
Baru saja aku keluar dari kelas, Tiba-tiba seseorang membekap mulut ku, aku melihat sekejap ke belakang, namun kesadaran sudah terlanjur hilang.
***
Ah kepalaku rasanya sakit, aku mendudukkan tubuhku, dimana ini, ah ternyata di rumah ku, apa aku tertidur, tapi, kenapa kepala ku sakit.
"Udah bangun?" Tanya seseorang
Aku melihat ke arah suara itu, Arga, dia juga ternyata ada di sini. Tapi kenapa tiba-tiba aku ada di sini? Padahal sebelumnya- ah aku ingat, tadi aku di bekap sama seseorang. Tapi masa Arga.
"Lo tadi hampir aja di culik, untung ada awan sama Aldi yang nolongin" ucap Arga
"Nih minum dulu" ucap Arga menyodorkan air minum
Aku segera meminumnya, Arga lalu duduk di samping ku. Dia mengusap bahuku pelan. Arga tersenyum padaku. Aku merasa sedikit tenang saat ini.
"Lain kali hati-hati, kalau mau keluar kelas harus sama temen, untung aja tadi ada awan sama Aldi, coba kalau gak ada, bisa mati berdiri gue" ucap Arga
"Lebay" jawabku
"Ngomong-ngomong Lo liat gak siapa yang mau ngulik Lo?" Tanya Arga
"Gak tau"
"Awan sama Aldi bilang katanya penculiknya pake masker dan jaket item, mereka juga kabur pas ketahuan" Arga mengingat "Lo punya musuh?" Tanya Arga
Aku menggeleng, rasanya aku aman-aman saja, lagipun aku baru di Jakarta, mana ada musuh. Arga kemudian mendekapku dan aku merasakan jantungnya berdegup kencang sekali. Dan tes! Air mata Arga turun ke dahiku. Kenapa Arga menangis. Ini untuk kesekian kalinya aku melihat laki-laki menangis. Dulu Gilang, sekarang Arga.
"Kenapa?" Tanyaku
"Nanti lagi jangan keluar kelas sebelum gue jemput oke, pokoknya gue gak mau Lo di culik lagi, biar urusan ini jadi urusan gue, gue bakalan cari tahu siapa yang nyulik Lo" ucap Arga
"Lo kenapa nangis?" Tanyaku
Arga semakin mengeratkan pelukannya. Ada apa? Kenapa Arga menangis. Aku merasakan begitu besar kekhawatiran Arga. Apakah aku berharga di hidupnya? Tapi kan aku baru mengenalnya beberapa bulan ini.
"Gue sayang sama Lo ndah"
Aku terdiam "gue juga sayang sama Lo ga, Lo sosok Abang yang perhatian" ucapku
Arga melepas pelukannya, salahkah ucapanku. Arga tersenyum lalu menyeka air matanya. Dia cengeng. Haha, geng belakang sekolah ternyata begitu cengeng.
"Ga, besok belajar sepeda yuk" ucapku
"Ayok" ucap Arga
"Eh mau ntar malem aja deh, gue kemarin liat tempat bagus buat belajar sepeda"
"Gak boleh, Lo baru sadar dari pingsan, emang Lo gak capek?" Tanya Arga
"Gak! Gue gak capek" ucap ku
"Ndah nurut ya, Lo gak boleh terlalu banyak gerak"
"Arga.... Gue tuh pengen belajar, lagipun kan sama Lo" ucapku
"Ya udah" dan akhirnya aku menang.
Aku memakan makanan dari Arga, lalu aku juga berbincang dengan Arga, membersihkan diri dan kemudian bersiap hendak bermain sepeda.
__ADS_1
Aku ingin cepat-cepat bisa motor, dan cepat-cepat membuat SIM. Lagipula aku bisa memakai KTP kak ayu buat bikin SIM, kan wajahku dan kak ayu mirip.
Ini kakak ku saat di London
Ini aku
Ini foto kami saat kak ayu masih di Indonesia
***
Pagi ini Arga sudah sampai di depan rumahku. Aku segera menghampiri nya, Arga langsung merangkul ku. Aku tak mau pergi dengannya.
"Liat, gue dah di siapin sepeda sama bang Marshal, sepeda baru" sombongku
"Lo mau pergi pake sepeda"
Aku mengangguk. Arga tersenyum padaku lalu menggeleng, dia mengapit leherku dan menggiringku ke motornya.
"Gak boleh, main sepedanya nanti aja" ucapnya
Aku hanya mengangguk lalu mengikuti nya menaiki motor. Arga kemudian melajukan motornya, Arga tersenyum padaku lewat spion, dan aku membalasnya dengan cubitan
"Jangan liatin gue, nanti nabrak, fokus aja ke depan" ucapku
Arga terkekeh sampai akhirnya kami sampai di sekolah, Amel dan Risa menghampiri ku, ah tidak ada seorang cewek juga yang menghampiri ku. Tapi dia, dia cewek itu. Cewek Gilang.
Aku menarik Arga Untuk menjauhi mereka, tepatnya menjauhi wanita itu. Arga tersenyum pada cewek itu. Karena kesal akhirnya aku melepaskan tangan Arga. Arga menyusulku dan kembali menarik tanganku agar bersangkutan lagi.
"Kenapa?" Tanya Arga
"Gak papa" jawabku
***
Amel menghampiri ku, aku enggan bertanya padanya mengenai wanita tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai headset bluetooth dan menyembunyikan dengan rambutku. Aku mendengarkan music.
