Broken Heart

Broken Heart
60


__ADS_3

Author POV


Gilang tengah melamun dengan gitar di tangannya. Seakan tak ada semangat. Dia enggan untuk memetik senar gitar itu. Gilang lebih memilih untuk diam. Sampai tiba-tiba suara pintu di buka terdengar oleh Gilang. Pintu balkon di buka oleh mamanya.


"Lagi apa gantengnya mama?" Tanya mama Gilang


"Lagi duduk aja ma" ucap Gilang tak melihat mamanya


"Masuk yuk, kamu kan masih sakit" ucap mama gilang


"Gak mau mah" ucap Gilang "Gilang mau di sini dulu" Gilang menyimpan gitarnya ke samping


"Udah baikan sama indah?" Tanya mama gilang


Gilang terdiam, bagaimana ia harus menjelaskan pada mamanya, kalau saat ini indah tengah membencinya, dan Gilang tak mampu memaafkan dirinya karena indah telah membenci dirinya.


"Mama seneng deh kalau kalian udah baikan, nanti kapan-kapan ajak indah ke sini lagi ya, mama udah gak sabar peng-" ucapan mamanya terhenti karena Gilang yang menyela ucapannya


"Indah benci Gilang mah, Gilang gak tahu salah Gilang apa, tapi Gilang gagal buat gak membuat indah benci Gilang, Gilang-" kini Gilang sudah pasrah


"Kamu udah introspeksi diri?" Tanya mama Gilang "mama tahu, kamu pasti tahu apa kesalahan kamu sampe indah menjauh" ucap mamanya


"Apa karena Gilang yang merokok? Apa karena Gilang yang mulai war duluan sama Arga?" Tanya Gilang


"Nah itu kamu tahu, mama masih inget kamu pernah bilang ke mama kalau indah benci sama bau rokok, mama juga ingat kalau indah lebih suka memilih jalan yang sehat daripada harus mengeluarkan otot" ucap mama Gilang


"Jadi, apa yang harus Gilang lakukan ma?" Tanya Gilang pasrah


"Meminta maaflah Lang, kalau kamu udah minta maaf, indah pasti memaafkan kamu. Kalau dia gak maafin kamu, introspeksi diri lagi, apalagi yang ngebuat indah marah banget sama kamu" ucap mama gilang


"Makasih ma, mama emang mama terbaik buat Gilang" ucap Gilang memeluk mamanya itu


"Ya udah sekarang kita masuk, nanti sakitmu malah tambah parah" ucap mama gilang


Gilang dan mamanya akhirnya pergi ke dalam kamar Gilang. Mama Gilang tertawa melihat indah kecil yang ada di figuran samping kasur Gilang.


Author POV end


***


Pagi ini aku kembali berlatih beladiri, bang Marshal sudah mendaftarkan ku di perguruan silat dan karate. Karena hari ini adalah hari Sabtu akhirnya aku melakukan latihan.


"Silatmu sudah baik, namun harus lebih di perbaiki lagi ketangkasannya" ucap sang guru lalu guru itu membiarkanku berlatih seorang diri.


"Hey, boleh kenalan?" Tanya seseorang


Aku menghentikan latihanku lalu melakukan salam penutupan. Ku lihat ke arahnya. Seorang laki-laki dengan tinggi sedikit di atasku, dia juga memakai seragam perguruan silat ini.


"Gue lihat-lihat silat Lo bagus meskipun masih new student, tapi udah bagus, belajar dimana?" Tanyanya


"Bukan urusan Lo" ucapku lalu meraih handukku dan me lap keringatku. Ku lihat laki-laki itu tersenyum, padahal aku begitu cuek. Namun kenapa dia malah tersenyum.


"Nama Lo siapa?" Tanya nya


"Indah" jawabku sambil duduk di dekat tasku


Laki-laki itu duduk di sampingku, agak berjauhan sedikit. Aku meminum air di botol minumku. Sebentar lagi aku akan kembali berlatih guna melatih lagi kemampuanku.


