
Ganti cast
Indah ayu lestari
Gilang Wijaya masih sama wkwk
Argantara Dinata, nanti datangnya wkwk, cast nya dulu
***
Beberapa hari telah berlalu dengan cepat, hari ini aku dan Gilang tengah berada di sebuah taman, dengan es krim di tanganku. Besok Gilang sudah mulai pergi ke Jakarta, sangat cepat bukan?
"Indah" panggil Gilang
Aku berbalik menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan tanya. Gilang mendekat ke arahku lalu tiba-tiba dia memelukku
"Gue pergi ndah, gue harap Lo bahagia selama gue pergi, kalau gue dapet laporan sedikit aja Lo terluka, gue akan jemput Lo buat ikut sama gue"
"Lang" ucapku terhenti aku tak kuasa menahan air mata ini "Harus ya Lo pergi? Kenapa gak nanti aja?" Akhirnya air mata ini Lolos begitu saja
"Gue gak bisa ndah, gue harus pergi, kenapa Hm? Kok cengeng? Mana Indah yang selalu mukul gue? Mana Indah yang selalu ceria? Udah jangan nangis lagi" dia mengusap air mata ku
"Lang, gue gak bercanda ish, gue gak mau Lo pergi, sekali aja biarin gue buat egois, gue dah terlalu banyak terluka sama keluarga gue, gue juga terlalu banyak terluka sama temen dan sahabat gue, cukup Lang, gue gak mau terluka lagi dengan kepergian Lo" aku menangis langsung memeluknya dia membalas pelukan ku
"Indah, Lo tau? Dulu Lo itu cengeng, gue selalu liatin Lo diam-diam, Lo itu beneran cengeng dan manja, sampe saat SD, Lo mulai berubah, jadi Indah yang cuek, dingin, galak, dan beda, waktu SMP gue kehilangan jejak Lo karena Lo yang tinggal di asrama, terus kita ketemu lagi di sekolah yang sama, kelas yang sama, dan pertemuan yang gak begitu baik, sekarang gue harus pergi, gue harap Lo jaga diri Lo baik-baik, gue gak akan pergi jauh ndah, gue bakalan tetep jagain Lo walaupun itu harus dari jauh, inget ndah, sekarang gue percayai Lo ke kak Devan, Lo harus nurut sama dia, tapi Lo jangan sampe suka sama dia, gue yang boleh Lo suka, tunggu gue balik ya, gue gak akan lama cukup 2 tahun" ucapnya "Sekarang jangan nangis lagi" dia menyeka air mataku "Jelek tau gak, seorang Indah yang selalu pake bedak bayi nangis terus ingusan, ih malu, umur dah 16 tahun masih aja kayak bocil" ledeknya
"Gilang" ucapku lagi masih berat untuk melepaskan dia yang akan pergi jauh "Jangan hilang kontak ya, gue emang belum bisa buat move on dari Fadhel, tapi gue harap Lo bisa gantiin dia"
"Tenang Indah ku sayang, gue janji gue bakalan naklukin hati Lo, sekalipun gue gak bisa, gue bakalan mastiin kalau cowok yang Lo suka nanti bisa jagain Lo dan nyayangin Lo kayak gue yang nyanyangin Lo" ucapnya, aku tersenyum terus menyeka air mataku, aku juga mengambil selembar tisu dari tas ku lalu mengelap ingus ku "ih jorok" ucapnya
Aku menatapnya kesal "Biarin, mau Lo? Sini!" Ucapku
"Dih, sini kalau bisa tangkap gue" Gilang memeletkan lidahnya kepadaku
"Gilang! Nyebelin Lo" aku membuang tisu itu dan berlari buat mengejar Gilang yang terus meledekku dengan berbagai aksinya
__ADS_1
Sampai tiba-tiba aku lelah dan aku menunduk menyentuh lututku sambil ngos-ngosan, lalu grep! Aku melayang, ah tidak! Sudah dipastikan jika yang membuat ku melayang adalah Gilang!
"Nah kan, Lo yang ketangkap sama gue" Gilang menggelitikku dan aku tertawa, indah sangat indah, hanya dengan Gilang aku bisa tertawa selepas ini, bahkan dengan keluarga ku, aku hanya bisa tersenyum paksa
"Indah gue sayang sama Lo, gue janji bakalan balik buat jemput Lo ke Jakarta" teriak Gilang
Aku segera membekap mulutnya, Gilang tersenyum lalu memelukku erat, aku membalas pelukannya, kemudian ku sadari jika dahiku basah, Gilang menangis!
"Biarin gue kaya gini ndah, gue mau meluk Lo sepuasnya sebelum gue pergi" ucapnya dengan parau
"Lang, Depok sama Jakarta, gak jauh jauh amat, tapi rasanya berat banget" ucapku lalu tersenyum padanya walaupun wajahku kini berhadapan dengan dada nya
"Gilang!"
"Hm" dia masih memelukku
Aku merenggangkan sedikit, aku melihat dadanya yang lumayan bidang, karena ya, dia masih berumur 17 taun, jadi wajar kalau ototnya belum membentuk sempurna
"Gue baru sadar kalau Lo agak berotot"
"Lo sih ketinggalan zaman, gue mah dari kecil dah kek gini" ucapnya sombong "ntar juga dah nikah Lo tau" dia menarik turunkan alisnya Aku bingung melihatnya
***
Dan hari ini, Gilang akan pergi ke Jakarta dengan orang tua dan adiknya, dia akan menetap di sana untuk waktu yang cukup lama, pagi ini Gilang sudah berada di kost-an ku, dia tengah memakan mie instan buatan ku, ya, setelah aku pergi dari rumah aku lebih sering memakan mie instan atau telur, jangan lupakan jika aku tak bisa masak, sering kali Gilang memarahiku karena terlalu sering makan mie instan dan akhirnya Gilang akan membawaku keluar untuk sekedar makan dan bonus bermain di taman, namun semuanya akan sirna, Gilang akan pergi nanti sore, sebelumnya Gilang ingin menghabiskan waktu dengan ku. Setelah habis mie itu aku segera mencucinya dan aku lalu mengambil sebuah cemilan di meja, aku memakannya, Gilang mengacak rambut ku dengan gemas.
