Broken Heart

Broken Heart
35


__ADS_3

Pintu rumahku terbuka dan terlihatlah bahwa Gilang lah yang datang, menyebalkan memang, namun aku tau jika Gilang tuh khawatir padaku. Gilang sebenarnya belum menyadari kakiku namun aku sedikit terkejut karena melihat nya.


"Lo gak-" Gilang melihat ke arah kaki ku dan kemudian dia membelalakkan matanya "Lo kenapa bisa gini? Kaki Lo sampe di perban gitu" ucap nya


"Apaan sih Lo lebay, ini kena pecahan beling doang, lagian udah ke klinik juga tadi, udah ah, masuk aja gak enak sama tetangga" kesalku


"Lo kenapa bisa gini? Pasti Lo gak pake sendal? Kalau Lo pake sendal kejadian nya gak akan kek gini, bisa gak cueknya kurangin dulu?" Tanya Gilang


"Gak ngaca Lo? Inget gak kata-kata lili di DJS katanya 'ngaca brader' Lo gak sadar diri Lo juga cuek? Pake bilang gue cuek segala" kesalku


"Lo marah-marah Mulu, pms ya?" Tanyanya


"Gak tuh" jawabku


"Ulangannya gimana?" Tanya ku


"Dah beres, tinggal besok di lanjut" jawabnya


"Liat kaki Lo" ucapnya mengangkat kaki ku, aku hanya terdiam karena aku tahu untuk melawan pun pasti tidak bisa karena Gilang itu memang kek cewek, tepatnya pemaksa


"Lo udah ulangannya?" Tanyanya


"Tinggal satu mapel" jawabku


"Kebiasaan" ledeknya


"Bodeng"


Lalu aku dan Gilang pun duduk di ruang keluarga, Gilang menemani ku mengerjakan ujian walaupun gak bantuin ngerjain. Jujur saja melihat betapa akrabnya aku dengan dirinya saat ini membuatku semakin sulit untuk melepaskan Gilang. Dia teman ku, yah hanya teman, namun dia special, dia selalu ada di dalam keadaan apapun dan nanti dia akan pergi.


"Udah?" Tanya Gilang


"Udah ini tinggal kirim" aku segera klik tulisan kirim


Gilang menatapku dengan tatapan mata yang sulit untuk di jelaskan, dia menatap leherku, entah apa yang dia pikirkan namun aku rasa dia menyembunyikan sesuatu.


"Ndah!" Ucap Gilang

__ADS_1


"Apa Lang? Kenapa?"


"Gue sayang sama Lo, saat nanti gue pergi gue takut Lo kenapa-napa, gue gak akan bisa ngawasin Lo lagi, sekalipun itu dari jauh, gue mau minta sesuatu sama Lo boleh?" Tanya Gilang


Aku terdiam, sakit, yang kurasakan saat ini sakit, inilah yang kurasakan saat dulu Ivan keluar lebih dulu dari asrama, begitu sakit. Saat aku melihat Gilang bayang-bayang masa lalu kembali hadir.


"Kalau Lo pergi Najwan gimana?"


Yah dulu saat Ivan hendak pergi aku juga menanyakan hal yang sama, hanya saja dulu aku menanyakan perihal Adit. Aku tau Gilang dekat dengan Najwan. Dan Najwan juga lumayan dekat dengan ku.


"Najwan? Dia dah tahu, dan dia juga larang gue, tapi ini udah keputusan mama papa gue" ucap Gilang


"Gue juga gak mau Lo pergi, Lo itu udah jadi sosok Ivan di hidup gue, sekarang Ivan juga ada di Bogor, Lo mau ke Jakarta, kenapa semua orang ninggalin gue sih? Aldi juga perlahan mulai menjauh, papa juga pergi, semua orang rasanya hanya datang untuk sesaat, dan gue juga yang harus mengalah" air mata mulai menetes walaupun selalu aku seka, aku kemudian berjalan cepat, tak peduli kakiku masih sakit, tak peduli nanti lukaku semakin dalam.


"Ndah" panggil Gilang


Aku menaiki tangga, sakit di kakiku semakin terasa namun aku tak peduli, yang aku ingin segera menjauh dari Gilang dan kembali ke kamarku, ke tempat paling aman di dunia ini.


