
Karena aku gabut akhirnya aku memutuskan untuk keluar, aku memakai celana Levis pendek yang waktu itu membelinya dengan Gilang, lalu aku memakai kaus biru pendek dan juga sweater wonder egg priority, aku juga mengikat rambutku, dan jangan lupa sepatu biru putihku. Aku ingin jalan-jalan. Tak lupa pesan ibu, aku memakai masker dan menggunakan hand sanitizer, aku pun keluar meninggalkan kamar yang kini sudah seperti kapal pecah, tak apa, bang Marshal tak pernah memarahi ku karena kamarnya juga sama sama berantakan.
Jika Gilang melihat penampilan ku saat ini ia pasti akan marah, dia paling tidak suka jika aku memakai celana pendek, dia juga tak suka jika aku memakai baju pendek. Yah, Gilang ku memang posesif.
Aku mengambil skateboard ku, lalu aku mulai menaikinya, entahlah semoga aku tidak tersesat. Kota Jakarta sangat padat, aku bisa melihat jalanan yang sering macet, orang yang berjalan kaki berlalu lalang, penjual yang sering bilang "cangcimen", bahkan aku melihat yang sedang mencopet, apa? Oh tidak, ku lajukan skateboard ku dengan kecepatan tinggi, ibu-ibu yang kecopetan hanya bisa berteriak. Aku masih mengejarnya, itu copet apa splash? Cepet amat larinya. Dan set! Duk! Aku meraih tangannya si pencopet itu namun aku justru terbentur pagar, aku segera menarik copet itu dan mendorong nya ke pagar, sakit! Jidatku sakit. Pencopet itu hendak memukul ku namun aku segera menghindar, ku ambil tanganya lalu dia meninjuku dengan satu tangannya, mengenai dadaku, dan benar saja, penyakit ku kambuh, ah, beginilah kalau memliki jantung seperti ku. Sakit, dadaku sakit, namun hey, aku segera mencekal lengan nya dan memutar nya ke belakang. Aku meraih dompet si ibu, lalu aku melepaskan dia
"Awas lu" ancamnya
Aku hanya tersenyum, sakit di dadaku masih terasa, namun dompet ini harus ku kembalikan, aku mengendarai skateboard dan menuju si ibu
"Lain kali hati-hati ya Bu" ucapku ramah
"Makasih ya neng" aku hanya tersenyum menanggapi
Aku segera mencari warung atau semacamnya, namun langkahku terhenti, aku menjatuhkan skateboard ku dan terduduk di depan sebuah ruko. Nafasku sesak, dadaku sakit dan jantung ku berdegup kencang, aku segera merogoh saku dan mencari obatku, aku segera mengeluarkan nya, namun pandanganku blur
"Lo kenapa?"
"Air" jawabku singkat
Dia! Gilang! Ah tidak ini hanya halusinasi ku saja, namun wajahnya seperti Gilang, dia benar Gilang, tapi, kenapa wajahnya berubah, dia siapa? Dia meminumkan air padaku, aku meneguk obat ku dan air itu dalam satu tegukan.
"Lo gak papa?" Tanyanya
Perlahan aku mulai kembali normal, ah dia, kuharap dia benar gilang, namun saat aku melihatnya, dia bukanlah Gilang ku, dia orang lain.
"Thanks" ucapku lalu aku mencoba berdiri
"Bentar, Lo masih belum stabil" dia menarikku
Aku kembali terduduk, dia tersenyum padaku, aku segera mengambil sapu tangan di sakuku, aku melap keringat dingin ku tadi. Ah malunya aku, tak pernah aku memperlihatkan kelemahan ku kepada orang lain, tapi di depannya, justru aku memperlihatkan kelemahan Ku.
"Gue hutang nyawa sama Lo, thanks" ucapku
"Hm" "eh ngomong-ngomong tadi Lo keren, lawan copet itu sendiri, untuk ukuran cewek jarang ada yang kaya Lo"
Aku hanya meliriknya sekilas, apakah dia melihat kejadian tadi? Apakah dia seorang penguntit? Ah tidak mungkin.
