
Hari ini aku bangun pagi sekali, aku merindukan keluarga ku, baru saja aku bermimpi bahwa aku pergi dengan bang Marshal, entah kemana. Ah hanya tinggal beberapa hari lagi.
Aku akan keluar hari ini, bersiap pergi ke toko kue, aku ingin membeli sesuatu untuk lebaran nanti. Ah, untungnya aku masih datang bulan jadi aku tak puasa.
"Kenapa coba kalau lebaran identik sama kue, heran banget" ucapku kesal
Aku segera membeli kue lebaran, kue keju, kue nastar, putri salju padahal bentuknya bulan wkwk, kue kacang dan yang lainnya.
Setelah nya aku kembali ke kost, aku heran sendal siapa yang ada di depan kost ku. Aku segera melepas sendalku lalu masuk ke dalam.
"Indah pulang"
"Ndah, Lo jarang masak ya?" Tanya seseorang
Aku melihat ke arah orang itu, kak Devan, tumben sekali ada apa? Aku segera mendekat lalu menyimpan belanjaanku
"Kak Devan, ada apa?" Tanyaku
"Gue mau masakin Lo, tuh dah bawa bahan-bahan nya, sekalian Lo belajar, gue bakalan ajarin Lo masak telur balado, sama gorengan" ucap kak Devan
"Boleh" antusias ku
"Ya udah, gue rapihin dulu ke kulkas"
Aku mengangguk
"Nanti sore kita bikin, buat buka puasa"
Aku mengangguk, lalu kak Devan mengajakku keluar, karena aku gabut akhirnya aku mau ikut dengannya ke luar.
"Kak, kan sekarang kakak udah kelas 2 menuju kelas 3, planning kakak ke depannya apa?" Tanyaku saat di jalan
"Mungkin gue bakalan belajar serius biar dapet sekolah ke UI, ngomong-ngomong kenapa Lo keluar dari rumah?" Tanyanya, aku terdiam "kalau gak mau cerita juga gak papa kok"
"Pengen punya pengalaman aja" jawabku
"Oh, beruntung ya jadi Lo, keluarga Lo Deket di sini, pasti bisa di sayang setiap hari, lah gue, bonyok gue di Pangandaran jauh kan ya"
Beruntung? Haha, andai saja semua ucapannya itu benar, andai saja keluarga ku bisa bahagia, tak ada pertengkaran, tak ada suara teriakan dalam rumah. Aku mungkin akan menjadi orang paling bahagia, seandainya mama dan papa tak bercerai, seandainya mama dan papa tak gila kerja, mungkin saat ini keluarga ku bahagia, seandainya papa masih ada.
"Lo tau gak, dulu gue pernah diajak mancing sama bokap ke pantai, tapi begonya gue bawa pancingan mainan itu loh, yang kecil"
Aku tersenyum mendengar nya, "kenapa kak Devan pindah ke Depok?" Tanyaku
"Gue punya orang tua angkat ndah" ucapnya "nah yang di Depok ini tuh sebenarnya mommy sama Daddy, adik bokap gue sama istrinya, mereka ngangkat gue sebagai anak karena mereka gak bisa punya keturunan, mommy sama Daddy sama-sama mandul, kalau yang di Pangandaran itu mama sama papa" ucapnya "gue sebenernya suka ke rumah mommy Daddy, mereka sayang gue layaknya anak mereka sendiri, tapi gue pengen mandiri, jadi gue mutusin buat nge kost" lanjutnya
"Pasti keluarga kak Devan bahagia?" Tanyaku
__ADS_1
"Iyah, mama sama papa gue punya dua anak, gue sama Adek gue, nah karena gue bosen di Pangandaran gue akhirnya ikut Daddy ke sini" jawabnya "walaupun gue tahu mama gak mau gue pergi, tapi ya gue tetep pergi, lagipula dulu gue capek harus liat seseorang yang gue sayang Deket sama orang lain"
"Jadi alasan kak Devan ke Depok tuh buat lari dari kenyataan?" Ledekku
"Apaan sih, gak lah, itu dulu, sebelum gue kenal Lo" ucap kak Devan
"Apa kak?" Tanyaku
"Eh udah nyampe" dan dia mengalihkan pembicaraan, kak Devan membawaku ke suatu tempat, dan itu adalah sebuah sungai. Sungainya begitu jernih, kak Devan menarikku ke jembatan.
"Ati-ati, walaupun airnya jernih tapi jangan coba-coba untuk turun"
"Loh kenapa?" Tanyaku heran
"Disini tuh banyak buaya" jawab kak Devan
"Mana ada, biasanya kan buaya tinggal di air yang keruh"
Kak Devan menunjuk sesuatu, dan aku mengikuti arah tunjuknya itu, segerombolan buaya, haha, ternyata benar-benar mereka ada di sini.
