci pintu kamarku, ku nyalakan music dari handphone ku dan ku sambungkan ke earphone bluetooth ku. Hanya ini yang selalu kulakukan disaat aku sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul setengah lima namun pertengkaran masih terdengar walaupun berselingan dengan music yang ku dengar.
"Aku capek!" Ucap ku
Kurasakan dadaku sesak dan kepalaku begitu sakit, ah, depresi ringan! Yah, kini penyakit saat aku masih SD kembali hadir, aku mengalami depresi ringan, aku tak mudah membicarakan masalah ku pada siapapun. Aku selalu memendamnya sehingga menyebabkan aku mengalami depresi, sedari kecil. Sebenarnya saat aku pindah ke rumah ini mama dan papa ku sudah bercerai, hanya saja mereka tinggal dalam satu atap, papa masih memberi mama nafkah walaupun mama sendiri mengelola sebuah butik. Kesakitan di saat aku melihat kedua orang tua ku bertengkar masih teringat jelas, pertengkaran itu hadir saat aku masih selalu bermain dengan Evan, atau tepatnya sedari aku TK. Dan itulah dimana saat pertama kali aku memendam sesuatu, di saat itu pula aku yang masih kecil sudah mengalami sebuah penyakit mental, depresi ringan, aku selalu ceria di depan keluarga ku aku selalu tersenyum, cerewet dan cengeng. Tapi jauh dari hal itu setiap malam aku selalu menangis, apalagi saat aku SD nenekku tinggal bersama dalam rumah ini, aku selalu mendengar pertengkaran antara orang tua ku, bang Marshal, dan nenekku.
Saat aku keluar dari asrama, nenek pindah ke rumah yang baru, dan pertengkaran masih sering terjadi. Pertengkaran yang aku sendiri tak tahu apa maksud dari hal itu, apa untungnya? Aku tak tahu. Saat ini aku mendengar suara bang Marshal yang ikut bertengkar, semua keluarga ku kini tengah bertengkar. Dan alunan music dari earphone ku ini sama sekali tak ku dengar baik-baik. Pandangan ku kini begitu kosong.
Tiba-tiba handphone ku berdering, dan aku melihat sebuah notif dari Gilang.
💌Gilang
P
Bangun
Minggu depan puasa
Ujian
Bangun
💌.
__ADS_1
Berisik
Aku melihat Gilang tengah mengetik namun begitu lama, mungkin dia akan mengatakan sesuatu yang tak penting.
💌Gilang
Dah, ntar kita main yuk, bisa basket kagak?
Gua ajarin dah
💌.
Maaf Lang, gua gak bisa, gua mau luangin waktu buat Aldi
💌Gilang
Gak papa
Dan kini suara bertengkar tak lagi terdengar, aku keluar dari kamarku, aku pura-pura baru terbangun dari tidurku. Dan aku melihat dari atas kalau pembantuku tengah membersihkan ruang keluarga. Foto! Foto keluarga ku pecah, aku segera berlari ke bawah sampai-sampai aku tak menyadari kalau di tangga juga banyak serpihan kaca. Dan begonya aku lupa memakai sandal.
Ku lihat bibi sedang membersihkan seorang diri, aku mendekati nya. Lalu pembantuku itu berteriak kaget ketika melihat ke bawah, aku melihat ke arah kakiku. Darah! Tapi tak terasa sakit, mungkin hatiku lebih sakit dari luka di kakiku.
"Aduh non! Itu kakinya, sini bibi bersihin" ucap pembantuku
__ADS_1
Aku segera duduk di salah satu kursi, pembantuku mencabut beling dari kakiku, kini terasa sakit. Karena darah semakin banyak akhirnya pembantuku keluar dari rumah dan kemudian ia datang dengan Aldi. Ternyata Aldi hendak ke rumahku juga, Aldi segera menggendong ku, dia terlihat begitu khawatir, dia menggendong ku ke jalan karena ia tidak membawa mobil dan jika ia membawa mobil terlebih dahulu maka akan semakin lama, Aldi membawaku menaiki angkot. Dan tak lama kita sampai di depan klinik.
"Cepat bawa sahabat saya" ....