"Baiklah anak-anak hari ini kita bakalan belajar mengenai - "
Pelajaran pun dimulai. Aku masih mendengarkan musik. Musik yang berawal dari sebuah kesalahpahaman antara aku dan Fadhel. Musik yang selalu membuat aku terkenang betapa bodohnya aku ini. Yah, sungguh memalukan.
Flashback
Saat itu aku baru selesai belajar dan aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat sampai kemudian seseorang memanggilku, aku melihat kepadanya. Melvi.
"Indah" aku menunggunya di dekat pintu "ini buat kamu dari Fadhel" ucap melvi memberikan ku sebuah kertas
Aku senang, tentu saja. Namun karena itu bahasa Inggris, aku jadi kurang paham, padahal itu adalah lagu. Aku mentranslate lagu itu, sampai kemudian aku bertemu Fadhel. Jujur aku malu.
"Kenapa?" Tanya Fadhel
"Gak papa" jawabku "makasih kertas nya" ucapku
"Kertas?" Tanya Fadhel bingung
__ADS_1
Aku menunjukan kertas dari Fadhel itu. Dan Fadhel tersenyum mengejek. Ah bodohnya aku! Bagaimana mungkin aku tak tahu jika itu adalah sebuah lagu.
"Itu lagu, on my way" ucap Fadhel
"Jhahaha" Wahyu menertawakan aku
Aku kesal, ternyata semua ini bohong, aku melemparkan kertas itu tepat di wajah Fadhel lalu pergi ke kamar ku. Ah rasanya begitu bodoh.
"Kenapa?" Tanya Fadhel ketika kami sudah ada di dalam kelas
"Menurut El" ucapku kesal
"Ya maaf, lagian kamu tuh polos banget, itu lagu, liat di bawahnya aku nulis alan Walker, makannya kalau ada apa-apa tuh tanya langsung"
Aku mendengus kesal, benar-benar menyebalkan "dasar kurus" lirihku kesal
"Kamu gendut" dia meledekku
Aku semakin marah, ah dulu, begitu bodoh dan lebaynya aku. Seandainya aku mengingat itu, aku malah malu sendiri.
Flashback end
***
Aku dan Arga kini tengah belajar menaiki sepeda. Arga mengajariku dengan teliti. Menuntunku dan memberikan arahan-arahan. Sesekali aku hendak jatuh, namun selalu Arga tangkap.
"Lagi, Lo jangan kaku, lepasin aja" ucap Arga
Aku mencobanya lagi dan hendak menabrak sebuah benteng besar, untungnya sepedaku keburu di tahan oleh Arga. Ah, lagi-lagi gagal.
"Ayo coba lagi" ucap Arga
Aku mengangguk lalu mulai mencoba lagi. Sampai pada akhirnya
"Terus-terus- iya udah bener" Arga menyemangatiku "ya udah bisa" ucap Arga senang.
Bermain sepeda, harus bisa melepaskan dan keseimbangan. Benar-benar menguras energi. Setelah selesai itu, Arga pergi untuk membeli jus dan air mineral. Sedangkan aku? Aku kini melanjutkan dengan berlatih beladiri seorang diri. Ya, aku kini tengah sangat bersemangat.
Prok! Prok! Prok! Prok! Suara tepukan tangan, aku menatap ke sumber suara. Seorang bapak-bapak. Dia tiba-tiba menyerangku. Ah aku langsung melakukan tangkisan untuk menghalangi serangannya. Sampai kemudian aku menyerang bapak-bapak itu. Dan keadaan berbalik. Kini aku yang memimpin. Sampai akhirnya, aku kalah karena kurang konsentrasi.
"Lebih teliti lagi untuk membaca serangan musuh, jangan lengah, dan perkuat serangan atau pertahanan" ucapnya
Aku mengangguk dan memberi hormat. Kemudian laki-laki itu, dia pergi. Aku kembali berlatih silat. Ucapan bapak-bapak tadi teringat jelas di pikiranku. Aku harus berusaha lebih kuat lagi. Aku mengambil sebuah batu bata dan meletakkannya di antara dua batu. Dan dug! Aku memukulnya hingga terbelah, ku ambil dua batu bata dan memukulnya lagi, sampai kemudian batu bata ke tiga, tiba-tiba ada yang mengagetkan ku.
"Arga!" Pekikku karena aku telah memukul bahu kanannya.
"Untung aja gak jatoh" ucap Arga
Aku tersenyum kikuk, Arga mengelus bahunya. Aku meminta maaf pada Arga. Yah, aku salah. Jadi aku pula yang harus meminta maaf.
"Arga!" Ucapku, Arga melihat ke arahku "kalau gue ikutan karate gimana?" Tanyaku
"Terserah Lo"ucapnya sampai kemudian "bentar" Arga menarik tanganku dan melihat tanganku yang merah-merah
"Kenapa?" Tanya Arga
"Abis latihan beladiri" ucapku
Arga mendelik kesal, namun tangannya mengelus-elus tanganku. Dia berusaha mengobati tanganku.
__ADS_1
"Gak papa kok, dah biasa" ucapku
Arga kemudian mengangguk dan kita berbincang-bincang hingga hampir malam, barulah kami pulang. Besok aku akan belajar motor dengan orang di pelatihan motor.