"Hobi Lo makan, tapi kapan gendutnya? Gue kangen indah yang dulu, gendut, cengeng" ucap nya mencium pipiku
"Gilang! Lo mah kebiasaan, gak boleh cium pipi, pipi gue cuman buat suami gue nanti" ucapku
"Kan gue yang jadi suami Lo nanti" jawabnya PD
"Pede amat, gimana kalau gue jodoh orang?" Tanyaku
Gilang berbaring dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya, aku memainkan rambut nya dengan tanganku. Gilang mengambil tanganku lalu menempelkan tanganku ke pipinya.
"Gak papa, asal jodoh orangnya Lo gue sih fine-fine aja, oh Iyah kalau perlu gue bakalan doa sama Allah setiap malem biar Lo jadi jodoh gue" ucapnya
"Maksa" jawabku di iringi kekehan
"Ndah" ucapnya "gue sayang banget sama Lo" ucap Gilang lagi
__ADS_1
"Sama Lang, tapi gue belum bisa buat nempatin Lo di hati gue, gue lebih nganggap Lo sebagai Abang gue" ucapku
"Gak papa, gue cinta sama Lo, tapi gue gak maksa Lo buat cinta sama gue, karena cinta Hadir karena terbiasa" ucapnya
"Lang, gue pengen main keluar, kita main yuk, gue beneran pengen main" rengekku
"Main kemana? Taman lagi? Lagi pandemi gini mana ada tempat buat main ndah" ucapnya
"Yah, ayolah Lang" pintaku
Gilang tersenyum lalu bangkit dan akhirnya ia mengiyakan, aku benar-benar senang.
Kini aku dan Gilang tengah duduk di hamparan rumput, Gilang membawaku pergi ke tempat dimana banyaknya tumbuhan dan pemandangan yang indah, Gilang lalu merangkul ku dengan erat, sedari tadi dia tak hentinya menciumi rambutku dan entah kenapa aku menyukai sikapnya, semua perlakuannya aku suka. Dia yang menyebalkan di hadapanku, dia yang cerewet di hadapanku, dan dia juga yang selalu membantuku. Bukan Gilang yang ada di hadapan orang lain, mungkin Gilang di pandangan orang lain adalah Gilang yang tak peduli pada siapapun, Gilang yang pelit kata, dan juga Gilang yang begitu dingin. Dia Gilang ku, Gilang ku, ingat itu, Gilang ku, tak boleh ada yang memiliki nya, biar aku yang mencari jodoh untuk nya, karena aku tak yakin jika aku bisa menggantikan posisi Fadhel dengan Gilang. Biarkan Gilang menjadi sosok kakak bagi aku yang merindukan sosok kakak.
"Lang, kalau seandainya gue gak bisa buat gantiin Lo di posisi Fadhel gimana" tanyaku
"Gue yakin Lo bisa, apa sih yang Lo gak bisa selain masak? Beladiri bisa, matematika? Bolehlah, pelajaran lainnya Lo juga bisa cuman agak males aja, Lo juga bisa buat gue tergila-gila sama Lo apalagi yang Lo gak bisa coba?" Tanyanya
"Lo itu muji atau ngeledek?" Kesalku
Gilang nyengir watados. Aku memanyunkan bibirku lalu Gilang tersenyum melihatnya, entahlah rasanya nyaman berada di samping Gilang.
"Oh iya, gimana hubungan Lo sama Aldi?" Tanyanya
"Dahlah Lang, gue kan dah bilang, gue kalau udah jauh sama seseorang susah buat balik lagi, Aldi semakin menjauh dari gue, emang separah itu kah akibat dari gue nolak perasaan nya?" Tanyaku
"Terkadang perasaan itu susah ditebak ndah, ada yang karena ditolak dia jadi trauma sama yang namanya cinta, bisa juga dia jadi gak suka sama lawan jenis, ada juga yang ngelampiasin jadi seorang fucek" ucapnya
"Gue gak tau, tapi dia sahabat gue, gue gak bisa kalau harus sama sahabat gue, dia terlalu baik buat gue yang goblok" ucapku
"Haha, Lo tuh gak goblok ndah, cuman belum bisa bedain aja-"
"bedain apa?" Tanyaku
"Bedain mana yang bener mana yang buruk" ucapnya
Aku tersenyum, hari dah semakin siang, terik matahari membuat aku perlahan mengantuk dan kemudian aku memejamkan mataku. Gilang masih mengoceh, memberitahu jika aku salah karena mencintai Fadhel yang jelas-jelas tak pernah menganggap ku ada. Kemudian aku benar-benar terlelap. Ah tidak, aku belum benar-benar terlelap, aku merasakan Gilang mencium dahiku untuk kemudian aku mengapung.
"Gue sayang sama Lo ndah" ucapnya di telingaku
Dan kini aku benar-benar terlelap, menuju mimpi ku yang indah, dan berharap ketika bangun Gilang tak benar-benar pergi. Walaupun aku tahu jika itu hanyalah khayalan
__ADS_1