Broken Heart

Broken Heart
46


__ADS_3

Pagi ini aku terbangun pagi sekali, aku berharap semuanya hanya mimpi, sore kemarin Gilang pergi, dan aku berharap itu hanyalah mimpi, ya itu pasti mimpi, Gilang ku tak mungkin meninggalkan aku. Aku bergegas bersiap dan melihat handphone ku, belum ada notifikasi darinya, aku terdiam, tidak Gilang ku tak mungkin meninggalkan aku. Setelah siap aku segera pergi menuju rumah Gilang, di komplek sebelah komplek rumah dulu ku.


Aku menaiki angkot untuk sampai ke rumahnya, jangan lupakan kalau aku juga memakai jaket Gilang, jaket kebanggaan Gilang. Ini adalah hadiah terakhir Gilang sebelum dia pergi.


Dan sampailah aku di depan komplek, aku segera masuk ke dalam komplek dan mencari rumah Gilang, tak lama aku akhirnya sampai di depan rumah Gilang, rumahnya sepi, masih ada pembantu Gilang di sana, berarti Gilang ku belum pergi. Aku segera mendekat kepada pembantu Gilang untuk menanyakan Gilang.


"Bibi, Gilang nya ada?" Sumringah tentu saja


"Loh, den Gilang belum pamit? Kan kemarin sore den Gilang sama keluarga pindah ke Jakarta" ucap pembantu Gilang


"Tapi-" hancurlah sudah, harapanku benar-benar tak di kabulkan, kini aku tinggal sendirian, tanpa siapapun, sedih? Tentu saja sedih. Keluarga ku hancur, persahabatan ku kandas, dan aku juga tak memiliki teman yang tulus, hanya Gilang yang aku punya, dan kini Gilang benar-benar sudah pergi. Haruskah aku bahagia ataukah aku harus bersedih? Dulu aku memang membenci Gilang, dia yang selalu mendekat padaku layaknya prangko, dia yang selalu cerewet dan posesif, dia juga orang yang selalu memaksaku, namun kini aku kehilangan dia.


"Non indah gak papa?" Tanya pembantu Gilang


"Gak papa bi, indah pamit ya" aku mencoba tersenyum, ingat! Aku selalu tersenyum apapun yang terjadi.


"Bibi sama mamang di sini karena den Gilang bakalan ke sini setiap satu semester sekali" ucap pembantu Gilang


Aku mengangguk lalu tersenyum dan aku bergegas pergi kembali ke kost ku. Handphone ku berdering, namun aku tak mau mengangkatnya.


***


Baru saja aku sampai di depan kost ku, aku kembali di herankan oleh sendal yang aku tak tahu sendal siapa itu. Namun ini pasti sendal wanita, karena motif bunga.


"Indah pulang" siapapun yang ada di dalam, aku harus sopan walaupun mereka tak sopan padaku.


"Indah! Nak mama kangen" ya dia mamaku, mamaku memelukku dan menangis di pelukanku, aku tak membalas pelukannya, tak bisa dipungkiri bahwa aku masih terlalu kecewa padanya, karena mamaku bang Marshal pergi, karena mama ku kak tari pergi, dan karena mama ku juga semuanya terjadi. Entah harus bagaimana lagi, aku ingin membenci mama ku, namun aku tak bisa, bagaimana pun dia mamaku, dia yang melahirkan ku, walaupun dia tak pernah mementingkan perasaan anak-anaknya. Papa aku merindukanmu.