"Gue Arga, inget? Gue yang tadi chat Lo"
Duar! Ternyata dia yang bernama Arga, kenapa mengingat kan ku pada Gilang. Tapi kenapa dia bisa mengenalku, padahal PP ku kan gambar tengkorak
"Gue kira Lo cantik kena efek, ternyata aslinya lebih cantik, gue punya foto lu dari syahlul"
"Oh, em, gimana kalau gue traktir Lo?" Tanyaku "buat rasa terima kasih gue"
"Boleh, mau dimana? Gue tau tempat enak tapi murah, ayo" dia menarikku
Aku mengikutinya dengan menenteng sebuah skateboard. Dan langkah kami terhenti saat di depan sebuah restoran bergaya klasik.
__ADS_1
Kami makan di sana, untungnya aku tak lupa dompet ku, kami memesan makanan sesuai selera, Arga memesan ayam teriyaki dan aku memesan sebuah ayam richeese pedas, minumnya aku jus strawberry dan Arga jus alpukat, plus air putih.
Saat pesanan datang, kami segera melahapnya, kebiasaan ku yang tak pernah hilang, tampil apa adanya di hadapan siapapun. Dan ya, Arga melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum tipis, lalu Arga menyentuh pipiku.
"Kalau makan tuh jangan belepotan, kaya anak kecil aja"
Ah, rasanya seperti Dejavu, Gilang, dia juga melakukan hal yang sama ketika aku makan es krim dengannya.
"Kalau makan tuh jangan suka kemana-mana, liat nanti Lo di sukain semut kan gue nambah saingan" ucapan Gilang itu terlintas di pikiran ku hingga aku kemudian tersadar dengan panggilan dari Arga
"Indah!" Aku terperanjat lalu melirik Arga dengan tatapan bertanya "habisin makanan Lo, gak usah di pikirin yang lainnya mah, kali lupa bawa dompet biar gue yang bayar"
"Eh, sorry, gak kok, ini tadi gue-" gugupku
"Ya udah biar gue yang bayar, lagian definisi makan sama cewek tuh harus cowok yang keluar"
"Gak lah, cewek juga boleh sesekali keluar duit, gak selamanya harus cowok, gue bukan cewek matre ya"
"Ya udah sana bayar, ati-ati di serempet Abang genit" godanya
Aku hanya tersenyum tipis, kenapa? Lagi-lagi Gilang, sudah dua bulan, namun aku masih belum bisa melupakan kekonyolan dia.
"Untuk meja ini berapa mbak?" Tanyaku
"Oh, 97.600 dek" jawabnya
Apakah aku sekecil itu? Padahal tinggiku sudah 154 cm loh. Ah sudahlah, aku segera memberikan uang kepada kasir dan setelah itu kembali ke meja.
"Hm" jawabku
"Eh Iyah, gue tau tempat bagus loh di Jakarta, mau ikut gak?"
Aku melirik sekilas untuk kemudian menggeleng, aku sedang tidak mood bepergian, aku ingin pulang.
"Thank bantuannya, dan maaf gue harus pergi" aku menutupi kepalaku dengan kupluk sweater, lalu aku mulai pergi dengan skateboard ku.
***
Aku menatap sebuah sekolah dan warung di depan sekolah itu. Aku kembali teringat awal perkenalan ku dengan Gilang. Dimana Gilang mulai sok kenal padaku, dia menyapaku yang bahkan tak mau membalas sapaan nya, saat itu aku tinggalkan Gilang karena kak Daffa yang sudah menunggu ku.
