Broken Heart

Broken Heart
50


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, Arga dan aku semakin dekat, dan di setiap sikapnya dia selalu mengingatkan ku pada Gilang. Minggu depan kita mulai masuk sekolah di sekolah baruku.


Saat ini Arga tengah tertidur di sofa, dia menemaniku membuat novel. Yah, hobiku membuat novel tak pernah bisa lepas. Kalian tahu, saat ini aku membuat novel yang menceritakan kenangan ku dan gilang.


"Dah selesai?" Tanya Arga dengan suara parau


"Belum, Lo lanjut tidur aja"


"Keluar yuk" ajak Arga


"Ayok" jawabku lalu aku mematikan laptop ku, Arga tersenyum, dan aku semangat keluar karena beberapa lama ini bang Marshal selalu menyuruh Arga mengikutiku hingga aku selalu kemanapun bersamanya bahkan dia sudah berani mengaturku


"Bentar gue siap-siap dulu" aku segera bersiap masuk ke dalam kamar


Setelah siap aku segera keluar, Arga melihat penampilan ku lalu berdecak kagum. Aku tersenyum padanya lalu menarik tangannya.


"Ga, gue boleh cerita?" Tanyaku saat di dalam mobilnya, Arga mengangguk


Aku benar-benar butuh bercerita, berulang kali aku bertemu Gilang yang tak menyadari keberadaan ku, namun yang aku lihat Gilang sudah berubah, gadis yang waktu itu bersamanya sering aku lihat bersama Gilang, dan pernah aku melihat Gilang tengah menyesap rokok, benda yang paling aku hindari, bahkan baunya.


"Gue dulu Deket sama cowok" ucapku, Arga mendengarkan dengan baik "namanya Gilang, dia pernah warnain hidup gue, ada di saat gue dalam kondisi apapun, dan dia yang ngerti gue, bahagia gue kalau sama dia, tapi dia posesif banget, dia larang gue Deket sama cowok lain, dan dia juga suka banget ngomentarin pakaian gue" aku mengenang


"Gak boleh itu terlalu pendek indah, kalau ada yang suka sama Lo gimana?" Ah kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku


"Gilang juga baik banget, tapi, 3 bulan lalu dia pergi ke Jakarta, dia ninggalin gue, gue pengen banget nyerah sampe kemudian bang Marshal ngajak gue ke Jakarta, gue harap gue bisa ketemu Gilang lagi, tapi sekarang gue gak mau ketemu lagi sama gilang"


Aku terdiam sejenak


"Kenapa?" Tanya Arga lagi


"Waktu itu, pertemuan pertama gue sama Lo, gue liat Gilang sama cewek, cewek itu mesra banget, gue gak cemburu, tapi gue ngerasa Gilang mulai berubah, beberapa kali gue liat mereka berdua, tanpa mereka sadari, sampai kemudian gue liat satu hal yang buat gue bener-bener ngelepas gilang, Gilang ngerokok, gue gak suka sama rokok" aku terdiam "gue kecewa sama Gilang, dan gue fikir mungkin Gilang udah lupa sama larangan gue tentang itu"


"Sabar ndah, sekarang Lo ada gue, lupain cowok itu dan liat gue" ucap Arga


"Thanks dah mau dengerin cerita gue" ucapku


"Apapun asalkan buat Lo" Arga tersenyum receh padaku


"Oh iya gue tau bakso yang enak di sini" ajak Arga


"Tau aja Lo kalau gue pengen bakso" ucapku


Arga tersenyum lalu menepikan mobilnya di depan sebuah kedai bakso. Dan kami turun untuk sekedar makan bakso. Awalnya semuanya terlihat baik-baik saja, sampai tiba-tiba aku melihat seseorang, yah Gilang, dia tengah menenteng tas belanjaan dan gadis itu, dia bersama Gilang lagi. Harusnya aku tak melihat mereka, namun mataku masih melihat mereka sampai mereka berhenti di sebuah kafe, mereka masuk dan mereka keluar lagi, mereka duduk di kursi depan kafe.


Arga menjentikkan jarinya di hadapan ku, aku terperanjat kaget. Arga melihat ke arah yang aku lihat, dia tersenyum miring, kenapa?


"Kenapa?"

__ADS_1


"Gak papa" lagi-lagi aku mengelak


Kami melanjutkan memakan bakso kami, lalu aku mengajak Arga segera pulang, aku sudah tidak mood untuk keluar.


"Lo kalah" aku mendengar Arga bicara lirih


Siapa yang kalah? Namun aku biarkan saja dia, tak seharusnya aku ikut campur urusannya


***


Arga POV


Gue Arga, kalian tahu gue adalah calon OSIS, dan calon pacar indah, yah indah, cewek yang gue kira cuman tampang modal ternyata jauh beda, dia cantik, baik, jago beladiri, pinter tapi males belajar, dan yang paling penting dia penyayang ke makhluk hidup, walaupun dia kelihatan cuek, tapi jauh dari faktanya kalau indah itu penyayang, ada kucing sakit di pinggir jalan aja dia bawa ke dokter hewan, padahal bukan peliharaan nya, gue juga baru tau kalau indah suka ke panti jompo buat ngehibur para orang tua yang di tinggal dan gak pernah di jenguk.


