Broken Heart

Broken Heart
63


__ADS_3

Kami sudah sampai di London, kami langsung menuju ke rumah sakit tempat kak ayu kecelakaan. Aku menangis melihat kak ayu terbarin lemah dengan banyaknya selang di tubuhnya. Apakah kak ayu akan pergi juga? Sama seperti papa yang meninggalkan kami?


"Tenang princess, kak Cassie gak akan kenapa-napa" ucap bang Darren


Mendengar hal itu aku menjadi kesal "dia kak ayu bukan Cassie" kesalku


Dokter keluar, dokter berbicara dengan bang Marshal, aku kurang paham bahasa Inggris, namun kemudian bang Marshal menangis. Dan aku tahu maksudnya. Bang Darren memelukku.


"Tenang dek" bang Marshal menenangkanku yang ada di pelukan bang Darren


Aku segera masuk, melihat semua selang sudah terlepas, wajah kak ayu begitu pucat. Mana mama? Mama kemana? Apa tak sepeduli itu mama sama anaknya sendiri?


"Mama mana bang?" Tanyaku pada bang Marshal


Bang Marshal terdiam, apa yang mama lakuin? Kenapa mama gak ke sini? Akhirnya bang Marshal tak menjawab.


"Besok jenazah Cassie kita bawa ke Indonesia" ucap bang Darren


Aku mengangguk "Iyah, sekarang kita kemana?" Tanyaku


"Kita pulang ke rumah gue" ucap bang Darren dan bang Marshal bersamaan


"Di London gak aman, kita ke rumah gue biar aman" ucap bang Darren


"Ok" akhirnya kami pulang ke rumah bang Darren yang lumayan besar, namun lebih besar yang di Indonesia.


***


Pagi ini aku bangun sangat subuh, aku mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Aku juga membaca Alquran berdoa supaya keluargaku tenang di alam sana. Kata kak Darren mama Fani juga sudah meninggal.


Walaupun aku tak tahu wajah mama Fani, namun aku percaya kalau mama Fani pasti orang yang baik. Dia menjaga bang Darren sendirian sejak bang Darren kecil.


"Dek" suara seseorang menghentikan bacaan Qur'an ku


"Shadaqallahhuladzim"

__ADS_1


Aku melipat mukena dan menyimpan Al-Qur'an yang entah milik siapa. Aku mendekati bang Marshal yang ada di pintu. Bang Marshal memelukku erat.


"Dek, kamu lagi apa?" Tanyanya


"Abis baca Qur'an bang, doain papa sama kak ayu, terus mau mandi" ucapku


Mataku masih sembab, bang Marshal kembali memelukku. Aku merasakan betapa terpukulnya abangku yang satu ini.


"Kenapa bang?" Tanyaku


"Pokoknya apapun yang terjadi kamu tetep adek Abang, apapun yang terjadi" tegasnya tapi masih dengan nada lemah lembut


"Iyah bang" ucapku


Lalu bang Marshal melepas pelukannya. Bang Marshal menangis. Aku kemudian tersenyum, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah selesai berbincang-bincang aku segera mandi dan memakai pakaian ku. Pakaian yang tak ada ubahnya, masih sama seperti laki-laki.


"Pagi princess, sarapan dulu yuk, udah ini kan kita balik ke Indonesia" sapa bang Darren, matanya terlihat sembab, namun dia tak terlihat bersedih. Apa dia sedang menyembunyikan perasaan nya.


Aku hanya membalas dengan senyuman saja, bang Darren pada bang Marshal. Kami sarapan, ini pertama kalinya aku sarapan dengan kakak kandung ku sendiri.