"Nama gue Naufal, Lo bisa panggil gue oval" ucapnya


"Hm" aku kembali berdiri, lalu aku mendekati sebuah tempat latihan yang di buatkan khusus untuk ku dari bang Marshal atas bantuan temannya.


Aku memukul sebuah samsak dan juga menendangnya. Tak ada kata lelah, tak boleh ada kata lelah. Laki-laki itu hanya melihatku berlatih. Ah aku jadi tidak bisa leluasa jika ada yang memperhatikan, namun ini kesempatan bagus. Lumayan untuk melatih mental ku jika ada pertandingan nanti.

__ADS_1


Tiba-tiba dadaku terasa sakit, ah penyakitku kambuh, aku segera menghentikan aksi ku. Lalu aku duduk di kursi lagi, mengambil beberapa obat dan meminumnya.


Laki-laki itu masih memperhatikan ku. Karena aku sudah berada di titik puncak akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri latihan dan pulang. Sebelumnya aku mengganti pakaian ku. Tentunya laki-laki itu tak mengikuti.


"Mau kemana?" Tanya laki-laki itu


"Latihan lagi" ucapku


Aku mengambil sepeda ku, yah hari ini aku memakai sepeda. Aku mengayuh sepeda ku untuk menuju tempat karate yang tak terlalu jauh dari sana. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat karate itu.


***


Baru saja aku selesai mandi. Tiba-tiba handphone ku berdering, aku mengambilnya. Gilang? Ada apa? Ah biarkan saja. Lagipun aku sudah tak peduli padanya.


Ting! Trining! Tring! Banyaknya notifikasi, aku segera membuka satu persatu pesan itu. Sampai kemudian deg! Pesan-pesan itu membuatku cemas sendiri.


💌Gilang


Indah, ini Tante, Gilang demam tinggi, dia mengigau nama kamu. Bisa ke sini?


💌Bang Marshal


Dek, Abang nambah waktu keluar kota, Abang abis dari sini harus ke Medan


💌Arga


Ndah, gw Senin gak bisa nganter Lo, Lo bisa sendiri kan? Hari ini gw pergi k bandung, sodara kecelakaan, pulang Senin sore


Setelah mendapat pesan itu aku segera bergegas mengambil motor ku dan memakai baju putih dan jaket hitam.



Aku juga memakai sarung tangan motor




Aku mengeluarkan motorku



Aku melajukan motorku, untuk kemudian membelah jalanan kota menuju tempat Gilang. Kini aku menepis pikiran ku tadi, aku masih peduli pada Gilang.


Tak lama akhirnya aku sampai di depan rumah Gilang, aku segera memarkirkan motorku dan segera turun. Aku melepas helmet dan sarung tanganku.


Kini terlihatlah tanganku yang hanya terlihat cincin dan gelang. Aku segera berlari masuk ke dalam. Tante Windy sudah menunggu ku di depan tangga. Tante Windy memelukku. Tak ada lagi cewek hamil itu. Kemana dia? Bukankah Gilang tengah sakit? Lalu kemana dia?


"Gilang di atas nak" ucap Tante padaku


Aku mengangguk lalu mengikuti Tante Windy dari belakang. Aku merasa cemas. Aku khawatir. Separah apakah hingga Tante Windy juga terlihat khawatir. Kenapa tak di bawa ke rumah sakit saja?


"In-dah! Irn-rndah" Gilang terlihat menggigil. Aku segera mendekati nya.


"Lang" aku menyentuh keningnya


Panas! Aku juga menyentuh kakinya. Dingin! Ah Gilang panas dingin. Aku menyelimuti Gilang sampai ke perutnya. Badan nya ku biarkan tak di selimuti agar panasnya sedikit mereda.


