Broken Heart

Broken Heart
37


__ADS_3

Aku berbaring di ranjang ku, sangat nyaman, kakiku tak terasa sakit, aku masih terngiang-ngiang masalah kemarin, dimana keluarga ku bertengkar hebat. Aku tak suka melihat keluarga ku seperti ini, lelah, sangat lelah. Seandainya aku boleh memilih aku ingin agar aku tak terlahir ke dunia ini.


"Dek" seseorang mengetuk pintu kamar ku, dan aku tahu kalau itu kak ayu.


"Iya kak masuk aja" kataku seraya memakai selimut guna menyembunyikan kaki ku, dan memasukkan kayu ke belakang kasur ku.


Kak ayu masuk dan kemudian aku melihat tatapan matanya sayu. Apa skripsi nya tidak di terima? Tapi kak ayu kan anak paling pintar sekaligus anak emas di keluarga ini


"Kakak lulus skripsi, sidang juga Alhamdulillah lulus, nanti wisuda Lo Dateng ya ke kampus" ucap kak ayu


"Bang Marshal?" Tanyaku


"Bang Marshal kemarin dah mutusin buat pindah, bang Marshal pindah ke Bogor" ucap kak ayu


Deg! Sehebat itukah pertengkaran kemarin? Kenapa? Kenapa Abang ku yang humoris dan suka membuatku tersenyum juga pergi? Kenapa semua orang harus pergi?


"Kakak juga udah wisuda bakalan pindah ke London, kakak lulus seleksi penerimaan S2 di sana" ucap kak ayu


Lagi! Kini di rumah sebesar ini hanya akan ada aku dengan mama, itupun mama jarang pulang, aku hanya bisa terdiam, tak tahu harus bagaimana lagi, keluarga ku benar-benar sudah hancur, rumah yang orang lain bilang sebagai surga dunia kini bukanlah surga untukku.


"Ya udah nanti gue ke kampus, oh Iyah bang Marshal kok gak izin dulu sama gue?" Tanyaku dengan senyum yang sering kali aku perlihatkan pada keluarga ku


"Kemarin bang Marshal buru-buru tapi kamu nya gak ada di rumah" ucap kak ayu


"Ya udah gue ke kamar dulu ya" ucap kak ayu lalu berdiri


Setelah kak ayu pergi kini aku sendirian, hatiku pedih namun air mataku tak mau turun, aku hanya terdiam, bayangan dulu saat papa masih ada terbayang di benakku, dulu papa selalu menggendong ku di bahunya, aku sangat dimanja, tak pernah di biarkan sendirian, mama juga dulu selalu menemani ku tidur, belajar, mewarnai ataupun menggambar, kakak dan Abang juga dulu selalu bercanda dan mengganggu ku sampai aku menangis, dulu aku sangat cengeng dan manja. Namun kini sangat berbeda, kini semuanya berubah. Aku kini tak lagi bersama mereka, aku justru lebih banyak di tinggalkan, aku kini lebih banyak menyendiri, meskipun seluruh keluarga ada di rumah namun saling sibuk dengan kamarnya masing-masing. Terkadang kita berkumpul di ruang keluarga pun sama-sama sibuk dengan handphone masing-masing.


Ting! Handphone ku berdering


Aku mengambilnya dan kemudian membukanya dengan pola yang sangat mudah. 1-2-6-9-8-5-4-7-3, coba kalian coba di pola kalian.


💌Fadhel_04


P


P


P


Sombong amat


Main yuk, aku jemput deh


💌Zakyra


Y


Ayo mau main kmn?


💌Fadhel_04


Kita ke pantai gimana? Ke pelabuhan ratu?


💌Zakyra


Gk jd dhel


💌Fadhel_04

__ADS_1


Knp?


Masa aku harus ngasih tau dia kalau aku lagi sakit, kan gak penting juga. Aku terdiam menatap layar ponsel ku.


💌Zakyra


Gpp, pokoknya gak jd ajj


💌Fadhel_04


Yah, aku dah depan rumah kamu


What? Aku segera ke balkon dengan melompat-lompat menggunakan satu kaki. Dan boom ternyata benar, Fadhel sudah ada di depan gerbang rumahku dengan mobilnya. Loh dia tak di asrama? Atau dia kabur?


"Indah turun" ucapnya


Aku segera masuk lagi ke dalam, aku malas berganti pakaian jadi aku hanya mengambil wesbag ku, aku memakainya lalu aku membuka gips di kakiku, aku tak mau Fadhel tau aku sakit. Aku juga membalut kakiku dengan perban lalu memakai sepatu. Keseleo di kakiku masih terasa namun tak separah tadi.


Aku mencoba keluar dari kamar ku tanpa tongkat, aku juga berjalan dengan memegang tembok. Takut-takut jatuh, namun aku paksakan untuk terus berjalan.


Yah aku tau, ntah apa yang membuat Fadhel selalu hadir di saat aku sedang terpuruk. Dia seolah tau jika aku sedang tak baik-baik saja lalu mencoba menghibur ku.


"Kamu gak papa kan? Kok jalanmu pincang kek gitu?" Tanya Fadhel


"Gue gak papa dhel, udah yuk ah katanya mau ke pantai" ajakku


Fadhel membukakan pintu mobil untuk ku kemudian kita pergi menuju pantai. Fadhel terus saja melirik ke arah kakiku.


"Kaki kamu-"


"Perasaan Lo aja kali, gue ok dhel" ucapku


Aku terdiam lalu mengangguk. Mobil terus melaju, Fadhel juga sedari tadi terus mengoceh. Tapi, aku heran dia tau rumahku dari mana? Bentar kok aku baru ngeh ya?


