
Gilang POV
Gue baru aja nelpon indah, tapi ternyata indah memang sedang main, dia sedang bermain dalam kehidupan nya sendiri. Gue mencoba melacak hp nya, tapi gue gak bisa, terpaksa gue harus gunain keahlian hacker gue buat ngeretas cctv Deket halte, karena gue yakin indah pasti pergi naik angkot.
Loading nya lama banget, sampe gue jamuran nunggunya. Dan tet akhirnya loadingnya selesai, berbagai informasi dan video bisa gue liat. Gue mencari di saat-saat indah pergi, cukup sulit karena pada kenyataannya rata-rata yang datang ke halte itu cewek walaupun kebanyakan tante-tante atau mungkin anak kuliahan. Sampai kemudian gue liat seseorang yang bawa sebuah skateboard, dia ngeluarin hp nya, gue memperbesar saat-saat itu, dan benar, itu indah gue. Kemana dia? Kenapa bawa tas besar sama skateboard?
"Indah" gumam gue ketika ngeliat indah pergi dengan angkot yang tujuannya untuk sampai area sekolah
"Gue harus retas cctv di daerah ke sekolah, cctv di Alfamart" ucap ku mendapatkan ide
Gue kembali harus berjuang lagi, sampai akhir nya semua terbongkar, indah pergi ke sebuah kost Deket alfamart dan Deket sekolah. Siapa yang tinggal di sana? Sodara kah? Temen kah? Sahabat kah? Pacar kah? Ah enggak indah gue gak punya pacar, apa dia tinggal sendiri? Gak boleh, nanti siapa yang ngurus dia, indah gue harus balek ke rumah nya.
"Hallo" gue nelpon seseorang
'Ada apaan lagi sih?' tanyanya
"Pastiin cewek gue ada di kost yang gue kirim ke lo"
'Elah si bucin, Iyah gue ke sini, jangan lupa bayarannya, harus setimpal'
"Iya"
Yah dia adalah orang suruhan gue ketika gue lagi butuh sesuatu, tapi ya itu, dia matre, dia selalu minta duit. Katanya segalanya butuh uang.
Setelah gue dapet chat dari tuh bocah kalau indah beneran di sana gue langsung otw ke sana, gue gak mau indah kenapa-kenapa.
Gilang POV end
***
Saat ini tak ada yang ku lakukan selain rebahan sambil bermain game dan mendengar music, aku juga belum makan karena ya aku malas masak, lagipula di dapurku hanya ada makanan instan.
"Lagi apa ya Aldi?" Tanyaku pada diriku sendiri
Baru saja aku hendak menelpon Aldi sahabatku, kini terdengar suara pintu di ketuk, adakah tamu? Atau orang rumah mau menjemput ku? Ah itu terlalu mustahil.
Akhirnya aku berjalan dan hendak membuka pintu sampai kemudian terlihatlah seseorang yang tak aku sangka, tidak bukan hanya seorang namun dua orang. Kalian tahu mereka siapa? Mereka adalah kak Devan dan Gilang.
__ADS_1
"Pagi" sapa kak Devan
"Pagi kak, pagi Lang"
"Kenapa Lo pergi?" Kini tatapan Gilang seakan menusuk, sangat tajam
"Oh, em itu, mending omongin di dalem, ayo masuk, gak enak sama tetangga" akhirnya aku mempersilahkan keduanya masuk
Mereka berdua akhirnya masuk, ya walaupun di dekat kamarku sedikit berantakan, well apa adanya aja. Gilang menarik tanganku agar aku duduk di dekat nya, kak Devan menarik ku juga, akhirnya aku melepas keduanya aku duduk di depan keduanya. Mereka saling melempar tatapan tajam.
"Kenapa?" Tanya Gilang
"Apanya?" Tanyaku balik
"Kenapa Lo pergi dari rumah, gimana kalau ada yang jahat sama Lo?" Tanyanya
Aku terdiam, lalu aku tersenyum pada mereka berdua, aku menghela nafas panjang, darimana aku harus menjawab pertanyaan itu.
"Ada beberapa hal yang gak selamanya harus Lo tahu Lang, dan untuk jawaban pastinya gue gak bisa jelasin, itu privasi gue" jawabku kemudian "dan kak Devan ada apa ke sini?" Tanyaku
"Gue ke sini karena gue pikir Lo udah tau kalau gue juga tinggal di kost-an ini, tepatnya di atas kost-an Lo" jawabnya
"Seseneng itu?" Ledek Gilang
"Iya, emang kenapa kan kita sekarang tetangga" kak Devan menarikku
"Jangan sentuh cewek gue" Gilang sudah mengeluarkan aura membunuhnya
"Stop! Kalau mau berantem mending kalian pergi aja" ucapku
"Yaudah, ndah gue pergi aja ya, besok gue datang lagi" ucap kak Devan
"Jangan harap Lo bisa balik lagi ketemu indah" ucap Gilang
Kak Devan seperti nya acuh saja, setelah kak Devan pergi, Gilang menarik ku ke pelukannya, dia menangis. Ya Gilang menangis, hello, seorang Gilang menangis.
"Kenapa?" Tanyaku
__ADS_1
"Kalau Lo ada masalah, Lo ceritain sama gue, kalau Lo pergi kaya gini tanpa alasan gue khawatir, gue takut Lo kenapa-napa, gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri kalau Lo lecet sedikit aja"
Aku terdiam, aku tersenyum pada Gilang. Lalu melepas pelukannya. Aku menyeka air matanya, aku bisa merasakan kekhawatiran nya.
"Gue selalu fine Lang, gue strong, bahkan karena kepergian gue, kaki gue sembuh, nih liat, gue sekarang udah gak pake kursi roda, gue juga lepas perbannya, sekarang gue baik-baik aja" ucapku
"Ndah" dia menarik kakiku
Aku tersenyum padanya, lalu Gilang memeriksa kaki ku, yah walaupun masih sedikit ngilu namun aku tak lagi menghiraukannya.
"Gimana kalau parah lagi?" Tanya Gilang khawatir
"Gak papa Gilang" jawabku jengah
"Lo udah makan?" Tanya Gilang menatapku
"Ah, em" apakah aku harus jujur atau bohong? Nanti kalau jujur dia marah, kalau bohong
"Kenapa?" Tanya Gilang "pasti belum makan?" Tanyanya
"Ud-udah kok" jawabku
"Lo gak pinter bohong indah, udah sekarang Lo makan dulu" ajak Gilang, Gilang mendekati dapur dan melihat bahan makanan
"Lo setiap hari makan beginian? Udah berapa kali?" Tanya Gilang dingin
"Dari kemarin aja, kenapa emang?"
"Lo gak boleh makan itu lagi, kalau keseringan nanti Lo sakit, Lo bisa kena usus buntu kalau terus-terusan makan mie instan" ucap Gilang
"Tapi-"
"Udah gak usah di jawab, ikut gue" Gilang menarikku
Aku hanya bisa pasrah, kesal? Tentu saja. Gilang membawaku ke sebuah tempat makan, di mang bubur Deket sekolah, katanya aku harus banyak makan bubur karena takut terjadi sesuatu pada ususku
"Lo terlalu posesif Gilang" ucapku
__ADS_1
Dan Gilang membalas dengan merangkul ku. Aku tak menolak karena bagaimanapun juga aku menyukai hal itu.