"Sedang apa anda di sini?" Tanyaku to the poin


"Indah, maafin mama nak, mama salah, mama janji tak akan lagi memaksamu masuk asrama, mama menyesal" mama ku menangis


Aku membuang muka ku, "Gilang!" Lirihku


"Kita pulang ya nak, kita pulang ke rumah, di rumah ada bang Marshal dan kak Ayu sedang menunggumu, pulang ya" pintanya


"Indah bakalan pulang, tapi ada syaratnya" jawabku


"Apapun itu"


"Jangan mengatur lagi hidupku" ucapku


Mamaku terdiam, mungkin kaget dengan apa yang aku ucapkan, dan akhirnya mama ku mengangguk. Aku merapikan pakaian dan buku sekolahku. Dan skateboard yang pertama kali aku bawa. Aku turun ke bawah, melihat mobil mama ku dan kemudian aku bergegas turun, sebelum masuk ke dalam mobil seseorang memanggil ku.


"Indah" panggilnya


Aku melihat padanya masih berharap bahwa itu Gilang, namun salah, dia adalah kakak kelasku yang menyebalkan, orang yang di percaya Gilang bisa menjagaku selama dia pergi. Kak Devan


"Kemana?"


"Aku mau pulang kak" ucapku tersenyum


"Gue gak suka liat senyum itu, gak ada kebahagiaan dalam senyum itu, gue pengen Lo yang apa adanya indah, Lo yang gak nyembunyiin semua beban Lo"

__ADS_1


Aku tersenyum getir mendengarnya, kak Devan sudah berada di depanku lalu ia memelukku.


Aku hanya di peluk oleh kak Devan, ingatlah, aku tak bisa menangis selain di hadapan Aldi, dan mungkin Gilang, kak Devan senyum kepadaku lalu mengacak rambutku


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ke gue" ucapnya


Aku mengangguk lalu aku masuk ke dalam mobil, aku tersenyum miris ketika mobil mulai menjauh dari kost ku. Kost yang selama satu bulan ini sudah menemani ku, membuatku belajar mandiri, dan memberikan kenangan ku juga Gilang, jangan berfikir macam-macam, Gilang selalu menjagaku, dia tak pernah merusakku.


"Gimana ujian kamu" mama memulai percakapan


"B ajj" jawab ku singkat


"Ndah-" mama ku seperti lelah


Aku tak menghiraukan dia, setelah setengah jam berlalu akhirnya kami sampai di depan rumah, aku segera keluar, di sambut oleh pembantuku dan juga kakak² ku.


Mereka memelukku, aku masih tersenyum, rasanya aku merindukan pelukan ini, pelukan dari bang Marshal, karena hanya abangku yang selalu memelukku.


"Kamu kemana aja dek"


"Indah abis main-main kak" ucapku tersenyum


Bang Marshal tersenyum, "kakak sama Abang minta maaf lahir dan batin" ucap bang Marshal


"Indah juga bang kak" ucapku


"Ya udah, sana ke kamarmu, beresin dulu baju kamu sana, nanti kita main, Abang tau kok mine kamu udah pergi" ucap bang Marshal


"Mine?"


"Dih" ucapku lalu kedua nya tertawa, aku segera naik ke atas, merapikan pakaian ku kembali ke dalam lemari. Aku merindukan kamar ini, dan ya, lihatlah, kursi roda kenangan ku dan Gilang masih ada, dan tongkat bekas kakiku juga masih Ada. Aku benar-benar merindukan Gilang, tanpa sadar air mataku menetes begitu saja. Gilang! Kamu membuatku kembali terluka.


***


Berada dalam gendongan bang Marshal mengingatkan ku masa-masa saat papa masih ada, keluarga ku harmonis dan bahagia, sampai kemudian papa dan mama bercerai, semuanya berubah. Dan puncak kehancuran keluarga ku ada di saat papa sudah meninggal, nenek dan mama selalu bertengkar, Abang, kakak dan mama juga selalu bertengkar, bisa dibayangkan betapa lelahnya aku harus melihat mereka bertengkar setiap hari


"Haha bang, turunin indah pusing" ucapku


Bang Marshal langsung berhenti, dia menurunkanku lalu melihat ke arahku. Dia memutar tubuhku, ntahlah dia kenapa.


