Broken Heart

Broken Heart
58


__ADS_3

Aku bangun pagi sekali, pagi ini aku tak akan masuk sekolah, aku sudah izin pada guru dan Abang ku. Hari ini aku akan belajar motor besar, dengan Ingga tentunya. Yah, Ingga, cowok itu yang mengajakku untuk tidak sekolah. Salah sih, tapi aku ingin sekali belajar motor tinggi.


Ting!¡! Aku segera melihat ponselku, WhatsApp dari Fadhel. Ada apa? Uh aku senang sekali.


💌Fadhel


Tidur gak?


💌.


Iyh


💌Fadhel


Vc


Akhirnya kami vc an lagi, aku bersiap sambil vc an. Yah, Fadhel berbincang-bincang dengan ku, padahal aku tengah berdandan. Aku memakai skin food cream dan juga my baby.


"Dah gede masih pake itu" ucapnya


Aku tertawa menanggapi nya, semenjak kemarin rasanya aku selalu ceria. Aku bahagia, yah dia Fadhel, satu-satunya cowok yang aku cintai, satu-satunya cowok yang bisa membuatku bahagia dengan segala ejekannya.


"Indah!" Panggil Ingga dari luar


Aku segera memakai jaket tengkorak ku. Lalu sarung tangan motor. Fadhel terlihat bingung karena ada yang memanggil namaku.


"Ga, masuk dulu" ucapku


Kudengar Ingga masuk ke dalam rumah, aku keluar dari kamar dan menghampirinya, masih dengan handphone di tanganku.


"Ada siapa di rumah" tanya Fadhel


Aku memperlihatkan Ingga, Ingga terlihat tak suka pada Fadhel, ah ntahlah, Ingga dan Arga memang memiliki kesamaan dalam hal itu, tidak suka pada sesuatu yang aku tak tahu.


"Siapa?" Tanya Fadhel


"Ingga, guru gue" ucapku


"Oh" ucapnya


Aku mengangguk, lalu Ingga mendekat dan menyodorkan masker padaku, ah aku hampir saja melupakan masker. Aku memakainya.


"Udah dulu ya, gue mau belajar dulu, bye"


"Bye, ati-ati" ucapnya


Aku tersenyum, ah rasanya benar-benar bahagia. Demi apapun aku benar-benar mencintai nya, aku dan Ingga segera pergi. Ingga menarikku agak sedikit kasar. Dia kenapa? Ah masa bodo, toh emang semua cowok itu kasar.


Aku belajar sesuai arahan Ingga, Ingga begitu sabar mengajarkan ku, padahal tadi pagi dia terlihat kasar. Dan Yeay akhirnya aku lancar memakai motor. Ingga tersenyum dan mengacak rambutku, kesal sekali, kenapa banyak laki-laki suka mengacak rambut perempuan.


"Ish" kesalku


"Ya udah sekarang kita mau kemana?" Tanya Ingga

__ADS_1


"Kita ke dealer motor aja" ucapku


"Emang mau langsung beli?" Tanya Ingga


Aku mengangguk, yah aku ingin beli motor. Kurasa seorang seperti ku memerlukan motor. Agar aku tak terlalu manja.


"Kenapa? Lo gak mau di bonceng lagi sama Arga?" Ledek Ingga


"Gak gitu, kan kalau Arga gak ada masa gue harus naik angkot Mulu" ucapku


"Oh" jawabnya lalu mengajakku pergi, aku memboncengnya.


"Tapi tetep Lo harus banyak latihan" ucap Ingga


Aku mengangguk tanda mengerti. Sampai akhirnya kami sampai di dealer motor, Ingga membantuku memilih motor, Sampai kemudian aku terpikat pada satu motor berwarna abu-abu.


Aku memilihnya, Ingga tersenyum padaku. Harga motor itu ternyata seharga 35 juta lebih, karena aku masih ada simpanan uang di ATM akhirnya aku memakai ATM itu.


Setelah selesai, kami akhirnya pulang, motor akan sampai sore ini. Dan besok Ingga akan mengajakmu untuk membuat SIM.


"Seneng?" Tanya Ingga


Aku mengangguk, kemudian aku membuka handphone ku, banyaknya pesan dari Aldi, Fadhel, Arga, dan Gilang.


Aku segera membaca satu persatu pesan itu, Ingga terlihat sedang mengambil motornya. Aku kemudian menaiki motornya dan kami pulang. Biarlah pesan dari mereka aku baca lebih detail saat di rumah nanti.