Dia indah gue, gue yang berhak atas dia, dia indah, seindah dirinya, walaupun gue tahu kalau dia nanggung banyak banget pikiran yang gue gak tau apa tapi dia tetep indah gue, indah gue kuat, ya dia indah gue, perlu gue tekan kan lagi, dia indah gue, gak boleh ada yang dapetin dia tanpa terkecuali gilang.


"Ga, bantuin dong" indah manggil gue, bentar skip dulu


"Apaan ndah?" Gue nyamperin dia


"Itu, gue takut" indah bergidik ngeri


Gue liat sesuatu yang indah tunjuk dan Bing bong, ternyata hanya seekor ulat bulu, gue halauin ulat itu dan indah bersorak girang, dia indah, cewek yang awal kenal gue kira sombong, ternyata kalau udah Deket dia ceria banget.


"Emang Lo lagi ngapain?"


"Jangan banyak senyum, oh iya mending kita pergi yok" gue gak suka dia senyum, senyumnya terlalu manis, dia terlalu bisa buat gue klepek-klepek dengan senyumnya


"Kenapa?" Tanyanya


"Kita ke perpus yuk" ajak gue dan dia antusias banget


Dia bener-bener kaya bocil, entahlah mungkin karena kita terlalu Deket sampe gue liat dia kek bocil. Gue sama indah pergi ke perpus naik motor.


"Ga, boleh gak kalau gue sayang sama Lo? Sebagai kakak gitu" ucap indah cukup jelas


Ah, jadi indah hanya menganggap gue layaknya bang Marshal, ah gue yakin pasti indah bisa jatuh cinta sama gue, gue kan cowok paling ganteng.


"Apa ndah?"


Indah mendengus kesal karena gue yang pura-pura gak denger, akhirnya satu kata yang indah ucapin "dahlah", gue gak mau dengerin itu ndah, tapi Lo udah sayang sama gue aja udah buat gue bahagia, apalagi kalau plus sama cinta.


"Gilang" indah ngucapin nama itu lagi


Gue ngeliat ke sekeliling, ya di sini sedang macet, makannya gue aman buat liat sekeliling. Yang indah liat adalah Gilang lagi sama Sisil, sepupu Gilang. Dulu gue pernah tertarik sama Sisil, tapi sekarang nggak, saat gue tahu Sisil lagi hamil karena pacarnya yang kabur ntah kemana, perasaan gue hilang, gue gak mau sama cewek yang bego, gak bisa jaga kehormatan nya sendiri.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Eh, gak papa, itu tadi gue liat nyamuk lewat" sangkal indah


Gue tahu indah kecewa, apalagi perut Sisil mulai kelihatan agak buncit. Gue langsung narik tangan indah ke perut gue, gue mau nenangin dia, mungkin dengan cara bersandar di bahu gue, dia bisa sedikit tenang


"Tau gak? Senyum Lo itu berharga"


"Gombal lo" indah mendengus kesal


"Eh Iyah, ke perpusnya nanti aja, gimana kalau langsung ke toko buku? Biar sekalian beli buku" ajakku


"Boleh, gue mau beli buku asma Nadia and Tere Liye" ucapnya


"Aoghey"


Gue sayang sama indah, dan gue gak mau dia sedih terus dengan cara lihat Gilang, gue gak mau dia benar-benar frustasi. Yang gue mau indah selalu bahagia sama gue, kalau boleh gue mau bungkus indah biar gak ada cowok lain yang suka sama indah, gue tahu, saat indah meluk gue, Gilang lihat itu, dan gue tahu Gilang sakit hati, tapi cinta perlu perjuangan, siapa cepat dia dapat. Gue gak boleh biarin siapapun buat dapetin indah. Termasuk Gilang


"Mau beli buku yang mana?" Tanya gue karena gue bingung harus milih novel, mending gue milih video game deh daripada harus milih novel, males baca


"Hm, gue mau yang ini, bentar-sama -" indah melihat-lihat koleksi buku di depan sana


"Kayaknya ini bagus deh" ya, komik, gue liat komik judulnya manusia terakhir, ada 3 season


"Ndah!"


"Iyah, ini gue dah milih, ada 4 novel sama satu komik, Lo dapet yang bagus gak?" Tanya indah


"Ini" jawab gue nunjukin 3 komik itu


"Wah, action sama horor yah, kayaknya seru, makasih" saking senengnya indah meluk gue


Dan gue seneng di peluk indah, ets bentar siapa itu yang ngintip, ah Gilang, ngapain dia ngintip, gue balas pelukan indah dengan erat


"Eh, sorry ga, maafin" indah hendak melepaskan pelukannya namun gue segera melarang nya


"Biarin gini sebentar aja" jawabku lalu mencium pipi indah dengan posisi miring sehingga kalau di lihat dari samping seperti tengah berciuman


"Ish, Lo mah, pipi gue buat suami gue nanti" indah terdiam dan melepas pelukan, dia melamun


Terlihat Gilang sudah tak ada, gue segera meminta maaf padanya, namun lagi-lagi dia kaget, kenapa? Dari awal gue kenal sama dia, di setiap momen dia pasti selalu melamun, apa dia inget gilang? Gak mungkin, Gilang kan selalu nyakitin dia


"Hey, are you okay?" Gue megang bahunya


"Eh, gak papa kok"


"Ya udah ayo pulang" ajak indah


Akhirnya gue sama indah pun pulang, selama perjalanan gue ngomong ke indah banyak hal, tapi jawaban indah sangat singkat. Entahlah, mungkin dia merindukan orang tua nya.

__ADS_1


__ADS_2