"Ndah! Tunggu! Kaki Lo masih sakit" Gilang berlari hendak menyusul ku. namun aku? Aku tak peduli lagi mau kakiku lukanya semakin dalam pun aku tak apa-apa, asalkan aku menjauh dari Gilang.


"Ndah, buka pintunya, indah gue mohon keluar, gue gak mau luka Lo kenapa-napa, buka ndah" Gilang berteriak dengan suara parau "Gue mohon buka pintunya, gue janji kuliah nanti gue akan di sini, di Depok ndah, buka pintunya" ucap Gilang kini suaranya diiringi isakan


Aku pusing, Gilang masih berteriak di luar sana, namun kini suaranya samar, dan wusss semuanya gelap.


***


"Ndah bangun, gue mohon bangun, indah!" Suara itu dari mana? Semuanya begitu gelap, ini dimana?


"Ndah!" Dan suara itu "indah kenapa? Lo apain dia?"


Perlahan cahaya mulai menerobos masuk ke dalam kegelapan ini, mataku terbuka perlahan dan terang, silau! Ini dimana? Ini bukan kamarku! Baunya? Baunya seperti bau rumah sakit. Apakah aku terjangkit virus?


Kulihat Gilang dan Aldi di depanku. Aku juga di tangani seorang dokter, apakah aku sakit? Kenapa? Aku masih bingung, terakhir kali aku berada di dalam kamarku dalam keadaan.... Ah aku paham, aku baru tersadar dari pingsan.


"Ndah Lo dah bangun?" Tanya Gilang


"Gue gak papa, sorry sikap gue kekanak-kanakan" ucapku karena aku sadar tadi aku begitu kekanak-kanakan

__ADS_1


"Lo gak papa kan?" Tanya Aldi


Aku tersenyum padanya lalu menggeleng tanda aku tak kenapa-kenapa. Kurasakan kakiku berat, kenapa?


"Kaki gue kenapa?" Tanya ku


"Kaki Lo terpaksa harus pake gips ndah, luka Lo semakin besar, Lo juga keseleo" ucap Gilang


Aku hanya mengangguk tanda mengerti, Aldi hanya menyaksikan kita berdua. Gilang lalu mendekat ke arah ku.


"Kalau Lo gak izinin gue pergi-"


"Gak papa Lo pergi aja, gue ada Aldi kok" ucapku


Aldi hanya tersenyum tipis. Gilang terdiam, dia pasti akan membatalkan kepergian nya, tidak boleh, aku tau dia anak yang patuh, aku tak mau membuat dia jadi seorang anak yang tak patuh.


"Lo pergi aja lang, gue gak papa, tadi gue cuman lagi emosional aja" ucapku


"Tapi Lo harus janji, Lo jangan sampe kenapa-napa, Lo harus janji bisa jaga diri Lo baik-baik"


"Iya gue janji Gilang" ucapku


Aldi kemudian hendak berbalik namun aku segera memanggil namanya, aku tau tak seharusnya aku menyakiti dia dengan aku dekat dengan Gilang, namun aku juga tak bisa jika harus menyakiti Gilang.


"Di, makasih yah udah khawatir sama gue, Lo emang sahabat gue Ter the best" ucapku


"Gue mau pulang" ucapku


"Jangan!" Gilang dan Aldi berteriak melarangku


"Lo harus diem dulu sampe Lo benar-benar pulih" ucap Gilang


"Iyah, lagipula di rumah Lo gak ada siapa-siapa kecuali pembantu Lo" ucap Aldi


Aku hanya terdiam, jelas saja tak ada siapapun, nenekku pasti pulang ke rumahnya, mama juga pasti pergi ntah kemana, kakak dan Abang ku juga pasti pergi, mereka butuh waktu sendiri dulu, setiap habis bertengkar pasti mereka akan pergi meninggalkan ku di rumah selama beberapa hari.


Aku kemudian tersenyum menanggapi ucapan Aldi. Aldi kemudian mendekat dan memelukku, aku tau Gilang pasti cemburu, tapi aku juga merindukan Aldi.

__ADS_1


__ADS_2