"Mana yang sakit?" Ucap bang Marshal "mana yang pusing?" Tanyanya lagi


"Udah bang udah, indah cuma bercanda"


"Berani ya kamu" bang Marshal menggelitik ku, kak tari mengabadikan momen kami dengan kamera nya


"Udah bang udah" aku tertawa


Baru kali ini aku tertawa lepas dengan keluarga ku, biasanya aku hanya bisa tersenyum biasa. Menyembunyikan luka. Namun kini aku tertawa


"Abang sama kak ayu nanti bakalan pergi lagi, Abang ke Jakarta, dan kak tari balik ke London"


Aku kemudian berhenti tertawa "kapan?" Tanyaku

__ADS_1


"Nanti, sebulan lagi" ucap kak ayu


"Oh masih lama" ucapku lalu tersenyum lagi, baru saja aku tertawa, kini sudah mendapatkan sebuah kejutan yang membuat senyumku ingin sirna.


"Mau ke Jakarta gak?" Tanya bang Marshal


Aku terdiam melihat bang Marshal "boleh kah?"


"Boleh aja" jawab bang Marshal


"Mau bang" ucapku sumringah, namun bagaimana dengan mama? Walaupun aku marah pada mama, tapi tak menutupi fakta kalau aku juga menghawatirkan mama "tapi mama-" ucapku terpotong


"Biar Abang yang minta izin, kamu bisa pindah sekolah ke SMU deket rumah Abang di sana" ucap bang Marshal


"Gimana sama mama? Indah takut mama kenapa-napa tanpa sepengetahuan indah dan yang lainnya" ucapku


"Ndah, mama udah gak sayang sama kita lagi" ucap kak ayu


Aku menggeleng "ngga kak, Mama sayang, cuman cara mama yang salah" ucapku


"Ya udah, nanti Abang tempel cctv di setiap sudut rumah" ucap bang Marshal


Akhirnya aku lega, keputusan bang Marshal untuk memasang cctv membuat ku sedikit lega, bagaimana pun dia tetap mama ku, yang melahirkan ku, semarah apapun aku padanya, namun tak bisa di pungkiri bahwa aku menyayangi mamaku itu


***


Akhirnya aku bisa menyusul Gilang, walaupun aku tak tahu Gilang di mana, namun aku yakin kalau aku akan kembali bertemu dengan Gilang. Aku tengah memainkan hape ku, bang Marshal sedang membeli es krim sedangkan kak ayu tengah memfoto beberapa spot yang bagus.


"Duar" aku kaget dan tanpa sadar handphone ku terlempar ke sebuah selokan dan ikut terbawa arus selokan yang deras


"Yah, handphone indah" ucapku ingin menangis


"Maafin Abang, nanti Abang ganti sama yang baru" ucapnya


"Bukan itu ish abang, kan di hp itu semua nomor ada, grup nya juga, terus gimana?" Tanyaku frustasi


"Ya udah nanti Abang yang urus, kamu tinggal tunggu ada, mau hape apa?" Tanya bang Marshal


"Xiaomi keluaran terbaru" ucapku


"Gak mau iPhone?" Tanyanya


"Gak mau, pengen Xiaomi, sama casing nya ya, pengen yang tengkorak atau robot" pintaku


"Asyiap, yaudah nih es nya" ucap bang Marshal


Aku mengambil es krim itu lalu aku meminjam handphone bang Marshal, dan Bing bong, grup sekolahku ada di hape itu semua, di wa yang satunya, Abang ku benar-benar gila, gak bilang padaku kalau dia menyadap wa Ku.


"Jangan marah, Abang cuman gak mau kamu kenapa-napa" ucap bang Marshal


"Gendeng, sama aja kek Gilang" ucapku


"Daripada marah-marah gak jelas mending video call sama Bebeb" bang Marshal mendial no Gilang dan menelpon nya

__ADS_1


Aku senang? Tentu saja karena akhirnya aku masih bisa video call an dengan gilang, walaupun aku masih belum memiliki perasaan apapun.



__ADS_2