"Anak IPS kan? Kenalin Gilang, IPS 1" dia mengulurkan tangannya
Aku hanya meliriknya sekilas
"Nama Lo indah kan? Masa gak tau sama gue, gue kan km di kelas Lo"
"Gue ia bukan indah" jawabku lalu bergegas pergi dari warung itu, karena kulihat kak Daffa tengah menungguku
Jangan lupakan jika aku membenci namaku sendiri, ya dulu sebelum Gilang hadir, aku sangat membenci namaku, namaku hanyalah sebuah kebohongan. Namaku indah namun hidupku tak seindah namaku.
__ADS_1
Aku melihat lagi dimana warung itu terbuka dan ada beberapa siswa yang tengah berada di sana, mereka memakai baju bebas, namun aku tahu jika mereka adalah siswa sekolah itu, karena ukuran tubuh mereka dan juga ke akraban mereka.
"Katanya mau pulang, tapi malah liatin anak-anak di sana" seseorang berbicara
Arga! Apakah dia benar-benar seorang penguntit? Astaga, benar-benar menyebalkan. Aku meliriknya sekilas untuk kemudian berlalu lagi dengan menenteng skateboard ku.
"Kenapa?" Tanya Arga "rumah Lo dimana?" Tanya Arga lagi
Aku tak menjawabnya, namun stop it, aku melihat seseorang, lelaki yang ku kenal, dengan seorang gadis di sampingnya. Ya dia Gilang, walaupun dia memakai masker namun aku tahu itu Gilang, masker itu, masker yang di pakai saat kita pergi ke mall pertama kali, masker couple. Namun siapa gadis yang merangkul tangannya? Kenapa Gilang tak menolak. Angkot yang dinaiki Gilang mulai melaju, aku tersadar dan hendak mengejar namun seseorang menarik tanganku.
"Awas!" Ya Arga menarik tanganku
"Kalau jalan tuh liat-liat" seorang pengendara motor memarahiku lalu melaju pergi
"Hampir aja Lo ketabrak"
Lagi! Lagi dan lagi Arga menyelamatkan ku, dan aku kehilangan jejak Gilang, sakit, itulah yang saat ini ku rasakan
***
Aku masuk ke dalam kamarku, aku melepas sweater ku dan kemudian menghempaskan tubuhku kasar ke atas kasur. Aku menutup wajahku dengan bantal, berusaha Agar aku tak menangis.
Kenapa Gilang? Kenapa dia harus ku temukan saat seperti tadi? Siapa gadis itu? Apakah dia baik untuk Gilang? Apakah Gilang mencintai nya? Ntahlah, rasanya aku benar-benar sudah di lupakan, sosok kakak dalam diri Gilang mulai menjauh dari pandangan. Kini hanya bang Marshal yang aku punya.
"Abang pulang" bang Marshal berteriak
Aku segera bangkit dari ranjang ku, melihat wajahku hanya untuk menetralisir keadaan, lalu aku pergi menemui sang Abang.
"Mana?" Tanyaku
"Oleh-oleh? " Tanyanya lalu menyodorkan sebuah kotak
Aku membukanya lalu tersenyum, sebuah jam tangan hitam, kenapa tak membawa makanan saja? Tumben sekali.
Aku merasakan kepalaku sakit, namun aku segera menahan rasa sakit itu, nafasku kembali sesak, namun aku tau ini bukanlah dari jantung ku, ini depresi ku, depresi ringan.
"Lu kenapa dah?" Tanya bang Marshal
"Gak papa bang" jawabku
"Kita ke rumah sakit" ajaknya
"Gak usah bang, cuman kecapekan doang" ucapku
Gawat kalau harus ke rumah sakit, semua penyakit ku pasti terbongkar, aku tak mah hal itu terjadi, dimana obat anti depresi ku? Ah aku segera masuk ke dalam kamar meninggalkan bang Marshal, aku ingin segera meminum obat itu.
"Dek, lh gak papa?"
"Gak papa bang" jawabku tetap bersikap untuk santai
__ADS_1
Aku segera mencari obat itu yang pada akhirnya ku temukan di bawah ranjang. Aku benar-benar takut obat ini terlihat oleh bang Marshal.