Aku mengangguk setuju. Bang Marshal juga. Bayangan-bayangan indah tentang kak ayu melintas di pikiranku. Nasi goreng di hadapanku belum habis, tapi aku sudah tak nafsu. Kak ayu, kenapa kakak harus pergi? Kenapa gak indah aja? Aku melamun


"Princess?" Tanya bang Darren "kenapa? Gak enak ya? Kalau gak enak Abang suruh bikin yang lain" ucap bang Darren


"Gak kok bang, aku cuma gak laper"


Setelah selesai sarapan kami benar-benar pergi, kak ayu akan segera di kebumikan. Sedih sekali. Rasanya baru kemarin aku dan kak ayu bermain walaupun aku terpaksa mengikuti permainan Barbie nya.


***


Baru saja selesai kami dari pemakaman kak ayu, kini aku tengah pulang ke rumah mamah. Pernikahan mama di undur menjadi 2 Minggu lagi. Tapi untuk pulang ke Jakarta rasanya waktu juga tak akan cukup. Kak Darren ikut ke sini. Dia mengaku sebagai teman bang Marshal.


"Maaf mah, Marshal gak bisa jaga ayu"


Mama masih menangis. Meskipun mama bukan yang melahirkan aku dan kak Cassie tapi aku yakin kalau mama pasti menyayangi kita berdua.

__ADS_1


"Anak-anak, om turut berduka cita" seseorang itu berbicara


Aku dan bang Marshal melirik, deg!!! Brengsek! Dia, Dia adalah laki-laki yang saat itu menabrak papa hingga papa kecelakaan. Saat aku masih duduk di kelas 4 SD. Aku ingat dia. Walaupun papa hanya luka di bagian kepala dan tak terlalu parah, tapi dia gak bertanggung jawab.


Aku mendekat lalu brugh, satu Bogeman melayang ke pipinya. Aku sudah hilang kesabaran. Sedari dulu aku tak menyukai orang ini. Dulu aku masih terlalu lemah dalam hal beladiri, tapi sekarang izinkan aku mengantarkan nyawanya menyusul papa dan kak ayu.


"Gue tahu Lo yang nabrak papa waktu dulu kan? Ngaku Lo! Brengsek" saat aku hendak melayangkan Bogeman lagi mama menahanku dengan menampar pipiku.


"Dia calon suami mama, kamu kalau sedih lampiasin sama diri kamu sendiri, jangan pernah nuduh hal yang gak terjadi sama sekali" bentak mama


"Ada hak apa anda berteriak pada adik saya? Hanya selingkuhan saja kok bangga" bang Darren turun dan meledek mama


"Maksudmu apa? Kamu juga kalau gak tahu apa-apa mending diam" kesal mama


"Udah berhenti, indah kita pulang ke Jakarta sekarang" ajak bang Marshal


Aku mengangguk, tapi saat kita ada di luar rumah, kulihat orang yang aku rindukan bersama anak kecil di pangkuannya. Bang Darren menatap waspada padanya. Bang Marshal membiarkan.


"Kak indah, Wawa kangen, kak indah nginep ya" pinta Wawa


Aku melihat ke arah Aldi, jelas terlihat kerinduan di matanya. Tiba-tiba grep! Aldi memelukku erat. Kurasakan aku juga merindukannya. Dia Aldi, sahabatku. Baru saja sebentar kami berpelukan, bang Darren sudah memisahkan kami.


"Gak boleh ada yang meluk princess kecuali abang-abang nya" kini bang Darren bahkan lebih posesif.


Aku menghela nafas, Aldi seolah bertanya dengan matanya. Bang Darren paham kode itu dan menatap Aldi dengan tajam.


"Dia adik gue, Angie" ucap bang Darren


"Ndah" panggil Aldi


"Bang, nginep tempat Aldi dulu yuk, Angie kangen sama Wawa" pinta ku


"Ya udah" pasrah bang Darren


Bang Marshal juga mengangguk, aku senang sekali. Akhirnya kami pergi ke rumah Aldi. Kami tinggal di sana dalam satu malam. Aku tidur dengan Wawa dan bang Marshal juga bang Darren tidur berdua.

__ADS_1


__ADS_2