"Tapi indah kok kak, aku suka" ucapku
"Haha, syukurlah kalau Lo suka" kak Devan menyeka anak rambutku
"Ini tuh tempat penangkaran buaya kah?" Tanya ku
"Bukan, mereka buaya liar, hanya saja-" ucapannya terhenti, aku melirik ke kak Devan
"Hm" aku pura-pura berfikir dan kak Devan langsung mencubit pipiku aku mengasuh karena sakit
"Ish"
"Abisnya Lo gemesin kalau lagi kek gitu" jawab kak Devan enteng
"Percaya aja lah" jawabku
"Nah di sini juga ada buaya putih, tapi cuman beberapa, gue pernah liat" ucap kak Devan
"Oh, gue juga pengen liat dong" antusias ku
"Nanti pasti ada, biasanya buaya nya suka di tempat yang teduh"
Aku melihat sekitar, tak ada apapun sampai kemudian aku dan kak Devan mendengar suara berteriak. Aku dan kak Devan bergegas ke sana. Aku melihat seseorang tengah di gigit buaya. Aku hendak ke sana namun kak Devan menghalangi ku.
"Gak bisa ndah, Lo liat itu" kak Devan menunjuk kumpulan buaya "dia udah di kepung"
Aku terdiam lalu tetap mencoba mendekat walaupun kak Devan menghalangi, aku mencari ranting lalu aku membalut ranting itu dengan jaket ku. Ku bakar kain itu dan aku mendekati kumpulan buaya itu, yang tadinya hendak mendekat menjadi mundur, yah buaya takut pada api. Aku mencoba mendekati buaya yang tengah menggigit kaki seseorang itu.
__ADS_1
Ku arahkan api padanya, lalu dia melepaskan gigitannya dan pergi. Kak Devan segera membawa orang itu, sedangkan aku berjalan mundur dengan masih memegang ranting berapi itu.
Saat sudah semakin jauh aku mematikan api itu dan membantu kak Devan membawa orang itu. Kak Devan sibuk memanggil taksi. Aku juga sibuk memegangi orang itu.
Setelah dapat taksi kami pun segera membawa orang itu ke rumah sakit, aku dan orang itu di taksi sedang kak Devan mengikuti dari belakang. Bajuku sudah di penuhi darah.
"Sabar ya kak" ucapku mengusap kepala lelaki di pangkuan ku ini, dia tengah menahan sakit.
Tak lama akhirnya kami sampai di rumah sakit, dan lelaki tadi mendapat penanganan dari dokter. Kepala ku tiba-tiba sakit, namun ku coba untuk tahan, aku duduk di ruang tunggu.
"Lo hebat" ucap kak Devan
"Aku tuh cuman nolongin aja, lagian dia kan manusia juga jadi harus di tolongin" ucapku masih kesal karena dia yang tak peduli pada lelaki tadi
"Keluarga pasien" dokter menghampiri
"Eh, kami tak tahu keluarga nya dok, tapi kami yang membawanya ke sini"
"Baiklah, pasien terpaksa harus diamputasi, karena kakinya sudah terluka terlalu dalam, saya harap keluarga nya menyetujui hal itu"
Bagaimana ini, kami tak tahu keluarga lelaki itu, sampai kemudian seorang wanita mendekat dan langsung menyerang dokter dengan pertanyaan.
"Bagaimana kabar adik saya dok"
Bagaimana mungkin dia bisa sampai ke sini, atau lelaki tadi yang menghubunginya? Lalu dokter pun berbincang dengan wanita itu. Kak Devan merangkul ku.
"Terima kasih karena kalian telah menyelamatkan adik saya" ucap wanita itu, aku mengangguk sambil tersenyum "ah nama saya Tara" aku membalas uluran tangan nya
"Indah" jawabku sedang kan kak Devan cuek saja
"Jangan di hiraukan kak, dia memang kulkas" ucapku pada kak Tara
"Kalau begitu kami pamit kak" ucapku lalu berpamitan, walaupun sempat di tahan, namun kami harus membersihkan diri.
***
Baru saja aku turn dari motor kak Devan, Gilang sudah menarik kerah baju kak Devan dan memukulnya. Kenapa?
"Lo apain indah?" Tanya Gilang membentak
Aku segera melerai Gilang dan kak Devan, kak Devan menyeka darah di pelipisnya. Gilang melihat bajuku, ah ternyata dia khawatir pada darah di bajuku
"Lang udah, gue gak di apa-apain, udah" aku mencoba menenangkan, Gilang lalu berjalan dan mendekap ku erat.
"Lo diapain sama dia" aku kemudian menjelaskan kejadian tadi, sedang kak Devan sudah kembali ke kost nya, karena jika tak ku suruh kak Devan pergi, Gilang pasti akan bertengkar lagi dengan nya.
"Lain kali jangan gegabah lagi indah" ucap Gilang kembali mendekapku
__ADS_1
"Gilang tapi dia butuh bantuan"
Akhirnya Gilang hanya pasrah dan aku segera masuk ke kost ku, membersihkan diriku. Bau anyir di bajuku sudah ilang karena ku cuci langsung.