"Kok Lo tau alamat rumah gue?" Tanya ku


"Dari kak Ihsan, tadi kan aku izin pulang, besok ke asrama lagi" ucap Fadhel


"Kok pulang? Kenapa?" Tanyaku


"Tadi pagi nenek gue dari sepupu meninggal" ucapnya


"Kok Lo gak sedih?" Tanyaku


"Gue gak deket sama Nenek Minah, jadi gue fine ajj" ucapnya


Aku terdiam, lelaki di samping ku ini terlihat begitu santai, aku tau dia selalu cuek pada sekitarnya, itulah daya tariknya, selain tampan dia juga cuek, gak jauh bedalah sama Gilang, hanya saja rasa ku tumbuh karena seringnya pertengkaran kemudian menjadi dekat dan dia ghosting.


"Lo gak papa kan?" Tanyaku


Fadhel melirik sekilas lalu tertawa renyah, dia melirik ke arahku lagi membuatku bergidik ngeri melihat nya.


"Gue gak baik-baik aja, gue gak suka liat Lo sama yang lain" ucap Fadhel


Aku terdiam, dia ngomong Lo gue, tandanya dia sedang marah namun kemudian semuanya salah, Fadhel melanjutkan ucapannya.


"Gue berantem sama Aulia"


Dan itulah yang sebenarnya, dia hanya melampiaskan kemarahannya padaku, dia tak benar-benar cemburu, dia hanya tidak mau aku menyukai orang lain, dia hanya tidak mau fans nya hilang, mungkin.

__ADS_1


"Oh" jawabku datar


Setelah dilambungkan begitu jauh tiba-tiba dia menjatuhkan ku ke dasar paling dalam. Tetap saja Aulia yang membuatnya tak biasa-biasa saja.


"Gue bingung harus gimana? Ndah, Lo kan tau nih apa yang di sukai cewek" ucap Fadhel


"Maaf dhel, gue gak suka hal-hal kek gitu, tapi setau gue Aulia tuh suka banget sama hal menggambar"


"Gue berarti beliin dia kanvas aja kali yah? Sama kuas dan cat nya?" Tanya nya


"Ekhem" aku berdehem "ngomong-ngomong Lo kok ngomong Lo gue?" Tanyaku


"Kan ini di luar asrama jadi bebaslah" jawabnya


"Oh, ya udah ini kapan sampe nya?" Tanyaku


"Bentar lagi, sabar dikit Napa"


"Lang.... Eh dhel" ceplosku, Fadhel menatapku dengan tatapan mata yang tajam


"Sorry gue keceplosan" ucapku


"Jauhin cowok itu ndah, gue gak suka" ucapnya


"Kenapa? Kan bukan urusan Lo juga" ucapku seolah menantang


"Bukan gitu, tapi-" Fadhel menghentikan mobilnya


Aku menatapnya heran, kenapa harus berhenti? Aku melihat ke luar dan terlihatlah seseorang yang sedang jadi topik pembicaraan aku dan Fadhel, yah Gilang kini ada di depan mobil. Fadhel kemudian keluar dan aku di dalam harap-harap cemas, takut jika mereka bertengkar namun di luar dugaan ku mereka malah bersalaman


"Syukurlah" baru saja aku mengucap syukur, ternyata dugaan ku tak salah, Gilang kini tengah baku hantam dengan Fadhel, aku segera keluar dari mobil, aku berjalan cepat dengan melompat-lompat dengan satu kaki ku, lalu aku menghadang mereka, namun gerakan Fadhel terlalu cepat, aku terkena Bogeman Fadhel, tepat di pipi kiriku. Rasanya tak sakit, yah aku sudah terbiasa di pukul seperti ini, namun aku tak menyangka kalau rasanya di hatiku malah sakit, walaupun tujuannya bukan padaku namun rasanya hatiku sakit, aku masih belum bisa move on dari Fadhel.


Aku memegangi pipiku lalu tersenyum, Gilang sudah begitu khawatir dengan menyentuh pipiku.


"Bangs*t Lo setan!" Ucap Gilang dengan membentak saat Gilang hendak melangkah aku berbicara hal pada keduanya


"Kalau kalian berantem lagi, gue pastiin gue bakalan benci kalian berdua" ucapku


Mereka langsung terdiam, lalu Fadhel hendak mendekati ku namun Gilang menghadangnya. Aku memegang bahu Gilang lalu Gilang melihat ke arahku, aku menggeleng padanya, Gilang perlahan mundur.


"Udah, Lang, dhel, mending kita ke pantai" ucapku


"Ya udah sini gue gendong" ucap Gilang lalu Gilang melihat ke arah kaki ku "kemana gips Lo? Tongkatnya juga mana?" Habis sudah, sedari tadi aku menutupi ke sakitan ku ini malah Gilang beberkan.


"Loh Lo sakit ndah? Tadi gue tanya katanya gak papa" ucap Fadhel lalu mendekatiku


"Huffft, Gilang sih!" Kesalku


Lalu aku berjalan dengan sedikit pincang diikuti Fadhel sedang kan bilang memakai mobilnya sendiri.


"Kaki Lo emang kenapa?" Tanya Fadhel


"Kacugak beling" jawabku dengan aksen Sunda


"Lo kenapa gak ati-ati?" Tanya Fadhel


"Serah dan" kesalku


Lalu mobil pun melaju ke pantai, kini waktuku dan Fadhel di ganggu oleh Gilang.

__ADS_1


__ADS_2