***


"Gimana?" Tanya Arga


"Iyah nanti gue ke belakang sekolah, selesai piket tapinya" ucapku


Arga tersenyum lalu mengacak rambutku, aku kesal padanya. Selalu saja mengacak rambut ku, padahal usaha ku merapikan rambut ku ini kan sangat sulit.


"Ya udah gue ke belakang sekolah, ntar lu nyusul ya, jangan lupa-" ucap Arga


"Iyah"


"Apa?" Tanyanya


"Gue ke belakang sekolah" ucapku


"Salah! Jangan lupa move on" lalu Arga tertawa


Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa move on? Satu jam chat an dengan Fadhel saja sudah mampu membuatku tak berpaling satu tahun, apalagi sudah dua hari ini, rasanya aku tak akan mungkin move on dari Fadhel dengan cepat apalagi Fadhel dan aku sudah video call an


"Ia!" Baru saja aku masuk ke dalam kelas, karena ada yang memanggil ku, aku pun akhirnya melihat ke belakang. Gilang! Ada apa lagi dengannya?


"Apa kabar?" Tanyanya


Aku meliriknya sekilas lalu aku kembali memasuki kelas dan mengambil sebuah sapu. Aku mulai menyapu. Gilang masih berdiri dan bersender di ambang pintu.


"Indah! Sayang ku! Cinta ku!" Amel masuk dan berteriak dengan suara cempreng nya dan juga nada alaynya

__ADS_1


"Lagi ngapain?" Tanya Amel


"Berhubung gue anak baik, gue bantu deh, pake doa" ucapnya lagi


Aku mengerlingkan mataku kesal, lalu Amel menghapus papan tulis. Sampai kemudian ku lihat Amel mendekati Gilang.


"Calon Abang OSIS ngapain disini?" Tanya Amel


"Lagi nungguin calon bini" ucap Gilang membuatku melihat tajam padanya


"Ia?" Tanya Amel "ia mah punyanya babang Arga, gak boleh ada yang ambil" ucap Amel


"Baka!" Ucap Gilang mendekat ke arahku yang tengah mengalihkan debu ke pengki.


"Kenapa?" Tanya Gilang, aku tak mau mendengar nya "kenapa!" Kini Gilang mulai kesal "KENAPA" bentak Gilang


Aku terperanjat kaget dan menatapnya tajam, dia menatapku dengan tatapan tajam pula. Kenapa aku harus menemukan lelaki seperti nya? Dia benar-benar membuatku kesal.


"Indah, gue capek Lo diemin, sekarang Lo bilang ke gue, apa salah gue? Kenapa Lo milih Arga?" Tanya Gilang


"Karena Arga gak pernah mengingkari janjinya ke gue" ucapku penuh dengan tekanan "gue gak ada waktu buat sampah kaya Lo, gue duluan" ucapku lalu pergi meninggalkan Gilang


***


Baru saja aku hendak menuju koridor, aku menabrak sesuatu. Aku melihat ke atas. Arga! Bukankah dia menunggu di belakang sekolah? Lalu kenapa saat ini ia ada di sini. Arga memelukku erat. Aku tak tahu dia kenapa, tapi aku dapat merasakan jantungnya berdegup kencang.


Aku melepaskan pelukan Arga dan menatapnya tajam. Arga menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di pahami.


"Lo gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Arga


"Emang gue kenapa?" Tanyaku


"Katanya Gilang nyamperin Lo, Lo gak di apa-apa in kan?" Tanyanya


"Siapa yang ngasih tau-" ucapanku terhenti, aku tau pasti Amel yang bilang hal itu.


Tiba-tiba seseorang menarikku dan merangkul ku, astaga! Tanganku sakit. Arga menatap orang itu tajam, aku melihat ke sampingku. Gilang! Hufft, ada apa dengan mereka? Kesal sekali


"Ngapain?" Tanyaku melepaskan rangkulannya


"Jangan pernah Lo nyentuh indah" ancam Arga menarik kerah baju Gilang


Gilang balas menarik kerah baju Arga, mereka saling menarik dengan pandangan yang membuat siapapun akan takut melihatnya.


"Lo juga jangan pernah deketin indah, dia cewek gue"


"Dia cewek gue" elak Arga


Karena kesal, Gilang akhirnya melayangkan bogemnya ke pelipis wajah Arga, Arga yang mendapat serangan segera membalas nya dengan tendangan.


"Kalian apa-apa an sih? Kayak bocil tau gak?" Kesalku


Kini semua orang sudah berkumpul, Gilang tak menyambut ucapanku dengan baik, ia kembali menyerang Arga. Arga yang mendapat serangan akhirnya segera menyerang balik, sampai pada puncak nya, Gilang akan melayangkan Bogeman aku menahan tangannya

__ADS_1


__ADS_2