"Kenapa bisa kayak gini tan?" Tanyaku


"Semalem dia duduk di balkon" ucap Tante Windy


Aku terdiam. Ah, Gilang itu memang sulit sekali di atur. Aku kemudian me lap setiap keringat di wajah dan leher Gilang.

__ADS_1


Tapi tangan Gilang menggenggam tanganku, kurasakan panas di pergelangan tangan ku.


"Indah" ucapnya tersenyum padaku dengan wajah yang pucat


"Diem ish" kesalku


Gilang melepas tangannya dari ku. Tapi dia masih menatapku. Aku mendudukkan Gilang dan memberinya minum.


"Kalau gitu, mama ke bawah dulu ngambil bubur" ucap tante Windy


Aku mengangguk, Gilang melihat ke arahku. Dia menggenggam lagi tanganku. Kulihat matanya yang menatapku sendu. Kenapa dia seperti korban? Bukan kah aku yang korban di sini? Bukankah dia yang mengingkari janji nya untuk membuat ku move on? Tapi kenapa?


"Kenapa?" Tanya Gilang


"Eh, gue ganti kompresan dulu" ucapku


"Kenapa ndah? Maafin gue karena gue yang ngerokok, maafin gue yang udah main kasar" ucap Gilang


Aku berdiri, menarik kembali tanganku, dan ckit! Pintu terbuka. Ku lihat wanita itu, dia melihat ke arahku dan Gilang.


"Gue harus pergi" ucapku


"Tunggu ndah! Selangkah lagi Lo pergi, gue bakalan pergi dari hidup Lo" ancam Gilang


Deg! Kenapa dengan ku? Bukankah aku ingin Gilang pergi dari hidupku? Lalu kenapa rasanya sulit. Ku lihat wanita yang sedang hamil itu terdiam di pintu. Seolah tak akan membiarkan aku untuk pergi.


"Kenapa ndah?" Tanya Gilang


"Lang-gue-gue harus pergi" ucapku gugup


"Jawab indah!" Bentak Gilang membuat wanita di depanku kaget


Aku segera menghampiri wanita itu, mendekatinya dan membantunya untuk duduk di sofa kamar Gilang. Tubuhnya sedikit lebih pendek dariku.


Aku mendekati Gilang "gue gak mau berantem Lang, dan kalau Lo nanya kenapa, gue-" ucapanku terhenti


"Gue?" Tanya Gilang


"Gue harus pergi" aku kemudian membalikkan tubuh ku, menatap sekilas pada wanita hamil itu, lalu pergi


"Loh indah, mau kemana?" Tanya Tante Windy


Aku terdiam, bubur ada di tangan Tante Windy. Aku tersenyum melihatnya. Lalu aku menyalimi tangan Tante Windy


"Indah harus pergi tan, ada urusan mendadak, indah titip Gilang ya" ucapku


Aduh salah! Bagaimana mungkin, dia kan memang mama nya Gilang, jelas lah dia menjaga Gilang.


"Tenang dia kan anak-" belum selesai Tante Windy bicara seseorang sudah memanggilku, Seorang anak kecil berumur 5 tahun, dia menghampiri ku.


"Kak indah mau kemana?" Tanya nya


Yah, dia decil, adik Gilang. Dia kini memakai baju Frozen, di untun dua dan juga cantik.


"Decil mau ikut" ucap decil


Aku berjongkok mensejajarkan ukuran tubuh decil. Lalu aku mengusap kepalanya. Decil tersenyum, memperlihatkan gigi depannya yang ompong.


"Kak indah mau pergi sama temen-temen, kamu gak bisa ikut" ucapku


"Pokoknya decil mau ikut" rengek decil "ma decil mau ikut kak indah" decil menatap Tante Windy


"Sayang, kak indah nya mau pergi, nanti aja ya" ucap Tante Windy

__ADS_1


Aku berdiri, lalu benar-benar pamitan pada Tante Windy dan juga decil yang merengek minta ikut. Saat ini aku juga tak tahu akan kemana, aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat yang sepi.


__ADS_2